NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 NASABAH YANG TIDAK MASUK AKAL

“Selamat sore, apakah benar saya sedang berbicara dengan Bapak Arkan Pradipta?”

Suara perempuan dari seberang telepon terdengar sangat rapi.

Terlalu rapi untuk ukuran panggilan biasa.

Arkan berdiri di ruang tamu kecil dengan ponsel menempel di telinga. Di depannya, Bu Sari dan Naya menatap dengan rasa ingin tahu yang ditahan. Kipas angin tua masih berputar pelan di sudut ruangan, mengeluarkan suara berdecit yang tiba-tiba terasa sangat tidak cocok dengan nada formal dari telepon itu.

Arkan menelan ludah.

“Iya, saya Arkan.”

Ada jeda pendek di seberang sana, seperti orang yang sedang memastikan data sebelum melanjutkan bicara.

“Perkenalkan, Pak. Saya Nadira, perwakilan Private Wealth Banking dari Bank Nusantara Sentral. Kami menghubungi Bapak terkait perubahan status rekening dan layanan prioritas yang perlu segera kami konfirmasi.”

Arkan tidak langsung menjawab.

Private Wealth Banking.

Kata-kata itu terdengar asing, seperti berasal dari dunia yang berbeda. Dunia dengan gedung kaca tinggi, meja marmer, kopi mahal, dan orang-orang berjas yang tidak pernah takut dompetnya kosong sebelum akhir bulan.

Di rumah kecil itu, kata-kata itu jatuh di antara meja kayu tua, piring gorengan sisa pagi, dan rak buku miring milik Naya.

Kontrasnya terlalu tajam.

Di kepala Arkan, sistem langsung memberi catatan.

[Subjek Nadira.]

[Institusi: Bank Nusantara Sentral.]

[Divisi: Private Wealth Banking.]

[Tujuan: mengamankan relasi dengan nasabah prioritas ekstrem.]

[Catatan: mereka lebih gugup daripada Tuan Rumah.]

Arkan mengerutkan kening tipis.

“Mereka gugup?”

[Tentu.]

[Rekening Tuan Rumah baru saja menerima dana yang cukup untuk membuat beberapa cabang bank berdoa agar tidak terjadi penarikan tunai mendadak.]

Arkan hampir memejamkan mata.

“Sistem, jangan bercanda saat aku sedang telepon.”

[Sistem tidak bercanda.]

[Penarikan dana ekstrem dapat mengganggu likuiditas cabang kecil.]

“Pak Arkan?” suara Nadira terdengar lagi, lebih hati-hati. “Apakah Bapak masih terhubung?”

Arkan menarik napas pelan. “Iya. Saya masih dengar.”

“Baik, Pak. Sebelumnya kami ingin memastikan, apakah Bapak menyadari adanya aktivitas dana masuk dalam jumlah besar pada rekening Bapak hari ini?”

Bu Sari langsung menegang.

Naya yang duduk di kursi kecil ikut menatap Arkan dengan mata membesar. Mereka tidak mendengar suara di seberang telepon, tetapi dari ekspresi Arkan, mereka tahu percakapan itu bukan hal biasa.

Arkan memalingkan wajah sedikit, bukan karena ingin menyembunyikan diri, tetapi karena ia butuh ruang bernapas.

“Saya tahu ada dana masuk,” jawabnya hati-hati.

“Baik, Pak. Kami perlu menyampaikan bahwa dana tersebut sudah melewati sistem verifikasi legalitas internal dan saat ini tidak memiliki status blokir. Namun karena nilainya sangat besar, kami ingin menawarkan pendampingan langsung melalui layanan prioritas kami.”

Arkan diam.

Legal.

Tidak ada blokir.

Kalimat itu seharusnya membuatnya tenang, tetapi justru membuat semua ini terasa semakin nyata. Kalau bank sudah menelepon, kalau sistem internal mereka melihat uang itu dan tidak membekukannya, berarti kemungkinan ini bukan sekadar angka palsu di layar.

