NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala

Kutukan Jiwa Niskala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"

Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.

Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.

Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Bayang-bayang Masa Lalu

"Sebuah peluit?" tanya Park Ji-Hoon, yang baru saja masuk dengan langkah tergesa.

Ji-Hoon adalah pewaris keluarga Park yang menguasai perdagangan benda sihir. Berbeda dengan Seo-Jun yang formal, Ji-Hoon selalu membawa suasana lebih hidup, meski kali ini wajahnya tampak serius.

"Untuk apa seorang pembasmi membawa benda rapuh seperti ini?"

Seo-Jun memutar-mutar peluit itu di jemarinya. "Ini bukan peluit biasa, Ji-Hoon. Ini adalah peluit penenang jiwa yang dipahat dari kayu giok hitam dari dasar terdalam Danau Cheon-gi. Bagaimana bisa seorang pembasmi memilikinya? Ini adalah benda suci bagi kaum kita."

Melihat benda berharga itu, mata Do-Hyun berkilat serakah. "Berikan padaku! Dia pasti mencurinya. Aku yang akan menyerahkannya langsung pada Paman sebagai barang bukti!"

Namun, sebelum jemari Do-Hyun menyentuh giok itu, Seo-Jun dengan gerakan kilat menyembunyikan peluit tersebut di balik lengan jubahnya yang lebar. Tatapannya mendadak berubah menjadi tajam dan sedingin es.

"Jangan menyentuhnya dengan tangan kotormu, Do-Hyun," ucap Seo-Jun dengan nada rendah yang menekan.

Do-Hyun tersentak, wajahnya memerah. "Apa maksudmu?! Aku hanya ingin membantu paman!"

"Benda ini beresonansi dengan energi tertentu," potong Seo-Jun dingin.

"Aku yang akan menyimpannya dan menyelidiki asal-usulnya melalui catatan keluargaku. Kau, fokuslah saja pada latihan pedangmu yang masih berantakan itu."

"Kau—!" Do-Hyun hampir mencabut pedangnya, namun Do-Kwang mendengus keras.

"Sudahlah, Do-Hyun! Biarkan Seo-Jun yang memegangnya. Keluarganya lebih paham tentang artefak kuno daripada kau yang hanya tahu cara menghancurkan es," ujar Do-Kwang, membuat Do-Hyun terdiam kesal.

Master Baek Si-On menggeleng pelan, ia memeriksa tanda lingkaran biru yang menghitam di leher Nara. "Dia sudah mati, Do-Kwang. Jiwanya hancur saat ritual gagal karena benturan mantra pelumpuhmu."

"Tapi Master Baek," potong Seo-Jun lagi. "Sihir pemindahan jiwa jarang meninggalkan jasad seutuh ini jika gagal total. Seharusnya raga ini sudah menjadi batu atau hancur menjadi debu hitam. Ada sesuatu yang aneh di sini. Seolah-olah raga ini masih... 'menunggu' sesuatu."

Ji-Hoon mendekat, menyenggol bahu Seo-Jun dan berbisik pelan, "Kau benar-benar tidak mau memberikan peluit itu, ya? Sepertinya kau menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar giok hitam. Apakah kau mengenal gadis ini sebelumnya, Seo-Jun?"

Seo-Jun tidak menjawab. Ia merasakan getaran halus yang samar dari peluit di balik jubahnya—sebuah denyut energi yang terasa sangat akrab di ingatannya.

"Simpan jasad ini baik-baik di peti pendingin Paviliun Cheon-gi Won," instruksi Do-Kwang.

"Jangan biarkan kabar kematian Nara bocor. Niskala tidak boleh tahu bahwa seorang pembasmi mencoba melakukan sihir terlarang di bawah hidung kita."

Saat meninggalkan Paviliun, Baek Seo-Jun sempat berhenti di ambang pintu kayu yang berat itu. Ia menoleh sekali lagi ke arah jasad Nara.

Ada dorongan aneh di dadanya, sebuah resonansi yang tidak ia pahami. Ia tidak tahu bahwa jauh di pemukiman kumuh yang pengap, Nara yang kini berada di tubuh Seol-Ah baru saja menghirup napas pertamanya dengan rasa sesak yang luar biasa.

Namun, di sudut lain negeri Niskala, sebuah takdir berbeda tengah bergejolak hebat. Di sebuah lembah terpencil yang dihantam badai salju abadi, Han-Seol berdiri tegak di tengah hamparan es.

Keringat bercucuran di pelipisnya meski udara di sekitarnya mampu membekukan napas. Ia berlatih di bawah pengawasan seorang penyihir tua yang memilih hidup dalam pengasingan.

Han-Seol adalah putra dari legenda yang kini ditakuti, Han-Gyeol. Namun, alih-alih warisan ilmu, Han-Seol tumbuh dalam bayang-bayang kebencian.

Han-Gyeol telah menutup seluruh akses gerbang energi di tubuh putranya sejak ia lahir—sebuah tindakan kejam yang membuat Han-Seol menjadi "cacat" secara sihir, seolah-olah ia hanyalah manusia biasa tanpa setetes pun darah penyihir.

