Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Sebuah Pengakuan
Plaak!
Suara tamparan itu menggema di ruang tamu rumah sederhana milik keluarga Hanifah. Gadis itu memejamkan mata sesaat. Pipi kirinya langsung memerah dan terasa panas. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah.
Hanifah menundukkan kepala. Tangannya gemetar memegang ujung bajunya yang sudah kusut. Ia bahkan tidak berani menatap wajah lelaki paruh baya yang baru saja menamparnya.
Lelaki itu adalah ayahnya.
"Hanifah!" bentak sang ayah sambil menunjuk wajah putrinya. "Apa yang baru saja kamu katakan? Ulangi lagi!"
Di sampingnya, seorang perempuan paruh baya buru-buru memegang lengan suaminya.
"Sudah, Yah... tenang dulu." pinta sang ibu dengan suara memohon.
"Tenang?" Ayah Hanifah menepis pelan tangan istrinya. "Ibu suruh Ayah tenang setelah mendengar pengakuan anak kita?"
Air mata ibu Hanifah ikut menetes. Ia menoleh kepada putri semata wayangnya yang masih berdiri mematung.
"Hanifah..." lirihnya dengan tatapan mata yang hancur.
Hanifah menggigit bibirnya. Dadanya terasa sesak. Ia tahu sejak mengucapkan pengakuan itu beberapa menit yang lalu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Dengan langkah pelan dan lutut lemas, Hanifah berlutut di hadapan ayahnya.
"Maafkan Hanifah, Yah..." suaranya bergetar, nyaris tenggelam dalam isak tangis. "Ini memang kesalahan Hanifah."
Ayahnya tertawa sinis. Tawanya terdengar lebih menyakitkan daripada bentakan.
"Kamu tahu itu salah?" tanyanya. "Kalau tahu salah, kenapa kamu lakukan?"
Hanifah tidak menjawab. Ia menundukkan pandangannya.
"Ayah tanya!" bentaknya lagi.
Hanifah menundukkan kepala semakin dalam, menatap lantai semen yang terasa dingin.
"Hanifah... khilaf."
"Khilaf?" Ayahnya menggeleng pelan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Satu kali khilaf bisa membuatmu hamil?"
Kalimat itu membuat Hanifah menangis semakin keras.
Ibunya ikut memalingkan wajah. Hatinya terasa seperti diremas. Ia kecewa, marah, sedih, semua bercampur menjadi satu.
Selama ini mereka percaya penuh kepada Hanifah. Gadis itu dikenal baik, sopan, dan tidak pernah membuat masalah. Tidak pernah sedikit pun mereka menyangka bahwa kenyataan pahit ini terjadi ada didalam keluarga mereka.
Ayah Hanifah berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Napasnya memburu. Beberapa kali ia mengepalkan tangan seolah sedang berusaha menahan amarahnya sendiri agar tidak kembali melayang ke pipi putrinya.
"Ayah kerja siang malam buat siapa?" tanyanya tanpa melihat Hanifah.
Hanifah terdiam, membiarkan keheningan menjawab pertanyaan itu.
"Buat kamu!" teriak sang ayah, meluapkan seluruh sesak di dadanya.
Suasana kembali sunyi.
"Ayah banting tulang supaya kamu bisa kuliah. Ayah percaya kamu. Ayah bangga sama kamu." Suaranya mulai bergetar, karena rasa kecewa yang teramat dalam. "Tapi... ternyata kamu balas kepercayaan Ayah seperti ini."
Hanifah menutup wajahnya. Tangisnya semakin pecah.
"Maaf, Yah..." ratapannya di sela-sela tangisnya.
"Jangan minta maaf terus!"
Bentakan itu membuat Hanifah tersentak.
Ibunya kembali mencoba menenangkan suaminya.
"Yah... jangan begini. Hanifah juga pasti menyesal."
"Tentu dia menyesal!" balas ayahnya. "Kalau tidak ketahuan, apa dia akan mengaku?"
Hanifah menggigit bibirnya. Ia tidak bisa menyangkal ucapan ayahnya, karena memang begitulah kenyataannya.
Ruangan kembali dipenuhi keheningan. Hanya suara isak tangis Hanifah yang terdengar.
Ayahnya kemudian duduk di kursi rotan tua yang mulai mengelupas. Wajahnya tampak lelah. Kemarahan yang tadi membara perlahan berubah menjadi rasa kecewa yang begitu dalam.
Beberapa detik berlalu tanpa seorang pun berbicara.
Lalu, dengan tiba-tiba, Ayahnya memukul pegangan kursi dengan cukup kuat.
"Kandungan itu harus digugurkan."
Hanifah langsung mengangkat kepalanya.
"Ayah..." pekik Hanifah bergetar.
Ibunya juga ikut terkejut.
"Yah, jangan bicara begitu."
Ayah Hanifah memejamkan mata sejenak.
"Lalu harus bagaimana?" tanyanya lirih. "Kalau anak itu lahir, seluruh kampung akan tahu anak kita hamil sebelum menikah."
"Tapi menggugurkan kandungan juga dosa," ucap ibu Hanifah pelan mencoba mengingatkan suaminya.
"Lalu perbuatan mereka bukan dosa?" balasnya.
Tak ada yang mampu menjawab. Termasuk Hanifah yang meremas ujung bajunya erat-erat.
"Tapi... bayi ini tidak salah, Yah," ucapnya sambil menangis.
Ayahnya langsung menatap tajam.
"Lalu kamu pikir kamu tidak salah?"
Hanifah kembali terdiam. Ia tahu apa pun yang dikatakannya sekarang tidak akan mengubah keadaan.
Ruangan kembali dipenuhi keheningan. Tidak ada yang berani membuka suara. Bahkan suara jam dinding yang berdetak pelan terdengar begitu jelas.
