Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.
Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Bayangan dari Selat Malaka
Pendar lampu merkuri dari jajaran pencakar langit Gangnam memantul di atas meja kaca bundar di ruang kerja pribadi Cha Jin-wook. Jam dinding digital bergaya minimalis baru saja berkedip, menunjukkan pukul 21.00 KST. Di luar jendela besar yang menghadap langsung ke panorama kota Seoul, arus kendaraan di jembatan Banpo tampak seperti aliran lava keemasan yang tak pernah putus. Namun, di dalam ruangan ini, keheningan yang tercipta terasa begitu padat dan penuh dengan perhitungan matematis kelas atas.
Jin-wook duduk dengan menyandarkan punggung tegapnya pada kursi kulit Italia berwarna hitam. Kemeja putihnya yang mahal kini sudah tidak serapi pagi tadi; dua kancing teratasnya sengaja dibuka, sementara lengan panjangnya digulung dengan presisi hingga batas siku, memamerkan urat-urat tangan yang menegang seiring dengan ketajaman konsentrasinya. Di hadapannya, tiga layar monitor holografik menampilkan grafik fluktuasi saham Cha Corporation yang terus berkedip hijau dan merah secara bergantian.
"Jadi, Ares Global berhasil mengakumulasi 4,8 persen saham publik kita dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam?" suara Jin-wook terdengar sangat rendah, namun memiliki getaran otoritas yang sanggup membuat Sekretaris Kim yang berdiri di seberang meja menahan napas sejenak.
"Benar, Presdir," Sekretaris Kim mengangguk taktis sembari menyodorkan sebuah tablet dokumen terenkripsi. "Unit intelijen kita di Singapura baru saja memverifikasi dokumen korporasi mereka. Struktur modal Ares Global dialirkan melalui tiga lapis perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman. Namun, tanda tangan pengendali akhir pada dokumen pembukaan rekening kustodian mereka merujuk pada satu nama lama: Edward Chen."
Mendengar nama itu, sepasang mata elang Jin-wook seketika menyipit tajam. Kilatan amarah yang dingin dan penuh perhitungan membara di balik manik matanya yang pekat.
Edward Chen adalah putra tunggal dari mendiang sutradara finansial yang tiga puluh tahun lalu diusir secara tidak hormat oleh kakek Jin-wook dari jajaran pendiri konsorsium karena terbukti melakukan penggelapan dana cadangan devisa perusahaan. Tampaknya, setelah tiga dekade mengumpulkan kekuatan di distrik finansial Selat Malaka, keturunan keluarga Chen itu kembali untuk menuntut apa yang mereka sebut sebagai "warisan darah".
"Dia mengira posisiku sedang melemah karena fokusku terbagi untuk menjaga kehamilan Ji-an," desis Jin-wook, perlahan menyunggingkan senyuman miring yang begitu dingin dan mematikan. "Dia sengaja menyerang saat RUPS luar biasa baru saja ditutup, berpikir bahwa aku tidak akan berani melakukan tindakan agresif di pasar terbuka."
"Presdir, jika kepemilikan mereka menyentuh angka lima persen besok pagi, secara regulasi pasar modal mereka wajib melakukan pengumuman keterbukaan informasi. Hal itu bisa memicu kepanikan di kalangan investor ritel kita," Sekretaris Kim memberikan analisisnya dengan nada cemas.
"Biarkan dia melewatinya," ujar Jin-wook mutlak. Pria itu berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana bahan hitamnya. Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap memancarkan aura seorang penguasa tertinggi yang tak tertembus.
"Begitu Edward Chen mengumumkan kepemilikannya besok pagi, kita tidak akan menaikkan harga saham. Sebaliknya, aku ingin kau melepaskan dua belas persen saham tresuri yang kita simpan di bank kustodian Swiss ke pasar sekunder secara serentak pukul sembilan tepat."
Sekretaris Kim membelalakkan matanya. "Melepaskan saham tresuri? Tapi Presdir, itu akan membuat harga saham kita merosot tajam dalam hitungan menit!"
"Tepat," Jin-wook berbalik, menatap Sekretaris Kim dengan pandangan membunuh yang penuh dengan kecerdikan licik. "Itu adalah taktik Bear Hug yang dimodifikasi. Saat harga saham kita anjlok ke titik terendah, Edward Chen akan dipaksa melakukan margin call atas pinjaman dana yang dia gunakan di Singapura. Di detik itulah, kita akan membeli kembali seluruh sahamnya melalui perusahaan sekuritas pihak ketiga dengan harga sepertiga dari modal yang dia keluarkan. Aku akan membuatnya terkubur di bawah puing-puing investasinya sendiri sebelum dia sempat menginjakkan kaki di Seoul."