Bagi Han-Gyeol, Han-Seol adalah pengingat akan malam terkutuk dua puluh tahun silam. Rumor bahwa Han-Seol adalah Anak Haram menyebar seperti wabah.

Han-Seol hanya bisa mengabaikan semua itu dengan hati yang membatu, meski jiwanya hancur setiap kali ayahnya menatapnya dengan tatapan jijik yang sama seperti saat melihat sampah.

Flashback: Lima Tahun yang Lalu (Kompleks Cheon-gi-won)

Han-Seol remaja berdiri gemetar di tengah aula besar. Di hadapannya, Penyihir Do-Kwang menatapnya dari kursi pengawas dengan pandangan merendahkan.

"Lihatlah dirimu, Han-Seol," ucap Do-Kwang, suaranya bergema dingin.

"Kau membawa marga Han yang agung, tapi kau tidak memiliki setetes pun energi naga di darahmu. Kau hanyalah beban bagi tempat suci ini. Seorang pecundang yang hanya bisa bersembunyi di balik nama besar ayahnya."

Han-Seol mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. "Hamba sudah berlatih setiap malam, Tuan. Berikan hamba waktu untuk membuka gerbang energi yang tersegel ini."

"Waktu tidak akan mengubah kegagalan yang sudah mendarah daging, Nak," potong Do-Kwang dengan nada sinis.

"Ayahmu sendiri yang mengatakan bahwa kau tidak layak. Dialah yang secara resmi meminta agar kau dikeluarkan dari Cheon-gi-won."

Dunia Han-Seol seakan berhenti berputar. "Ayah... yang memintanya?"

"Iya," lanjut Do-Kwang sambil menyeringai. "Dia berkata wajahmu mengotori kesucian tempat ini. Kau adalah aib yang ingin ia hapus dari ingatannya. Dia tidak butuh putra yang tidak bisa memegang pedang sihir."

Mendengar ayahnya sendiri—sosok yang selama ini ia puja meski dingin—adalah orang yang membuangnya, itu lebih menyakitkan daripada seribu tebasan.

"Pergilah!" usir Do-Kwang dengan acuh tak acuh.

"Kau tidak pantas berada di antara kaum penyihir. Kau hanyalah pengingat akan noda di keluarga Han."

Para penjaga menyeret Han-Seol keluar dari gerbang besar. Di bawah guyuran hujan lebat, Han-Seol menatap pintu gerbang yang tertutup rapat.

Hujan menyamarkan air mata yang akhirnya jatuh di pipinya yang dingin.

"Jika sihir menolakku karena ayahku yang memaksanya," bisik Han-Seol dengan suara yang serak oleh tangis dan dendam, "Maka aku akan menemukan cara lain untuk menghancurkan kalian semua."

Ia menatap tangannya yang gemetar. "Aku akan membuktikan bahwa raga ini bukan milik raja yang licik, bukan pula milik ayah yang pengecut... raga ini adalah milikku sendiri!"

Kembali ke Masa Sekarang

Han-Seol mengayunkan pedang kayunya dengan satu hentakan kuat yang memecah udara dingin.

Sang penyihir tua yang melatihnya, Master Kang, menghela napas panjang melihat kekakuan di gerakan muridnya.

"Cukup untuk hari ini, Han-Seol," ucap Master Kang pelan.

"Pedangmu tajam dan bertenaga, tapi hatimu masih penuh dengan amarah yang tidak terkendali. Jika kau ingin membuka gerbang energi yang ditutup paksa oleh ayahmu, kau harus belajar melepaskan kebencian yang menyumbat aliran ragamu."

"Bagaimana bisa aku melepaskannya, Master?" tanya Han-Seol dengan napas terengah-engah dan uap putih keluar dari mulutnya.

"Setiap hari aku hidup seperti hantu yang terlupakan. Ayahku menginginkanku mati, dan dunia menganggapku anak haram. Satu-satunya alasan aku masih bernapas adalah untuk melihat hari di mana Han-Gyeol mengakui bahwa aku adalah putranya yang sah!"

Master Kang menatap muridnya dengan tatapan iba. Ia tahu rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh Han-Gyeol. Ia tahu bahwa pemuda di depannya ini membawa beban dosa masa lalu yang bukan miliknya.

"Kau tahu, Han-Seol..." Master Kang menoleh ke arah Danau Cheon-gi yang tampak berkilau di kejauhan.

"Semalam, seseorang melakukan sihir pemindahan jiwa yang sangat kuat. Aku merasakannya di udara. Dunia ini akan segera kacau kembali. Dan mungkin, takdirmu yang sebenarnya akan segera datang melalui kekacauan itu."

Han-Seol terdiam, menatap langit yang mulai menggelap. Ia tidak tahu bahwa orang yang melakukan sihir itu adalah Nara, sang pembasmi yang kini "hidup kembali", dan bahwa garis takdir mereka berdua akan segera bersinggungan di sudut paling gelap dari pemukiman kumuh Niskala.

