NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:27.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Istri yang Dipamerkan

Thalia Amradita, wanita bersurai coklat bergelombang dengan manik amber belajar satu hal setelah dua tahun menikah dengan Rendra Pratama.

Seorang istri bisa tampak sangat dicintai di depan banyak orang, meski hatinya dibiarkan menggigil kedinginan sendirian di balik pintu rumah.

Malam itu, ia berdiri di depan cermin besar kamar mereka dengan gaun hitam yang melekat terlalu sempurna di tubuhnya. Bahunya terbuka. Rambut panjangnya dibiarkan jatuh bergelombang melewati punggung yang tidak cukup untuk menutupi leher jenjang yang ia miliki, sementara sepasang anting berlian kecil berayun pelan setiap kali ia bergerak.

Cantik.

Itu kata yang biasa orang-orang akan berikan kepadanya. Namun malam ini, Thalia tidak merasa dirinya cantik sama sekali.

Ia merasa seperti benda yang sedang disiapkan untuk dipamerkan.

“Putar badanmu.”

Suara rendah Rendra terdengar dari belakang Thalia.

Thalia menghembuskan napas pelan, lalu memutar tubuhnya. Suaminya berdiri dengan setelan jas abu-abu gelap yang rapi. Pria itu tampak menawan dalam penampilannya, jam mahal melingkar di pergelangan tangannya, dan senyum puas yang tidak sampai ke mata pria itu.

Tatapan Rendra menyapu tubuh Thalia dari atas sampai bawah.

“Bagus,” katanya. “Kamu kelihatan mahal.”

Thalia menahan senyum hambar. Satu kata yang membuat getir di hati Thalia kian terasa. Seolah dirinya adalah barang yang siap untuk diperjual-belikan.

“Kita hanya menghadiri acara perusahaanmu, Ren,” ucap Thalia pelan. “Apa harus sampai seperti ini?”

Rendra mendekat. Tangannya bergerak naik, merapikan kalung di leher Thalia dengan gerakan lembut. Sedetik kemudian, ia memutar tubuh istrinya kembali menghadap cermin.

“Ini bukan hanya acara perusahaan biasa.” Rendra menatap pantulan wajah istrinya di cermin. Tersenyum. “Malam ini Arkana Dirgantara hadir.”

Nama itu membuat Thalia terdiam sejenak. Ia sudah mendengar kalimat itu berkali-kali dari mulut Rendra. Bahkan terlalu sering. Arkana Dirgantara, pemilik sekaligus CEO Dirgantara Group. Pria muda berusia tiga puluh lima tahun yang sering disebut dingin, cerdas, dan tidak pernah memberi kesempatan kedua pada orang yang mengecewakannya.

“Aku tahu,” jawab Thalia lirih. “Tapi kenapa aku harus ikut?”

Rendra tersenyum kecil. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Thalia dari belakang, lalu sedikit menunduk hingga bibirnya hampir menyentuh telinga istrinya.

“Karena kamu istriku,” bisik Rendra.

Kalimat lembut itu seharusnya terasa hangat. Namun di telinga Thalia, kalimat itu terdengar seperti perintah yang tidak bisa dibantah, dan hatinya sudah dipatri kuat untuk menuruti setiap perintah yang Rendra berikan.

“Kamu hanya perlu tersenyum, bersikap manis, jangan terlalu banyak bicara kalau tidak ditanya, dan berikan kesan baik.”

Thalia menatap pantulan mata Rendra melalui cermin. “Kesan baik sebagai apa?”

Rendra tersenyum tipis. “Sebagai istriku.”

“Bukan sebagai pajanganmu?” sambut Thalia.

Udara di kamar seketika berubah beku. Untuk beberapa detik, Rendra tidak menjawab. Tangannya turun perlahan dari bahu Thalia. Ia tertawa kecil, tapi tawa itu tidak membawa kelucuan apa pun.

“Kamu mulai lagi," ujar Rendra datar.

Thalia menelan rasa pahit yang tersangkut di tenggorokannya. “Aku hanya bertanya.”

“Dan aku tidak suka nada bicaramu.” Rendra mengambil jasnya dari sandaran kursi. “Malam ini penting untukku, Lia. Jangan rusak hanya karena kamu terlalu sensitif.”

Terlalu sensitif.

Kalimat itu sudah terlalu sering Thalia dengar sampai rasanya seperti bekas luka yang ditekan berulang kali.

Ia ingin membantah. Ingin berkata bahwa ia lelah dijadikan pemanis di setiap ambisi Rendra. Ingin berkata bahwa dulu, pria itu tidak pernah memperlakukan dirinya seperti aksesori yang harus dipoles sebelum dibawa keluar rumah.

Tapi Thalia hanya diam.

Karena ia tahu, setiap perlawanan kecil akan berubah menjadi pertengkaran panjang.

Rendra berjalan menuju pintu. Namun, sebelum keluar, ia berhenti melangkah dan menoleh, kembali menatap wajah istrinya.

“Satu lagi.” tatapan Rendra turun ke bibir Thalia. “Pakai lipstik merah. Kamu terlihat lebih hidup dengan warna itu.”

Thalia menggenggam ujung meja riasnya, berusaha menahan gemuruh di hatinya.

“Baik.”

Rendra tersenyum puas. “Bagus. Aku tunggu di mobil.”