Ayah Hanifah mengusap wajahnya kasar. Amarahnya belum reda, tetapi kini rasa bingung jauh lebih besar. Ia benar-benar tidak tahu harus mengambil keputusan seperti apa.
"Kalau kandungan itu dipertahankan..." gumamnya pelan. "Orang-orang akan membicarakan keluarga kita."
Ibu Hanifah menghela napas panjang.
"Kalau digugurkan, kita juga menanggung dosa. Tidak ada pilihan yang mudah, Yah."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya ayah Hanifah. "Menikahkan mereka begitu saja?"
Hanifah menundukkan kepala semakin dalam. Ia tahu pembicaraan itu menentukan masa depannya.
"Orang akan menghitung usia pernikahan mereka," lanjut ayahnya. "Kalau beberapa bulan kemudian bayi lahir, semua orang akan tahu apa yang sudah mereka lakukan."
Ibu Hanifah menatap putrinya yang masih berlutut, hatinya melunak melihat penderitaan sang anak.
"Hanifah..." panggilnya lembut.
"Iya, Bu." Hanifah mengangkat kepalanya.
"Sejak kapan kamu tahu kalau kamu hamil?"
Hanifah menarik napas pelan.
"Hampir dua minggu."
"Dua minggu?" Ayahnya kembali meninggikan suara, kembali tersulut emosi. "Selama itu kamu memilih diam?"
Hanifah mengangguk pelan, "Aku takut."
"Takut?" Ayahnya tertawa pahit. "Sekarang kamu baru takut?"
Hanifah kembali menangis. Ia ingin menjelaskan semuanya. Namun setiap kata terasa sia-sia.
"Ayah..." ucap ibu Hanifah lembut. "Sekarang bukan waktunya terus menyalahkan Hanifah. Kita harus mencari jalan keluarnya."
Ayah Hanifah menatap istrinya.
"Jalan keluar apa?"
Ibunya menghela nafas berat, "Kita panggil laki-laki itu."
Hanifah perlahan mengangkat wajahnya.
Ayahnya langsung menoleh. "Siapa namanya?"
"Arkana..."
"Nama lengkap!" gertak ayahnya, tidak sabaran.
"Arkana Najendra."
Ayah Hanifah mengulang nama itu dalam hati. Wajahnya terlihat semakin keras.
"Dia tahu kamu hamil?"
Hanifah mengangguk, "Dia bilang akan bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab?" Ayah Hanifah mendengus meremehkan. "Mudah sekali mengucapkan kata itu."
Ibu Hanifah ikut bertanya.
"Dia benar-benar bilang begitu?"
"Iya, Bu."
"Terus kenapa dia tidak datang ke sini?"
Hanifah terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa tanpa membuat posisi Arkana semakin buruk.
Ayahnya langsung berdiri dari kursinya.
"Itu dia! Laki-laki yang benar-benar bertanggung jawab tidak akan membiarkan perempuan datang sendirian mengaku kepada orang tuanya."
"Yah..." ibu Hanifah mencoba menenangkan.
"Ayah tidak peduli!" bentaknya. "Kalau memang dia laki-laki, suruh dia datang dan hadapi Ayah!"
Hanifah mengusap air matanya.
"Dia sedang bekerja, Yah."
"Masih sempat bekerja setelah membuat hidupmu begini?" sindir ayahnya dengan nada sarkas.
Suasana kembali memanas. Ibu Hanifah memegang lengan suaminya.
"Kalau memang dia ingin bertanggung jawab, kita dengarkan dulu penjelasannya."
Ayah Hanifah menarik napas panjang. Dadanya naik turun menahan emosi.
"Ayah hanya punya satu anak."
Kalimat itu membuat Hanifah kembali menangis.
"Ayah selalu menjaga kamu." Suara ayahnya mulai melemah. "Ayah percaya kamu bisa menjaga diri. Tapi... ternyata Ayah gagal."
Hanifah langsung menggeleng.
"Bukan Ayah yang gagal."
"Lalu siapa?" tanya ayahnya dengan suara tercekat.
Hanifah tidak mampu menjawab. Ia hanya menangis sambil menutup wajahnya.
Melihat putrinya seperti itu, ibu Hanifah ikut meneteskan air mata. Hatinya hancur melihat dua orang yang paling disayanginya saling terluka.
"Hanifah," panggil ibunya pelan.
"Iya, Bu."
"Jawab Ibu dengan jujur."
Hanifah mengangguk.
"Kamu masih ingin mempertahankan kandungan itu?"
Tanpa ragu, Hanifah mengangguk.
"Iya, Bu."
"Meskipun semua orang akan membicarakanmu?"
"Iya."
"Meskipun hidupmu setelah ini tidak akan mudah?"
Hanifah kembali mengangguk.
"Itu anak Hanifah."
Jawaban itu membuat ibu Hanifah memejamkan mata.
Sementara ayah Hanifah memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia mengepalkan tangannya erat.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Akhirnya ia berkata dengan nada tegas.
"Besok."
Hanifah dan ibunya menoleh bersamaan.
"Besok suruh Arkana datang ke rumah."
Hanifah menatap ayahnya penuh harap.
"Kalau dia benar laki-laki yang bertanggung jawab, dia harus datang sendiri."
Ayah Hanifah menatap putrinya tajam.
"Kalau sampai dia tidak datang..." Ia berhenti sejenak. "Mulai hari itu, lupakan laki-laki itu. Dan jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi."
Ucapan itu membuat wajah Hanifah memucat. Ia hanya mampu menunduk sambil menangis. Sementara di dalam hatinya, ia terus berharap.
"Semoga Arkana benar-benar datang."