NovelToon NovelToon
Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Teen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti

Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.

Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.

Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.

Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.

"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

BLAAR!

Lanjutan kilatan petir menyambar tepat di atas tebing batu alam Karibia. Cahaya putih kebiruan yang menyilaukan menerangi interior vila selama beberapa detik, memperlihatkan siluet dua insan yang terpaku di tengah kegelapan yang kian pekat. Lolongan angin badai Hecate di luar sana kini terdengar seperti gemuruh monster kelaparan yang siap meruntuhkan dinding-dinding kaca megah tersebut.

BIIIIP! BIIIIP!

Panel kontrol utama di dekat pintu berbunyi nyaring sebelum akhirnya redup dan mati total. Generator cadangan berteknologi surya di belakang vila gagal melakukan transmisi daya akibat sambaran petir yang merusak pemancar arus utama. Sistem keamanan pintar yang mengunci vila mendadak mengalami system failure, pintu-pintu baja bergeser sedikit, kehilangan pengunci magnetiknya, dan gelang perak di pergelangan tangan Clara berhenti bergetar. Sensor pelacaknya mati. Sangkar emas itu terbuka.

Kenzo melepaskan baringan tubuhnya dari atas sofa, berdiri cepat dengan rahang mengeras tajam.

"Tetap di posisi tempatmu duduk, Clara,"

perintah Kenzo dengan suara berat yang hampir tertutup oleh gemuruh angin luar.

Pria itu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel untuk memeriksa jaringan sinyal, namun layar digital itu hanya menampilkan simbol No Service.

"Generator utama tersambar,"

gumam Kenzo dingin.

Ia membalikkan badan menuju lemari penyimpanan darurat di area dapur untuk mengambil senter dan alat navigasi manual.

"Aku akan memeriksa panel daya di luar. Jangan mencoba melangkah satu meter pun dari sofa itu."

Clara tidak menjawab. Ia tetap duduk membisu di atas sofa kulit, menunggu hingga langkah kaki Kenzo yang mantap menghilang menyusuri lorong menuju pintu samping vila.

Begitu derit pintu samping terdengar terbuka dan tertutup dihantam angin kencang, Clara langsung bangkit berdiri. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyengat dadanya. Rasa lelah dan lemas akibat mogok makan mendadak lenyap, tergantikan oleh sengatan adrenalin murni yang membakar seluruh sarafnya.

Ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki. Tidak ada kamera yang mengawasi, tidak ada sensor yang mengikatnya.

Dengan langkah berjinjit, Clara berlari menuju pintu utama vila. Pintu baja tebal yang sebelumnya memerlukan pemindai retina milik Kenzo kini dapat didorong secara manual karena pengunci elektroniknya kehilangan arus. Clara memeras sisa tenaganya, merenggut celah pintu tersebut hingga terbuka cukup lebar untuk dilewati tubuh mungilnya.

BARRR!

Hujan deras yang bercampur angin kencang langsung menyapu wajah dan tubuh Clara begitu ia melangkah keluar dari vila. Air hujan yang dingin menusuk hingga ke tulang, membasahi gaun sutra hitamnya dalam hitungan detik. Angin badai hampir saja membuat tubuhnya oleng dan jatuh tersungkur di atas lantai dek.

Tanpa menoleh ke belakang, Clara berlari sekuat tenaga menuruni tangga tebing batu, menerobos masuk ke dalam lebatnya hutan palem dan semak belakangan pulau Karibia.

Kerikil tajam dan ranting pohon yang patah menggores telapak kaki Clara yang telanjang, namun ia mengabaikan rasa perih tersebut. Kegelapan hutan pulau begitu pekat, satu-satunya penerangan hanyalah kilatan petir yang menyambar secara berkala di langit malam.

Gumpalan lumpur basah menempel di gaunnya yang kini robek di beberapa bagian. Clara terus berlari, napasnya memburu tajam, paru-parunya terasa seperti terbakar oleh hawa dingin laut. Ia tidak tahu ke mana arah tujuannya. Di tengah pulau terisolasi ini, tidak ada pemukiman. Namun di dalam benak Clara, berada di dalam cengkeraman badai ganas jauh lebih baik daripada kembali ke dalam pelukan obsesif Kenzo.

