NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Mafia

Benih Rahasia Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:25.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.

Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.

Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.

Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.

Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam

Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 1 Rahasia Yang Tak Sempat Terucap

"Pergi, Venus! Kau harus keluar dari sini sekarang!" seru Dante di antara desing peluru yang menghantam dinding marmer mansion mereka. Pria itu berdiri di ambang pintu perpustakaan, kemeja putihnya sudah ternoda darah dan debu.

Sementara di luar, api mulai menjilat gorden sutra, menciptakan bayangan merah yang menakutkan di wajahnya yang tegas.

"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu, Dante!" Venus menjerit, suaranya parau karena asap yang mulai menyesakkan dada. Tangannya gemetar hebat, meremat ujung gaun tidurnya.

Di saku gaun itu, ada sebuah benda kecil, sepatu bayi rajutan yang ingin ia tunjukkan malam ini sebagai kejutan ulang tahun pernikahan mereka.

"Leo! Bawa dia!" perintah Dante tanpa menoleh.

Leo, adik kandung Dante, muncul dari balik pintu. Wajah pemuda itu nampak pucat, tapi ia masih memegang senjatanya dengan kokoh. "Kak, kita harus pergi bersama. Helikopter di atap tidak akan menunggu!"

"Tidak ada waktu untuk berdebat!" Dante berbalik, menarik tubuh Venus ke dalam pelukannya untuk sekilas yang terasa seperti selamanya. Ia mencium kening istrinya dengan kasar, seolah ingin meninggalkan tanda yang tak akan pernah hilang. "Leo, ini perintah. Bawa kakak iparmu pergi. Jika terjadi sesuatu padaku, dia adalah tanggung jawabmu sepenuhnya. Paham?"

"Dante, kumohon..." Venus terisak, air matanya jatuh membasahi kerah baju Dante. "Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu. Sesuatu yang penting. Kumohon, ikutlah bersama kami."

Dante memegang kedua bahu Venus, menatap jauh ke dalam matanya yang sembab. "Simpan ceritamu, Sayang. Katakan padaku saat kita bertemu lagi nanti."

"Tapi bagaimana kalau tidak ada kata nanti?" bisik Venus hancur. "Jangan lakukan ini padaku. Jangan biarkan aku hidup sendirian tanpamu."

Ledakan besar kembali mengguncang lantai bawah, membuat lampu gantung di atas mereka bergerak sebelum jatuh menghantam lantai.

Api merayap semakin cepat, memutus jalan menuju pintu utama.

"Kak, apinya sudah sampai di tangga!" teriak Leo sambil menarik lengan Venus. "Kita harus lewat balkon belakang!"

Dante mendorong Venus ke arah Leo. "Pergilah!"

"Dante!" Venus meronta, berusaha meraih tangan suaminya yang perlahan menjauh tertutup kabut asap abu-abu.

"Dengar aku, Venus!" Dante berteriak di tengah suara gemuruh api yang melahap mansion itu. Ia melangkah mundur ke arah koridor di mana musuh-musuh mereka mulai bermunculan. "Apapun yang terjadi, bagaimanapun dunia ini memisahkan kita, ingatlah satu hal..."

Dante melepaskan satu tembakan ke arah musuh yang mencoba mendekat, lalu kembali menatap istrinya untuk terakhir kali dengan tatapan paling lembut yang pernah ia miliki.

"Aku akan tetap mencintaimu, Venus. Selalu. Meski maut menjemputku malam ini, atau meski takdir membuang kita ke ujung dunia yang berbeda, cintaku padamu tidak akan pernah padam. Hiduplah untukku."

"Dante, tidak! Aku hamil! Dante!" Venus menjerit sekuat tenaga, suaranya tenggelam oleh ledakan pipa gas di lantai bawah yang meruntuhkan sebagian lantai di antara mereka.

"Maafkan aku, kakak ipar," bisik Leo dengan suara bergetar. Ia menggendong Venus secara paksa, membawanya lari menuju kegelapan malam saat mansion mewah itu berubah menjadi tungku api raksasa.

Venus hanya bisa melihat bayangan punggung Dante yang menghilang di balik dinding api. Pria itu berdiri tegak, sendirian menghadapi maut demi memberinya kesempatan untuk bernapas.

Di dalam pelukan Leo, Venus mendekap perutnya yang masih rata. Venus menangis tanpa suara saat menyadari bahwa kejutan yang ia siapkan kini menjadi rahasia paling menyakitkan.

*****

"Lepaskan aku, Leo! Suamiku masih ada di sana!" teriak Venus dengan suara nyaris habis, tenggelam di antara deru baling-baling helikopter yang membelah langit malam.

Tubuhnya meronta dalam dekapan erat Leo saat helikopter itu perlahan mengangkasa, meninggalkan tanah yang kini berubah menjadi lautan api. Di bawah sana, mansion megah yang baru saja dihiasi tawa mereka, kini menjadi tungku raksasa yang melahap segalanya.

"Tenanglah, kakak ipar! Kita harus pergi sekarang atau pengorbanan kak Dante akan sia-sia!" teriak Leo menahan tangis dan sesak asap.

