NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Dengan Bos Mafia

Cinta Terlarang Dengan Bos Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.

​Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.

​DOR!

​Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HANGATNYA PAGI YANG BEDA

​Sinar matahari pagi menyelisip tipis di balik celah tirai kamar yang tinggi, membiaskan cahaya keemasan di atas ranjang berukuran king-size. Elara perlahan membuka matanya. Rasa pusing yang biasanya menusuk di kepala kini berkurang drastis berkat istirahat cukup dan vitamin yang ia minum semalam.

​Saat hendak bergerak, Elara tersentak pelan. Di sampingnya, Haidar masih tertidur lelap. Pria perkasa yang biasanya tampak begitu intimidatif dengan setelan jas mewahnya itu kini terlihat sangat berbeda—hanya mengenakan kaos oblong hitam polos dan celana santai. Raut wajah tegas sang bos mafia saat tertidur tampak jauh lebih tenang, tanpa kerutan dingin yang biasa ia tunjukkan pada dunia.

​Perut Elara mendadak terasa sedikit tidak nyaman, memicu dorongan ingin pergi ke kamar mandi. Dengan sangat hati-hati, Elara menggeser selimut tebal yang menutupi tubuhnya dan mencoba menyibakkan kakinya turun dari ranjang tanpa menimbulkan suara.

​Namun, pergerakan kecil itu rupanya cukup untuk mengusik indra tajam sang bos mafia.

​Napas Haidar berubah. Sebelum kaki Elara menyentuh lantai, sebuah lengan kokoh melingkar bercekerama halus di pinggang Elara dari belakang, menarik tubuh mungil gadis itu kembali merapat ke dadanya.

​"Mau ke mana?" suara Haidar mengudara, terdengar sangat serak dan berat khas orang yang baru saja terbangun dari tidur.

​Elara menahan napasnya sejenak, merasakan debar dada Haidar yang berdetak teratur di punggungnya. "A-aku... aku mau ke kamar mandi, Haidar. Perutku sedikit mual," bisik Elara pelan.

​Mata gelap Haidar perlahan terbuka penuh. Rasa kantuk di wajahnya menguap seketika, berganti menjadi raut kesadaran dan kecemasan tipis. Pria itu melepaskan pelukannya perlahan, lalu duduk di tepi ranjang.

​"Perlu kupanggilkan dokter lagi?" tanya Haidar tegas sambil mengusap wajahnya dengan satu tangan.

​"Tidak perlu, hanya mual pagi hari biasa," jawab Elara menggeleng pelan. "Setelah ini kita jadi pergi ke rumah orang tuaku, kan?"

​Haidar menatap Elara dalam-dalam, lalu berdiri dari ranjang. "Iya. Bersihkan dirimu dulu. Aku sudah menyuruh orang menyiapkan pakaian bersih untukmu dan mengawal perjalanan kita pagi ini."

​"Baiklah, aku akan mandi dan bersiap," ucap Elara pelan.

​Ia menurunkan kakinya dari tepi ranjang, menyambar handuk bersih yang sudah disiapkan di atas kursi, lalu melangkah perlahan menuju kamar mandi. Haidar memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu hingga pintu kaca buram kamar mandi tertutup rapat dan terdengar gemericik air pancuran.

​Di dalam kamar mandi yang luas dan dilapisi marmer putih itu, Elara membiarkan air hangat mengalir basah membasahi tubuhnya. Rasa lelah dan sisa rasa sakit akibat tamparan Pak Surya kemarin perlahan menguap, digantikan oleh kesegaran yang membakar semangat baru di dalam dadanya. Saat membilas tubuhnya, tangan Elara kembali singgah di atas perutnya. Bayangan bahwa ada janin yang sedang tumbuh di sana memberi Elara keberanian ekstra untuk menghadapi kenyataan yang menantinya di luar sana.

​Setelah selesai, Elara keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai namun sopan—sebuah gaun terusan lengan panjang berwarna lembut yang telah disiapkan oleh pelayan atas perintah Haidar. Rambutnya yang basah ia keringkan dan biarkan terurai rapi.

​Di luar kamar mandi, Haidar sudah tampil rapi dan gagah. Kaos oblongnya telah berganti dengan kemeja hitam yang tergulung hingga siku, memancarkan aura dominasi dan kepemimpinan yang begitu kuat. Ia berdiri di dekat jendela, sedang berbicara pelan dengan anak buah kepercayaannya melalui telepon genggam sebelum akhirnya mematikan sambungan saat melihat Elara keluar.

​Haidar berjalan mendekat, menyodorkan sebuah ponsel pintar keluaran terbaru yang masih mulus ke jemari Elara.

​"Ponselmu," ujar Haidar pendek namun dalam. "Semua nomor penting sudah dimasukkan ke sana. Sarapan sudah disiapkan di bawah, setelah itu kita langsung berangkat ke rumah orang tuamu."

​Elara menerima ponsel itu, menatap layar yang menyala tipis, lalu mendongak menatap Haidar. "Terima kasih, Haidar."

​Haidar hanya mengangguk pelan, menggenggam erat jemari dingin Elara, lalu membimbing gadis itu melangkah keluar dari kamar menuju mobil yang sudah bersiap di pelataran mansion.

1
Ira safitri
sangat bagus 🥰🥰
Waaaaaa_: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!