Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?
Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.
Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Dekekuoi
Aku punya seorang teman perempuan di sekolah. Kami satu kelas, masih SMA, dan tidak ada yang benar-benar menganggapnya aneh, kecuali satu hal, dia selalu menutup lehernya dengan syal rajut.
Bukan sekadar kebiasaan kecil. Itu seperti kebutuhan. Seperti seseorang yang menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh dilihat siapa pun.
Bahkan saat siang hari terasa membakar kulit, saat udara di kelas pengap dan kipas hanya berputar tanpa arti, syal itu tetap melilit lehernya dengan rapat, tak pernah longgar, tak pernah lepas.
Namanya Lira dan entah sejak kapan, aku mulai merasa … ada yang salah dengannya.
Awalnya hanya firasat samar, tapi setiap kali aku berada di dekatnya, ada sesuatu yang mengganggu indra penciumanku. Bukan bau busuk, justru sebaliknya, terlalu harum, terlalu manis, seperti bunga yang mekar di tanah kuburan.
Aku pernah mencium aroma seperti itu sebelumnya, dalam mimpi.
Dalam ingatan yang bukan sepenuhnya milikku.
Beberapa teman mulai menjadikannya bahan candaan, mereka penasaran dengan syal itu, berkali-kali mencoba menariknya, tapi selalu gagal. Lira selalu bereaksi cepat, refleksnya hampir seperti hewan yang terpojok, tangannya selalu lebih dulu menahan, tubuhnya selalu lebih dulu menjauh.
Seolah-olah … jika syal itu lepas, sesuatu yang buruk akan terjadi.
Hari itu, saat jam istirahat, semuanya berubah.
Kami duduk di kelas, makan siang seperti biasa. Suara obrolan memenuhi ruangan, aku duduk bersama beberapa teman, sementara Lira duduk di depan kami, membelakangi. Syal itu masih melilit lehernya.
Lalu Raka, si paling iseng di kelas, muncul dengan ide bodohnya, tanpa peringatan, dia mendekat dari belakang, mengendap seolah seperti macan tutul yang sedang memburu makanannya, tak banyak yang sadar, mungkin di kelas, hanya aku yang melihat itu dengan tersenyum tipis, berharap syal itu bukan jadi incarannya, tapi sepertinya harapanku salah, Raka dengan kecepatan kilat menyambar syal itu! Lira tidak sadar!
Untuk pertama kalinya … syal itu terlepas.
Semua terjadi begitu cepat, syal yang menutupi leher Lira selama ini jatuh ke lantai.
Lira membeku terdiam, seluruh kelas juga menjadi hening, seolah kejadian itu sakral.
Dan aku … menarik napas, aroma itu langsung menghantam hidungku, sangat tajam, aku bahkan harus mengeluarkan sedikit udara dari hidungku dengan cara meniup melalui hidung agar aroma itu tak membuatku kehilangan kesadaran.
Karena kali ini aroma yang selalu kuhirup samar jadi jauh lebih kuat dan lebih pekat, seolah sesuatu yang selama ini disegel akhirnya terbuka.
Aku tidak hanya menciumnya tapi aku mengingatnya. Ingatan yang dulu dipaksa ada oleh orang tuaku, lalu kakekku pada ayah dan ibu begitu seterusnya. Aku terhuyung sedikit.
Leher Lira kini terlihat jelas, di sana … ada tanda itu, tanda yang aku harap dia tak memilikinya, meski wangi samar itu membuatku menduga-duga, tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku tak ingin kecurigaan itu benar.
Sebuah simbol melingkar, seperti ukiran kuno yang hidup di kulitnya. Garis-garisnya tampak seperti bergerak halus, membentuk pola yang tidak bisa dimengerti oleh manusia biasa.
Tapi aku mengenalnya! Simbol Dekekuoi!!!
Lira langsung berbalik menatapku, matanya bertemu dengan mataku dan saat itu, aku tahu, dia juga mengenaliku! Wajahnya pucat, bibirnya bergetar.
“Tidak …” bisiknya pelan, hampir tanpa suara sambil berdiri dari bangkunya dan mundur berusaha menjauh dariku.
