NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGKHIANATAN PERTAMA

Lubang hitam dari moncong senapan laras ganda itu bergeming, membidik lurus tepat di tengah belahan dada Damar. Tak ada satu pun kaki yang berani melangkah, tak ada satu pun mulut yang berani melontarkan sekadar desah napas. Hanya ada suara deru napas berat yang tersengal-sengal dari lima orang tahanan yang kaki-kakinya dirantai mati ke dinding beton, berbaur dengan derit lantai kayu rumah tua di atas kepala yang sesekali berkerit ngilu memecah kesunyian malam.

Arman berdiri kokoh di undakan tangga ketiga dari atas. Topeng keramahan dan senyum hangat nan meneduhkan yang siang tadi ia pamerkan habis-habisan kini telah menguap tanpa bekas, tidak menyisakan apa pun selain raut dingin dari seorang manusia yang telah menggadaikan seluruh rasa kemanusiaannya demi sekerat daging.

"Kalian... seharusnya menuruti perintah untuk tidur dengan nyenyak di kamar atas," ucap Arman. Suaranya terdengar begitu datar dan tenang. Seolah-olah, seluruh kekejian yang ia lakukan di bawah kolong rumah ini adalah sebuah rutinitas harian yang lumrah dan normal.

Damar memosisikan tubuhnya sedikit merunduk. Jari-jemarinya mencengkeram erat gagang besi linggis hingga buku-buku jarinya memutih, siap meledakkan tenaga kapan saja. Di sisinya, Alya melangkah setengah jengkal ke depan. Tubuh atletis gadis itu menegang sempurna, menyerupai busur panah yang siap dilepaskan dari talinya.

"Jadi... omongan sepuh tadi bener? Semua kegilaan ini beneran?" tanya Damar, suaranya parau namun sarat dengan getaran amarah.

Arman menyunggingkan segaris senyum tipis yang tampak begitu sinis di bawah temaram bohlam *basement*. "Kalau yang kalian maksud adalah keberadaan tikus-tikus ternak ini..." Arman melirik sekilas ke arah sudut ruangan, menatap lima tawanan yang merana dengan tatapan kosong seolah sedang mengabsen barang inventaris. "...iya. Semuanya benar tanpa ada yang meleset."

Mendengar frasa "tikus ternak" keluar dari mulut pria biadab itu, salah seorang tawanan pria berkumis yang dirantai langsung menjerit histeris, menyentak-nyentak kakinya hingga rantai besi itu berdenting nyaring menghantam lantai.

"Jangan percaya! Dia gila! Dia jagal psikopat! Dia bunuh teman-teman kami!"

*BRAKK!*

Seorang anak buah Arman yang berdiri di undakan tangga bawah langsung mengayunkan boots tebalnya, menendang jeruji besi pembatas di dekat si tawanan dengan beringas. "Diam atau gue potong lidah lo sekarang juga!"

Pria tua itu langsung terkesiap, meringkuk ketakutan di pojok dinding sambil terisak pelan.

Arman menghela napas panjang, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gestur bosan. "Kalian... orang-orang lemah dari dunia lama, selalu saja menggunakan kosakata klise yang sama setiap kali dihadapkan pada realitas. Gila. Monster. Psikopat. Kanibal." Nada suaranya mendadak beralih, sedikit meninggi namun tetap terasa dingin berwibawa. "Tapi coba buka mata kalian lebar-lebar dan lihat kondisi bumi di luar sana sekarang."

Arman merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, membiarkan senapan berburunya menggantung di satu tangan. "Negara sudah runtuh total. Hukum dan undang-undang sudah jadi sampah sejarah. Peradaban modern yang kalian banggakan itu sudah mampus dikunyah zombi!" Sepasang matanya yang keruh menatap tajam, mengunci pandangan Damar tanpa ampun. "Lalu sekarang saya tanya... di dunia yang sudah hancur lebur seperti ini, siapa yang berhak menentukan mana yang benar dan mana yang salah? Hukum apa yang kalian pakai?"

Darah di dalam kepala Damar seketika mendidih. Rasa muak dan amarah yang bergolak di dadanya tak mampu lagi dibendung. "Jalma bener moal ngadahar jalma, Arman! Orang waras nggak bakal makan sesama manusia, segila apa pun dunianya!"