Venus berhenti meronta. Ia menempelkan wajahnya ke kaca jendela yang dingin, menatap ke bawah dengan mata yang kosong.

Cahaya jingga dari api terpantul di pupil matanya yang basah. Di sana, di tengah kobaran yang kian menggila, sosok pria yang paling ia cintai tertinggal sendirian.

"Leo..." bisik Venus pelan. "Dia masih hidup, kan? Katakan padaku dia akan keluar dari sana. Dante pria yang kuat... dia tidak mungkin kalah oleh api itu, kan?"

Leo terdiam. Ia memalingkan wajah, tak sanggup menatap binar harapan yang rapuh di mata kakak iparnya. Tangannya yang memegang sabuk pengaman terkepal hingga buku jarinya memutih.

"Leo! Jawab aku!" Venus menarik kerah jaket Leo, memaksa pria muda itu menatapnya. "Dia akan menyusul kita, kan? Dia janji akan menemuiku lagi! Katakan sesuatu!"

"Aku... aku tidak tahu," jawab Leo akhirnya dengan suara tercekat. "Ledakan di lantai bawah tadi bagian itu runtuh tepat saat kita keluar."

Lidah Venus kelu. Dunianya seolah berhenti berputar. Tangannya perlahan turun, meraba perutnya yang masih rata dengan gemetar.

Seharusnya Venus mengatakannya lebih cepat. Seharusnya Dante tahu tentang bayi mereka.

"Dante... kau tidak boleh pergi," gumamnya lirih. "Kau belum tahu... kau punya alasan untuk kembali..."

Kepalanya mendadak terasa sangat berat. Oksigen di sekitarnya seolah menipis, dan bayangan punggung Dante yang ditelan api terus berputar di kepalanya seperti mimpi buruk yang nyata.

Kesadaran Venus perlahan memudar, penglihatan di sekitarnya mengabur menjadi hitam.

"Kakak ipar! Bangun!" teriak Leo saat melihat tubuh wanita itu terkulai lemas di kursi helikopter.

Leo memeriksa denyut nadinya dengan panik. "Sial! Dia pingsan."

Ia menoleh ke arah pilot dengan tatapan tajam yang mirip dengan kakaknya. "Ubah rute. Jangan mendarat di markas cadangan. Bawa kami keluar dari kota ini. Sejauh mungkin ke tempat yang tak terdeteksi oleh radar musuh maupun orang-orang kita."

"Tapi Tuan, instruksi tuan Dante adalah ke Safe House pusat—"

"Lupakan instruksi itu!" potong Leo dengan nada dingin. "Musuh ada di mana-mana. Jika kak Dante tidak selamat malam ini, maka Venus dan bayi yang mungkin sedang dikandungnya adalah target utama. Kita akan menghilang."

Leo kembali menatap Venus yang pucat pasi. Ia menyelimuti wanita itu dengan jaketnya, lalu menatap keluar jendela ke arah kota yang kian menjauh.

"Maafkan aku, kak," bisik Leo seolah bicara pada Dante. "Aku janji akan menjaganya, meskipun aku harus membohongi seluruh dunia bahwa kalian berdua sudah tiada."

Helikopter itu terus melaju menembus awan hitam, membawa pergi satu-satunya pewaris Dante yang tersisa, meninggalkan abu dan rahasia yang tak sempat terucap di bawah kaki mereka.

1
Kinara Widya
😂😂😂😂😂
Tiara Bella
pedes bngt loh Dante kata² anakmu...
Nice1808
bacanya sambil mewek lihat sean yg menangis dlm pelukan dante😭.Ayolah sean terima dan maafkan papamu agar bianca gk ambil papamu lagi🤣
Senja: kyak Teletubbies😆
total 3 replies
Arbaati
othooor...tanggung jawab...aku mewek ini
Senja: peluk jauh kak😚
total 1 replies
Sri Rahayu
ayolah Sean maafkan papa mu...karena semuanya itu bukan keinginan Dante...lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Senja: Siapp
total 1 replies
tinie
akhirnya mulai luluh tembok dingin itu😭😭😭
Senja: huuhuhum
total 1 replies
Sri Rahayu
baru tau kamu Dante....anak mu Sean sangat cerdas, mulutnya pedas dan pemberani...lanjut Thorr😘😘😘
tinie
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/🤣rasakan kau dantee
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tidak bergeming = tidak diam?
Senja: Beda2 ya kak, 🤣🤭
total 4 replies
tia
nikmati benih u dante 😁😁
🇧🇬
😆😆😆
D
infooo si Venus makan apa sih waktu hamil??
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh 🫪
D
tau tuh si Dante, loe mau anak istri loe kembali,
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
D
Udah didalem kamar pun masih nyaut 🥸
Tiara Bella
papahmu itu Sean....
D
bener kata Sean Ve,,,,, Suami mafia mu itu,, Oneng nya tuh Ngoneng bangettt /Scream//Scream/
D
Wkwkwkkwkwkwk
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
lovely_day
ayo Sean.. makan with papa🤗
D
Ttttaaapiiiii ucapan Sean bener loh 😳
D
Sayangnya suami mamamu itu adalah papamu Sean 👀👀
gimana donk??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!