Tubuhnya gemetar hebat, Keringat mengalir di wajahnya dan dalam kepalaku … sesuatu mengalir deras, tidak lagi rasa penasaran, tapi rasa ingin yang hebat! desiran darahku terasa, seolah menghangat, gairah gila yang tertahan sejak dulu karena buruannya tidak pernah ada lagi.
Tapi sekarang, Lira ada di hadapanku.
...
Legenda tentang Dekekuoi bukanlah sekadar cerita rakyat.
Di tanah Bulgaria, jauh sebelum dunia modern mengenal listrik dan hukum, ada sebuah garis keturunan penyihir yang tidak mempelajari sihir, karena mereka dilahirkan dari sihir itu sendiri.
Dekekuoi!
Mereka dipercaya sebagai penjaga antara dunia hidup dan dunia roh, tapi bukan penjaga yang melindungi. Mereka adalah penjaga yang mengikat.
Setiap anggota keluarga Dekekuoi lahir dengan tanda di leher, simbol yang ditanamkan melalui ritual kuno, menggunakan darah leluhur pertama mereka. Konon, leluhur itu membuat perjanjian dengan entitas yang tidak memiliki nama, sesuatu yang hidup di antara bayangan dan ingatan manusia, beberapa bilang juga nenek moyang yang telah tiada Sebagai imbalan atas kekuatan, mereka harus memberikan jiwa.
Bukan jiwa mereka sendiri, tapi jiwa orang lain. Setiap generasi, mereka harus “memberi makan” kekuatan itu. Mengikat roh manusia ke dalam garis darah mereka. Semakin banyak jiwa yang mereka kumpulkan, semakin kuatlah mereka.
Dan tanda di leher itu … adalah segel. Bentuknya hanya garis tak beraturan seperti akar, tapi memiliki pola, satu garis yang keluar dari polanya adalah satu jiwa yang telah mereka lahap, karena dipaksa keluar dari tubuhnya dengan cara penumbalan.
Segel itulah yang menahan aroma asli mereka, bau kematian yang telah bercampur dengan ratusan jiwa, busuk jika bisa direpresentasikan di hidung manusia biasa, tapi sayang manusia biasa takkan mampu mencium aromanya.
Karena itu, mereka selalu menutupinya, dengan kain, dengan mantra dan dengan kebohongann, namun, setiap kutukan melahirkan penyeimbangnya.
Keluargaku ….
Kami bukan penyihir, kami adalah pemburu.
Menurut legenda, leluhurku adalah satu-satunya yang selamat dari pembantaian besar yang dilakukan Dekekuoi. Seluruh keluarga leluhurku dikubur hidup-hidup di tanah dingin yang lembab tapi dia bangkit kembali, bukan sebagai manusia biasa karena telah melewati fase kematian, maka nenek moyangku menjadi makhluk yang berbeda, makhluk kelam yang mampu mencium kematian karena telah melewatinya.
Maka kami akhirnya memiliki kemampuan untuk mencium bau mereka, para penyihir Dekekuoi! Penyihir yang melahap jiwa manusia yang mati di tangan mereka, kematian-kematian itulah yang kami cium baunya, bau busuk yang tak tertahankan.
Tidak peduli di mana mereka bersembunyi, tidak peduli seberapa dalam mereka menyamar, aroma Dekekuoi akan selalu tercium oleh darah kami.
Dan sejak saat itu, satu hukum diwariskan, buru mereka! habisi mereka! Putuskan garis darah itu, garis darah pembantai busuk yang bau, agar kami bisa mati!
Ya, banyak orang ingin abadi, tapi kami hanya ingin mati dengan tenang, jika mampu membantai 1 Dekekuoi maka umur kami akan berkurang sebanyak jiwa yang telah mereka habisi. Pada umumnya, para pemburu Dekekuoi memiliki umur yang sangat panjang, sepanjang yang aku tahu, bahkan nenek moyangku berumur genap 1000 tahun dan baru saja meninggal tahun lalu.
Banyak orang ingin abadi, tapi mereka tak tahu harga yang harus dibayar untuk keabadian, mereka tidak tahu betapa kesepiannya, betapa sakit dan betapa hampanya abadi itu.
Maka seluruh keluarga kami telah dididik untuk memperjuangkan kematian dengan memburu para Dekekuoi itu, penyihir yang pantas mati.