NovelToon NovelToon
Married By Arrangement, Love By Fate

Married By Arrangement, Love By Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Tidak update harian!!

Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.

Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.

Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.

mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.

Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang ikut runtuh

Brak!!

Suara pintu yang ditutup dengan keras membuat Zalina dan ibunya, Mariana, tersentak ketika sedang menonton televisi bersama.

Pandangan mereka seketika beralih, menatap sosok pria yang berjalan goyah ke arah mereka. Pria itu tampak lesu, gurat-gurat kelelahan terlukis jelas di wajahnya yang mulai menua. Tatapannya yang getir, seolah sedang menunjukkan beban berat yang kini sedang ia pikul di bahunya.

Rayhan menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan keras. Ia menyandarkan kepalanya di atas sandaran sofa. Matanya terpejam, bukan karena mengantuk, melainkan karena menahan lelah yang teramat besar.

"Ada apa, Mas?" tanya Mariana dengan wajah penuh kekhawatiran. "Apa pinjaman kita ditolak lagi?"

Rayhan mengangguk lemah. Ia tampak lelah.

Sudah seminggu terakhir ini, ia mencoba mencari pinjaman dana ke beberapa relasi dan juga teman-teman dekatnya. Perusahaan tekstil miliknya yang sudah berdiri puluhan tahun, kini berada di ambang kebangkrutan.

Mesin-mesin tua yang tidak lagi efisien, pesanan yang terus menurun, serta tekanan dari produk impor yang harganya jauh lebih murah, membuat keuangan perusahaan semakin tercekik. Hutang mulai menumpuk, para investor mulai kehilangan kepercayaan mereka, dan pada akhirnya keputusan pahit itu tidak bisa dihindari. Perusahaan harus ditutup.

Hari penutupan itu menjadi hari paling kelam dalam hidup mereka. Ribuan buruh bahkan berdemo di depan, gerbang pabrik, menuntut hak mereka yang belum dibayarkan beberapa bulan. Teriakan, tangisan dan amarah para buruh bercampur menjadi satu.

Membuat Rayhan merasa begitu terpukul. Perusahaan yang diwariskan turun-temurun kepadanya, tak mampu ia jaga. Ia kini harus kehilangan usahanya, sekaligus harga diri di hadapannya para pekerja yang menggantungkan hidup pada perusahaannya.

Ia sudah mencoba meminjam uang ke mana-mana, namun mereka menolak permohonannya. Padahal, banyak di antara perusahaan itu yang pernah ia bantu sebelumnya. Namun, ketika ia jatuh, tidak seorang pun yang bisa menolongnya.

Bahkan rumah mewah yang ia tempati, kini sudah ia jadikan jaminan ke bank, untuk membayar hutang pada investor dan juga membayar gaji karyawan yang tertunggak beberapa bulan.

"Apa pabrik itu benar-benar tidak bisa diselamatkan lagi, Ayah?" tanya Zalina hati-hati.

"Tidak, Nak. Kita sudah benar-benar bangkrut. Bahkan rumah ini, mungkin akan disita oleh bank sebentar lagi karena hutang kita pada bank yang sudah jatuh tempo." jelasnya lirih, terdengar begitu memilukan.

Zalina duduk di samping ayahnya, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia meraih pundak ayahnya, mencoba untuk menenangkannya.

"Tidak apa-apa, Yah. Ayah sudah berusaha semampu Ayah."

Ucapan itu seperti angin segar yang membawa sedikit rasa tenang di dalam hati Rayhan. Ia sangat beruntung memiliki seorang putri yang pengertian dan tidak pernah menuntut apapun darinya.

"Terima kasih, Nak." ucapnya tulus.

Sementara Mariana yang berdiri di hadapannya mereka, tampak kesal. Wajahnya seketika memancarkan kemarahan yang tidak bisa lagi ia tahan.

"Rumah ini akan di sita?" Mariana mengulang kata itu dengan penuh penekanan.

