Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.
Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.
Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.
Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepotong Sayap Ayam yang Menyakitkan
Para readers, dukung terus novel author baru ini, ya. Dijamin ceritanya tidak kalah seru!
Raya Nareswari adalah seorang gadis desa berusia dua puluh lima tahun yang memilih jalan hidup berbeda dari teman-teman seusianya. Saat mereka berbondong-bondong merantau ke kota demi pekerjaan dengan penghasilan yang lebih menjanjikan, Raya justru tetap bertahan di Desa Sukarumpi sebagai tenaga pengajar di sebuah taman kanak-kanak.
Bukan karena ia tidak memiliki keinginan untuk merantau. Berkali-kali Raya tergoda setelah mendengar cerita teman-temannya tentang gaji besar yang mereka terima. Namun, setiap kali keinginan itu muncul, bayangan sang ibu yang tinggal seorang diri di rumah selalu membuatnya mengurungkan niat. Ia tidak tega meninggalkan perempuan yang telah membesarkannya, terlebih usia ibunya sudah tidak lagi muda.
Raya hidup dalam kesederhanaan. Ia tinggal bersama ibunya yang berusia lima puluh tujuh tahun dan seorang kakak laki-laki yang jauh dari sifat penyayang. Bentakan, hinaan, bahkan perlakuan kasar dari sang kakak sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Luka di hatinya mungkin tak terlihat, tetapi selalu bertambah setiap hari.
Siang itu, gadis berhijab tersebut berjalan di bawah terik matahari yang menyengat. Tubuhnya terasa lemas karena demam yang sejak pagi tak kunjung mereda. Meski begitu, ia tetap memaksakan diri berangkat mengajar. Raya tahu, jika memilih beristirahat di rumah, ia hanya akan kembali mendengar omelan ibunya.
"Bagaimana hidupmu bisa berubah kalau kerjanya hanya berbaring di kasur, Raya? Di keluarga kita tidak ada yang pemalas! Lihat Sari, anak Bu Siti. Baru bekerja beberapa tahun saja sudah bisa mengirim uang sepuluh juta kepada ibunya. Padahal dulu dia sering tinggal kelas. Sedangkan kamu? Katanya pintar, selalu juara kelas, tapi sampai sekarang belum juga bisa membuat hidup kita lebih baik."
Kalimat-kalimat itu terus terngiang di telinga Raya.
Padahal, selama ini ia tetap tinggal di desa justru demi ibunya. Selain mengajar di taman kanak-kanak, Raya juga menerima les privat untuk anak-anak sekolah dasar. Seluruh penghasilannya selalu ia serahkan kepada sang ibu, tanpa pernah menyisakan banyak untuk dirinya sendiri.
"Neng Raya, baru pulang mengajar?" sapa seorang perempuan paruh baya dari halaman rumah.
Raya menoleh dan tersenyum ramah.
"Eh, Bu Dewi. Iya, Bu. Hari ini pulangnya lebih cepat karena hari Jumat."
"Masyaallah, kamu memang kelihatan menikmati sekali pekerjaanmu sebagai guru." Bu Dewi tersenyum hangat. "Oh ya, kemarin Arga pulang. Dia sempat menanyakan kabarmu."
Jantung Raya berdegup sedikit lebih cepat saat mendengar nama itu.
"Alhamdulillah... Raya sehat, Bu. Arga pulang dari Singapura?"
"Iya. Alhamdulillah sekarang pekerjaannya juga semakin bagus."
"Wah, ikut senang mendengarnya. Semoga Arga selalu diberi kesehatan dan kelancaran rezeki."
"Aamiin. Kamu juga ya, Ray."
"Aamiin. Terima kasih, Bu."
Bu Dewi adalah ibu dari Arga, teman masa kecil Raya. Meski kini Arga bekerja di luar negeri, ternyata pria itu masih sering menanyakan kabar Raya setiap kali menghubungi ibunya.
Mendengar hal itu, tanpa sadar sebuah senyum tipis menghiasi wajah Raya. Namun, ia segera menggeleng pelan. Tidak pantas baginya berharap terlalu jauh.
Bagaimanapun, kehidupan mereka kini sudah sangat berbeda.
****
"Assalamu'alaikum..."
Suara salam Raya menggema pelan saat ia melangkah memasuki rumah bercat kusam yang telah lama menjadi tempat berteduhnya. Rumah bergaya klasik itu tampak sederhana. Cat dindingnya mulai memudar, sementara beberapa kusen jendela terlihat lapuk dimakan usia.
Tak ada jawaban.
Keheningan justru menyambut kepulangannya.
Raya mengembuskan napas pelan. Ia melepas sandal, lalu melangkah menuju ruang tengah.
