NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manusia Tanpa Hati

Kalau ada kompetisi menahan umpatan di tempat kerja, Senja Naura yakin banget piala bergilirnya bakal menetap abadi di atas meja kubikelnya.

​Senja menatap layar monitor dengan mata yang mulai terasa perih dan panas. Di sebelah kanan laptopnya, secangkir kopi hitam—cangkir ketiganya sejak pagi tadi—sudah mendingin sampai menyisakan ampas di dinding gelas. Jam dinding digital di area divisi kreatif baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tapi bagi Senja, energi dan kewarasannya sudah terkuras habis, rasanya mirip kayak abis dipaksa lari maraton keliling Jakarta Selatan.

​"Mbak Senja..." Sebuah suara yang cicit dan gemetaran memecah fokus Senja.

​Senja menoleh dan mendapati Rara, anak magang di tim kreatifnya, lagi berdiri dengan wajah pucat kesiangan. Kedua tangan gadis muda itu memeluk erat sebuah bundel kertas tebal. Profil Rara saat itu bener-bener mirip kayak sandera yang baru selesai diinterogasi.

​"Kenapa, Ra? Muka lo kayak abis liat reog," tanya Senja, mencoba mencairkan suasana meskipun kepalanya sendiri sudah mulai nyut-nyutan.

​Rara meringis, lalu dengan gerakan perlahan layaknya menyerahkan bom waktu, dia meletakkan bundel kertas itu di atas meja Senja. "Ini... revisi proposal untuk re-branding proyek perumahan Grand Wijaya. Dari Pak Arsen, Mbak."

​Senja langsung mengernyitkan alis. Kalimat itu seketika memicu alarm bahaya di otaknya. "Revisi? Bagian mananya lagi yang direvisi? Bukannya kemarin udah gue benerin sesuai catatan dia yang terakhir?"

​"Katanya... konsep event visual yang Mbak Senja bikin terlalu menye-menye dan kurang menjual," cicit Rara, bahkan nggak berani menatap mata Senja langsung. "Pak Arsen minta diganti total dari awal. Terus, maksimal jam satu siang ini, proposal barunya harus sudah ada di atas meja dia."

​Mendengar kata 'diganti total' dan 'jam satu siang', Senja seketika merasa ada darah yang berdesir naik ke ubun-ubun. Tangannya refleks mengepal, menahan diri sekuat tenaga agar tidak melempar stapler besi di dekatnya ke udara.

​"Diganti total?" Senja mengulang kalimat itu dengan nada suara yang naik satu oktav. "Ra, tim kita udah riset buat konsep ini selama sebulan penuh. Kita bahkan udah turun ke lapangan buat survei audiens. Dan yang paling penting, Pak Bram—bos kita yang lama—udah bilang approve tertulis sebelum dia dipindahtugaskan ke Surabaya dua minggu lalu!"

​Rara cuma bisa merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, memohon ampun seolah-olah dialah pencetus ide gila itu. "Aku cuma menyampaikan apa yang dibilang Pak Arsen tadi, Mbak. Beliau bilang... dia nggak peduli sama aturan atau persetujuan bos yang lama. Di Malik Media, sekarang dia yang pegang kendali. Kalau jam satu belum ada di mejanya, dia bakal coret tim kita dari proyek ini."

​Senja memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengontrol emosinya yang mulai berantakan.

​Arsen Malik.

​Nama itu baru sah tertulis di pintu ruang direktur utama sejak dua minggu yang lalu. Tapi, kehadirannya sukses membuat atmosfer kantor Malik Media—yang tadinya terkenal santai, seru, dan penuh tawa—berubah total menjadi mencekam mirip rumah hantu.

​Cowok itu memang tampan, oke, Senja nggak buta buat mengakui kalau visual bos barunya itu berada di atas rata-rata standar pria kantoran. Arsen punya rahang yang tegas, potongan rambut yang selalu rapi tanpa ada sehelai pun yang mencuat salah tempat, dan sepasang mata yang tajamnya minta ampun. Setelan jas atau kemeja kerja yang dia pakai selalu tampak pas melekat di badannya yang tegap.

​Tapi bagi Senja, semua ketampanan itu langsung lenyap begitu Arsen membuka mulut. Kelakuannya minus banget. Arsen Malik adalah definisi hidup dari sesosok robot korporat yang tidak punya hati nurani. Pria itu cuma peduli pada tiga hal: angka keuntungan, efisiensi waktu, dan kepuasan klien raksasa yang punya modal miliaran. Idealisme dan pesan moral yang ingin disampaikan oleh tim kreatif seperti Senja dianggap sebagai sampah yang cuma membuang-buang anggaran perusahaan.

​Senja berdiri dari kursinya dengan sentakan kasar hingga roda kursinya berderit nyaring di atas lantai. Dia menyambar bundel proposal di atas meja dengan gerakan emosional.

​"Maksimal jam satu siang, kan?" tanya Senja, matanya menyipit berbahaya.

​"I-iya, Mbak Senja. Mau aku temenin?" tawar Rara takut-takut.

​"Nggak usah. Lo lanjutin copywriting buat klien yang lain aja," jawab Senja sambil melempar senyum miring yang dipaksakan. "Gue mau samperin tuh robot sekarang. Biar dia tahu kalau isi kepala tim kreatif itu aset, bukan data di komputer yang bisa dia delete dan ganti sesuka jidatnya."

