NovelToon NovelToon
Savage Royalty

Savage Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Diam-Diam Cinta
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: SeraphinSky

SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.

​Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
​Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: DUA DUNIA, SATU MASA DEPAN

Minggu Malam, H-1 Ujian Nasional

Rumah Roseanna Vallerian (Kamar Tidur)

​Jam dinding menunjukkan pukul 23.45 WIB. Kamar Roseanna yang mewah dan wangi lavender itu terlihat seperti medan perang akademis.

​Tumpukan buku tebal berserakan di kasur king size-nya. Roseanna duduk di tengah-tengahnya, rambutnya dicepol asal, kacamata bacanya melorot. Dia sedang menghafal rumus Ekonomi Makro sambil memijat pelipis.

​"Inflasi... deflasi... suku bunga..." gumam Roseanna stres. "Sial. Kenapa gue harus pinter sih? Kenapa gue nggak jadi anak orang kaya gabut aja kayak Aqeela?"

​HP-nya bergetar di atas meja. Notifikasi grup "Savage Royalty".

​Harry: Guys, gue nyerah. Rumus Pitagoras kalau dibalik jadi Sarogatip gak sih? Gue mau ternak lele aja.

Mohan: Harry, Mohan laper. Kertas soal boleh dimakan gak?

Aqeela: Semangat bestie! Aku udah panggil dukun buat doain pensil 2B aku!

Ilham: Lia, woy. Jawab chat gue. Ini X-nya kemana? Ilang diculik alien?

Lia: Botak, berisik. Gue blok lo.

​Roseanna tersenyum tipis. Setidaknya stresnya berkurang liat kebodohan mereka. Tapi ada satu orang yang online dan diam saja.

​Fattah Maverick.

​Roseanna menekan tombol panggil.

​Di Teras Bengkel Vanguards

​Fattah duduk sendirian di kursi bambu reyot, ditemani nyamuk kebun dan suara jangkrik. Di tangannya ada buku LKS Matematika tahun jebot yang udah sobek-sobek.

​Dia menatap halaman itu kosong. Baginya, mesin motor jauh lebih masuk akal daripada Logaritma.

​HP-nya berdering. "Ratu Bossy".

​Fattah mengangkatnya, suaranya serak. "Halo, Tuan Putri. Belum tidur? Besok perang otak lho."

​"Lo lagi ngapain?" tanya Roseanna di seberang.

​"Lagi liatin angka-angka ini joget dangdut," jawab Fattah sarkas, menutup bukunya kasar. "Gue nyerah, Rose. Otak gue nggak disetel buat ginian. Gue rasa... gue bakal lanjutin bengkel aja. Jadi mekanik seumur hidup."

​Hening sejenak di telepon.

​"Jangan ngomong gitu," suara Roseanna terdengar tajam, tapi ada nada khawatir. "Lo udah mimpin ratusan anak buah ngalahin mafia pelabuhan. Lo udah nyelamatin nyawa gue. Masa lo kalah sama kertas buram?"

​"Bedanya, di pelabuhan gue pake nyali. Di sini gue butuh ijazah. Dan ijazah gue... mungkin bakal ada nilai merahnya," aku Fattah jujur. Ada rasa minder yang jarang dia tunjukkan. Dia sadar, Roseanna itu langit, dia cuma aspal.

​"Fattah," panggil Roseanna lembut. "Gue nggak butuh lo jadi jenius matematika. Gue butuh lo lulus. Gue butuh lo punya masa depan. Karena gue nggak mau lulus sendirian."

​Fattah terdiam.

​"Gue mau lo ada di panggung kelulusan nanti. Bukan sebagai bodyguard gue yang nunggu di parkiran, tapi sebagai... partner gue. Sejajar."

​Kata sejajar itu menohok hati Fattah.

​Fattah menarik napas panjang, menatap langit malam.

​"Oke," kata Fattah mantap. "Demi lo. Gue coba lagi. Gue nggak bakal biarin lo jalan sendirian."

​"Good. Tidur sana. Jangan mimpiin gue, nanti lo nggak fokus."

​"Siap, Tuan Putri."

​HARI H UJIAN NASIONAL

​Lokasi 1: SMA Pertiwi (Wilayah Surga)

​Suasana hening, dingin (AC 18 derajat), dan wangi.

