NovelToon NovelToon
Di Balik Kilau Mutiara

Di Balik Kilau Mutiara

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:896
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Di bawah kilau kemewahan, Sherina Mutiara tetap berpijak sederhana, mengubur rasa cinta pada Darren Mahendra yang kandas oleh perbedaan. Ia lalu meniti jalan hidupnya sendiri di Mutiara Group, tempat ia bertemu Arsya Abrisam—pemuda jenius yang melepas jas dokter akibat luka masa lalu, dingin dan tertutup. Di antara tantangan kerja dan konflik perbedaan pendapat, benih rasa tumbuh di antara mereka, menyembuhkan luka dan mengajarkan arti bangkit. Namun, takdir membawa Darren Mahendra kembali dengan penyesalan, sementara Arsya diuji oleh pilihan tentang menegakkan keadilan atau tetap di tempat. Di persimpangan jalan, Sherina juga harus memilih: kembali pada mimpi lama, atau melangkah maju bersama sosok yang mengajarkannya bahwa cinta sejati adalah tentang tumbuh, bersinar, dan berani menjadi diri sendiri. Sebuah kisah tentang hati yang belajar memilih, dan jiwa yang menemukan cahayanya di balik luka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Hari kedua bekerja di Mutiara Group dimulai dengan cahaya matahari yang lebih terik, menembus kaca-kaca jendela gedung tinggi dan jatuh berkas-berkas sinar ke dalam ruangan Divisi Pengembangan Produk. Udara pagi itu terasa berbeda, ada ketegangan samar yang menggelayut di antara deretan meja kerja.

Para staf tampak bergerak lebih sigap, wajah-wajah mereka yang biasanya santai sejenak di waktu istirahat kini tampak serius dan berhati-hati. Bisik-bisik pelan terdengar berjalan dari satu mulut ke mulut lain, seolah ada kabar penting yang membuat seluruh ruangan bergetar. Sherina, yang tengah sibuk menyusun berkas hasil survei pasar, menyadari perubahan suasana itu. Ia menatap ke sekeliling dengan rasa penasaran, bertanya-tanya apa penyebab ketegangan yang tiba-tiba menyelimuti rekan-rekan kerjanya.

Di sampingnya, seorang rekan kerja wanita bernama Lina, yang telah cukup akrab dengannya sejak kemarin, mendekat pelan sambil merapikan tumpukan dokumen di atas meja. Wajah Lina tampak sedikit gugup, matanya sesekali melirik ke arah pintu masuk ruangan utama yang terhubung dengan ruang kerja kepala divisi.

"Hati-hati ya, Sherina," bisik Lina dengan suara sangat pelan, hampir berbisik di telinga.

"Hari ini Pak Arsya Abrisam akan datang memeriksa proyek terbaru. Beliau adalah Kepala Divisi Riset dan Pengembangan Produk, pemimpin tertinggi di departemen ini. Kau harus bersiap-siap, jangan sampai ada kesalahan sedikit pun. Beliau orangnya sangat kritis, tajam, dan… sungguh sulit untuk diprediksi. Di sini, namanya sudah seperti legenda, tapi legenda yang menakutkan bagi kami semua."

Sherina mengangguk perlahan, hatinya sedikit berdebar. Ia sering mendengar nama itu disebut-sebut dalam berkas-berkas yang dibacanya kemarin. Arsya Abrisam, sosok jenius di balik segala inovasi besar yang pernah dilahirkan Mutiara Group. Pemuda cerdas yang namanya melesat naik berkat gagasan-gagasannya yang brilian, strategi yang tak terduga, dan ketajaman analisis yang luar biasa.

Namun, selain kejeniusannya, nama Arsya juga selalu dibalut kabar bahwa ia adalah sosok yang dingin, tertutup, dan tak pernah memberikan pujian, sekecil apa pun hasil kerja bawahannya. Bagi seluruh staf, bertemu dan berhadapan dengan Arsya sama artinya dengan menghadapi ujian berat yang menentukan nasib kerja mereka.

Belum sempat Sherina bertanya lebih lanjut, suara langkah kaki yang tegas dan berat terdengar mendekat dari lorong luar. Seketika, seluruh ruangan menjadi hening total. Suara ketikan keyboard berhenti, percakapan menghilang, dan semua mata tertuju pada pintu besar yang kini terbuka perlahan.

Melangkah masuk lah seorang pemuda berusia sekitar tiga puluh tahun, berpostur tegap dan berwibawa. Dia lah Arsya Abrisam. Penampilannya sangat rapi, mengenakan kemeja berwarna hitam pekat dengan lengan panjang yang selalu ditekuk rapi hingga siku, dan celana bahan berwarna kelabu gelap.