Sementara itu, di lantai bawah penthouse, suasana romantis yang bertolak belakang sedang tercipta di area dapur bersih yang bernuansa marmer putih gading.
Han Ji-an sedang berdiri di depan konter dapur, mengenakan gaun tidur panjang berbahan sutra lembut berwarna merah muda pastel yang longgar, dilapisi dengan jubah rajut putih yang hangat. Rambut hitamnya yang panjang diikat asal ke belakang, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya yang kini tampak sedikit lebih ranum dan memancarkan aura keibuan yang sangat memikat.
Di hadapannya, sebuah mangkuk porselen besar berisi adonan kue beras tradisional (tteok) yang sedang ia uleni sendiri. Sejak kehamilannya memasuki minggu keenam, Ji-an sering kali merasakan mengidam makanan manis di malam hari—sebuah kebiasaan baru yang selalu ia sembunyikan dari Jin-wook agar suaminya tidak perlu repot di tengah kesibukan kantornya.
Sret.
Sebuah pelukan hangat yang sangat posesif mendadak melingkar di pinggang ramping Ji-an dari arah belakang, membuat wanita itu sedikit tersentak hingga menyenggol mangkuk adonannya. Aroma kayu cendana yang maskulin berpadu dengan kehangatan tubuh yang sangat ia kenali langsung memenuhi indra penciumannya.
"sayang... kau mengejutkanku," bisik Ji-an dengan kekehan geli saat merasakan kecupan-kecupan kecil yang hangat mulai mendarat di ceruk lehernya, tepat di atas syal sutra yang sengaja ia longgarkan.
Jin-wook tidak menjawab dengan kata-kata. Ia membenamkan wajah tampannya di rambut harum Ji-an, menghela napas panjang seolah-olah seluruh beban kerja korporasinya yang berat menguap begitu saja setiap kali ia menyentuh tubuh istrinya. Kedua tangan besarnya yang hangat perlahan turun dari pinggang, merayap masuk ke balik jubah rajut Ji-an, dan menangkup lembut perut rata istrinya yang menyembunyikan kehidupan baru mereka.
"Mengapa Nyonya Cha membuat kekacauan di dapur pada jam seperti ini, hmm?" suara berat Jin-wook bergetar rendah di samping telinga Ji-an, mengirimkan desir manis yang membuat pipi Ji-an merona merah muda khas adegan romantis drakor.
Ji-an berbalik di dalam kungkungan lengan kekar Jin-wook, menatap sepasang mata elang suaminya yang kini telah kehilangan seluruh kilat dinginnya, digantikan oleh binar cinta dan gairah kepemilikan yang begitu pekat. Ji-an mengangkat kedua tangannya yang sedikit terkena tepung, berniat mencubit hidung mancung Jin-wook, namun pria itu dengan cepat menangkap pergelangan tangan lentik Ji-an.
"Anakmu yang di dalam sini... dia bilang dia ingin makan kue beras manis buatan ibunya sendiri," goda Ji-an dengan kedipan mata yang manja.
Jin-wook terkekeh rendah, sebuah tawa seksi yang sangat jarang ia tunjukkan kepada dunia luar. Ia menunduk, menatap jemari tangan Ji-an yang putih bersih, lalu tanpa ragu mengecup ujung jari yang terkena sedikit sisa tepung tersebut sebelum beralih mengunci tatapan matanya pada bibir merah muda manis milik istrinya.
"Kalau begitu, ayahnya juga ingin meminta jatah manisnya malam ini," bisik Jin-wook parau, sedetik sebelum ia meraup bibir Ji-an dalam sebuah ciuman yang sangat intens, dalam, dan penuh dengan tuntutan rasa rindu yang membara.
Ji-an mendesah lembut, memasrahkan tubuh lemasnya dalam dominasi penuh sang suami seiring dengan tangan Jin-wook yang merangkul pinggangnya semakin erat, menariknya tanpa celah ke dalam dekapan dadanya yang bidang. Ciuman itu berlangsung lama, lambat, dan dipenuhi oleh kehangatan cinta sejati yang mengubur seluruh kebisingan dunia korporasi di luar sana.