Sreeek!

Kaki Clara tersandung akar pohon yang melintang. Tubuhnya terjungkal ke depan, menghantam tanah lumpur yang dingin dengan keras. Clara meringis menahan sakit di lutut dan lengannya yang tergores batu tajam. Air mata bercampur air hujan mengalir deras membasahi pipinya.

"Aku harus bangun, aku harus lari"

bisik Clara pada dirinya sendiri, mencoba menegakkan tubuhnya yang kembali gemetar hebat.

Sebelum ia sempat berdiri kembali, suara langkah kaki yang teratur dan tenang terdengar memecah gemuruh suara hujan dari arah belakangnya. Langkah kaki itu tidak tergesa-gesa, melainkan melangkah mantap menyusuri jalur lumpur yang baru saja dilalui Clara. Cahaya sorot lampu senter berdaya tinggi tiba-tiba menembus kegelapan hutan, mengunci posisi tubuh Clara yang terkapar di atas tanah basah.

"Kau berlari cukup jauh untuk seorang gadis yang baru saja pingsan karena lemas kemarin pagi, Clara."

Suara Kenzo terdengar begitu jernih, menggelegar menembus deru angin badai.

Clara membeku. Tubuhnya menjadi kaku seketika. Ia perlahan menoleh ke belakang.

Kenzo berdiri beberapa meter di belakangnya. Pria itu tidak memakai jas atau mantel hujan, kemeja putihnya yang kini basah kuyup melekat ketat pada dada bidangnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang kokoh.

Di tangan kanannya, ia memegang senter taktis, sementara wajahnya yang tersiram air hujan tampak begitu dingin, tenang, namun memancarkan kilat amarah yang sangat pekat.

Pria itu melangkah mendekat, pelan namun pasti, seperti seekor predator puncak yang sedang memojokkan mangsanya di dalam gelap.

"Kau benar-benar tidak pernah belajar, bukan?" bisik Kenzo seraya berlutut di tumpukan lumpur tepat di samping Clara.

Kenzo mematikan senternya, membiarkan mereka kembali diselimuti kegelapan yang hanya diterangi kilatan petir di atas langit. Tangan kokoh pria itu terangkat, mencengkeram rahang Clara dengan kuat, memaksa gadis itu menatap lurus ke dalam manik matanya yang kelam.

"Lepaskan aku, Kenzo!"

jerit Clara histeris, memukul-mukul dada bidang Kenzo dengan kedua tangannya yang berlumpur. "Biarkan aku mati di sini! Biarkan aku hanyut terbawa badai! Aku benci kau! Aku benci kau!"

Kenzo tidak sedikit pun bergeming menghadapi pukulan tak berdaya itu. Pria itu justru menarik tubuh Clara ke dalam dekapannya secara paksa, mengunci kedua tangan Clara di antara dada mereka, menghimpit tubuh dingin dan gemetar gadis itu di atas tanah basah.

"Kau tidak akan mati di sini, Clara,"

ujar Kenzo tepat di depan bibir Clara yang gemetar hebat akibat hawa dingin ekstrem.

Suara Kenzo rendah, dalam, dan dipenuhi oleh kegilaan posesif yang kian membakar.

"Badai ini tidak akan menyelamatkanmu dariku. Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku."

Kenzo menunduk, mengunci bibir Clara yang dingin dan basah oleh air hujan dalam sebuah ciuman beringas di tengah siraman badai Hecate. Ciuman itu terasa asin oleh air laut dan manis oleh rasa keputusasaan. Kenzo menguasai rongga mulut Clara tanpa ampun, menyerap sisa-sisa jeritan perlawanan gadis itu di bawah gemuruh langit Karibia yang murka.

Clara mencengkeram bahu basah Kenzo, mencoba mendorongnya, namun sisa tenaganya habis tak berbekas. Di bawah guyuran hujan lebat dan kilatan petir yang membelah malam, bahkan alam semesta dan badai terhebat sekalipun tidak mampu meruntuhkan sangkar obsesi yang telah dibangun Kenzo untuk mengikat hidup Clara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!