Alexa tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel dark romance yang ditulis oleh saudara kandungnya sendiri. Saat membaca bab terakhir, ia menggerutu karena merasa alurnya terlalu kejam dan tokoh utama perempuan diperlakukan tanpa belas kasihan. Namun, ketika tanpa sengaja terjatuh dari tempat tidur, Alexa membuka mata di dunia yang sama persis dengan novel itu. Yang lebih mengejutkan, ia bukan menjadi tokoh sampingan—melainkan Alexa, karakter utama dengan nama yang sama dengannya. Kini ia adalah istri dari Raiden Damon Alteir, seorang mafia paling berkuasa yang namanya ditakuti di seluruh dunia bawah tanah. Di balik wajah tampannya, Raiden dikenal sebagai pria yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Setiap kali amarahnya memuncak, kedua matanya berubah menjadi merah, seolah memperlihatkan sisi tergelap yang bahkan para pembunuh bayaran pun takut hadapi. Dalam alur novel, Alexa hanyalah pion yang terus dipermainkan dan dikendalikan oleh sang mafia psikopat. Ia tahu bagaimana kisah itu seharusnya berakhir—tragis. Karena itulah, Alexa bertekad mengubah takdirnya dan keluar dari cerita sebelum semuanya terlambat. Namun, semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Raiden Damon Alteir menolak melepaskannya. Di dunia yang dipenuhi rahasia, perebutan kekuasaan, dan bahaya di setiap sudut, Alexa harus memilih: mengubah akhir cerita yang sudah ditulis, atau tenggelam dalam takdir kelam yang menantinya bersama sang raja mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita sialan sang kakak
Layar laptop yang menyala terang di tengah remang kamar menjadi satu-satunya sumber cahaya yang menemani Alexa malam itu. Jari-jemarinya yang lentik menari di atas kibor dengan ritme lambat dan tidak bersemangat. Dengusan napas berat berkali-kali keluar dari bibirnya. Alexa mahasiswi semester akhir yang kini berada di ambang keputusasaan merasakan kepalanya berdenyut hebat. Tugas akhir dan draf skripsi yang tak kunjung menemui titik terang benar-benar menguras habis energi serta kewarasannya.
"Kenapa teori ini rumit banget, sih? Bisa-bisa aku gila sebelum sempat wisuda!" gerutu Alexa pada layar monitornya. Matanya yang mulai memerah menatap tumpukan jurnal yang berserakan di atas meja belajar.
Tepat saat Alexa berniat untuk menyerah dan merebahkan kepalanya ke meja, pintu kamarnya mendadak terdorong terbuka.
Sesosok gadis cantik muncul dari balik pintu dengan senyum yang merekah sangat lebar—terlalu lebar, hingga terlihat sangat mencurigakan. Dialah Elena, kakak kandung Alexa yang dikenal sebagai salah satu penulis novel populer berseri dengan jutaan pembaca setia di platform digital. Elena melangkah masuk dengan santai, membawa nampan besar yang dipenuhi berbagai makanan lezat: dua porsi camilan favorit Alexa, makanan berat yang masih mengepulkan aroma gurih, serta minuman dingin.
"Adek kesayangan Kakak yang paling manis! Istirahat dulu, dong. Nih, Kakak dibawain banyak makanan enak khusus buat kamu," panggil Elena dengan suara yang dimanis-maniskan, berjalan mendekat sembari meletakkan nampan itu tepat di samping laptop Alexa.
Alexa tidak langsung menyambut makanan itu. Ia justru memicingkan matanya, menatap Elena dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan rasa curiga yang memuncak. Senyum ceria yang dipamerkan sang kakak sama sekali tidak terlihat tulus di mata Alexa itu adalah senyum yang biasanya membawa petaka.
"Tumben banget? Ada angin apa Kak Elena masuk kamar malam-malam begini, terus mendadak baik bawa makanan sebanyak ini?" tanya Alexa, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Nggak biasanya. Pasti ada udang di balik batu, kan?"
Elena terkekeh pelan, mengibaskan tangannya seolah tuduhan Alexa sama sekali tidak berdasar. "Aduh, curigaan banget sih jadi adek! Kakak cuma mau merayakan pencapaian besar malam ini," ujar Elena dengan nada bangga yang melonjak tinggi. Ia mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur Alexa. "Naskah novel terbaruku akhirnya tamat! Semua drafnya sudah siap, dan bukunya bakal resmi dipublis besok pagi!"
Mendengar hal itu, helaan napas lega keluar dari mulut Alexa. Rasa curiganya sedikit menyurut. "Oh, cuma itu? Ya bagus deh kalau udah selesai. Selamat ya, akhirnya drafmu beres juga."
