NovelToon NovelToon
Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.

Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**

Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.

Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**

Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**

"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."

Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:

*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14: Kalung yang Hilang

“Kalung saya hilang.”

Vanessa berdiri di tengah ruang keluarga dengan kotak perhiasan terbuka. Wajahnya pucat, tetapi suaranya cukup keras untuk memanggil semua orang turun.

“Kalung emas yang dari Mama. Tadi pagi masih ada di meja rias.”

Cornelia mengerutkan kening. “Kamu sudah cari di lemari?”

“Sudah. Kamar mandi juga. Enggak ada.”

Lia baru selesai mengantar susu Bryan ketika seorang pekerja lama bernama Rina menunjuk kepadanya.

“Tadi Mbak Lia masuk kamar Ibu Vanessa.”

Ruangan langsung sunyi.

Lia berhenti di anak tangga terakhir. “Saya masuk karena Mbak Rina meminta saya mengambil handuk kotor.”

“Saya tidak pernah minta,” kata Rina cepat.

Vanessa menutup kotak perhiasan perlahan. “Saya tidak mau menuduh siapa pun. Tapi kamar itu hanya dimasuki orang rumah.”

Kalimatnya terdengar lembut, justru karena itu lebih menusuk.

Lia menurunkan botol susu kosong ke meja. Pergelangan tangannya masih dibalut, tetapi ia berdiri tegak.

“Silakan periksa kamar saya dan barang saya. Tapi lakukan di depan saksi, dan catat siapa yang menyentuh apa.”

Vanessa tampak tidak menyangka Lia akan mengusulkan pemeriksaan sendiri.

“Kalau kamu tidak mengambil, kenapa begitu tegang?”

“Karena nama saya sedang dipertaruhkan.”

Cornelia memanggil kepala rumah tangga dan meminta dua pekerja perempuan menemani pemeriksaan. Popo Mei Hoa tetap duduk di kursinya, kedua tangan bertumpu pada tongkat.

“Jangan ada yang asal membuka barang Aho tanpa dia melihat,” katanya.

Pemeriksaan baru hendak dimulai ketika Sebastian masuk dari pintu depan. Ia pulang mengambil dokumen yang tertinggal sebelum rapat siang.

Matanya segera menemukan Lia di antara kerumunan.

“Ada apa?”

Vanessa menjelaskan kejadian itu, lalu menambahkan, “Kami cuma ingin memastikan. Lia satu-satunya yang terlihat masuk kamar saya.”

Sebastian tidak langsung membela. Ia melihat jam dinding, lalu bertanya, “Kapan terakhir kalung terlihat?”

“Sekitar pukul sembilan.”

“Siapa yang melihat?”

“Saya sendiri.”

“Kapan Lia masuk?”

Rina menjawab, “Pukul sembilan lewat sedikit.”

Lia menggeleng. “Sekitar pukul sepuluh. Sebelumnya saya bersama Bryan dan Popo.”

Popo mengangguk. “Aho di kamar bayi sampai saya selesai menelepon teman lama. Lewat setengah sepuluh.”

Sebastian mengeluarkan ponselnya. “Rumah ini punya kamera koridor. Kita lihat waktunya sebelum menggeledah barang siapa pun.”

Wajah Rina berubah.

Vanessa segera berkata, “Kamera di dalam rumah kadang mati.”

“Yang di koridor aktif pagi ini. Saya menerima notifikasi saat teknisi datang memeriksa pendingin ruangan.”

Sebastian meminta petugas keamanan membuka rekaman di televisi ruang keluarga. Semua orang melihat Rina naik ke lantai dua pukul 09.17 sambil membawa tumpukan kain. Ia masuk ke kamar Vanessa, keluar empat menit kemudian, lalu turun menemui Lia di dapur.

Lia baru masuk ke kamar itu pukul 10.08. Ia membawa keranjang kosong dan keluar dengan handuk kotor kurang dari satu menit kemudian.

“Rina yang lebih dulu masuk,” kata Cornelia.

“Saya cuma mengantar laundry,” jawab Rina gugup.

Sebastian memutar rekaman lain dari lorong samping. Pukul 09.25, Rina memasuki kamar linen. Tangan kanannya tampak menggenggam sesuatu yang berkilau.

“Buka kamar linen,” perintah Cornelia.

Mereka pergi bersama agar tak ada yang bisa memindahkan barang. Di balik tumpukan sarung bantal pada rak paling bawah, kepala rumah tangga menemukan kantong beludru merah. Kalung Vanessa ada di dalamnya.

Rina langsung menangis.

“Saya disuruh menyimpan saja. Saya tidak tahu akan begini.”

Tatapan semua orang beralih kepada Vanessa.

Vanessa menegang. “Jangan menatap saya. Dia bisa saja mencuri lalu panik.”

“Tadi kamu bilang hanya Lia yang terlihat masuk,” kata Sebastian. “Padahal pekerjamu masuk lebih dulu, membawa benda berkilau keluar, lalu berbohong soal waktu.”

“Sebas, jangan membesar-besarkan.”

“Nama orang hampir dihancurkan. Itu sudah besar.”

Lia menggenggam ujung lengan bajunya. Ia tidak ingin menangis di depan mereka, tetapi rasa terhina membuat matanya panas.

Cornelia menatap Rina. “Siapa yang menyuruhmu?”

Rina menunduk. Bahunya bergetar. “Ibu Vanessa bilang cuma mau menguji Lia. Katanya kalung akan ditemukan lagi sebelum malam.”

Vanessa bangkit. “Kamu bohong!”

“Cukup,” kata Popo.

Satu kata dari perempuan tua itu menghentikan semua suara.

Popo menatap Vanessa lama. “Kalau mau menilai orang, nilai kerjanya. Jangan pasang perangkap lalu sebut itu ujian.”

Vanessa memandang Cornelia, berharap mendapat pembelaan. Cornelia justru mengusap pelipis.

“Minta maaf kepada Lia.”

“Tante, saya tidak...”

“Sekarang.”

Wajah Vanessa memerah. Ia berbalik kepada Lia dengan rahang kaku.

“Maaf karena kejadian ini membuat kamu dituduh.”

Lia tidak menurunkan kepala. “Saya menerima permintaan maaf kalau Mbak Vanessa juga mengakui saya tidak mengambil kalung itu.”

Keberanian Lia membuat senyum Vanessa membeku.

“Kamu tidak mengambilnya,” ucapnya akhirnya.

“Terima kasih.”

Rina dibebastugaskan sambil menunggu keputusan Cornelia. Rekaman disalin dan waktu pemeriksaan dicatat agar tidak ada cerita baru yang diputarbalikkan.

Saat semua orang bubar, Sebastian berhenti di depan Lia.

“Kamu baik-baik saja?”

“Saya tidak mencuri.”

“Saya tahu.”

“Ko Sebas bahkan memeriksa bukti dulu.”

“Karena kebenaran yang punya bukti lebih sulit dihancurkan oleh omongan.”

Ia menatap perban di pergelangan Lia, memastikan tidak ada luka baru akibat keributan tadi. Tanpa menarik perhatian siapa pun, Sebastian menggeser botol air hangat dari meja ke tangan kiri Lia.

“Minum. Wajahmu pucat.”

Perhatian kecil itu terasa lebih jujur daripada seluruh permintaan maaf di ruangan tadi.

Ia pergi setelah mengatakan itu. Lia memandang punggungnya dengan dada hangat.

Dari ujung lorong, Vanessa melihat tatapan Lia dan mengepalkan kotak perhiasannya sampai buku-buku jarinya memutih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!