Pintu tertutup.

Thalia tetap berdiri di depan cermin. Lama.

Wanita di hadapannya terlihat sempurna. Rambut terurai yang ditata rapi, gaun mewah, dan bibir yang beberapa detik kemudian akan dipoles merah seperti permintaan suaminya.

Namun sorot matanya menjukkan kelelahan.

Thalia mengambil lipstik merah dari laci meja riasnya, membuka tutupnya, menatap warna pekat itu sebentar, lalu mengoleskannya perlahan.

Satu sapuan.

Dua sapuan.

Kemudian ia tersenyum kecil pada pantulan dirinya sendiri. Senyum yang tidak berarti apa pun.

“Baiklah,” bisiknya pelan. “Mari menjadi istri sempurna malam ini.”

.

.

.

Ballroom hotel itu dipenuhi cahaya keemasan yang menyala terang.

Lampu kristal menggantung megah di langit-langit tinggi. Musik lembut mengalun dari sudut ruangan. Para tamu berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, tertawa sopan, mengangkat gelas sampanye, membicarakan bisnis dengan wajah yang dibungkus keramahan palsu.

Begitu Thalia memasuki ruangan bersama Rendra, beberapa pasang mata langsung menoleh.

Rendra menyadarinya, dan ia tersenyum.

Tangan pria itu melingkar di pinggang Thalia dengan cepat, seolah ingin memastikan semua orang tahu bahwa wanita itu miliknya.

“Lihat?” bisik Rendra di dekat telinga Thalia. “Semua orang memperhatikanmu.”

Thalia menahan napas saat jemari Rendra menekan pinggangnya sedikit lebih kuat dari yang diperlukan.

“Karena gaunku terlalu mencolok,” ucap Thalia.

“Karena kamu cantik,” jawab Rendra.

Seharusnya pujian itu menyenangkan. Tetapi Thalia sudah terlalu mengenal nada suara suaminya. Rendra tidak memuji untuk membuat dirinya bahagia. Rendra memuji karena bangga memiliki sesuatu yang bisa membuat orang lain menoleh dan iri pada pria itu.

Mereka berjalan melewati beberapa tamu. Rendra tersenyum. Thalia pun ikut tersenyum meski tak ingin. Ia mengangguk saat diperkenalkan sebagai istri Rendra. Ia menjawab secukupnya saat ditanya. Dan tertawa kecil saat ada yang melontarkan candaan ringan.

Semua berjalan seperti latihan yang sudah diulang berkali-kali.

Sampai suasana di ruangan mendadak berubah.

Tidak drastis, musik pun masih mengalun dengan nada yang sama. Tapi entah bagaimana, seisi ballroom seperti sedikit menahan napas.

Thalia menyadarinya dari cara beberapa tamu mendadak menegakkan punggung mereka. Dari cara para pria menurunkan gelas mereka, serta dari cara para wanita menoleh ke satu arah yang sama.

Termasuk Rendra yang juga mengarahkan pandangan ke satu arah, sementara tangannya di pinggang Thalia mengerat.

“Dia datang,” Rendra bergumam pelan.

Thalia mengikuti arah pandang Rendra, dan saat itulah ia melihat apa yang membuat suasana berubah.

. . . .

. . . .

To be continued...

1
Zhu Yun💫
Jangan seperti Rendra ya, Ar... sesekali ajak Thalia jalan-jalan santai, makan malam romantis, atau sekedar nonton film di bioskop... buat membangun chemistry kalian 😁😁😁
Zhu Yun💫
Astaga /Facepalm//Facepalm/ kalian ini seperti anak remaja yang baru mengenal cinta-cintaan /Facepalm//Facepalm/
mery harwati
EGP alias Eweuh Gawe Pisan atw kurang penggawean Rendra ngikuti Thalia
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
yeeea pertama
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
paling juga renren
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo, 😂
total 2 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
Si Arkana ini perhatian, peka, tp dengan cara yg elegan
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
kalau GK mau istrimu ketemu Arkana ya GK usah diajak kali, biar kalian GK berantem terus🤭
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
gak suka tapi dia sendiri yg selalu mulai duluan🤔
Dewi Payang
Anggap aja kata²nya angin bau... ayo tutup hidung😄
Dewi Payang
Mamanya judes.... anaknya suka memanfaatkan....
Dewi Payang
Anna sdh menyambar umpannya Thalia🤭
Zenun
caramu tak biasa Bung. Mau naik tinggi, tunjukkan pesonamu lah🤭
Zenun
hancur bersama ya Ren🤭
Zenun
antara pecat atau mutasi
Zhu Yun💫
Eh kok berasa pendek bab ini 🤭
Zhu Yun💫: Ditunggu gebrakannya Arkana sama penyesalannya Rendra 😁🤸🤸🤸
total 2 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
nyiapin makan, nyiapin pakaian, angetin ranjang, itu juga udah merupakan dukungan loh Rendra 🤭
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
benar. emang apa tujuannya bawa² thalia segala kalau bukan mau menarik perhatian Arkana. giliran Arkana udah tertarik eh dianya malah kebakaran jenggot sendiri🤭🤭🤭
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
Rendra ini ibarat kamu yg nyalain api kamu juga yg kebakaran. aneh ini orang🤭
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
singa di kandang sendiri berarti ya😄
Reni Anjarwani
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!