​Roseanna mengerjakan soal dengan tenang dan elegan. Dia seperti sedang menandatangani kontrak bisnis, bukan ngerjain soal UN.

Naura di sebelahnya mengerjakan dengan kecepatan cahaya.

Aqeela sibuk menghitamkan bulatan LJK dengan sangat hati-hati (takut keluar garis) pake pensil mekanik emas.

Raisa mematahkan pensil ketiganya karena terlalu semangat nulis.

​Dan Lia?

Lia sudah selesai mengerjakan soal dalam 45 menit (padahal waktu 2 jam). Dia menelungkupkan kepalanya di meja, tidur dengan nyenyak. Pengawas mau negur tapi takut dibangunin singa betina.

​Lokasi 2: STM Rajawali (Wilayah Neraka)

​Suasana panas, kipas angin muternya pelan banget, bau minyak angin dan keringat.

​Fattah duduk di pojok, keringat menetes di pelipisnya. Dia menatap soal Peluang. Dia membayangkan dadu judi di pos ronda. Aha! Dia mulai menghitung dengan logika jalanan.

​Ilham di barisan tengah sudah frustrasi. Dia mengeluarkan dadu (penghapus yang dia ukir angka). Dia melemparnya pelan.

"Tiga... C. Bismillah C," gumam Ilham pasrah.

​Harry di belakang sedang komat-kamit baca mantra. "Eeny, meeny, miny, moe..."

​Mohan duduk di kursi yang kekecilan.

KREK.

Kakinya nggak sengaja nendang meja depan sampai bergeser.

"Maaf Pak Pengawas... Mohan nggak sengaja..." cicit Mohan takut.

​Oliver di barisan depan mengerjakan soal sambil senyum-senyum. Buat dia, soal UN ini kayak main teka-teki silang anak TK.

​HARI TERAKHIR UJIAN - SORE HARI

Zona Netral (Tembok Perbatasan)

​Bel tanda berakhirnya UN berbunyi.

​TEEEEEET!

​Siswa-siswi berhamburan keluar. Di perbatasan tembok yang sekarang sudah bolong (karena sering dipanjat), dua kubu bertemu.

​Mereka duduk melingkar di rumput (sisi Pertiwi) sambil minum es teh plastik (beli di sisi Rajawali).

​"AKHIRNYA!!" teriak Harry, melempar dasinya ke udara. "Gue bebas! Otak gue bisa istirahat!"

​"Lo mau kemana abis ini, Har?" tanya Aqeela sambil ngemil macaron.

​"Gue mau jadi Youtuber, Neng. Konten misteri. Atau ternak lele digital. Kalau Neng Aqeela?"

​"Aku mau ke Paris," jawab Aqeela enteng. "Sekolah Fashion Design. Papah udah beliin apartemen di deket Menara Eiffel. Nanti kalian main ya, tiket aku yang bayar."

​Anak-anak Vanguards langsung sujud syukur. "ALHAMDULILLAH!"

​"Gue..." Mohan angkat bicara, suaranya berat tapi malu-malu. "Mohan mau sekolah masak."

​Semua menoleh kaget. "Masak?!"

​"Iya," Mohan tersenyum, otot bisepnya menonjol. "Mohan suka masak. Mohan mau jadi Chef yang badannya gede. Biar kalau ada pelanggan komplain makanannya asin, Mohan tinggal melotot."

​"Ide bagus Han," puji Raisa. "Gue dukung."

​Fattah menoleh ke Ilham yang lagi ngelamun. "Lo gimana, Ham?"

​Ilham melirik Lia yang lagi main HP.

​"Gue mau masuk Teknik Mesin," kata Ilham tiba-tiba, suaranya serius (tumben). "Gue mau jadi Insinyur. Gue mau bikin mesin yang bisa terbang."

​Lia menurunkan HP-nya, menatap Ilham.

​"Ketinggian cita-cita lo, Botak," komentar Lia datar.

​"Biarin," Ilham menatap Lia tajam. "Gue harus punya cita-cita tinggi. Soalnya ada orang yang mau kuliah di Luar Negeri. Kalau gue nggak terbang, gue nggak bisa nyusul dia."

​Lia terdiam sejenak. Sudut bibirnya terangkat tipis. Sangat tipis.