Ketika ciuman itu akhirnya terlepas, Jin-wook menyeka sudut bibir Ji-an dengan ibu jarinya dengan gerakan yang luar biasa lembut. "Mulai besok, jangan mengaduk adonan berat seperti ini lagi. Biarkan koki yang melakukannya untukmu, Ji-an. Kau hanya boleh memerintah, tidak boleh kelelahan."
Ji-an tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di dada Jin-wook, mendengarkan detak jantung suaminya yang stabil dan menenangkan. "Aku mengerti, suamiku yang protektif."
Keesokan paginya, tepat pukul 08.50 KST.
Atmosfer di lantai bursa saham Seoul mendadak menegang ketika sebuah rilis berita resmi dari otoritas jasa keuangan Singapura menyebar ke seluruh ruang redaksi media ekonomi. Ares Global secara resmi mengumumkan bahwa mereka telah menguasai 5,1 persen saham Cha Corporation dan menuntut diadakannya reorganisasi struktur dewan komisaris atas nama "transparansi pemegang saham minoritas".
Di dalam ruang kerja pusatnya, Edward Chen—seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu necis dan senyuman licik yang khas—sedang duduk di dalam jet pribadinya yang sedang bersiap terbang dari Changi menuju Incheon. Ia menatap layar tabletnya dengan pandangan kemenangan.
"Cha Jin-wook... kau masih terlalu muda untuk mengerti bagaimana cara mempertahankan sebuah kekaisaran," gumam Edward Chen sombong sembari meneguk cerutu mahalnya. "Kakekmu menendang keluargaku tiga puluh tahun lalu, dan hari ini, aku akan merebut takhtamu melalui pasar modal."
Namun, tepat pukul 09.00 KST, saat bel pembukaan perdagangan saham Seoul berbunyi nyaring, sebuah fenomena aneh terjadi di layar monitor bursa.
Volume penjualan saham Cha Corporation mendadak melonjak hingga menyentuh angka jutaan lembar dalam waktu kurang dari dua menit. Grafik harga saham yang tadinya stabil di angka 180.000 Won per lembar, seketika menukik tajam jatuh bebas menuju angka 120.000 Won—sebuah penurunan drastis sebesar 33 persen yang memicu sistem circuit breaker bursa saham untuk menghentikan perdagangan sementara.
Ponsel Edward Chen di dalam jet pribadinya mendadak berdering dengan dering yang panik dari direktur investasinya di Singapura.
"Tuan Chen! Kita dalam masalah besar!" suara di seberang telepon berteriak histeris. "Cha Group baru saja mengguyur pasar dengan dua belas persen saham tresuri mereka secara serentak! Harga saham jatuh bebas! Bank kustodian kita di Singapura baru saja menerbitkan surat margin call! Jika kita tidak menyuntikkan dana jaminan sebesar lima ratus juta Dolar dalam waktu tiga puluh menit, seluruh saham 5,1 persen yang kita beli kemarin akan disita dan dilikuidasi secara paksa!"
Edward Chen tersentak dari kursi kulitnya, cerutu di tangannya jatuh ke atas karpet wol mewah jet pribadinya. Wajahnya yang tadinya kemerahan penuh kesombongan seketika berubah pucat pasi seperti mayat. "Apa?! Saham tresuri?! Bagaimana bisa bajingan muda itu berani menghancurkan nilai perusahaannya sendiri hanya untuk menjebakku?!"
Ia belum sempat memulihkan diri dari syok psikologis tersebut ketika sebuah pesan teks masuk ke ponsel pribadinya dari nomor yang tidak dikenal. Pesan itu hanya berisi satu kalimat pendek dalam bahasa Korea yang sangat dingin:
"Selamat datang di Seoul, Edward Chen. Sisa modal investasimu sudah resmi menjadi milik tabungan masa depan calon anakku. Jangan pernah kembali." — Cha Jin-wook.
Di dalam ruang kerjanya di Hannam-dong, Jin-wook meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dengan gerakan yang sangat tenang. Di sampingnya, Han Ji-an sedang duduk sembari menikmati teh jahe hangatnya, menatap suaminya dengan senyuman bangga yang begitu manis. Pertempuran dengan Singapura telah dimenangkan bahkan sebelum musuh sempat mendarat di bumi Korea.
Serangan dari Selat Malaka berhasil dihancurkan secara elegan dalam hitungan menit di tangan dingin sang Presdir! Namun, apakah Edward Chen akan menerima kekalahannya begitu saja, atau justru nekat bersekutu dengan sisa-sisa pengikut Cha Tae-sung untuk melakukan serangan balik yang lebih licik pada episode selanjutnya?
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️