​Dengan langkah lebar, Senja membelah koridor kantor. Beberapa rekan kerja dari divisi lain yang berpapasan dengan Senja langsung buru-buru menyingkir setelah melihat aura hitam dan ekspresi galak yang terpancar dari wajah perempuan itu. Semua orang tahu, kalau Senja sudah berjalan dengan gaya seperti itu, artinya sang Senior Creative Specialist sedang dalam mode siap tempur.

​Senja berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh di ujung lorong. Di dekat pintu itu, terpasang pelat nama eksklusif: Arsen Malik - Managing Director. Senja menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu itu tiga kali dengan tegas.

​"Masuk."

​Suara bariton yang berat, rendah, dan sedingin es terdengar dari dalam ruangan.

​Senja memutar knop pintu lalu mendorongnya terbuka. Hal pertama yang menyambut Senja adalah hembusan angin dari AC yang disetel ke suhu maksimal. Di balik sebuah meja kerja berbahan marmer hitam, Arsen Malik sedang duduk dengan tegak. Pria itu bahkan nggak repot-repot mendongak untuk melihat siapa yang datang. Fokusnya masih terkunci sepenuhnya pada layar tablet di tangannya, sementara jemarinya dengan santai mengetuk-ngetuk permukaan meja secara konstan.

​"Pak Arsen, bisa bicara sebentar soal revisi proposal Grand Wijaya?" tanya Senja langsung tanpa basa-basi. Dia melangkah mendekat dan menaruh bundel kertas itu dengan penekanan yang jelas di depan Arsen.

​Baru setelah mendengar deburan kertas menghantam mejanya, Arsen menghentikan gerakan jemarinya. Pria itu menurunkan tabletnya perlahan, lalu mendongak. Tatapan matanya yang tajam langsung mengunci pandangan Senja.

​"Ada masalah, Senja?" tanya Arsen datar. Nada suaranya seolah-olah revisi total dalam waktu tiga jam adalah hal paling wajar di dunia ini.

​"Ada. Banyak malah, Pak," jawab Senja, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar profesional meskipun dadanya sudah kembang kempis menahan dongkol. "Saya mau tanya, bagian mana dari konsep visual kami yang Bapak sebut 'menye-menye'? Kami menggunakan pendekatan emosional karena target pasar dari perumahan Grand Wijaya ini adalah keluarga muda. Mereka beli rumah pakai perasaan, Pak, bukan cuma pakai kalkulator bisnis."

​Arsen menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Senja dengan pandangan meremehkan yang membuat Senja ingin sekali mencakar wajah tampannya saat itu juga.

​"Keluarga muda memang beli rumah pakai perasaan, Senja. Tapi klien kita membangun perumahan itu pakai uang, bukan pakai air mata," sahut Arsen dengan artikulasi yang sangat jelas dan menusuk. "Pendekatan emosional yang kamu bikin itu terlalu abstrak. Biayanya besar, tapi tidak ada jaminan bisa menaikkan sales sampai tiga puluh persen di kuartal pertama. Saya tidak butuh seni di sini. Saya butuh strategi yang langsung menghasilkan profit."

​"Tapi seni dan storytelling itu yang bikin Malik Media beda dari agensi lain, Pak! Bos yang lama selalu menghargai itu—"

​"Kalau begitu, silakan kamu susul bos kamu yang lama ke Surabaya," potong Arsen cepat, tanpa ragu, dan langsung membuat kalimat Senja tertahan di tenggorokan.

​Arsen memajukan tubuhnya, menumpukan kedua lengannya di atas meja, lalu menatap Senja dengan jarak yang lebih dekat. "Dengar, Senja Naura. Saya di sini untuk memimpin perusahaan, bukan untuk melanjutkan komunitas pencinta seni. Di bawah pimpinan saya, semua proyek harus efisien dan realistis. Jika kamu tidak bisa mengubah proposal itu menjadi konsep yang lebih menjual dalam waktu tiga jam, saya akan menyerahkan proyek ini ke timnya Radit."

​Senja mengepalkan tangannya di balik punggung sampai kuku-kukunya memutih. Dia menatap Arsen dengan kilatan amarah yang tidak lagi disembunyikan. Cowok di depannya ini bener-bener tiran sejati. Sombong, angkuh, dan sama sekali nggak menghargai kerja keras orang lain.

​"Baik," ucap Senja akhirnya, bicaranya agak bergetar karena menahan emosi yang meluap-luap. Dia menyambar kembali proposal di atas meja dengan kasar. "Saya akan ubah konsepnya sesuai kemauan Bapak yang serba matematis itu. Jam satu siang, proposal ini akan ada di meja Bapak. Permisi."

​Tanpa menunggu jawaban dari Arsen, Senja langsung berbalik badan dan melangkah keluar dari ruangan laknat tersebut, menutup pintu dengan sedikit hentakan keras.

​Begitu pintu tertutup, Senja bersandar di dinding koridor, mengembuskan napas panjang yang terasa panas. Di dalam hatinya, Senja bersumpah demi apa pun, dia membenci Arsen Malik dengan seluruh jiwa dan raganya. Kalau bukan karena bonus tahunan yang lagi dia incar untuk melunasi cicilan rumah ibunya, Senja pasti sudah melemparkan surat resign tepat ke wajah pria arogan itu pagi ini juga.

​Sementara itu, di dalam ruangannya, Arsen Malik menatap pintu yang baru saja ditutup dengan kasar oleh asisten kreatifnya. Sudut bibir pria itu terangkat sedikit, membentuk seringai tipis yang hampir tidak kentara.

​Arsen kembali meraih tabletnya, menggumam pelan pada keheningan ruangan. "Keras kepala. Kita lihat, sejauh mana kamu bisa bertahan di sini, Senja."

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!