Arman terkekeh pelan, sebuah tawa kering yang terdengar luar biasa mengerikan. "Orang waras juga dulu nggak pernah mengira kalau mayat bisa bangun lagi dari kubur dan gigit leher tetangganya, Damar. Di dunia yang baru ini, definisi 'waras' adalah mereka yang berhasil melihat hari esok."

Dari arah belakang punggung Arman, salah seorang pengikutnya melangkah maju dua undakan. Postur tubuh pria itu kurus kering dengan kantung mata cekung yang menghitam—tipikal manusia yang kekurangan gizi kronis. Namun, sebilah golok jagal berukuran besar yang tergenggam erat di tangan kanannya terlihat sangat nyata dan mengancam.

"Bos, kelamaan bacot ah. Kita habisin aja mereka berdua sekarang juga. Lumayan buat nambah stok di lemari pendingin," bisik pria kurus itu, matanya menatap leher Alya dengan pandangan lapar yang menjijikkan.

Arman mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat pendek. "Jangan dulu."

Pria kurus itu mengernyitkan alisnya, tampak tidak puas. "Kenapa lagi, Bos? Mereka udah tahu rahasia kita. Bahaya kalau dibiarin."

Arman tidak langsung menjawab. Ia menatap lekat-lekat ke arah Damar dan Alya bergantian, lalu segaris senyum misterius kembali terukir di wajah berjanggutnya. "Kita masih bisa memanfaatkan otot-otot mereka. Tenaga mereka berdua terlalu bagus kalau cuma langsung dipotong hari ini. Kita bisa pakai mereka untuk kerja kasar dulu sebelum masuk giliran."

Rasa mual yang luar biasa hebat seketika menghantam ulu hati Damar. Perutnya bergejolak hebat, rasanya seperti mau memuntahkan seluruh isi makan malam hangat yang ia santap satu jam lalu. Pria jahanam di depannya ini sama sekali tidak sedang bicara tentang negosiasi atau kerja sama antar-penyintas. Mereka sedang mendiskusikan efisiensi pengelolaan komoditas daging segar. Daging manusia.

Titik koordinat posisi mereka saat ini benar-benar berada di ujung tanduk kematian. Empat orang pria dewasa dengan kombinasi senjata api laras panjang dan senjata tajam berdiri kokoh menguasai satu-satunya jalan keluar di atas tangga. Sementara Damar, Alya, dan lima tawanan lemas terkurung di dasar *basement* yang sempit tanpa ada ruang untuk bermanuver. Jika sebuah kontak fisik pecah detik ini juga, peluang mereka untuk selamat bisa dikatakan nyaris mendekati angka nol persen.

Namun, di tengah kepungan intimidasi yang mencekat itu, Alya tiba-tiba mengambil satu langkah berani ke depan. Tubuhnya berdiri tegak tanpa ada sedikit pun gestur ketakutan.

"Hei, Brewok," panggil Alya, suaranya terdengar lantang dan santai, memotong diktator kecil Arman.

Semua pasang mata di ruangan itu, termasuk tiga anak buah Arman, spontan mengalihkan fokus mereka ke arah gadis atlet tersebut. Alya dengan gerakan lambat memutar-mutar tongkat aluminium andalannya di sela jemari tangan kanan, menciptakan bunyi siulan angin yang tipis.

"Kalau niat lo dari awal emang mau bunuh orang atau jadiin kami bahan makanan, minimal jangan kebanyakan ceramah filsafat murah dulu, deh. Bikin ngantuk," cetus Alya, sudut bibirnya terangkat meremehkan.

Salah satu anak buah Arman yang bertubuh tambun di barisan belakang langsung tersulut emosi makian tersebut. "Kurang ajar! Apa lo bilang, Lonte?!"

"Oh, ternyata kuping lo sensitif juga ya selain doyan makan daging orang," Alya mengangkat kedua bahunya santai, menatap pria tambun itu dengan pandangan mencemooh.

Damar yang sudah mengenal tabiat Alya selama beberapa hari terakhir seketika menyadari sesuatu. *Gusti, si Alya keur mancing...* Gadis itu sedang sengaja mengumpan ego dan emosi mereka agar formasi rapat di atas tangga itu pecah. Dan umpan itu terbukti berhasil seratus persen.