****

Han-Seol berdiri di depan pondok bambu Master Kang dengan bahu yang tampak lebih berat dari biasanya.

Hari ini adalah hari di mana masa bergurunya resmi berakhir, namun ia harus menelan kenyataan pahit: hasilnya nihil.

Setelah bertahun-tahun mencoba berbagai metode ekstrem untuk menghancurkan segel di tubuhnya, ia tetap tidak mampu membangkitkan setitik pun energi sihir.

Aliran energinya tetap buntu, seolah-olah ayahnya, Han-Gyeol, telah mengunci gerbang kekuatannya dengan rantai baja dan membuang kuncinya ke dasar samudra terdalam.

Sudah tak terhitung berapa banyak guru dan petapa yang ia temui di seluruh penjuru Niskala, namun tak ada satu pun yang sanggup memancing getaran energi naga dalam darahnya.

Hari ini, Master Kang—penyihir yang dikenal mampu menghidupkan tanaman mati sekalipun—akhirnya angkat tangan.

Pria tua itu menyerah menghadapi kutukan aneh yang bersemayam dalam tubuh Han-Seol.

Han-Seol mengulas senyum tipis yang penuh kepedihan. Ia menunduk dalam, memberikan penghormatan terakhir yang sangat khidmat.

"Terima kasih banyak, Master Kang. Atas semua waktu, kesabaran, dan ilmu bela diri yang Anda berikan untuk hamba. Semoga Anda selalu sehat dan tenang di lembah ini," ucap Han-Seol.

Suaranya terdengar tenang meski di dalam dadanya, ia merasa seperti sebatang pohon yang akarnya telah dicabut.

Master Kang menepuk pundak pemuda itu dengan mantap, menyalurkan sedikit kehangatan. "Jangan pernah menyerah pada dirimu sendiri, Seol. Meskipun dunia dan bahkan darahmu sendiri menolakmu, teruslah berjalan. Terkadang, kekuatan tidak selalu datang dari aliran energi, tapi dari ketabahan hati."

Han-Seol mengangguk mantap, meski ia sendiri ragu akan masa depannya. "Baik, Master. Aku pamit sekarang. Jaga dirimu baik-baik."

Han-Seol melangkah pergi meninggalkan pengasingan dingin itu, mulai menyusuri jalan setapak menuju kota Niskala. Ia berjalan sebagai manusia biasa tanpa kekuatan, tanpa tahu bahwa di pusat kota nanti, ia akan menemukan jawaban yang tidak pernah ia bayangkan dalam mimpi terburuknya sekalipun.

****

Di bagian lain kota Niskala yang hiruk-pikuk, jiwa Nara baru saja terbangun sepenuhnya dalam raga Seol-Ah.

Sensasi aneh menyengat saraf matanya—seperti ribuan jarum cahaya yang menusuk paksa. Ia meraba kain putih yang melingkar di kepalanya, lalu dengan sekali sentakan, ia menyentaknya lepas.

Nara tertegun. Dunia yang tadinya gelap gulita meledak dengan warna. Ia bisa melihat aliran kanal yang memantulkan cahaya matahari, hijau daun yang basah, dan lengkungan jembatan batu di kejauhan.

"Aku... bisa melihat?" bisik Nara. Suaranya kecil dan rapuh, sangat kontras dengan jiwanya yang ganas.

Namun, kegembiraan itu sirna saat ia menyadari posisinya. Ia berada di atas perahu kayu yang membawa pasokan makanan. Instingnya berteriak:

Sembunyi!

Saat perahu meluncur di bawah kolong jembatan yang rendah, Nara mencoba melompat ke atas, bermaksud bergelantung pada tepian batu untuk melarikan diri.

‘Sial! Kenapa ragaku seberat lumpur?’

1
Soobin Chan
mampir juga di cerita baru aku kak. 'The Emerald and Her Four Mates'
Protocetus
Beludru itu apa thor?
Soobin Chan: beludru itu sejenis bahan kain halus dan lembut gitu. jadi ibaratnya suaranya itu kaya beludru, lembut dan halus.🤭
total 1 replies
Protocetus
Ini bacanya Cheongi apa Cheon Gi min?
Soobin Chan: Cheon-gi 🤣
total 1 replies
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Soobin Chan: oke kak😄
total 1 replies
Dao Biru
Latar Korea ya
Soobin Chan: iya kak😄
total 1 replies
T28J
wah wah wah
Soobin Chan: 🤣terima kasih udah mau komen
total 1 replies
T28J
woww.. secantik apakah dia /Slight/
Soobin Chan: bayangin ajah wajah song he kyo. begitulah kira kira.😄
total 1 replies
T28J
mantap kak 👍
Soobin Chan: terima kasih🤭
total 1 replies
Soobin Chan
komen dong guys. biar aku semangat nulusnya😍🤭
Soobin Chan: tetap semangat. mudah-mudahan banyak yang suka sama ceritanya💪
total 1 replies
Soobin Chan
ceritanya bagus guys, ayo merapat! di jamin kalian bakalan suka/Drool/
Soobin Chan: ramein dong guys...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!