Wajahnya tegas dengan rahang yang kuat, kulitnya bersih, dan sepasang mata yang tajam berwarna cokelat gelap, seolah mampu menembus pikiran siapa saja yang ditatapnya. Namun, ada satu hal yang paling menarik perhatian Sherina, dan juga menjadi pembeda yang selalu dibicarakan orang. Sepanjang ia berjalan, berbicara, maupun bergerak, tangan kanannya selalu tersembunyi di balik saku celana, atau kadang diselipkan di balik kemejanya, seolah sengaja dijauhkan dari pandangan mata siapa pun. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat tangan itu secara utuh, dan hal itu menjadi misteri yang menambah kesan misterius dan jauh dari diri Arsya.

Ia berjalan menyusuri lorong di antara meja-meja kerja dengan langkah tenang namun penuh tekanan. Tatapannya menyapu setiap sudut, menatap berkas-berkas yang terbuka, layar komputer yang menyala, hingga ekspresi wajah para karyawan yang menunduk hormat. Tidak ada senyum di bibirnya, tidak ada sapaan hangat. Wajahnya tampak datar, dingin, dan kosong, seolah tidak ada satu pun hal di ruangan itu yang mampu menarik minat atau kekagumannya.

Sampai lah ia di meja kerja Sherina.

Waktu seolah berhenti berputar. Sherina berdiri tegap, menundukkan kepalanya sedikit tanda hormat, jantungnya berdegup kencang namun ia berusaha menampakkan ketenangan. Ia berniat menyapa dengan sopan, memperkenalkan diri sebagai staf baru yang siap belajar dan bekerja.

Namun, sebelum sempat sepatah kata pun keluar dari mulutnya, Arsya telah menatapnya dari ujung kaki hingga kepala dengan pandangan yang menyelidik namun penuh keraguan, bahkan sedikit penghinaan yang tersamar.

Arsya berhenti tepat di hadapannya. Ia tidak menjabat tangan, tidak menyapa. Matanya yang tajam menatap lurus ke manik mata Sherina, membuat gadis itu merasa seolah sedang ditelan'jangi jati dirinya.

"Kau staf baru?" suaranya terdengar rendah, berat, dan dingin, bergema pelan di keheningan ruangan. Nada bicaranya datar, namun sarat akan beban kritik yang tak terucap.

"Benar, Pak," jawab Sherina dengan suara jernih dan sopan, berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar. "Nama saya Sherina Mutiara. Saya baru bergabung kemarin. Saya siap belajar dan memberikan kontribusi terbaik untuk divisi ini."

Arsya terdiam sejenak, bibirnya sedikit cekung membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak ramah, melainkan senyum sarkasme yang dingin. Ia melirik sekilas ke arah berkas-berkas yang sedang dikerjakan Sherina di atas meja, lalu kembali menatap wajah gadis itu dengan pandangan yang meremehkan.

"Sherina Mutiara..." ucap Arsya pelan, seolah menggulirkan nama itu di lidahnya, lalu tertawa kecil singkat dan sedikit menggema.

"Nama yang indah. Sangat indah. Dan saya rasa, nama itu bukan sekedar kebetulan terdengar sama dengan nama perusahaan ini, bukan? Mutiara. Seluruh perusahaan ini bernama Mutiara. Ayahmu pemilik tempat ini, bukan? Hardian Malik."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Arsya, dengan kepastian yang mutlak dan nada bicara yang seolah menyimpulkan segalanya. Sherina tertegun sejenak. Ia berpikir usahanya menyembunyikan identitasnya sudah cukup baik, namun ternyata bagi Arsya, semuanya sudah terbaca jelas. Ia mengangguk perlahan, rasa kecewa mulai menyelinap.

"Ya, Pak. Beliau ayah saya. Namun, saya masuk ke sini atas kemampuan saya sendiri, dan saya memulai dari posisi paling dasar sama seperti rekan-rekan yang lain..."

Belum selesai Sherina menyelesaikan kalimat penjelasannya, Arsya telah memotongnya dengan kasar, nada suaranya sedikit meninggi namun tetap terkendali, penuh dengan nada ketidaksukaan.

"Cukup," potong Arsya ketus. Ia memandang Sherina dengan pandangan yang tajam dan rendah, seolah melihat gadis muda di hadapannya ini bukan sebagai rekan kerja, melainkan sekadar anak kecil yang sedang bermain-main.

"Jangan berusaha mendramatisir keadaan, Nona Mutiara. Saya sudah terlalu sering melihat orang-orang sepertimu. Anak orang kaya, bos besar, pemegang saham utama. Datang ke dunia kerja bukan karena butuh makan, bukan karena ingin berjuang, melainkan sekedar untuk mengisi waktu luang, mencari pengalaman yang keren, atau sekadar ingin bergaya seolah bisa berjuang seperti orang biasa."

Ia melangkah selangkah lebih dekat, membuat Sherina harus menahan diri agar tidak mundur karena tekanan yang ia berikan. Tatapan mata Arsya begitu menusuk, penuh dengan prasangka yang sudah tertanam kuat.