Uang itu benar-benar ada.

Arkan menatap lantai.

Keramik tua di bawah kakinya memiliki retakan kecil di dekat kaki meja. Retakan yang dulu pernah ditutup ibunya dengan karpet tipis agar tidak terlihat. Hari ini, retakan itu tampak seperti pengingat bahwa meskipun angka di rekeningnya sudah berubah, dunia fisik di sekelilingnya belum sempat menyusul.

“Saya tidak ingin ada keramaian,” ucap Arkan pelan.

Di seberang sana, Nadira terdiam sebentar.

“Baik, Pak. Kami memahami. Seluruh data dan status Bapak akan kami jaga sesuai protokol kerahasiaan nasabah utama.”

[Sistem menilai jawaban subjek cukup aman.]

[Namun istilah “protokol kerahasiaan” sering kali hanya sekuat integritas manusia yang memegang akses.]

Arkan menahan napas.

Ia tidak suka mendengar itu.

“Apakah ada yang perlu saya lakukan?” tanya Arkan.

“Untuk sementara, kami menyarankan Bapak tidak melakukan transaksi publik yang terlalu mencolok sebelum tim kami bertemu langsung dengan Bapak. Kami juga dapat mengirimkan relationship manager untuk menjelaskan opsi pengamanan rekening, pembagian dana, layanan investasi, serta perlindungan transaksi besar.”

Arkan memandang ponselnya sejenak.

Relationship manager.

Perlindungan transaksi.

Investasi.

Semua istilah itu datang terlalu cepat, seperti pintu-pintu baru terbuka sekaligus di depan wajahnya. Namun Arkan tidak ingin terlihat seperti orang yang sepenuhnya tidak tahu apa-apa, meskipun kenyataannya ia memang belum siap.

“Besok pagi saya sudah ada urusan keluarga,” kata Arkan. “Ibu saya harus medical check-up. Setelah itu baru mungkin bisa bertemu.”

Bu Sari menatapnya dengan kaget. Ia seperti baru menyadari bahwa keputusan Arkan soal rumah sakit bukan sekadar pembicaraan kosong.

Nadira langsung menjawab lebih cepat, “Tentu, Pak. Kami bisa menyesuaikan jadwal Bapak. Bahkan bila Bapak berkenan, kami dapat membantu mengatur layanan kesehatan prioritas melalui rumah sakit rekanan.”

Arkan terdiam.

Rumah sakit rekanan.

Sistem langsung merespons.

[Rekomendasi: terima.]

[Manfaat: akses pemeriksaan lebih cepat, privasi lebih tinggi, risiko antrean dan perhatian publik berkurang.]

[Catatan: akhirnya ada manusia bank yang menyarankan hal tidak bodoh.]

Arkan menatap ibunya.

Bu Sari masih duduk kaku, wajahnya penuh pertanyaan. Naya menatap Arkan seperti menunggu kalimat yang bisa menjelaskan semuanya, tetapi tidak berani memotong.

Arkan kembali bicara ke telepon.

“Saya tidak ingin keluarga saya tahu nominal dana ini.”

“Baik, Pak. Kami mengerti.”

“Dan saya tidak ingin ada pegawai bank yang datang mencolok ke rumah.”

“Dipahami, Pak. Kami dapat mengatur pertemuan tertutup di kantor cabang prioritas, hotel bisnis, rumah sakit rekanan, atau lokasi yang Bapak tentukan.”

Arkan memikirkan itu sebentar.

Rumah kecil mereka jelas bukan tempat yang aman untuk didatangi orang bank. Bu Lilis bisa melihat. Riko bisa mencium kabar. Tetangga bisa mulai menghitung sandal tamu yang masuk.

“Besok di rumah sakit saja,” kata Arkan akhirnya. “Tapi jangan membuat keluarga saya panik.”