Pria tambun yang mukanya sudah merah padam akibat didera amarah itu langsung melangkah turun dua anak tangga sekaligus dengan beringas, mengabaikan instruksi diam dari Arman. Golok di tangannya terangkat tinggi. "Sini lo, bangs—"

Belum sempat untaian makian itu selesai meluncur dari kerongkongannya, Alya bergerak.

CEPAT. Luar biasa cepat hingga gerakannya nyaris menyerupai kilatan bayangan.

Dengan memanfaatkan momentum berat badannya, Alya melesat maju, merendahkan tubuhnya lalu mengayunkan tongkat aluminiumnya secara horizontal dari bawah, mengincar sendi kaki.

*BRAKK!!*

Tongkat besi itu menghantam tempurung lutut pria tambun tersebut dengan akurasi dan tenaga kinetik yang masif.

*CRAAAKKK!!*

Bunyi remukan tulang yang mengerikan seketika bergaung di ruang bawah tanah, disusul oleh jeritan melengking memekakkan telinga dari mulut si pria tambun yang langsung ambruk kehilangan keseimbangan. "AAAAAAARRRGHHHH! Kaki gueeee!!"

Dalam fragmen detik yang sama, sebelum anak buah Arman yang lain sempat menarik pelatuk senjata mereka, Damar ikut menerjang maju memanfaatkan celah ruang yang terbuka. Dengan raungan nekat yang keluar dari dadanya, ia mengayunkan linggis besi miliknya sekuat tenaga ke arah dada pria kurus yang memegang parang.

*DUKK!!*

Hantaman besi solid itu mendarat telak di tulang rusuk si pria kurus, menciptakan efek hantam yang cukup kuat untuk melontarkan tubuh ringkih itu ke belakang hingga menabrak dinding kayu tangga sebelum akhirnya menggelinding jatuh ke dasar lantai.

"Sekarang, Mar! Pake taktik gelap!" teriak Alya lantang sembari berguling ke sisi kiri guna menghindari garis tembak langsung Arman.

Kekacauan total seketika pecah berantakan di dalam ruang bawah tanah yang sempit itu. Moncong senapan Arman akhirnya menyalak dahsyat.

*DOR!*

Dentuman bubuk mesiu bergaung luar biasa keras, memekakkan gendang telinga. Beruntung, refleksi cepat membuat Damar sudah lebih dulu menjatuhkan dirinya ke lantai. Peluru sebar dari senapan berburu itu melesat meleset, menghantam dinding beton di belakangnya hingga menciptakan serpihan semen dan debu putih yang beterbangan ke udara. Lima orang tawanan di sudut ruangan berteriak panik, meringkuk sambil menutup kepala mereka dengan kedua tangan yang dirantai.

Arman mengumpat kasar dengan urat leher yang menyembul tegang. "Tolol! Goblok kalian semua!"

Anak buahnya yang mengalami patah tulang lutut masih terus melolong kesakitan di atas lantai, memegangi kakinya yang kini menekuk ke arah yang salah, menghalangi jalur gerak Arman di atas tangga.

Damar tidak mau menyia-nyiakan momentum emas dari kekacauan singkat ini. Matanya yang awas dalam remang mendapati sebuah pipa besi instalasi air tua yang posisinya sudah berkarat di dekat partisi dinding. Mengabaikan rasa perih di telapak tangannya, Damar mencengkeram pipa tersebut lalu menyentaknya dengan seluruh tenaga sisa yang ia miliki hingga jebol dari dudukannya. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia melemparkan bongkahan besi berat itu ke arah atas koridor tangga.

*BRAKK!!*

Lemparan liar itu sukses menghantam lampu gantung bohlam tua yang menjadi satu-satunya sumber pencahayaan di dalam ruang *basement*. Kaca bohlam hancur berkeping-keping, dan seketika itu juga, ruangan bawah tanah itu langsung terlempar ke dalam kegelapan gulita yang pekat.

"Awas! Buru-buru pasang posisi! Mereka di kegelapan!" teriak salah satu pengikut Arman yang tersisa dari atas dengan nada panik.

Namun, peringatan itu sudah terlambat datangnya. Kegelapan total di dalam ruangan sempit justru menjadi wilayah kekuasaan absolut bagi Alya. Sebagai seorang atlet yang memiliki kesadaran spasial dan refleks motorik di atas rata-rata manusia biasa, ia tidak membutuhkan banyak cahaya untuk mengeksekusi targetnya. Di dalam gelap, indra pendengaran Alya menangkap rabaan langkah panik musuh.

