Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata CEO" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35.
Seketika Sultan menepikan mobil di bahu jalan setelah mendengar ucapan istrinya. Pria itu melepaskan sabuk pengaman, lalu meraih tubuh Kahiyang ke dalam pelukannya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, Ayangku?" tanyanya lembut sembari mengecup pucuk kepala istrinya berkali-kali.
Kahiyang terdiam dalam pelukan Sultan. Matanya mulai berkaca-kaca, sementara jemarinya mencengkeram bagian belakang kemeja suaminya.
"Aku takut kamu kecewa. Aku juga takut Mama dan Papa menganggap aku nggak bisa memberikan mereka cucu," cicitnya dengan suara tercekat.
Sultan mengusap punggung istrinya perlahan. "Dengar aku, Kahiyang. Jangan pernah berpikir seperti itu."
Kemudian melepaskan pekukan dan kepalanya sedikit menjauh agar bisa menatap istrinya. Kedua tangannya lantas merangkum wajah sendu itu seraya mengusap air mata yang mulai menggenang di sudut mata wanitanya.
"Empat bulan itu belum lama, Ayangku. Kita masih punya banyak waktu. Kita bahkan nggak tahu apa yang sudah Allah siapkan untuk kita," lanjutnya berusaha menenangkan sang istri.
"Tapi bagaimana kalau ternyata aku memang bermasalah?" tanya Kahiyang, suaranya terdengar bergetar.
"Kalau memang ada sesuatu, kita cari jalan keluarnya bersama," jawab Sultan tanpa ragu. "Kamu nggak akan menghadapi apa pun sendirian, karena aku akan selalu di sampingmu."
Kahiyang menatap suaminya, hatinya masih menyimpan kecemasan yang belum sepenuhnya reda. "Jadi kamu nggak kecewa? Yakin...?"
Sultan menggeleng sambil tersenyum. "Aku menikahimu bukan untuk segera memiliki anak. Tapi aku menikahimu karena aku mencintaimu. Sangat!"
Mendengar itu, airmata yang sudah menggenang di pelupuk mata Kahiyang jatuh seketika. Ia menyandarkan kepalanya ke dada Sultan, membiarkan dirinya kembali tenang dalam pelukan pria yang selalu membuatnya merasa aman.
Sultan mengecup pucuk kepalanya sekali lagi. "Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri, ya. Soal anak, kita serahkan pada Yang Maha Kuasa. Yang penting sekarang, kamu selalu bahagia dan sehat."
Kahiyang mengangguk kecil dalam pelukannya. Sultan tersenyum, lalu mengusap kepala istrinya dengan lembut. Setelah memastikan Kahiyang sudah lebih tenang, dia kembali ke kursi pengemudi dan memasang sabuk pengaman.
"Sudah lebih tenang?" tanyanya sambil menatap Kahiyang.
Kahiyang mengangguk. "Hu'um."
"Bagus. Sekarang kita pulang," ucap Sultan kembali melaju meninggalkan bahu jalan.
Namun, baru beberapa menit berlalu, sebuah pikiran tiba-tiba terlintas di benaknya. Sultan melirik Kahiyang yang kini sudah jauh lebih tenang, tetapi masih menyisakan sedikit mendung di wajahnya. Dia ingin membuat istrinya kembali ceria dan melupakan kesedihannya. Tangannya pun memutar setir ketika menemukan jalur menuju pusat hiburan.
Kahiyang yang menyadari perubahan arah mobil mulai mengernyit. "Kita mau ke mana? Ini kan, bukan jalan pulang," tanyanya sambil menegakkan tubuhnya.
"Memang bukan," jawab Sultan begitu santai.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat dan kita menikmati waktu bersama," tambahnya sambil tersenyum tipis.
"Iya, tapi kita mau ke mana?" Kahiyang menatap suaminya dengan rasa penasaran.
"Sabar saja, bentar lagi nyampai," jawab Sultan sambil tersenyum misterius.
Tak lama kemudian, mobil memasuki kawasan Ancol lalu berhenti di area parkir dekat Dunia Fantasi. Kahiyang langsung menoleh ke arah Sultan dengan wajah terkejut.
"Dufan?" tanyanya memastikan.
Sultan mengangguk. "Kemarin kan, Mama sudah memanjakanmu, sekarang gantian aku."
Senyum Kahiyang perlahan mengembang. "Kamu sengaja, ya?" tanyanya sambil menatap suaminya.
"Anggap saja ini hadiah karena tadi kamu sudah terlalu banyak berpikir," jawab Sultan sambil tersenyum tipis.
"Ada-ada saja," gumamnya sambil menggeleng kecil.
Sultan segera turun, lalu bergegas membukakan pintu untuk Kahiyang.
"Ayo turun, Ayangku," katanya sambil mengulurkan tangan.
Kahiyang menerima uluran tangan suaminya, lantas turun dengan langkah ringan. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju gerbang Dufan. Setelah membeli tiket masuk untuk berdua, Sultan lalu membawa Kahiyang masuk melewati pintu gerbang.
