Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.
Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?
Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?
Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?
Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Gerobak-gerobak pengangkut material bangunan silih berganti memasuki desa Qingshan. Sudah pasti kesemuanya langsung menuju kekediaman keluarga Bai cabang kedua.
Sontak saja, hal itu sigap mengundang keramaian penduduk yang sedang beristirahat makan siang.
Ada empat pedati pergi dan datang sebanyak lima kali bolak-balik dari pagi hingga petang.
Kini, dihalaman tempat tinggal keluarga Bai cabang kedua, telah dipenuhi gunungan bahan bangunan.
Tinggal menunggu kapan hari baik itu ada, barulah proses pengerjaan akan dilakukan.
Selain penduduk desa Huanshan, buruh bangunan juga direkrut dari desa Qingshan.
Maklum saja, desa Huanshan cuma dihuni seratus kepala keluarga, dan sepertiganya kini sudah mulai menjalankan bisnis dikota serta pelabuhan.
Paman Pei hanya berhasil mengumpulkan tiga puluh lelaki terkuat dari desa binaannya.
Dua puluh orang direkrut oleh kakek Chen, paman Yeping dan paman Yongzi.
Sementara itu, didalam rumah kesibukan terlihat sejak Bai Anshu dan ketiga sepupu perempuan kembali dari kota.
Bai Suji, Chen Junyi, Chen Zhuan dan Chen Yenji, turut diperbantukan dalam produksi sabun.
Karena masa pertanian sedang tidak sibuk, Bai Dashan dan Chen Muwan, memutuskan untuk merekrut empat keponakan lelakinya itu.
Keempatnya bertugas menghaluskan semua bahan, membuat mintak pinus dan membantu menguleni adonan.
Sementara Bai Lushi, Chen Yaran dan Chen Linli, menjemur lalu mengemas.
Jadwal yang Bai Anshu susun untuk ketiga sepupu perempuan telah disepakati.
Pagi hari begitu ketiga gadis remaja itu datang, mereka akan belajar membuat bunga bludru dan pernak-pernik.
Selepas makan siang, barulah mengurusi pembuatan sabun.
Usai makan malam, mereka akan belajar membaca, menulis dan berhitung. Disesi ini, para sepupu lelaki turut ambil bagian.
Proses pembuatan sabun tidak memakan waktu, apa lagi sudah banyak orang yang turun tangan membantu. Jadi, kegiatan belajar mengajar akan lebih efisien.
Setiap hari, para sepupu itu diberi upah tiga puluh wen dan jatah makan dua kali.
Itu diluar bahan-bahan sabun yang dikumpulkan oleh keempat sepupu lelaki.
"Ayah, aku mau ada tambahan satu paviliun lagi khusus untuk belajar, juga membuat bunga bludru, asesoris dan melukis." kata Anshu seraya memotong kawat tembaga.
Bai Dashan mengiyakan "mau dimana..?"
"Sisi timur saja, sebelah paviliun tamu sampai menyatu dengan tembok pagar."
"Baik...!"
Bai Lushi yang sedang fokus merakit mutiara, tetiba mengangkat kepala dengan dahi mengernyit dalam.
"Shu-ya, disungai banyak sekali kerang dengan cangkang warna-warni, sepertinya itu juga bagus kalau dibuat asesoris..?"
Netra lentik Anshu bersinar, senyumannya lebar sampai melewati ketelinga dan nyaris merobek tempurung kepala.
"Ide bagus, kita juga bisa menggunakan tulang besar dan tanduk hewan, serta kayu cendana."
Chen Linli, sudah menenggelamkan wajah dan pikirannya dalam kertas dan pinsil warna. Rona cantik itu memahatkan ekspresi yang berubah-ubah, setiap kali ide baru melintas dibenaknya.
Usai makan malam, saat para anak sedang belajar mengenal aksara dan angka, kakek Bai datang bertamu. Ia memberitahu jika dua hari lagi adalah waktu baik untuk memulai pembangunan rumah.
Arah tempat tinggal yang membawa keberuntungan menurut hitungan fengshui juga dijabarkan oleh kakek Bai.
Mendengar hal itu, Bai Dashan gegas kekediaman kepala desa.
Pesan untuk keluarga Chen dititipkan pada kelima ponakannya.
Ketika matahari mulai merunduk diujung atap rumah warga, semua aktifitas dihentikan.
Gaji diberikan pada para keponakan oleh Bai Dashan, sebelum mereka semua pulang kerumah.