*DUKK!*

*BRAKK!*

Sebuah jeritan kesakitan kembali meledak di tengah kegelapan, disusul oleh suara dentum berat tubuh manusia yang jatuh menggelinding menghantam anak tangga kayu satu per satu sebelum akhirnya mendarat kaku di lantai bawah.

Damar pun tidak tinggal diam. Ia ikut merangsek maju ke arah tangga, mengayunkan linggis besinya secara membabi buta ke depan setiap kali mendengar desah napas atau gesekan kain pakaian di dekatnya. Adrenalin murni telah mengambil alih seluruh kendali atas kesadarannya. Di titik ini, tidak ada lagi ruang untuk kalkulasi rasional atau rasa takut; yang tersisa hanyalah insting paling dasar hewan purba untuk memastikan dirinya sendiri tidak mati terbunuh.

Beberapa menit yang terasa berjalan lambat seperti keabadian itu akhirnya berlalu. Ketika debu semen yang beterbangan mulai mengendap dan gema teriakan mulai surut, atmosfer di dalam ruang bawah tanah itu perlahan berubah menjadi sunyi senyap.

Damar berdiri bersandar pada tiang tangga, napasnya memburu hebat dengan dada yang naik-turun bagai pompa rusak. Kedua tangannya gemetar hebat, bukan karena dingin, melainkan karena sisa ketegangan yang masif. Alya bergerak mendekati sakelar darurat di dekat pintu atas, lalu menyalakan pemantik api kecil yang ia temukan di atas meja. Pendar cahaya kuning kecil itu kembali menerangi ruangan.

Di dekat undakan tangga bawah, dua orang anak buah Arman tampak terkapar tak sadarkan diri dengan posisi tubuh yang ringsek. Sementara pria tambun yang lututnya dihancurkan Alya masih terus merintih pelan dengan kesadaran yang timbul tenggelam akibat syok rasa sakit.

Namun, sepasang mata Damar langsung menyipit tajam saat menyisir area undakan tangga atas. Sosok Arman sudah tidak ada di sana.

"Sialan," umpat Alya pendek, meludah ke lantai dengan gusar. "Si Brewok bajingan itu kabur lewat pintu belakang atas."

Damar mendongak menatap daun pintu atas yang kini terbuka lebar, membiarkan angin malam dari area dapur berembus masuk ke bawah. Arman memang telah berhasil meloloskan diri memanfaatkan kegelapan saat lampu dihancurkan tadi. Namun, Damar tahu betul mereka tidak memiliki kemewahan waktu untuk melakukan pengejaran malam ini. Ada misi yang jauh lebih krusial yang harus diselesaikan sekarang: mengevakuasi para korban dan keluar dari rumah maut ini secepatnya.

Dengan menggunakan sisa-sisa alat perkakas yang berserakan di dalam *basement*, Damar dan Alya bahu-bahu menghancurkan belenggu gembok rantai yang mengikat kaki kelima tawanan tersebut. Kondisi fisik para korban ini benar-benar berada di tahap yang sangat memprihatinkan. Tubuh mereka dipenuhi oleh luka memar kebiruan yang sudah infeksi, kulit mereka pucat pasi akibat dehidrasi, dan otot-otot kaki mereka nyaris atrofi karena terlalu lama dipaksa merangkak di lantai dingin.

Salah seorang pria paruh baya yang rantaian kakinya pertama kali berhasil dilepas langsung jatuh berlutut, air matanya tumpah ruah membasahi lantai semen. "Saya pikir kami semua bakal berakhir jadi santapan mereka di sini..."

Damar merengkuh pundak pria tua itu, membantunya berdiri dengan hati-hati meski bahunya sendiri sudah terasa ngilu luar biasa. "Kita harus kuat. Sekarang urang keluar dulu dari rumah terkutuk ini sebelum anak buahnya yang lain datang."

Namun, skenario buruk baru resmi menyambut mereka begitu rombongan kecil ini berhasil menapaki lantai utama rumah mewah tersebut. Rupanya, suara dua kali dentuman senapan laras ganda milik Arman dan gema teriakan histeris dari dalam rumah tadi telah bekerja efektif sebagai lonceng pemanggil bagi monster-monster kelaparan di luar sana.

