Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28 Panggil Aku "Sayang"
Keira mengetik Nathan.
Kotak pesan bergoyang dan berubah merah.
Jawaban salah.
Ia mencoba Halim, suami, lalu pembuat masalah. Semua ditolak. Setiap jawaban salah melahirkan dua kotak pesan baru sampai layar dipenuhi tulisan berwarna merah muda.
"Kamu punya waktu terlalu banyak," katanya.
Nathan memeluk bantal yang tadi dilemparkan kepadanya. "Aku membuatnya dalam empat menit."
"Itu bukan pembelaan."
Keira meletakkan jari di papan ketik. Ia tahu kata yang diminta. Justru karena tahu, ia enggan memberi kepuasan kepada Nathan.
Notifikasi berbunyi lagi.
Panggil aku "Sayang".
Keira memejamkan mata sebentar, lalu mengetik Sayang dan menekan tombol masuk.
Semua kotak menghilang. Layar berubah hitam, lalu muncul manusia stik berkacamata yang berlutut sambil membawa hati merah. Di bawahnya ada tulisan kecil.
Maaf sudah mengganggu. Jam tidurmu pukul sebelas. Aku menunggu di kamar.
"Kamu menggambar ini sendiri?"
"Aku mengambil inspirasi dari mahakarya game masa kecilku."
"Kacamatanya terlalu besar."
"Supaya mirip aku waktu SD."
Keira menahan senyum, menyimpan program itu alih-alih menghapusnya. "Pergi dulu. Aku akan tidur setelah selesai membaca dua halaman."
Nathan berdiri. "Lima belas menit."
"Dua puluh."
"Baik, Sayang."
Pada awal pekan berikutnya, laporan independen Calista tiba. Tidak ada sengketa besar atau utang tersembunyi. Keira meminta dua syarat tambahan: audit keselamatan tahunan dan kanal pengaduan pekerja yang tidak dikendalikan manajemen hotel.
Andreas menerima keduanya tanpa revisi.
Di kantor notaris, Keira menandatangani pengalihan saham sebagai pemegang pasif. Namanya tercatat resmi untuk regulator, tetapi keluarga tidak menerbitkan siaran pers. Aset hibah dari Mariana juga diatur dalam deposito berjangka, sesuai strategi membosankan yang mereka pilih.
Notaris membaca ulang klausul yang menegaskan saham Calista tetap milik pribadi Keira dan tidak menjadi bagian dari pengendalian operasional Grup Halim. Keira meminta salinan digital serta fisik, kemudian mencatat nama kontak kepatuhan hotel.
"Aku ingin bertemu manajemen setelah pernikahan," katanya. "Bukan untuk mengatur menu sarapan. Aku cuma mau mereka tahu kanal pengaduan itu sungguh diperiksa pemegang saham."
"Saya jadwalkan setelah bulan madu," jawab notaris.
Nathan tidak menambahkan instruksi. Ia hanya memotret halaman jadwal dengan izin Keira dan mengingatkannya agar menyimpan salinan fisik di brankas terpisah dari dokumen keluarga.
Dalam perjalanan ke kantor, Keira menerima pesan dari Mariana yang hanya berisi satu pertanyaan: Sudah selesai?
Keira menjawab sudah, lalu mengirim foto tangannya yang memegang map. Balasan datang beberapa detik kemudian.
Bagus. Sekarang bekerja seperti biasa. Jangan biarkan uang mengubah punggungmu jadi bungkuk karena takut kehilangannya.
Keira membaca kalimat itu dua kali. Herman menyusul dengan pesan berbeda, menanyakan apakah ia sudah makan.
"Orang tuaku sangat konsisten," katanya.
"Mama mengurus arah hidup, Papa mengurus perut."
"Kombinasi yang efektif."
Nathan mengangkat kotak bekal di antara mereka. "Suamimu mengurus keduanya."
"Suamiku tadi hampir meninggalkan bekalnya di meja dapur."
"Itu pengujian kewaspadaan."
"Dan kamu gagal."
"Sembilan puluh miliar diam di bank," kata Nathan setelah mereka keluar. "Kamu sekarang kaya dan tetap pergi ke kantor membawa bekal."
"Itu bukan uang untuk dibakar."
"Aku tahu. Aku bangga."
Keira menoleh. Nathan mengatakannya tanpa bercanda, membuat langkahnya melambat sedikit.
"Terima kasih sudah membantuku tanpa mengambil alih," katanya.
"Aku juga bangga pada diriku."
"Pujian tadi dibatalkan."
Sementara itu, kantor NARA terus berubah. Meja tambahan memenuhi lantai kerja, pantry diperluas, dan dinding kaca baru memisahkan area riset dari ruang umum. Nathan menyetujui kantin kecil, sudut olahraga, serta kamar tidur ringkas untuk staf yang harus menangani insiden malam.
"Bukan untuk budaya lembur," tegasnya dalam rapat. "Kalau kalian tidur di sini karena atasan memberi beban tidak masuk akal, laporkan atasannya. Termasuk aku."
Tim menatap Tim, karena hanya dia yang mungkin berani melaporkan Nathan.
"Akan saya dokumentasikan," kata Tim tenang.
"Pengkhianat."
"Kebijakan Bapak sendiri."
Lucas mengusulkan aturan reservasi maksimal dua malam berturut-turut. Emma menambahkan bahwa kamar itu harus terpisah dari ruang server dan memiliki kunci darurat dari dalam. Nathan menerima keduanya, lalu meminta HR mencatat penggunaan tanpa memasukkan alasan medis atau data pribadi.
Kebijakan itu sederhana, tetapi memberi Keira satu gambaran baru ketika Nathan menceritakannya malam hari. Di balik semua gaya hidup mahal dan keputusan impulsifnya, ia membangun tempat kerja dengan detail yang lahir dari malam-malam panjang yang mungkin pernah ia jalani sendiri.
Di Nebula, Keira menerima undangan acara industri hari Jumat di Hotel Sentosa. Panelnya membahas seni digital dan kecerdasan buatan. Dimas menyuruhnya datang sebagai perwakilan tim ilustrasi.
"Fandy, manajer pemasaran baru, juga ikut," katanya. "Katanya pernah satu sekolah denganmu."
Nama itu terasa samar. Keira belum menemukan wajah yang cocok di ingatannya.
Malamnya, ia kembali membuka laptop di Verde. Tidak ada kotak pesan. Hanya ikon kecil manusia stik berkacamata di sudut layar.
Keira mengkliknya.
Karakter itu mengangkat papan: Jam berapa tidur?
Ia mengetik sebelas lewat lima belas.
Papan baru muncul: Baik, Sayang.
Keira memandangi dua kata itu, lalu menyadari Nathan berdiri di ambang pintu kamar sambil menunggu.
"Programmu terlalu banyak bicara," katanya.
"Penciptanya juga."
"Aku tahu."
Nathan mengulurkan tangan. "Tidur?"
Keira menutup laptop, berjalan mendekat, lalu meletakkan tangannya di telapak Nathan.
"Ayo, Sayang."
Kali ini, kata itu tidak terasa seperti harga yang dipaksakan.