DIJUAL SEBAGAI PELUNAS HUTANG.
SEKARANG DIA YANG MENENTUKAN HARGA NYAWA MEREKA.
Lima tahun lalu Zara diinjak harga dirinya oleh keluarga sendiri.
Hari ini, dia kembali sebagai Zevana Ardhani.
Bukan korban lagi. Tapi sang mafia wanita yang ditakuti di dunia korporat.
Misinya satu: BALAS DENDAM.
Sampai Arka muncul.
Putra dari guru Mafianya sendiri.
Polos. Tulus. Satu-satunya yang melihat Zevana sebagai manusia, bukan monster.
Antara nyawa, racun, dan cinta.
Zevana harus memilih: Menenggelamkan mereka semua dalam kebencian,
atau hancur karena satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya?
[MAFIA WANITA] [BALAS DENDAM] [DARK ROMANCE]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rubah Licik
Sebuah portofolio berisi data diri dan foto seorang pria terpampang di dalamnya.
“Arka Gardian.” Dibacanya profil tersebut, lalu ia membolak-balik lembaran berisi data diri serta surat penugasan pemindahan jabatan itu.
Zevana masih termenung. Pergantian sekretarisnya yang lama, Desi, sejujurnya tidak begitu mengganggunya. Entah ada atau tidak sekretaris, ia tetap menangani pekerjaan utama dan melakukan pengamatan sendiri, persis seperti kebiasaan yang selama ini diterapkan Garda. Jadi, hal-hal yang berjalan di luar dugaannya itu hanya terasa menyebalkan. Terlebih lagi, orang yang akan menjadi sekretarisnya diusulkan dan ditetapkan atas perintah Bani, tanpa meminta pendapatnya terlebih dahulu.
“Hah! Aku butuh sesuatu untuk melupakan kekacauan yang menyebalkan ini,” keluhnya sembari meremas berkas di hadapannya.
“Bani, dia benar-benar rubah yang licik,” desisnya kesal.
Zevana merasa tak habis pikir. Bagaimana bisa baru saja ia diangkat menjadi Direktur cabang, Bani sudah langsung membuat keputusan–bahkan di luar wewenang kendalinya.
Belum sempat ia menenangkan diri, tiba-tiba ketukan di pintu kembali membuyarkan fokusnya.
“Masuk, Des!” seru Zevana dengan nada kesal.
Tok! Tok!
Bukannya pintu terbuka, justru terdengar ketukan lagi.
“Ck! Ya ampun, Des, masuk saja lan—”
Klek!
“Eh?” Zevana terkejut. Sosok yang muncul di balik pintu bukanlah Desi.
“Selamat siang, Bu Zevana. Saya Arka Gardian. Mulai hari ini saya ditugaskan ke kantor Ibu atas perintah Direktur baru, Pak Arbani.”
Zevana tertegun sejenak, terpesona melihat sosok pria yang baru saja berdiri di hadapannya itu. Berperawakan tinggi, dengan alis yang tegas dan tatapan yang penuh semangat, ia tampak lebih cocok menjadi pemeran film daripada sekadar karyawan kantoran. Bahkan hanya mengenakan kemeja polos tanpa jas, ia tetap terlihat gagah.
“Ah, iya. Laporan ini datangnya sangat mendadak,” jawab Zevana dengan nada canggung.
Zevana kembali membuka lembaran lain di dalam map itu. Terlihatlah foto resmi Arka Gardian, lalu ia menatap bergantian antara foto itu dengan sosok pria yang berdiri di depannya. Tadinya Zevana berniat langsung menyuruhnya kembali, dan hendak protes pada Bani, namun setelah melihat Arka secara langsung ia mengurungkan niatnya.
"Bagaimanapun aku harus profesional," batinnya.
“Baik, silakan duduk,” perintah Zevana seraya memberi isyarat.
“Saya sudah mempelajari dan merangkum seluruh berkas kantor dari Bu Desi. Sebelumnya saya bertugas di bagian administrasi di kantor cabang yang sekarang dipimpin oleh Pak Bani. Ke depannya, mohon bimbingan dan kerjasamanya, Bu!” ucap Arka dengan nada sopan dan hormat.
Zevana mengangguk sambil tersenyum sebaik mungkin, lalu keduanya berjabat tangan.
“Besok saya ada urusan di luar kantor. Tolong rangkum data dalam berkas yang akan saya kirim, urutkan berdasarkan tingkat kepentingannya, lalu kirimkan ke alamat surel saya,” perintah Zevana tanpa basa-basi.
“Ruang kerjamu ada di sebelah,” tunjuk Zevana ke arah luar pintu.
“I-iya?” tanya Arka agak ragu. Ia tampak bingung, karena biasanya sekretaris khusus menempati ruangan yang sama dengan atasannya.
“Baik, Bu.” Arka mengangguk, lalu berjalan keluar setelah dipersilakan.