Begitu berasa di dalam, suara tawa pengunjung, musik yang ceria, dan hiruk-pikuk wahana langsung menyapa telinga mereka.
Kahiyang langsung tertarik pada wahana Bianglala yang berputar perlahan di kejauhan. "Itu dulu favoritku," tunjuknya pada wahana tersebut.
Sultan tersenyum. "Ya sudah, kita mulai dari sana saja. Ayo."
Mereka naik ke dalam satu kotak bianglala. Saat kendaraan itu bergerak naik perlahan, pemandangan seluruh kawasan Ancol mulai terlihat jelas dari atas. Langit biru cerah berpadu dengan awan putih, membuat pemandangan begitu indah. Di sana, di ketinggian itu, Sultan memeluk bahu Kahiyang.
"Indahnya..." bisik Kahiyang seraya bersandar pada dada suaminya dan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang pria itu.
"Iya... seindah dirimu," balas Sultan pelan, membuat wanita itu tersipu lalu mencubit pinggang suaminya membuat pria tertawa lebar.
Beberapa saat kemudian mereka turun dari sana, lalu bergantian mencoba wahana lainnya. Mulai dari Halilintar sampai roller coaster yang memacu adrenalin, membuat Kahiyang berteriak keras tetapi tertawa lepas setelahnya. Hingga Arung Jeram yang membuat baju mereka sedikit basah karena cipratan air. Namun, justru itu yang membuat suasana semakin seru dan berkesan.
Mereka juga sempat mampir ke rumah hantu. Di dalamnya, Kahiyang dengan berani berjalan di depan, tetapi setiap ada sosok yang tiba-tiba muncul, ia langsung mundur dan memeluk lengan suaminya erat-erat. Sultan pun tak bisa menahan tawa, merasa gemas melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil itu.
Keluar dari rumah hantu, Sultan membelikan istrinya es krim dan gula kapas. Mereka berjalan berdampingan sambil mengunyah camilan, bercanda mengingat kejadian lucu saat masih muda dulu. Kadang Sultan sengaja menggoda Kahiyang atau sebaliknya yang memancing mereka tertawa lepas. Mereka berdua, benar-benar menikmati kebersamaan sepenuh hati.
"Pengin ke wahana mana lagi, Ayangku?" tanyanya saat mereka berhenti sejenak di dekat air mancur, mengusap keringat di kening Kahiyang.
"Eh, sebentar ya... aku lihat-lihat dulu peta ini," jawab Kahiyang sambil memegang peta kecil yang diambilnya di pintu masuk. Matanya bergerak ke sana kemari, "Itu Istana Boneka, ayo ke sana! Aku suka lihat boneka-bonekanya."
Mereka pun masuk ke perahu yang akan mengantar berkeliling. Di dalam sana, suasana menjadi lebih tenang dan indah. Boneka-boneka dari berbagai negara dengan kostum khasnya bergerak mengiringi alunan lagu. Kahiyang memperhatikan setiap sudut dengan takjub, sesekali berkomentar tentang pakaian atau tarian yang dilihatnya. Sultan hanya diam mendengarkan dan menatap wajah istrinya yang tampak begitu bahagia—lebih berharga baginya daripada pemandangan apa pun di dunia ini.
Waktu berlalu begitu saja tanpa mereka sadari. Dari satu wahana ke wahana lain, canda tawa terus terdengar di antara mereka. Matahari yang tadinya bersinar terang di atas kepala kini perlahan mulai meluncur turun ke arah barat.
Kahiyang berhenti melangkah, ia menghela napas panjang dengan rasa puas, lalu menoleh ke arah Sultan yang berdiri di sampingnya.
"Sudah hampir sore..." ucapnya pelan.
Sultan mengangguk menatap wajah istrinya yang tampak bahagia. "Rasanya baru sebentar saja kita di sini, padahal sudah berjam-jam berlalu."
"Iya, jika bersamamu, waktu rasanya berjalan terlalu cepat," jawab Kahiyang sambil tersenyum manis.
Ia menggenggam tangan suaminya lebih erat. "Terima kasih ya, Raf. Ini kejutan yang sangat indah."
"Masih ada lagi," kata Sultan sambil menarik pelan tangan Kahiyang. "Ayo, sebelum pulang, kita ke sana dulu."
Kahiyang mengangguk. Mereka menaiki mobil menuju pantai karnaval untuk menikmati pemandangan matahari terbenam. Setibanya di sana, setelah memarkirkan mobil, keduanya berjalan santai menuju bangku panjang di tepi pantai. Kahiyang duduk sambil bersandar manja di bahu kokoh suaminya. Sementara Sultan memeluk pinggang istrinya posesif, membiarkan suasana sore yang tenang dan hangat menyelimuti kebersamaan mereka.
kayaknya bakalan pingsan 7 hari 7 malem deh 😂😂