Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.
Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.
Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.
Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.
Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01. Komedi & Pertemuan
...... T A H U N - 2 0 0 9 ......
Indonesia.
Negeri yang selama ini hanya Rui Naru kenal dari lembaran surat sang ibu, foto-foto yang mulai memudar dimakan usia, serta cerita-cerita singkat yang selalu berakhir dengan kalimat, 'Bunda sangat merindukanmu, putraku tersayang.'
Sayangnya, hari itu tak pernah benar-benar datang. Selama bertahun-tahun, hidup Naru sepenuhnya berada di bawah didikan keluarga Rui. Keluarga aristokrat Jepang yang menjunjung tinggi kehormatan, disiplin, dan tradisi.
Kerinduan pada kedua orang tuanya hanya boleh ia simpan diam-diam di dalam hati. Ia belajar untuk tidak mengeluh, tidak membantah, dan tidak mempertanyakan keputusan keluarga.
Hingga pagi itu.
Sang Kakek berdiri tegap di hadapannya, lalu meletakkan sebuah paspor, buku tabungan, dan tiket pesawat di atas meja kayu.
"Pergilah. Temuilah Bundamu. Keinginanmu untuk kuliah di sana bukan berarti kau bisa bersantai. Bawalah martabat Rui ke tanah khatulistiwa. Tunjukkan pada dunia bahwa disiplin yang kutanamkan padamu tidak akan luntur hanya karena perbedaan jarak dan cuaca."
Naru membungkuk dalam, keningnya hampir menyentuh lantai. "Terima kasih, Kakek. Saya tidak akan mengecewakan nama besar kita."
Tak ada pelukan.
Tak ada ucapan selamat jalan.
Begitulah cara keluarga Rui menunjukkan kasih sayang. Sesaat kemudian, langkah Naru berhenti di depan gerbang kayu raksasa kediaman keluarga mereka. Ia menoleh sekali ke belakang, menatap rumah yang telah membesarkannya selama hampir dua puluh tahun.
Lalu, untuk pertama kalinya ...
Ia melangkah menuju kehidupan yang sama sekali 'baru.' Ia tahu bahwa ia bukan sekadar seorang mahasiswa yang akan merantau. Ia adalah seorang pewaris yang sedang menempuh jalan pulang untuk kembali ke dalam dekapan wanita yang telah melahirkannya.
Berjam-jam kemudian, pesawat yang ditumpanginya membelah hamparan awan, meninggalkan langit Jepang dan terbang menuju selatan. Dari balik jendela, warna langit perlahan berubah, sementara gugusan pulau-pulau mulai tampak menghiasi lautan luas di bawah sana.
Ketika roda pesawat akhirnya menyentuh landasan, Naru mengembuskan napas pelan. INDONESIA. Satu kata itu terdengar begitu asing di lidahnya, namun entah mengapa terasa begitu dekat di hati.
Tak lama setelah meninggalkan bandara, sebuah taksi sedan melaju membelah padatnya lalu lintas ibu kota. Naru duduk tegak di Kursi belakang. Jas rapi yang melekat di tubuhnya masih nyaris tanpa lipatan, sementara kedua tangannya bertumpu tenang di atas lutut.
Di balik kaca jendela, matanya mengamati deretan kendaraan yang saling berhimpitan, suara klakson yang bersahutan, serta udara yang tampak jauh lebih panas dibandingkan kampung halamannya.
Benar-benar berbeda.
Duar!
"Waduh, maaf mas Naru. Sepertinya pecah ban deh, saya tengok dulu ya," ujar sopir setelah memeriksa keadaan.
"Douzo." (Silahkan)
Naru turun dari mobil, namun hidungnya segera disambut aroma asap knalpot dan debu jalanan yang pekat. Karena tak terbiasa dengan lingkungan yang kotor, ia melangkah menjauh, mencari sedikit oksigen di pinggir jalan yang agak lapang, tepat di bawah kaki sebuah tanggul.
Sementara itu,
"Hawa, lihat! Paus birunya ngikutin kita," telunjuk Nuha mengarah ke langit, menatap imajinasi yang bahkan tampak lebih besar daripada kapal terbang.