Malam ini keluarga Bai cabang kedua tidur lebih awal, dan bangun seperti biasanya.
Usai berlatih beladiri, Bai Dashan, Anshu dan Hanzi, pergi kehutan memasang perangkap kelinci dan burung pegar, serta lubang jebakan untuk hewan buas.
Setelahnya kesungai guna menjaring ikan, dan sekalian mengumpulkan kerang warna-warni.
"Semudah ini menangkap ikan..?" ucap Bai Dashan menganga, melihat gerombolan ikan emas rumput datang berebut umpan yang ditebar Bai Anshu.
Pelet racikan Anshu berbahan dasar dedak, cacing, bermacam serangga, dan air suci.
Cuma butuh kurang dari satu jam, tiga puluh ekor ikan berukuran besar berpindah keember yang mereka bawa.
Bai Dashan pulang terlebih dulu guna memindahkan ikan kekolam batu, lalu menyusul putri dan putranya yang memetik sayuran liar.
Dihutan, ketiganya bertemu beberapa penduduk yang mencari herbal, tanaman konsumsi lainnya, serta bahan-bahan untuk sabun.
Diantaranya ada Bai Sanlang dan Bai Suji.
"Kakak, ayo ikut aku melihat perangkap..!" ajak Bai Dashan.
"Dimana kau memasang jebakannya..?" Bai Sanlang bertanya.
"Kalau untuk binatang kecil, ada lima belas titik. Sedangkan hewan besar, dikedalaman hutan selatan."
Ketiga pria berbeda usia melangkah bersama, menyambangi Bai Anshu dan Hanzi, ketempat yang telah disepakati baru setelahnya mengecek jebakan.
"Paman, kakak sepupu..!" sapa Anshu dan Hanzi.
"Apa yang kalian dapatkan..?" tanya Sanlang, melongok kedalam keranjang yang ada dipunggung kedua keponakannya.
"Ada asparagus, bayam liar, rebung dan jamur." jawab Hanzi.
"Waktunya melihat umpan perangkap, kita sudah harus pulang." Dashan mengingatkan.
"Baik ayah..!"
Kelimanya mengecek jebakan kecil dahulu.
Bai Sanlang dan Bai Suji tercengang bodoh, melihat setiap perangkap berhasil menjerat kelinci dan burung pengar.
Ajaib, delapan burung pengar dan tujuh kelinci gemuk didapatkan dalam satu perburuan.
Bai Sanlang meringis, mudah sekali adik dan keponakannya ini berburu.
Masuk jauh kehutan, lubang perangkap berhasil menewaskan babi jantan dewasa dengan bobot kira-kira tiga ratus pon.
Itu cukup untuk stok konsumsi para buruh bangunan selama satu bulan.
"Di dekat sungai kecil bagian utara, ada banyak Sanqi yang tumbuh dilahan tiga ratus meter." beritahu Xingxing.
Dalam batin Bai Anshu menjerit senang, ia bisa membuat banyak obat dan sabun khusus bayi dengan bahan itu.
Meski harga jual Sanqi tak semahal ginseng wild, ginseng merah dan putih. Namun memiliki banyak khasiat yang sering dicari konsumen.
"Besok saja menggalinya."
Bai Dashan dan Sanlang mengikat kaki babi hutan, lalu menggantung kedahan kayu agar mudah memanggulnya pulang.
Sesampainya dirumah, semua hasil hutan dikumpulkan dihalaman. Bahan sabun ditimbang lalu dibayar.
Hanzi memanggil kakek Bai, untuk meminta bantuan dalam membersihkan babi, kelinci dan burung pegar kesungai bersama Dashan, Sanlang dan Bai Suji.
Selesai mandi, dan sarapan, Bai Anshu langsung berkutat dengan pembuatan asesoris bersama ketiga sepupu perempuan.
Bai Hanzi dan ketiga sepupu lelaki Chen, menghaluskan semua bahan sabun, menyimpan minyak pinus yang dibuat kemarin sore, berlanjut menguleni adonan.
Dua jam, urusan membersihkan hewan buruan baru selesai.
Bagian kepala dan jeroan babi langsung dimasak, sementara yang lainnya diasapi.
Dua puluh lima pon perut babi, diberikan pada keluarga utama Bai.
Sedangkan keluarga Chen didesa Qingshan, mendapat tiga puluh pon, sebab anggota keluarganya lebih banyak.
Bulu burung pegar disterilkan lalu dijemur. Begitu juga dengan kulit kelinci.