"Iya, sayang. Maafkan aku." sahut Rayhan.

"Lalu... kita semua akan tinggal di mana, Mas?" tanyanya kesal.

"Aku akan menjual beberapa perhiasan dan barang-barang yang masih tersisa. Aku rasa itu masih cukup membeli sebuah rumah kecil untuk tempat tinggal kita sementara." jelas Rayhan.

Mariana tampak tersenyum tipis, bukan senyum senang, melainkan senyum pahit yang penuh sesal.

"Jadi, maksudmu kita akan hidup susah di rumah yang sempit dan kecil? Memulai semuanya dari nol lagi?" tanyanya pelan namun penuh penekanan, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

"Iya. Kita mungkin akan hidup sederhana untuk beberapa tahun. Tapi... aku janji akan segera mencari pekerjaan lain untuk kembali mengumpulkan modal." jelas Rayhan, tampak menenangkan istrinya.

Ia tahu, Mariana mungkin tidak bisa menerima kenyataan pahit ini begitu saja. Istrinya yang terbiasa hidup mewah sejak lahir, mungkin tidak akan siap untuk menerima kehidupan mereka yang akan berputar drastis.

"Tidak. Aku tidak mau hidup miskin denganmu, Mas. Aku tidak mau... aku tidak akan sanggup." bantahnya dengan mata yang memerah, menahan kesedihannya.

Memikirkan hidupnya yang mungkin akan serba berkekurangan, membuat Mariana murka, dan memilih untuk mengakhiri rumah tangganya yang sudah dibina lebih dari dua puluh satu tahun itu.

"Aku ingin bercerai, Mas."

Kata-kata itu seperti tamparan keras yang menghantam dada Rayhan. Bukan hanya bagi pria itu, namun juga bagi putri mereka, Zalina, yang kini tampak membeku di samping ayahnya.

Di tengah masalah yang menumpuk dan keterpurukan yang belum sempat mereka pahami sebelumnya, ibunya dengan mudahnya melontarkan kata "cerai" di hadapan mereka. Kata yang selama ini begitu jauh, namun kini terasa dekat dan begitu nyata. Kata-kata itu terdengar begitu menyakitkan hati.

Wanita yang dahulu penuh kasih sayang, dalam sekejap berubah menjadi wanita asing yang tidak punya rasa empati sedikit pun.

Rayhan yang mendengar perkataan istrinya, seketika merasa dunia yang ia bangun selama puluhan tahun runtuh tanpa sisa.

Dadanya seketika terasa sesak, bukan hanya karena kehilangan perusahannya, tetapi karena ia pernah menyangka bahwa orang yang selama ini berdiri di sisinya justru memilih pergi disaat ia sedang begitu rapuh.

"Ini bukan saatnya bicara seperti itu, Bu. Tolong mengertilah posisi ayah sekarang. Ayah sedang menghadapi banyak masalah." Zalina menjeda kalimatnya sejenak. Ia tampak menggemskan napas, mencoba untuk menyadarkan ibunya.

"Seharusnya Ibu berdiri di samping Ayah untuk mendukungnya, bukan malah menambah masalah baru seperti ini. Kita ini satu keluarga, Bu. Seharusnya kita saling menguatkan bukan hanya saat kita sedang senang, namun saat kita juga sedang berada dalam kesusahan seperti sekarang."

"Kau tidak tahu apapun tentang keluarga, Zalin. Ibu sudah terbiasa hidup senang sejak kecil. Lalu, apa sekarang Ibu harus belajar untuk hidup susah?" Mariana menggeleng cepat. "Tidak. Ibu tidak mau... Ibu tidak sanggup, Zalin." ucap Mariana, meninggikan suara.

Rayhan tampak tersenyum lebar, bukan senyum hangat melainkan karena senyum getir yang begitu melukai hatinya.