"Tapi... ada satu hal lagi yang bikin novel kali ini makin spesial," potong Elena cepat, matanya berbinar-binar penuh misteri. "Kakak pakai nama kamu, Alexa, buat jadi nama karakter utama ceweknya! Dia bakal jadi istri dari karakter utama cowoknya yang ganteng banget!"
Mata Alexa seketika membelalak. Senyum tipis langsung terbit di wajahnya yang tadinya lesu. Ada rasa senang dan bangga yang membuncah di dadanya. Siapa yang tidak senang jika namanya diabadikan sebagai tokoh utama dalam karya seorang penulis terkenal yang bukunya selalu laris manis?
"Beneran, Kak?" tanya Alexa, ekspresinya berubah menjadi sangat antusias. "Nama aku jadi istri karakter utamanya? Wah, tumben Kakak ingat sama adeknya sendiri! Cowoknya kayak gimana? Dia penyayang, kan?"
Namun, kegembiraan Alexa hanya bertahan beberapa detik saja.
Elena tiba-tiba menepuk tangannya sekali, lalu tersenyum miring dengan kilat jenaka yang sangat menjengkelkan di matanya. "Eits, tunggu dulu! Kakak kan belum selesai cerita," potong Elena santai. "Genre novel kali ini bukan romance manis biasa, Lex. Ini genre dark romance mafia."
Raut wajah Alexa mendadak membeku. "Maksudnya...?"
"Karakter suami kamu itu pemimpin mafia terkejam di dunia bawah. Dia dingin, psikopat, dan nggak punya belas kasihan," lanjut Elena dengan nada tanpa dosa, seolah sedang menceritakan cuaca hari ini. "Dan kamu—si tokoh Alexa di novel itu—bakal mati mengenaskan di tangan suami kamu sendiri di pertengahan cerita! Tragis banget, deh!"
Darah Alexa rasanya langsung mendidih seketika. Rasa senang yang baru saja hinggap di dadanya hancur berkeping-keping, berganti dengan kekesalan yang memuncak.
"KAK ELENA!" teriak Alexa histeris.
Tanpa berpikir panjang, Alexa menyambar bantal empuk yang ada di atas kursinya dan melemparnya sekuat tenaga tepat ke arah wajah Elena. PUK! Bantal itu mendarat sempurna di muka sang kakak.
"Sialan banget sih!" umpat Alexa kekeh, napasnya naik turun menahan gila. "Bisa-bisanya nama aku dipakai cuma buat dijadikan tumbal dan dibunuh secara tragis sama mafia gila?! Tega banget jadi kakak!"
Elena yang berhasil menangkap bantal tersebut malah tertawa terbahak-bahak melihat reaksi adiknya. Ia menyodorkan sebuah draf buku fisik yang baru saja dicetak ke atas meja Alexa, tepat di sebelah piring makanan.
"Aduh, jangan marah-marah gitu, dong! Ini kan seni!" sahut Elena sambil terus terkekeh, berdiri dari tempat tidur lalu berjalan pelan menuju pintu kamar. Elena berhenti sejenak di ambang pintu, menatap adiknya dengan tatapan jahil. "Nih, Kakak kasih lungsuran drafnya. Wajib baca, ya! Siapa tahu habis baca cerita ini, pusing kamu mikirin skripsi bisa hilang pindah jadi pusing mikirin nasib Alexa di novel!"
"Nggak sudi! Ambil lagi bukunya!" teriak Alexa kesal.
"Dadaah, Adekku! Selamat membaca nasib tragismu besok!" seru Elena sambil menjulurkan lidahnya sebelum menutup pintu kamar dengan cepat, meninggalkan suara tawa renyahnya yang masih bergema di lorong luar.
Alexa mendengus kasar, membuang napasnya dengan begitu keras. "Dasar kakak edan! Penulis terkenal tapi otak cerita ajaibnya benar-benar bikin darah tinggi!" gerutunya panjang lebar.
Ia kembali menatap layar laptopnya yang masih menampilkan tumpukan kalimat tugas akhir, lalu pandangannya beralih pada draf novel tebal bersampul hitam kelam yang ditinggalkan Elena di mejanya. Walaupun sangat kesal, ada sedikit rasa penasaran yang mendadak menggelitik dadanya.
Dua jam berlalu sejak Elena meninggalkan kamar. Tumpukan jurnal dan draf skripsi yang tadinya memenuhi meja belajar kini terabaikan begitu saja. Rasa penasaran akhirnya memenangkan pertarungan di kepala Alexa. Dengan desahan napas pasrah, ia meraih draf novel bersampul hitam pekat itu, membukanya perlahan, dan mulai membaca halaman demi halaman di bawah temaram lampu meja.
