Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Dadakan
Francesca Olivia memegang erat tangan ayahnya ketika kakinya terus melangkah menaiki anak tangga yang membawanya semakin dekat kepada pria yang sudah menunggunya di atas altar.
Gadis yang akrab dipanggil Oca itu masih sulit mencerna semua yang terjadi. Kurang dari dua puluh empat jam yang lalu, ia masih menjalani hari sebagai siswi SMA seperti biasa. Tapi sekarang, ia justru akan menikah dengan pria yang bahkan baru ia ketahui namanya semalam.
Tanpa sadar, ingatannya kembali pada kejadian semalam.
"Maafin Ayah, Ca...."
Suara ayahnya yang bergetar masih terngiang jelas di telinga Oca. Untuk pertama kalinya, ia melihat pria yang selama ini selalu terlihat kuat itu menangis di hadapannya.
"Perusahaan kita hampir bangkrut. Ayah sudah berusaha cari jalan lain, tapi... gagal. Keluarga Valtierre bersedia membantu kita, tapi dengan satu syarat. Perjodohan yang dulu dijanjikan kakek kalian harus tetap dilaksanakan."
Awalnya Oca sempat menolak. Namun, melihat ayahnya menangis sambil terus meminta maaf membuat hatinya tak tega. Pada akhirnya, Oca mengalah. Ia menerima pernikahan itu dengan harapan perusahaan ayahnya bisa diselamatkan.
"Kalau ini bisa menyelamatkan keluarga kita... Oca akan menikah.”
Meski begitu, Oca mengajukan satu syarat. Pernikahan itu harus digelar secara tertutup dan tidak boleh diketahui siapa pun di sekolahnya.
Perlahan ingatannya kembali pada kenyataan, Oca menghembuskan napas.
Beberapa saat kemudian langkahnya berhenti tepat di depan pria yang sejak tadi menunggunya di atas altar. Tak ada senyum atau ekspresi apapun yang menyambut kedatangannya. Pria itu hanya menatap Oca dengan wajah datar, seolah pernikahan ini hanyalah formalitas belaka.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, ayah Oca menggenggam tangan putrinya untuk terakhir kali sebelum menyerahkannya pada pria yang akan menjadi suami putrinya.
"Hari ini aku serahkan putriku padamu. Jaga dan bahagiakan dia." ucap ayah Oca.
Anthony Valtierre, nama yang baru Oca ketahui semalam, menerima uluran tangan itu.
"Saya akan memenuhi tanggung jawab saya," ucapnya singkat.
Tatapannya sulit ditebak, membuat Oca semakin gugup. Ia bahkan tak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan pria itu. Apa Anthony juga terpaksa menjalani pernikahan ini seperti dirinya? Dan alasan apa yang membuatnya menerima pernikahan ini?
Pendeta mulai membacakan sumpah pernikahan yang diikuti oleh mereka berdua. Setiap kata dalam sumpah itu terasa begitu berat bagi Oca. Bagaimana mungkin dalam hitungan menit ia harus berjanji menghabiskan sisa hidup bersama pria yang bahkan belum dikenalnya.
Setelah itu pendeta kemudian memberi isyarat kepada seseorang yang membawa dua buah cincin pernikahan di atas bantalan kecil.
Anthony lebih dulu mengambil salah satu cincin, gerakannya tenang dan tanpa keraguan sedikit pun hingga cincin itu terpasang di jari manis Oca.
Oca menarik napas dalam-dalam sebelum mengambil cincin satunya. Dengan sedikit canggung, ia meraih tangan Anthony lalu memasangkan cincin itu ke jari pria tersebut.
Untung saja berhasil dalam sekali percobaan. Kalau sampai jatuh di depan semua orang, Oca yakin dirinya akan malu seumur hidup.
"Baiklah, dengan ini kalian resmi menjadi suami dan istri."
Momen itu kemudian ditutup dengan sebuah ciuman singkat. Bibir mereka hanya bersentuhan sepersekian detik, tetapi cukup membuat napas Oca tercekat.
Begitu Anthony menarik diri lebih dulu, pria itu langsung mengambil satu langkah mundur tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Sebaliknya, wajah Oca sudah semerah tomat matang.
OMGG!!!... itu ciuman pertama Oca!
______
Beberapa jam setelah resepsi selesai, Oca akhirnya menginjakkan kaki di kamar pengantin yang dipenuhi taburan bunga mawar. Ia langsung merebahkan diri di atas ranjang tanpa memedulikan gaun pengantinnya yang belum sempat diganti.
"Capek banget..." gumamnya pelan.
Akhirnya ia bisa merilekskan tubuhnya yang sejak tadi tegang. Tatapannya tertuju pada langit-langit kamar yang terasa asing. Mulai hari ini, mansion itu adalah rumahnya.
Perlahan Oca memejamkan matanya sebentar hingga beberapa detik kemudian matanya kembali terbuka lebar sambil langsung mendudukkan dirinya.
Astaga! Dua sahabatnya!
Bagaimana bisa ia melupakan mereka? Besok pagi pasti dua sahabatnya itu akan langsung membombardirnya dengan pertanyaan kenapa kemarin bolos sekolah. Kalau sampai mereka tahu ia baru saja menikah, bisa-bisa satu sekolah ikut heboh.
Lamunan Oca buyar saat Anthony masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu. Pria itu menatapnya dengan ekspresi datar yang sama seperti saat di altar. Keheningan yang menyelimuti ruangan membuat Oca salah tingkah di bawah tatapan suaminya sendiri.
Hingga akhirnya Anthony membuka suara lebih dulu.
"Aku perlu memberitahumu satu hal. Mulai hari ini, jangan sampai ada yang tahu tentang pernikahan ini.”
Oca mengernyit bingung. "Memangnya kenapa?" tanyanya spontan.
“Itu bukan sesuatu yang harus kamu ketahui.”
Jawaban singkat itu sukses membuat Oca cemberut. Bahkan Anthony sudah berbalik sebelum sempat ia bertanya lagi.
"Aku masih memiliki pekerjaan yang harus kuselesaikan. Beristirahatlah, dan jangan menungguku."
Tanpa menunggu respons, Anthony melangkah keluar dari kamar. Begitu pintu tertutup, Oca langsung berdecak kesal sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"Apa-apaan, sih? Dingin banget. Emangnya kerja apa sih sampai harus rahasia-rahasiaan segala? CEO? Miliarder? Bilioner? Atau jangan-jangan..." gumamnya sambil membulatkan mata.
"Gengster?"
Oca langsung menggeleng keras sambil menepuk pelan kedua pipinya. "Ah, nggak mungkin. Kebanyakan nonton film."
Kemudian Ia mengambil pakaian ganti, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, Oca merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Hari yang begitu melelahkan akhirnya membuat kedua mata Oca perlahan terpejam. Ia sama sekali belum menyadari bahwa pria dingin yang baru saja menjadi suaminya itu menyimpan banyak rahasia.