"Kau pikir saya tidak tahu?" lanjut Arsya dingin. "Kau pikir dengan memakai pakaian sederhana dan duduk di meja kecil ini, maka kau sama dengan mereka yang harus bekerja keras demi gaji bulanan? Tidak. Kau berbeda. Bagimu, jika kau gagal, jika kau lelah, jika kau bosan, kau tinggal berbalik badan dan kembali ke kemewahanmu. Di sini, kami bekerja dengan darah, keringat, dan pikiran yang terkuras habis. Kami membangun sesuatu dengan usaha nyata. Sementara kau? Saya yakin kau ada di sini hanya untuk bersenang-senang, sekedar menempelkan nama di daftar hadir, lalu nanti malam kau akan pulang ke rumah besarmu dan melupakan semua beban pekerjaan ini."

Arsya melirik berkas-berkas di meja itu sekilas lagi dengan pandangan sebelah mata.

"Jangan harap saya akan memanjakanmu karena nama ayahmu. Di divisi saya, tidak ada perlakuan istimewa. Dan sejujurnya, saya tidak berharap banyak padamu. Kau hanya akan menjadi beban tambahan, atau sekedar patung hias yang harus dijaga agar tidak rusak. Lakukan saja apa yang kau bisa, tapi jangan berharap saya akan kagum atau menganggapmu setara. Kau tidak mengerti apa itu kerja keras, dan kau tidak akan pernah mengerti."

Setelah melontarkan kata-kata pedas itu, Arsya berbalik badan dengan angkuh. Ia berjalan pergi menjauh, meninggalkan Sherina yang terpaku di tempatnya, hati gadis itu terasa perih, panas, dan penuh keterkejutan. Seluruh ruangan kembali hening, namun kini keheningan itu terasa lebih berat, seolah semua orang merasa kasihan namun tak berani berbuat apa-apa.

Sherina menatap punggung Arsya yang menjauh, menatap sosok dingin yang penuh misteri itu. Di dada, rasa sakit hatinya bercampur dengan amarah yang tertahan, namun lebih dari itu, tumbuhlah kembali tekad yang membara.

Ternyata, bukan hanya Darren yang memandangnya hanya sebagai anak orang kaya. Bahkan orang asing seperti Arsya pun sudah menilainya buruk sebelum ia membuktikan apa pun. Arsya memandang rendah kemampuannya, menganggapnya sekedar boneka yang tidak tahu apa-apa, anak manja yang hanya ingin bersenang-senang.

Sherina mengepal tangannya erat-erat di sisi tubuh, matanya yang semula lembut kini berubah tajam dan berkilat tekad. Ia menelan ludah, menahan air mata yang hampir jatuh bukan karena sedih, melainkan karena tantangan yang baru saja dilemparkan kepadanya.

"Kau salah, Pak Arsya Abrisam," batin Sherina, matanya menatap lurus ke arah pintu ruangan tempat sosok dingin itu menghilang.

"Kau sama saja dengan orang lain yang menilai kulit luarnya saja. Kau belum melihat apa pun dariku. Kau belum tahu seberapa keras aku berjuang, seberapa besar keinginanku untuk membuktikan nilai diriku sendiri."

Pertemuan pertama itu berakhir dengan kesan yang sangat buruk, penuh prasangka dan ketidaksukaan. Namun, di balik tatapan dingin dan kata-kata tajam Arsya, Sherina justru menemukan alasan baru untuk semakin kuat.

Ia berjanji dalam hatinya, suatu saat nanti, di ruangan ini juga, Arsya Abrisam harus mengakui bahwa ia salah menilai. Ia akan membuktikan bahwa di balik nama besarnya, terdapat kemampuan, kerja keras, dan nilai diri yang nyata, sama berharganya dengan siapa pun juga.

1
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
Elisabeth Ratna Susanti
suka yang tegas dan berani seperti ini
Elisabeth Ratna Susanti
teduh banget pastinya kalau kita menatap wajahnya 🥰
Elisabeth Ratna Susanti
top banget👍
Elisabeth Ratna Susanti
aku suka bau tanah yang basah terkena hujan.....rasanya membawa damai 🥰 aku suka hujan🥰
Rocean: baunya enak memang kak. candu dan damai 😍
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
semakin seru👍
Siti Sarfiah
semangat bekerja , siapa tau di Divisi pembangun produk ada cowok yg naksir sherina🤭
Siti Sarfiah
bangkitlah dengan usahamu sendiri , tunjukkan pada nilai yg engkau capai semangat terus
Siti Sarfiah
wujudkan tekadmu , suatu saat akan terwujud apa yg engkau cita"kan , semangat💪
Siti Sarfiah
tunggu daren menyelesaikan pendidikannya d luar negri nanti kembali untuk sherina juga
Siti Sarfiah
sukses selalu , terus berjuang dan lanjut lagi ceritanya
Siti Sarfiah
tetap rendah hati dan semangat
Siti Sarfiah
masya Allah anak sultan yg rendah hati👍
namice
aku mampir kak
namice: 👍👍, semangat kak💪💪💪
total 2 replies
Elisabeth Ratna Susanti
keren banget pemilihan diksinya 🥰👍
Elisabeth Ratna Susanti
like plus subscribe plus iklan 👍
Rocean: mantappp🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!