​"London," kata Lia pelan. "Gue mau ambil Hukum di London."

​"Oke," Ilham mengangguk. "Tunggu gue bikin pesawat buat ke London. Tiketnya gue bayar sendiri, nggak minta Aqeela."

​"Gue pegang omongan lo," tantang Lia.

​Momen Kunci: Fattah dan Roseanna

​Di sudut lain, agak menjauh dari keramaian, Roseanna berdiri bersandar di tembok. Fattah menghampirinya.

​"Udah lega?" tanya Fattah.

​"Lumayan," Roseanna menghela napas. "Tapi beban sebenernya baru mulai. Bisnis bokap, kuliah, nama baik keluarga..."

​Fattah terdiam. Dia menatap ujung sepatunya yang kotor.

​"Gue kayaknya tetep di bengkel, Rose," kata Fattah pelan. "Itu warisan bokap gue. Gue nggak punya otak encer kayak Oliver atau duit kayak lo."

​Roseanna berbalik badan, menatap Fattah tajam.

​"Gue udah duga lo bakal ngomong gitu."

​Roseanna merogoh tasnya. Dia mengeluarkan sebuah amplop tebal berlogo universitas swasta elit di Jakarta (Universitas Pelita Harapan / Binus versi fiksi).

​"Nih," Roseanna menyodorkan amplop itu ke dada Fattah.

​"Apaan nih? Surat tanah?"

​"Formulir Beasiswa Leadership," jelas Roseanna. "Gue daftarin lo diem-diem. Gue lampirin portofolio lo mimpin Vanguards (sebagai organisasi kepemudaan, bukan geng tawuran). Rektornya tertarik sama jiwa kepemimpinan lo."

​Mata Fattah membelalak. "Rose... ini kampus mahal. Isinya anak sultan semua. Gue bakal jadi alien di sana."

​Roseanna maju selangkah, menatap mata Fattah dalam-dalam. Jarak mereka sangat dekat.

​"Lo bukan alien. Lo Raja, Fattah. Lo punya kharisma yang nggak dipunya anak-anak manja di kampus itu. Lo punya nyali."

​Suara Roseanna melembut, hampir berbisik.

​"Gue juga bakal kuliah di sana, ambil Bisnis. Gue butuh partner. Gue butuh orang yang bisa jaga punggung gue dari orang-orang licik kayak Julian. Gue nggak percaya sama cowok berdasi. Gue percayanya sama lo."

​Fattah menatap amplop itu, lalu menatap mata cokelat Roseanna yang penuh harap.

​Cewek ini... Ratu yang angkuh ini... dia benar-benar tidak mau melepaskan Fattah.

​"Lo ngelakuin ini semua... biar gue tetep di deket lo?" tanya Fattah, senyum miring andalannya kembali.

​Wajah Roseanna memerah sedikit, tapi dia tetap angkuh.

​"Anggep aja investasi. Gue tau lo bakal sukses. Dan gue mau saham di kesuksesan lo."

​Fattah tertawa renyah. Dia melipat amplop itu dan memasukkannya ke saku jaket, tepat di atas jantungnya.

​"Oke, Bu Investor," kata Fattah. "Gue ambil tawarannya. Tapi inget, gue ke kampus naik RX King, bukan Alphard."

​"Terserah. Asal jangan telat masuk kelas," Roseanna tersenyum lega.

​Mereka berdua menatap matahari terbenam di balik gedung sekolah.

​"Minggu depan Prom Night," kata Roseanna tiba-tiba.

​"Terus?"

​"Lo harus dateng. Lo pasangan gue."

​Fattah tersedak ludahnya sendiri. "Hah? Pasangan Ratu Pertiwi? Gue bakal dibunuh cowok satu sekolah."

​"Biarin," Roseanna mengangkat dagu. "Biar mereka tau. Ratu cuma cocok sama Raja. Walaupun Rajanya bau oli."

​Fattah geleng-geleng kepala, tapi hatinya berbunga-bunga.

​"Siap, Tuan Putri. Hamba siap mengawal."

1
anggita
ikut ng👍like, iklan☝aja. moga novelnya lancar.
Yel
LANJUT SAMPAI TAMAT KAAAKKK 😍 pengen nabung bab nya karna bab 1 aja sdh rame. semangat thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!