"Huuuwooooonnggg ..."
Paus biru imajiner itu seolah menyahut, meliuk anggun di antara gumpalan awan pagi. Setiap liukannya seakan meninggalkan jejak keindahan yang berkilau lembut menyerupai helai-helai kain sutra di langit.
Di bawahnya, Nuha terus mengayuh sepeda mini dengan lihai. Rambut poninya yang dikuncir tinggi di atas dahi bergoyang ritmis layaknya kelopak bunga yang menari. Sementara itu, rok biru SMP-nya bergerak tersentak-sentak manis mengikuti entakan lututnya yang bersemangat.
Kelopak bunga bermekaran di sepanjang aspal yang dilaluinya. Beberapa ekor kelinci putih melompat dan kucing berbulu pelangi ikut berlari di sampingnya. Iya, itu semua hanya ada di kepalanya.
Wuuush!
Hawa meluncur seperti P-man di sisi Nuha yang tengah mengayuh sepedanya. Hawa adalah entitas tak kasat mata duplikasi dari diri Nuha. Sesosok jiwa imajiner warisan dari mendiang ayahnya.
"Nuha bodoh!" Ia meluncur kilat,
mengeluarkan sayap transparannya dan mengepak-epak gemas di depan wajah kembarannya, "Kamu bakal telat kalau malah asyik pacaran sama khayalanmu! Lihat jam! Lihat jam di pergelangan tanganmu, oneng!"
Nuha refleks melirik pergelangan kirinya. "Kyaaa!! Udah jam tujuh lewat!" Kakinya semakin memompa pedal sepeda seperti orang kesurupan. "Aku bakal kena hukum di hari pertama MOS donk kalo begini!! Harus cepat nih!"
"Ayo, Kapten! Kayuh terus. Semangattt!! Lihat di depan ada tanggul. Ancang-ancang yang kuaattt!!" seru Hawa memberi energi.
Tepat di ujung turunan tanggul, Nuha mengernyit. Matanya melebar melihat sesosok manusia berdiri diam, lalu mulai mondar-mandir di sana.
"Hawa? Apa itu entitas palsu?" bisiknya panik. Mengingat pengalamannya tumbuh bersama sang ayah yang mengidap skizofrenia, Nuha otomatis mengira sosok misterius yang tiba-tiba muncul di sana hanyalah proyeksi visual alias manusia palsu dari otaknya sendiri.
Hawa malah ikut memanas-manasi dan berseru, "Tabrak aja, Kapten! Dia memang bukan manusia!!"
Mendengar provokasi Hawa, Nuha nekat tak menarik rem. "Minggiirrr!!" teriaknya lantang.
Pria muda yang baru saja mereka katai sebagai entitas palsu itu langsung menoleh terkejut. Saking kagetnya melihat kenekatan gadis roket yang meluncur maut ke arahnya tanpa persiapan apa pun, dia hanya bisa memasang ancang-ancang spontan seperti seorang kiper yang pasrah bersiap menangkap bola liar.
Bruk!
Dush!
Nyitttt!
Ban depan sepeda Nuha berhenti mendadak, tepat diapit kedua paha pria itu. Sialnya, moncong ban depan itu menghantuk telak sebuah benda kenyal di balik celana kainnya.
Nyuk~
"Ugh ...!" Pria itu melenguh tertahan,
wajahnya seketika memucat.
"Heh? Minggir!! Ini jalan umum, manusia patung!" seru Nuha ketus, masih belum sadar juga dengan situasi aslinya.
"Shinjirarenai ..." (Sungguh tak bisa dipercaya), gumam pria itu dalam bahasa Jepang dengan suara bergetar. Belum genap satu jam ia menginjakkan kaki di tanah air, ia sudah didebat oleh anak baru gede (ABG).
"Boku no shourai wo tsubushikakata to iu noni, okotteru no wa kimi no hou ka?" ("Padahal kamu hampir menghancurkan masa depanku, tapi kenapa malah kamu yang marah?"
"Ngomong apo see?" jeda Nuha.
