AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Langit malam itu gelap gulita, gemuruh petir menyambar berulang kali.
Pintu depan rumah mewah itu terbuka lebar secara paksa. Sebuah tumpukan baju melayang keluar, mendarat kasar di tanah basah.
"Pergi dari rumah ini sekarang! Aku tidak butuh anak yang tidak tahu diri dan tidak berbakti seperti kamu!" teriak Ria dengan suara melengking.
Wajah wanita baya itu merah padam, napasnya memburu penuh amarah.
Al berlutut di tanah yang kotor. Pakaiannya mulai basah oleh rintik hujan yang makin deras. Tangannya gemetar hebat saat berusaha meraih ujung gaun ibunya.
"Ibu... tolong dengarkan aku dulu, Ibu. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk menjelaskan," panggil Al dengan suara parau, tersedak oleh isak tangis. "Aku tidak melakukannya, Bu. Tadi itu... "
"Cukup, Al! Jangan berani-beraninya kamu bersilat lidah di depan Ibu!" kata Sinta dengan ketus.
Ria menepis tangan Al dan mendorong dada pemuda itu hingga ia jendat terlentang di atas rumput basah.
Sementara Rino melipat tangannya di dekat pintu menatap Al tanpa belas kasihan.
"Ck! Dasar benalu!" kata Rino.
Dari balik bahu Ria, seorang pemuda seusia Al melangkah pelan. Wajahnya dipasang raut penuh ketakutan yang dibuat-buat, tangannya gemetar memegang ujung baju Ria.
"Dia bohong, Ibu! Jangan dengarkan dia!" seru Ari dengan suara bergetar, berpura-pura trauma. "Dia... dia selalu melukaiku, Bu. Dia benci melihatku bahagia di rumah ini. Tadi dia bahkan mendorongku sampai tanganku memar, Bu..."
Al membelalakkan matanya tidak percaya. Ia menatap saudaranya itu dengan dada sesak. "Ari! Kenapa kamu tega memfitnahku seperti ini?! Kamu sendiri yang menjatuhkan vas bunga itu dan menyayat tanganmu sendiri untuk menjebakku!"
"Tutup mulutmu, Al!" bentak Ria keras. Wanita itu memeluk Ari, mengusap punggung anaknya dengan lembut sebelum kembali menatap Al dengan pandangan jijik. "Masih berani kamu menyalahkan adikmu sendiri? Ari anak yang jujur, tidak seperti kamu yang penuh iri dengki!"
"Tidak, Ibu! Aku... aku tidak pernah menyakiti Ari! Tolong jangan usir aku, Bu... Ibu tahu aku tidak punya siapa-siapa lagi. Tolong, jangan usir aku..." tangis Al pecah.
Ia berlutut, menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon belas kasihan dari wanita yang melahirkannya.
"Apa peduliku kamu mau tinggal di mana?!" balas Ria tanpa belas kasihan sedikit pun. "Aku sudah muak melihat mukamu di rumah ini! Mulai detik ini, kamu bukan lagi anakku. Lebih baik kamu pergi dan membusuk di jalanan!"
Saat Ria berpaling untuk masuk ke dalam rumah, Ari sengaja memperlambat langkahnya. Ia menoleh sedikit ke arah Al. Bayangan ketakutan di wajahnya sirna seketika, berganti dengan ukiran senyum licik yang amat sangat tajam.
"Ha ha ha... rasakan kamu, Al," gumam Ari sangat pelan, nyaris tenggelam dalam suara gemuruh petir, tetapi cukup jelas untuk ditangkap mata Al. "Kamu itu cuma benalu. Kamu memang dari awal tidak pernah pantas tinggal di rumah ini."
Brak!
Pintu kayu jati yang tebal itu dihempaskan dengan sangat kasar. Suara kunci diputar dari dalam menggelegar di telinga Al, mengunci rapat-rapat kehidupan yang pernah ia kenal.
Keheningan malam kini hanya diisi oleh derasnya air hujan yang mengguyur tubuh Al. Pemuda itu membeku di tempatnya, menatap pintu rumah yang tertutup rapat dengan tatapan kosong. Air matanya menyatu dengan air hujan yang mengalir membasahi pipinya.
Dengan jemari yang dingin dan kaku, Al memungut satu per satu pakaiannya yang sudah kotor tertutup lumpur. Ia memasukkannya asal ke dalam tas kain yang basah kuyup. Hatinya hancur berkeping-keping, lebih dingin dari hembusan angin malam yang menusuk tulang.
"Ibu... kenapa Ibu lebih percaya dia dibanding aku yang sudah kau rawat sejak kecil?" bisik Al pada angin malam. Tidak ada jawaban.
Ia berdiri dengan tubuh gemetar, memeluk tas pakaiannya yang berat. Ia menatap rumah megah itu untuk terakhir kalinya sebelum membalikkan badan.
"Ke mana aku harus pergi sekarang?" gumam Al pelan pada dirinya sendiri, suaranya bergetar menahan gigil dan rasa sakit yang amat dalam. "Jangankan tempat untuk berteduh... untuk makan besok saja, uang sepeser pun aku tak punya."
Al melangkah lambat menerobos kegelapan malam.
Setiap langkah terasa begitu berat, memikul luka pengkhianatan dan ketidakadilan yang harus ia tanggung sendirian.