“Baik, Pak. Kami akan mengatur dengan sangat hati-hati. Mohon izin, apakah Bapak bersedia menerima pesan resmi dari nomor terverifikasi kami setelah panggilan ini?”

“Iya.”

“Terima kasih, Pak Arkan. Sekali lagi, kami menghargai kepercayaan Bapak kepada Bank Nusantara Sentral. Mulai hari ini, Bapak masuk dalam kategori Nasabah Utama Prioritas Khusus.”

Arkan tidak tahu harus menjawab apa pada kalimat itu.

Nasabah Utama Prioritas Khusus.

Beberapa jam lalu, ia masih berdiri di depan meja administrasi, dianggap mengganggu waktu hanya karena belum mampu membayar tunggakan adiknya.

Sekarang bank menyebutnya nasabah utama.

Dunia memang berubah terlalu cepat.

“Baik,” jawab Arkan singkat.

“Apakah ada hal lain yang ingin Bapak sampaikan?”

Arkan hampir berkata tidak.

Namun sebelum ia menutup panggilan, satu pikiran muncul.

“Pastikan tidak ada yang menghubungi keluarga saya tanpa izin saya.”

Nada suaranya tidak keras, tetapi ada ketegasan yang membuat ruangan kecil itu hening.

Di seberang sana, Nadira menjawab lebih formal.

“Tentu, Pak. Semua komunikasi akan melalui Bapak sampai ada instruksi lanjutan.”

“Baik.”

Panggilan berakhir.

Arkan menurunkan ponsel perlahan.

Ruang tamu kecil itu kembali sunyi, tetapi sunyinya berbeda. Bukan lagi sunyi setelah menolak Riko. Bukan sunyi penuh emosi keluarga. Ini sunyi yang muncul saat semua orang menyadari bahwa sesuatu yang sangat besar baru saja masuk ke rumah mereka, meski tidak terlihat bentuknya.

Bu Sari menatap Arkan.

“Bank?”

Arkan mengangguk pelan.

Naya langsung menegakkan tubuh. “Bank nelepon Abang? Karena uang tadi?”

Arkan duduk kembali.

Kursi kayu itu berderit, tetapi kali ini sistem benar-benar diam. Mungkin karena ponsel Arkan masih menampilkan pemberitahuan baru. Mungkin karena situasi sudah cukup berat tanpa hinaan tambahan.

“Iya,” jawab Arkan.

Bu Sari memegang dadanya pelan. “Ada masalah?”

“Tidak, Bu.” Arkan langsung menjawab sebelum ketakutan ibunya tumbuh lebih jauh. “Mereka cuma mau memastikan dan menawarkan bantuan. Katanya uangnya aman.”

Naya mengerutkan kening. “Kalau aman, kenapa bank sampai nelepon?”

Arkan tersenyum tipis, lelah. “Karena jumlahnya tidak biasa.”

Naya hendak bertanya berapa, tetapi ia berhenti saat melihat wajah Arkan.

Mungkin ia tahu, angka itu belum siap diucapkan.

Bu Sari menarik napas pelan. “Kan, Ibu makin takut.”

Arkan menatap ibunya, lalu mengangguk. “Arkan tahu.”

“Kalau semua ini terlalu besar…”

“Memang terlalu besar, Bu.”

Jawaban itu membuat Bu Sari terdiam.

Arkan tidak ingin berpura-pura lagi bahwa semuanya biasa saja. Keluarganya tidak bodoh. Semakin ia mencoba mengecilkan sesuatu yang jelas besar, semakin mereka akan takut. Maka ia memilih jujur pada hal yang bisa ia jujuri.

“Tapi besar bukan berarti buruk,” lanjutnya. “Makanya Arkan butuh bantuan orang yang paham hukum, bank, dan aset. Biar semuanya rapi. Biar Ibu dan Naya aman.”

Naya menatapnya lama. “Abang sendiri aman?”

Pertanyaan itu membuat Arkan terdiam.

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!