"Ibu...?"
Panggilannya kembali tak mendapat sahutan.
Di sudut ruangan, Maimun duduk di atas tikar dengan sebuah celengan plastik yang telah terbuka di hadapannya. Jemarinya sibuk menghitung lembaran uang pecahan dua puluh ribu dan lima puluh ribu.
Raya langsung mengenali uang itu.
"Itu... tabungan Raya."
Maimun mengangkat wajah sekilas, lalu kembali menghitung uang di tangannya.
"Ibu ambil, ya. Minggu depan ada pengajian. Semua ibu-ibu sudah sepakat membeli baju seragam baru. Masa ibu saja yang tidak ikut?"
Ucapan itu membuat langkah Raya terhenti.
"Tapi, Bu... bukannya kemarin Raya sudah memberikan uang hasil mengajar privat? Bukankah uang itu masih ada?" tanyanya hati-hati.
"Kalau yang ini..." pandangan Raya jatuh pada celengan yang sudah kosong, "...Raya memang sengaja menabung sedikit demi sedikit untuk membeli ponsel baru. Ponsel Raya sudah sering mati sendiri."
Maimun mendengus pelan.
"Kamu ini pelit sekali."
"Bukan begitu, Bu...."
"Apa pun alasannya, uang ini tetap ibu ambil."
Nada suara Maimun mulai meninggi.
"Sejak kecil sampai sekarang, siapa yang membesarkan kamu? Siapa yang mengeluarkan biaya untuk makan, sekolah, dan kebutuhanmu? Jangan hitung-hitungan dengan ibu hanya karena uang segini."
Raya menundukkan kepala.
Dadanya kembali terasa sesak.
Bukan karena uang itu semata, melainkan karena setiap kali terjadi perbedaan pendapat, ibunya selalu mengungkit pengorbanan yang telah diberikan sejak ia kecil.
Ia ingin menjelaskan.
Ia ingin mengatakan bahwa seluruh gaji mengajar dan honor mengajar privat selalu ia serahkan kepada ibunya tanpa pernah mengeluh.
Namun, semua kata itu terasa tertahan di tenggorokan.
Percuma.
Apa pun yang ia katakan, pada akhirnya akan dianggap sebagai bantahan.
Maimun memasukkan uang itu ke dalam tas, lalu berdiri.
"Ibu mau mengantar uang ini ke Bu RT. Bajunya sudah dipesan."
Perempuan paruh baya itu berjalan menuju pintu, lalu berhenti sejenak.
"Di meja ada nasi kuning."
Raya menoleh.
"Makan saja. Jangan bilang ibu tidak pernah memikirkan kamu."
Setelah mengatakan itu, Maimun pergi begitu saja.
Suasana rumah kembali sunyi.
Raya hanya mampu tersenyum tipis, meski senyum itu terasa begitu pahit.
"Terima kasih, Bu...."
Ucapannya lirih, nyaris tak terdengar.
Ia kemudian berjalan menuju dapur.
Aroma nasi kuning yang masih hangat langsung menyambut indra penciumannya.
Perlahan, Raya membuka tudung saji.
Matanya berbinar.
"Nasi kuning..."
Di sampingnya terdapat tempe orek, sambal, dan sepotong sayap ayam berbumbu serundeng yang tampak begitu menggugah selera.
Sudah lama sekali Raya tidak menikmati lauk seperti itu.
Perutnya yang sejak pagi belum terisi kembali terasa lapar.
Tanpa berpikir panjang, ia mengambil piring, lalu mulai menyantap makan siangnya.
Baru beberapa suap masuk ke mulutnya, suara langkah kaki tergesa terdengar dari arah depan rumah.
Brak!
Pintu terbuka.
Maimun kembali masuk dengan wajah yang tampak kesal.
Tatapannya langsung tertuju pada piring di tangan Raya.
"Raya!"
Bentakan itu membuat Raya tersentak.
"Ibu...?"
"Itu sayap ayamnya kenapa dimakan?"
Raya memandang lauk di tangannya dengan bingung.
"Raya kira...."
"Itu buat abangmu!"
Belum sempat Raya menyelesaikan kalimatnya, Maimun sudah lebih dulu merebut sayap ayam dari tangan putrinya.
"Sudah ibu bilang, makan nasi kuningnya saja! Sayap ayam itu jatah Rifki."
Tangan Raya membeku.
Nafsu makannya lenyap seketika.
Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.
Bukan karena ia menginginkan sepotong sayap ayam.
Melainkan karena sekali lagi ia merasa bahwa dirinya selalu berada di urutan terakhir di hati ibunya.
Bersambung
Jangan lupa like ya readers 🤩