Begitu merasa benar-benar sendirian kembali di ruangannya, Zevana merapikan meja dan komputernya, lalu bersiap untuk beranjak. Namun saat ia hendak berdiri, ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk.
Tertera nama kontak “Tuan Garda” di layarnya.
Klik!
“Ya, Tuan?”
[Kemarilah. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan.] Suara berat Garda terdengar memerintah dan mendominasi, membuat bulu kuduk Zevana seketika meremang.
Tut!
Tanpa menunggu jawaban, Garda langsung memutus sambungan teleponnya seolah tidak ingin mendengar alasan penolakan apa pun.
“Hah....” desah Zevana, kini benar-benar merasa frustrasi.
“Memang sebaiknya aku datang. Sekalian menanyakan apa sebenarnya maksud dari semua ini,” gumamnya.
Drrk!
Pintu gerbang besi itu digeser Zevana hingga mengeluarkan bunyi berderit yang keras dan mengerikan. Suara itu tidak pernah terdengar menyenangkan sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah itu.
Baru saja kakinya melangkah masuk, tiba-tiba terdengar bunyi hantaman yang bertubi-tubi, membuatnya merasakan rasa takut yang mendadak.
Bugh!
Bagh!
Dugh!
Langkahnya melambat seiring suara pukulan itu terdengar semakin jelas.
“Ruang olahraga,” gumamnya dalam hati.
Suara hantaman itu makin terdengar nyata, disertai rintihan kesakitan yang perlahan melemah, seolah orang itu sudah tak berdaya lagi.
“U-ugh ...”
Deg!
Langkah Zevana terhenti tepat di depan pintu kaca. Di baliknya, terlihat sosok pria yang kurus dan lemah sedang dipukuli berulang kali oleh Bani hingga tergeletak di lantai, wajahnya penuh darah dan memar. Seketika Zevana mematung. Kakinya terasa tertancap di tempat, dan lututnya lemas bagaikan agar-agar—hampir saja ia terjatuh jika tidak segera menopangkan tubuhnya pada kaca pintu itu.
“Masuklah!” perintah Garda yang ternyata berdiri di belakang Bani, menyaksikan kejadian itu sambil duduk santai, seolah sedang menonton pertandingan olahraga.
Zevana berjalan perlahan, berusaha mengatur ekspresinya agar tetap tenang. Namun sedikit kegelisahan tetap terlihat, tercermin dari langkah kakinya yang ragu-ragu saat mendekati Garda.
Brukh!
Zevana duduk di samping Garda, namun pandangannya tak lepas dari pria yang sedang dihajar oleh Bani.
“Lihatlah dia. Ini tikus pengganggu yang telah merusak ketertiban di wilayah kekuasaan kita. Begitulah akhir nasibnya,” ucap Garda dengan nada santai.
Namun tidak demikian halnya dengan Zevana. Ia bahkan berusaha menahan napas sekuat tenaga agar tidak terlihat panik.
“Ini pasti mengejutkanmu. Tapi aku harus memperlihatkannya, supaya kau mengerti. Rasa iba dan belas kasihan itu tidak ada gunanya di dunia bisnis yang kita jalani. Meskipun hanya pencuri kecil yang dianggap remeh, ia tetap harus dihukum agar jera,” jelas Garda.
“Apa kesalahannya?” tanya Zevana akhirnya.
“Hm? Masalah yang biasa saja,” jawab Garda singkat.
“Ia ... menyalahgunakan keuangan kantor dengan alasan kesulitan hidup, lalu membantu seorang pekerja wanita melarikan diri dengan membawa kabur uangnya, menyebarkan berita bohong, dan memutarbalikkan fakta sehingga merusak nama baik perusahaan akuisisi kita,” tambah Garda menjelaskan.
"Konyol sekali, padahal gadis itu yang merelakan diri masuk bisnis gelap tanpa paksaan. Tapi merengek hanya karena kelelahan dan malah menggelapkan uang," kekeh Garda.
Rasa penasaran menelan dirinya seketika. Karena begitu ingin mengetahui wajah pria yang sedang dihukum itu, Zevana melangkah perlahan mendekat ke arah Bani yang terus memukuli tubuh pria malang yang kini tergeletak tak berdaya itu.
"Bicaralah. Di mana perempuan itu bersembunyi?" tuntut Bani.
Deg!
Zevana tertegun. Napasnya tercekat di tenggorokan. Di sela-sela darah yang mengalir dan memar yang menghitam di wajah pria itu, terlihat sepasang mata yang dikenalnya. Ia mengenali sosok itu.
“Dia ...” ucapnya dengan suara terputus.
Brukh!
Petugas kebersihan yang dulu pernah membantuku melarikan diri dari cengkeraman Hardi, pikir Zevana, yang seketika terasa lemas dan hampir roboh.