Pria itu menarik napas dalam-dalam, lalu beralih menggunakan bahasa Inggris dengan aksen yang sangat fasih. "At least apologize first! People don't just crash into someone and stand there acting self-righteous, you cheeky schoolgirl."
Nuha bergeming, mengabaikan omelan itu. "Aneh, Hawa. Dia nggak ilang," selorohnya polos, masih merujuk pada teori 'manusia palsu' tadi.
Pria di depannya langsung mengernyitkan alis, sama sekali tidak mengerti arti tatapan Nuha yang tidak menatapnya tapi seolah bicara dengan orang lain. Namun, tidak ada siapapun di sana.
"Mungkin dia manusia beneran," bisik Hawa yang mulai panik sendiri. "Nah loh! Ayo kabur Nuha, cepet! Sebelum kamu kena karma!"
"Heh?!" Mata Nuha membulat.
"Why? Just realized?" Pria itu tersenyum miring, matanya melirik ke bawah, membaca papan nametag dari kardus khas anak MOS yang dikalungkan di dada Nuha.
"Come on, apologize first and let’s make a peace, Nuuuu ..." ("Ayo minta maaf dulu dan kita berdua berdamai, Nuuuu ...") ucapnya mencoba mengintimidasi.
"Aaaaaaa!!"
Bukannya minta maaf, Nuha yang panik setengah mati merasa pandangan pria itu menjurus ke dadanya malah sengaja menjundulkan roda depannya makin maju ke depan.
Gubrak!
Genggaman tangan pria itu langsung terlepas. Dia mengerang kesakitan, membungkuk sambil memegangi aset berharganya yang kini benar-benar berada di ambang kematian saking sakitnya.
Memanfaatkan celah itu,
Nuha langsung mengayuh sepedanya sekencang mungkin, melarikan diri dari TKP. "Aku-- aku nggak bakal memaafkanmu, manusia Sange !!"
"Ha?"
Pria itu melongo, benar-benar mengalami culture shock yang mengejutkan. Ulah ajaib anak baru SMA itu telah berhasil meruntuhkan total wibawa mudanya yang tadinya tampak keren dan berkelas di tepi tanggul.
Sambil menahan rasa ngilu yang luar biasa, mata pria itu menatap tajam punggung Nuha yang makin menjauh. "Hidoi na ... Dia nggak tahu siapa aku ya sebenarnya ..." desisnya.
Senyum masam terukir di wajahnya yang menahan sakit. "Awas ya kalo ketemu lagi. Aku akan menagih permintaan maafmu!"
Tak lama kemudian, sopirnya yang telah selesai mengganti ban menghampiri, "Mas Naru, ban mobilnya sudah selesai diganti."
"Sou ka."
Rui Naru akhirnya kembali menegakkan punggungnya. Ia merapikan dasi serta ujung jas mahal yang sedikit kusut akibat insiden barusan.
"Kaeru zo."
"Baik, mas Naru.
Tepat saat tubuh tegapnya hampir sepenuhnya masuk ke dalam mobil, dua pria bertubuh kekar mendadak menyergap dan menariknya mundur dengan paksa. Tangan-tangan kokoh bersarung tangan itu membekap wajah dan mendekap tubuh Naru dengan sangat kuat, mengunci seluruh pergerakannya.
Sang sopir bahkan belum sempat berteriak ketika orang-orang berpakaian serba hitam formal dan berkacamata kuda itu dengan cepat memindahkan Naru ke dalam mobil lain yang sudah bersiap di belakang mereka.
Dalam hitungan detik di dalam kabin mobil yang asing, mulut Naru langsung dilakban erat, meredam sumpah serapah yang hendak keluar dari bibirnya. Kedua tangan dan kakinya diikat kencang dengan tali taktis, membuat sang pewaris takhta aristokrat itu benar-benar lumpuh tak berdaya.
Mobil penculik itu pun langsung melesat pergi, meninggalkan kepulan asap dan kebingungan di tepi tanggul.
.
.
. NEXT》Bab 2, sampai jumpa besok 👋
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Kan dia suka sama Naru.