Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 1
“Bagaimana ini, Pak lurah. Apa kami rakyat kecil harus makan batu?!” teriak salah seorang warga berperawakan sedang.
“Tenang … harap tenang, kita tunggu ketua kelompok tani yang bertanggung jawab atas hal ini.” Pak lurah berkacak pinggang, kepala dengan peci hitam terus melongok ke persimpangan jalan, berharap yang di tunggu menampakkan batang hidungnya.
“Kalian bisa berucap tenang sebab lumbung padi penuh, sedang kami yang hidup mengandalkan sepetak sawah harus kelaparan jika sampai sawah kami gagal panen!” sahut petani lebih tua, masih memikul cangkul di pundaknya.
Betul …
Betul …
Sorakan warga yang berkumpul di balai desa menggema, cibiran sahut menyahut, kasak-kusuk semakin riuh.
“Pak lurah, bukankah seharusnya desa mengambil kebijakan? Selama ini pertanian kita tak pernah bermasalah, tapi sejak kepemimpinan berganti pada anak perempuannya panen tak lagi berlimpah, sangat jauh berbeda dengan zaman kepemimpinan tuan Londo dulu,” celetuk ibu muda datang sambil menggendong balita baru berusia sekitar satu tahun.
“Betul itu. Zaman semakin maju pertanian kita malah semakin mundur. Harga daun tembakau turun, belum lagi beberapa tanaman palawija tak laku di jual, dan sekarang … harapan terakhir kita juga terancam gagal panen,” imbuh seorang pria yang sepertinya suami si ibu muda.
Warga saling bertukar pandang sebagian ada yang langsung setuju, sebagian lain memilih diam, memperhatikan.
“Bahkan sekarang, satu karung tembakau kering tak lagi cukup untuk membeli sekantong beras. Lantas bagaimana nasib kami Pak Lurah? Apa memang tujuan kalian sebenarnya menyengsarakan bukan mensejahterakan rakyat?!” imbuh pria muda tadi dengan suara menggebu-gebu.
“Kalian itu terlalu sibuk menyalahkan kami yang berada di atas tanpa mau berbenah, mawas diri,” sahut seseorang dari balik kerumunan.
Semua mata seketika menoleh, sebagian langsung menunduk, beberapa tetap menatap nyalang seolah menantang.
Anneke Van Beek, gadis muda berusia kisaran dua puluh lima tahun, menjabat sebagai ketua kelompok tani, melanjutkan perjuangan sang papa tiri—Petter Van Beek. Sosok yang lebih dahulu berhasil memajukan sektor pertanian di Desa Lereng Bukit.
Anne adalah putri Sulastri, seorang wanita pribumi yang diselamatkan Petter Van Beek, setelah hampir meninggal akibat pendarahan, pasca melahirkan.
Meski merupakan keturunan asli pribumi, Anne tumbuh dan dibesarkan di lingkungan keluarga londo. Latar belakang itulah yang membentuknya menjadi perempuan cerdas, tegas, dan cerdik. Parasnya ayu, sementara pembawaannya selalu tenang dan berwibawa, juga sedikit jumawa, membuatnya disegani sekaligus dihormati oleh masyarakat desa.
Dari balik kerumunan, Anne berjalan tenang tanpa melepas caping anyaman bambu yang melingkar di kepala. Senyum tipis terulas, namun sorot mata tajam, menjurus pada satu orang sedari tadi paling lantang menyuarakan keluhan.
“Di mana kau menukar satu karung tembakau kering dengan sekantong beras?” tanyanya pada pria muda, berkulit hitam mengkilat sebab terlalu lama berada di bawah terik matahari.
“Di … ehm itu ….” terbata-bata si pria mencari alasan.
“Kau yakin isi karung mu itu tembakau, bukan sampah daun kering yang kau pungut di bawah kebun kopi?” Ia kembali mencerca, tatapannya tak lepas dari wajah pias si pria muda. “Boleh saja menggunakan perbandingan, Kang, tapi juga harus disesuaikan, jangan asal mangap berakhir kowe malu sendiri.”
Gadis masih setia mengenakan pakaian kebaya dan kain jarik meski zaman telah berubah itu melanjutkan langkahnya, berjalan tenang menaiki undakan menuju teras kantor balai desa, bergabung dengan perangkat desa lainnya.
“Ada berapa hektar sawah yang menguning daunnya?” tanyanya, pada ulu-ulu atau juru pengairan desa.
“Kurang lebih ada sekitar lima belasan hektar, Nduk. Orang-orang kita sedang melihat ke lokasi yang rata-rata berada di pinggiran desa,” jelas Dasim, juru pengairan desa yang juga merupakan orang kepercayaan keluarga Van Beek. Dulunya kusir dokar Sulastri—ibunda Anne.