Matanya tertuju pada lembar prolog yang memuat deskripsi serta profil karakter utama pria.
"Raiden Damon Alteir..." gumam Alexa pelan. Jari-jemarinya mengusap tulisan nama tersebut di atas kertas. "Gila, namanya keren banget. Terdengar elegan tapi juga mengintimidasi."
Namun, kekaguman Alexa tak bertahan lama. Begitu memasuki bab pertama dan membaca penjelasan mengenai latar belakang pria tersebut, mulutnya perlahan terbuka lebar. Ia benar-benar melongo membaca deretan kalimat yang menggambarkan betapa mengerikannya sosok Raiden.
Dalam cerita itu, Raiden bukan sekadar ketua geng atau pengusaha kaya berdarah dingin, melainkan seorang penguasa tertinggi dari sindikat mafia internasional terbesar di Eropa. Karakter itu digambarkan sama sekali tidak memiliki nurani; pria bertangan dingin yang tak ragu mengeksekusi musuh, mengkhianati rekan bisnis, bahkan melenyapkan siapa saja yang berani menghalangi jalannya tanpa memandang bulu baik wanita, orang tua, maupun kerabat dekatnya sendiri.
"Ini sih bukan sekadar kejam... ini benar-benar psikopat murni!" bisik Alexa sembari merinding membayangkan aura kelam karakter Raiden.
Rasa penasarannya makin membumbung tinggi, memicu jemarinya untuk membalik halaman demi halaman lebih cepat. Hingga akhirnya, matanya tertuju pada adegan pembunuhan tragis di pertengahan bab. Senyum kagumnya benar-benar lenyap.
Di sana tertulis dengan sangat jelas bagaimana tokoh wanita bernama Alexa istri sah Raiden yang dinikahi karena perjodohan bisnis berakhir tewas secara mengenaskan. Hanya karena satu kesalahan kecil dan tuduhan pengkhianatan yang bahkan belum terbukti, Raiden sendiri yang menodongkan pistol tepat di dahi istrinya dan menarik pelatuk tanpa keraguan sedikit pun. Kematian tokoh Alexa digambarkan sangat dingin, tanpa ada penyesalan atau air mata sedikit pun dari sang suami.
"Bisa-bisanya Kak Elena bikin adegan kayak gini?!" seru Alexa kesal, menepuk dadanya sendiri yang terasa sesak. "Bener-bener dibunuh sama suaminya sendiri tanpa ampun! Mana namanya persis sama kaya aku lagi!"
Meskipun emosinya membumbung tinggi dan dadanya bergemuruh kesal, Alexa justru tidak bisa berhenti membaca. Alur cerita yang dibuat kakaknya sangat adiktif. Tanpa terasa, jarum jam dinding sudah melewati angka dua malam. Kamar semakin sunyi, hanya diwarnai suara helak napas Alexa yang kian tidak teratur seiring mendekati bagian akhir novel.
Ia terus membaca hingga bab terakhir, berharap setidaknya ada karma atau pembalasan atas semua kekejaman yang dilakukan oleh Raiden. Alexa berharap mafia kejam itu jatuh miskin, dipenjara, atau setidaknya merasakan penderitaan dan penyesalan mendalam setelah membunuh istrinya.
Namun, harapan Alexa hancur berkeping-keping di lembar terakhir.
Sampai pada kalimat penutup di bab akhir, Raiden Damon Alteir sama sekali tidak menyentuh penderitaan. Pria itu tetap berdiri kokoh di puncak tertinggi dunia bawah, menjadi penguasa yang tak tertandingi, ditakuti oleh seluruh fraksi mafia di dunia, dan hidup bergelimang harta tanpa ada satu pun orang yang sanggup menjatuhkannya. Tak ada karma, tak ada penyesalan, dan tak ada keadilan bagi tokoh Alexa yang mati sia-sia.
PLAK!
Alexa menutup buku tebal itu dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman yang nyaring di dalam kamarnya yang sepi.
"Cerita sialan! Cerita macam apa ini?!" gerutu Alexa penuh kekesalan, membuang buku itu ke ujung meja. Napasnya terengah-engah, matanya yang lelah menatap langit-langit kamar dengan sengit.
"Penulisnya bener-bener nggak punya hati! Masa penjahat kejam kayak gitu malah menang sampai akhir, sedangkan istrinya mati gitu aja tanpa keadilan? Kak Elena bener-bener gila!" omel Alexa panjang lebar pada ruangan hampa.
ok...let's play 🤣🤣
Alexa swaaaag🤣🤣🤣🫣
double up
takut Raiden nya kelamaan ngejelasinnya nya
Alexa main lompat aja🥹
anak orang udah diperawanin trus ilang
jangan salahin kalau ntar Alexa nya menghilang juga😔