"Jadi... selama ini, semua yang kita jalani tidak berarti apa-apa bagimu?" Rayhan menatap istrinya, matanya penuh luka yang tidak bisa ia sembunyikan.

Tidak ada jawaban yang menenangkan. Wanita itu hanya mengalihkan pandangannya, seolah enggan menatap lebih lama pada kenyataan yang ia pilih sendiri.

"Baiklah... jika itu yang kau inginkan. Aku tidak punya hak untuk memaksamu tinggal." ucapnya lirih, tanpa menoleh ke arah Mariana. "Aku akan mengurus perceraian kita secepatnya."

Zalina tak mampu lagi menahan air matanya. Ia menangis, melihat keputusan kedua orang tuanya yang membuat ia sakit hati.

"Apa kau akan ikut bersama Ibu, atau tinggal bersama Ayahmu, Zalina?"

Pertanyaan itu membuat dada Zalina terasa semakin sesak. Ia dipaksa untuk memilih sesuatu yang tidak pernah ia harapkan sebelumnya. Pilihan itu terlalu sulit baginya. Namun, ibunya tidak mengerti dan tidak peduli.

"Aku akan tetap di sini, bersama dengan ayah. Jika Ibu ingin pergi, maka pergilah." sahut Zalina dingin, tanpa menoleh sedikit pun ke arah wanita yang telah melahirkannya itu.

Mariana tampak menghela napas sejenak. Ia lalu pergi setelah membawa beberapa perhiasan yang masih tersisa dari rumah itu.

Wanita itu pergi begitu saja, tanpa memperdulikan dua orang yang selama ini selalu ada untuknya.

Hari itu, bukan hanya rumah yang terasa runtuh, namun juga keluarga yang selama ini mereka percaya akan selalu utuh.

🥀🥀🥀

Halo jumpa lagi dengan novel terbaruku.

Absen dulu yuk! Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca untuk mendukung karya ini.

1
Xlyzy
dia terlalu serius jadi ga denger saat di panggil
Xlyzy
Malu nya ketahuan lagi stalking di depan orang nya langsung
Cimol krispy
kalau memang itu satu satunya jalan, dicoba aja dulu Zal
Cimol krispy
dengar penjelasan ayahmu dulu Zalina.
Mingyu gf😘
lailahaillah 1 m😭😭
Mingyu gf😘
Ayahmu berhutang zal, dan bakal jatuh tampo 2 hari lagi😭
ginevra
yahh nggak ada adegan malam pertama donk. padahal nungguin banget nih 🤭🤭
ginevra
yakin? nanti juga lama2 kalian saling jatuh cinta. kalau si kai normal loh ya
Filan
lho... ortumu normal lho... hubungan mereka harmonis. kamu bukan dari keluarga broken. Padahal biasanya anak lihat ortunya.
-Thiea-: dia punya pandangan sendiri sepertinya.😅
total 1 replies
Filan
ga usah mengendalikan diri kalau sama istri 😌
Filan
syukurlah kalau dia normal 😅
Three Flowers
terasa berat karena itu dialami sendiri oleh keluarganya
Three Flowers
berarti Kaiden ada nafsu juga pada wanita, ya?
Miu.Nuha
ibumu backgraundny udh tajir Zal, jadi diajak susah gk mau kan, hiks... kepekaan hatinya kurang itu...
Miu.Nuha
malah makin penasaran ya Diandra
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...
Ali
ga sopan nih anak, cabein aja bu itu bibir anaknya
Myz Pena
ini seperti menukar diri dengan sesuatu yang berharga.. kalau di dunia nyata bisa saja beruntung kalau menemukan orang yang tepat dan bisa saling mencintai.. 🤧
Myz Pena
wkwkwkwm pura pura lupa 🤣🤣🤣
Xlyzy
udah biar kan aja kaiden cari cuan
Xlyzy
bilang aja sekarang mau sarapan pagi karna ada istri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!