Anne mengangguk samar, tatapannya menyapu wajah penasaran warga desa, menunggu keputusan darinya.
“Suruh warga kembali ke rumah masing-masing. Aku akan mencari tahu penyebab rusaknya daun-daun padi itu, jika benar karena hama, minta Maria untuk mengirim pasokan pestisida sesegera mungkin,” titah Anne dengan raut tenang.
Dasim beranjak dari duduknya, siap menyampaikan perintah dari ketua kelompok tani yang merupakan ndoro kecilnya. Pemuda hitam manis yang kini mulai menua itu berdiri gagah, meminta izin sejenak pada lurah sebelum berteriak dengan suara lantang dan tegas.
“Bapak-bapak, ibu-ibu, tak perlu risau. Kami aparat desa akan berusaha menyelamatkan sawah kalian dari gagal panen. Secepatnya—”
“Bagaimana mungkin kami tak risau jika padi-padi kami sudah layu dan siap mati!” potong salah seorang penduduk, sedari tadi terlihat gelisah, tak sabar menanti penjelasan para aparat desa.
“Betul. Kami butuh jaminan dan kepastian tak ‘kan kelaparan jika tahun ini benar-benar terjadi gagal panen di desa kita.” Pria muda berkulit hitam kembali angkat bicara, merasa mendapat teman untuk kembali mengajukan protes.
“Harusnya bu ketua terhormat bisa mengambil keputusan agar kami warga desa merasa tenang,” istri si pria muda turut menimpali.
“Anda sebagai ketua bisa mengatakan tenang, di saat kami rakyat kecil di hadapkan dengan ancaman kelaparan. Di mana hati nurani Anda sebagai ketua?! Kami hanya butuh kepastian jaminan panenan melimpah. Betul tidak saudara-saudara!” teriak seseorang dari kerumunan, wajahnya tak terlihat, namun niatnya jelas sengaja ingin memprovokasi penduduk desa.
“Betul itu ….”
“Betul ….”
“Pripun iki bu ketua, kami butuh kepastian.”
“Istri ku baru saja melahirkan, apa jadinya anak kami kalau sampai sawah tempat menggantungkan hidup satu-satunya tak bisa menghasilkan apa-apa,” keluh salah seorang warga, tangan dengan otot menonjol sebab sering dipakai bekerja kasar mengusap keringat bercampur air mata.
“Apa Anda tetap akan diam saja melihat penderitaan kami, wahai ibu ketua terhormat!” Seseorang tak terlihat jelas wajahnya kembali berteriak.
Kasak-kusuk penduduk desa terdengar di berbagai sudut, suasana perlahan tenang kembali riuh. Warga saling melempar kata, mengumpat, mengeluh, tak sedikit berusaha mempengaruhi mereka yang memilih diam, sabar menunggu titik terang.
Anne tetap tenang di kursinya, wajah ayu tak lagi tertutup caping anyaman bambu menatap sekitar, senyum tipis terulas saat netranya menangkap sosok beberapa bulan terakhir sering mengusik ketenangan nya.
“Pemuda pengecut itu,” gumamnya yang hanya bisa didengar dirinya sendiri.
Ia kemudian beranjak dari duduknya, berdiri tegak menghadap penduduk desa, satu tangan terangkat meminta penduduk desa diam sejenak. Namun belum sempat gadis ayu itu angkat bicara, celetukan pemuda sedari tadi terkunci di netranya menggema, membuat suasana semakin ricuh.
“Jika memang tak lagi sanggup memimpin pertanian desa, lebih baik Anda mundur dari posisi ketua. Kami butuh pemimpin yang bisa memberi kepastian, bukan janji palsu yang pada akhirnya hanya akan jadi angin lalu!”
“Setuju! Sudah seharusnya ketua kelompok tani kita dipimpin orang yang lebih mumpuni di bidangnya, bukan perempuan yang bisanya hanya menebar janji!” Seperti mendapat dukungan penuh, pria muda telah melepas kaos penuh keringat maju dua langkah dari tempatnya, berujar lantang sambil mengacungkan jari tangan.
“Betul itu ….”
“Aku setuju ….”
Teriakan warga sahut-menyahut, perdebatan tak terelakkan kerumunan terbagi menjadi dua kubu tak imbang, sebagian lebih banyak condong pada keinginan baru digaungkan.
“Pak Lurah ….”
Bersambung
Haii … pemirsa, saya kembali dengan kisah anak wedoknya Sulastri. Cerita ini berlatar sekitar tahun 70an. Mungkin akan banyak istilah pertanian di dalam cerita, mohon koreksi jika ada yang tak sesuai, sebab author hanya mengandalkan riset google.
Selamat membaca dan jangan lupa dukungannya lewat like, komen, dan kasih bintang 5.
Matur nuwun dan salam hangat
Anna.
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria