Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.
Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal bab pertama
Dominic melempar dengan kasar apa saja yang ada di atas meja kerja nya tanpa tersisa, baik laptop dengan harga kisaran jutaan nya tak luput ikut terlempar.
Sial! Dirinya yang di takuti di negara ini dan di dunia ke gelapan benar-benar merasa sangat buruk sekali, harga dirinya seakan jatuh sedalam-dalam nya hanya karena tidak bisa menemukan kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun ini.
"Renungkan kesalahan mu Jeremy! aku tidak butuh laporan si alan seperti ini!!" Dominic mengeram menahan amarah nya menatap Jeremy yang tidak becus mencari ke kasih nya.
"Satu bulan, satu bulan waktu ku berikan! Lewat dari itu kau akan menanggung akibat nya" Dominic berucap sambil berjalan ke arah jendela untuk menatap kota.
Jeremy diam, tidak membantah karena ia tahu bahwa ini adalah kesahalan nya. Wajah nya juga tak kalah datar dari sang Bos, sepuluh dua belas lah.
"Saya akan berusaha lebih keras lagi Tuan." Jeremy sudah sangat berusaha mencari kekasih Tuannya yang menghilang, tapi ternyata tidak sesederhana itu. Nona Isabella pergi tanpa jejak tercelah sedikit pun. Seolah ada yang menutupi kepergian nya. Atau memang Isabella yang mahir menyembunyikan dirinya.
Dominic tidak menjawab, pria itu dengan tatapan angkuh dan tatapan datar nya hanya bisa menahan amarah nya. Jika ia marah, ia takut gedung setinggi pencakar langit ini akan runtuh ia buat.
Semenjak Isabella pergi dari kehidupannya, membuat Dominic berhati dingin. Emosi nya tidak terkendali apalagi mendengar ke gagalan tentang mencari Isabella.
Matanya memerah jika mengingat bagaimana Kekasihnya itu pergi.
Itu adalah kesalahannya, Dominic ceroboh sehingga seorang wanita yang sangat berteman baik dengan kekasihnya menjebak nya.
Sebenarnya itu bukan salah paham, tapi benar-benar nyata dimana ia hampir making love dengan Clara.
"Bella sayang, I'm Sorry" lirih Dominic. Ia mengambil ponselnya dan melihat walpaper hp nya foto dirinya dan Bella. Dimana Bella tersenyum manis menatap kamera sedangkan dirinya mencium pipi gadis nya itu.
"Tidak cukup kah kamu menghukum ku sayang, tolong kembali. Maafkan aku." Dominic jadi tidak mood lagi bekerja, sesaat dirinya ingin melampiaskan emosi nya ini.
Pria yang berumur 38 tahun itu berjalan, tak peduli berkas- berkas penting yang berserakan di lantai, Dominic tetap menginjak nya padahal kertas kertas itu bisa menghasilkan miliaran Dollar.
Lain hal nya dengan gadis yang di cari-cari oleh Dominic, wanita itu menatap pintu apartemen yang tidak terlalu besar. Harga sewa nya masih di kalangan menengah.
Isabella mengetok pintu dengan tersenyum lebar.
"Mommy..."
Semakin lebar lah senyum Isabella melihat siapa yang membukan kah pintu untuk nya.
Itu putranya, Damian Salvatore. Yah...putranya dengan Dominic.
"Haii sayang, Mommy rindu sekali dengan putra tampan Mommy ini." Isabella langsung memeluk putranya. Dua hari tidak bertemu dengan Damian putranya rasanya Isabella mau gila.
"Kak, kamu sudah sampai. Kenapa tidak bilang sama aku dulu. Aku bisa menjemput mu ke bandara." Sang adik muncul, di tangan nya terdapat spatula dan ada celemek terpakai di tubuh nya
"Aku tidak ingin merepotkan kamu, lagi pula aku bisa sendiri" Damian menarik tangan Mommynya agar segera masuk.
"Tapi setidaknya mengabari" Lily mendengus tapi tetap merasa senang. " Aku mau lanjut masak lagi, soalnya keponakan ku sudah merasa lapar." Lily kembali ke dapur, sedangkan Damian dan Isabella duduk.
"Mommy, Dami senang Mommy datang. Besok adalah pertandingan ku." Anak itu Excited sekali. Isabella tentu merasa senang melihat nya.
Kedatangan mereka kesini kembali ke kota ini karena putranya ikut lomba cerdas cermat. Padahal sungguh, Isabella sangat tidak rela kembali ke kota ini karena ada kenangan pahit sekaligus kenangan manis yang tidak bisa dilupakan seumur hidup.
Awalnya Isabella menolak dari pihak sekolah, apalagi pertandingan nya di kota ini. Tapi dirinya tidak boleh egois, ada perkembangan anak yang sedang tumbuh.
"Tentu saja Mommy harus datang melihat putra Mommy ini. Mana bisa Mommy tidak datang." Isabella mencubit pipi putra tampan nya dengan gemas.
"Terimakasih Mommy." Isabella hanya tersenyum sebagai jawabannya dan memeluk sang putra dengan bangga.
Tapi yang jelas kepintaran Damian sudah pasti berasal dari pria itu, karena Isabella tidak terlalu pintar dan juga tidak terlalu bodoh.
Dominic yang sedang di perjalanan sambil menatap jalanan karena pikirannya terus mengarah ke kekasihnya tersentak sadar karena ponsel nya berdering.
Jeremy calling
"Ada apa?" Ucap Damian tanpa basa basi.
"Ada kabar tentang Nona Isabella Tuan"
Deg...
Jantung nya tiba-tiba berdetak lebih kencang mendengar nama wanita yang dirinya cintai sepenuh nyawa nya.
"Putar balik ke kantor" Perintah Dominic dengan tegas. Pria itu langsung mematikan telepon nya dengan sepihak.
Dominic berharap ini adalah kabar baik. Kabar yang akan mempertemukannya dengan kekasih nya, Isabella Laurent yang kerap dirinya panggil dengan sebutan Bella. Karena panggilan itu adalah panggilan kesayangan nya.
Dominic tidak sabar, setelah penantian nya selama 6 tahun yang terus mencari keberadaan Isabella ada informasi yang bisa di dapatkan oleh anak buah nya.
Ia berjalan dengan cepat ke ruangannya. lift ini rasanya terasa lambat karena Dominic sudah tidak sabar untuk kembali ke ruangan nya yang sudah pastinya telah di tunggu oleh asisten nya Jeremy.
padahal 30 menit yang lalu ia baru saja marah-marah dengan Jeremy karena tidak bisa menemukan Isabella. Tapi tidak berselang lama ia pergi sudah ada kabar tentang Isabella.
"Katakan" Ucap Dominic setelah sampe di ruangan nya.
Sungguh Dominic merasa deg-degan sekali. Tapi tertutup dengan wajah datar nya.
"Ada seorang nama Isabella Laurent mengambil tiket dengan penerbangan ke kota ini dan sampai di jam 9.32. "
Dominic terdiam, nama itu sudah tentunya adalah nama kekasihnya. Tidak mungkin kan ada nama yang terlalu versis? walaupun ada, tapi Dominic yakin bahwa itu adalah Isabella kekasihnya yang kabur.
"Ini bukti buktinya Tuan" Jeremy memberikan ipad nya kepada Dominic yang membuat hati Dominic panas dingin karena melihat foto seorang wanita yang menarik koper nya dan juga ada beberapa video dimana istrinya turun mulai dari pesawat hingga masuk ke dalam taksi.
"Kami sudah menelusuri ke arah mana Nona pergi. Dia mengarah ke apartemen x yang di lingkungan bagian A. "Jelas Jeremy lagi.
Senyum Dominic langsung terbit untuk pertama kalinya setelah kepergian Isabella. Jeremy sedikit melirik ke arah senyum Tuannya, dan itu adalah senyum hangat dan kebahagiaan meskipun terasa janggal karena wajah nya yang bertolak belakang.
Atau mungkin karena dirinya tidak pernah melihat senyum Tuannya seperti ini sehingga dirinya merasa sedikit aneh.
Tidak cocok dengan wajah nya.
Foto-foto ini benar-benar kekasih nya, Isabella. Wanita yang dirinya cari-cari selama ini. Wanita yang selalu dirinya rindukan, wanita separuh nafas nya. K-kini berada di kota ini, bahkan ia tahu dimana tempat tinggal nya.
"Tapi anda jangan lupa Tuan, besok kita akan mengunjungi acara pertandingan lambat cerdas cermat tingkat internasional di hotel baru kita." Ingatkan jeremy.
"Baik, bonus mu 3 kali lipat Jeremy" Sungguh, Dominic merasa dirinya tiba-tiba merasa hidup sekarang. Tidak sabar untuk bertemu dengan Isabella kekasihnya.
"Salin bukti buktinya ke handphone ku" Jeremy mengangguk sebagai jawabannya nya.