Melalui celah tirai jendela kaca ruang tamu yang besar, mereka bisa melihat dengan jelas siluet-siluet menyeret khas puluhan *infected* manusia mulai bergerak dinamis menembus gerbang besi kompleks, merubung masuk ke arah halaman depan rumah.

"Bangsat!" Alya menghentakkan tangan kanannya ke kusen jendela kayu hingga bergetar. "Sempurna banget penderitaan kita hari ini."

Damar mengangguk pelan, mencoba menekan rasa panik yang kembali merayap naik ke tenggorokan. Hari ini memang resmi dinobatkan sebagai hari paling kacau sepanjang hidupnya. Sekarang, kalkulasi matematis bertahan hidup mereka menjadi sangat rumit: mereka harus mengawal lima orang tawanan yang jalannya terpincang-pincang dan nyaris tidak bisa menopang tubuh sendiri, menghindari serbuan puluhan zombi yang mulai mengepung halaman, lalu menempuh jarak dua kilometer kembali menuju kamp induk di tengah kegelapan malam yang pekat.

Misi perjalanan pulang malam itu bergeser menjadi sebuah labirin mimpi buruk yang panjang. Densitas populasi *infected* yang berkeliaran di jalanan kota tampaknya kian malam kian bertambah banyak dengan agresivitas yang meningkat tajam.

Berkali-kali rombongan kecil itu dipaksa merayap, bersembunyi di balik kolong rongsokan bus kota atau di dalam gang-gang sempit berbau busuk demi menghindari kerumunan masal mayat hidup yang melintas dekat. Dan beberapa kali pula, pertumpahan darah jarak dekat tak lagi bisa dihindari.

Di barisan paling depan, Alya kembali bertindak sebagai mesin tempur utama kelompok. Gadis itu seolah-olah memiliki cadangan energi tak terbatas yang tersimpan di dalam sel tubuhnya. Setiap kali ada satu atau dua *infected* yang berhasil mendeteksi keberadaan mereka dari balik kegelapan kabut debu, tongkat aluminium di tangannya selalu menjadi instrumen pertama yang bergerak mengeksekusi dengan presisi mematikan.

*BRAKK! DUKK! CRAAKK!*

Bunyi hancurnya batok kepala zombi bergaung ritmis mengiringi tiap langkah pelarian mereka. Sementara itu, Damar mengambil posisi di barisan paling belakang, bertindak sebagai jangkar pertahanan untuk menjaga keselamatan lima tawanan yang terus meratap lirih ketakutan. Meski seluruh persendian di tubuhnya sudah berteriak memohon jeda dan napasnya terasa panas membakar kerongkongan, Damar terus memaksa kedua kakinya untuk tetap melangkah maju. Ia tahu, detik ini mereka tidak lagi sekadar membawa nyawa mereka sendiri; ada lima harapan hidup manusia lain yang kini digantungkan penuh pada kekuatan pundak mereka berdua.

Ketika jarum jam imajiner rasanya sudah menunjuk ke arah dini hari, siluet pagar kawat berduri tebal milik kamp induk akhirnya mulai tertangkap oleh pandangan mata di ujung jalan layang. Pendar temaram dari beberapa buah lampu badai darurat yang terpasang di menara penjagaan atas terlihat bagai mercusuar penyelamat di tengah lautan kegelapan dunia yang mati.

"Alhamdulillah... ya Allah... itu kampnya..." bisik salah seorang wanita tawanan sambil terisak haru, nyaris jatuh tersungkur jika tidak cepat-cepat ditahan oleh Alya.

Namun, tepat sebelum sepasang kaki mereka sempat menginjak garis perimeter aman luar—

*DOR!*

Sebuah suara tembakan senapan serbu menggema dahsyat membelah sunyi malam, mengejutkan seisi rombongan. Proyektil peluru tajam itu melesat cepat, menghantam permukaan aspal kering hanya berjarak beberapa jengkal dari ujung sepatu Damar, menciptakan percikan api kecil.

"Apa-apaan?!" Damar refleks menarik mundur langkahnya, memasang posisi berlindung di balik bangkai mobil sedan bersama rombongan.

Detik berikutnya, sebuah petikan suara lantang yang sarat akan ketegangan terdengar menggelegar dari atas menara penjagaan kamp melalui pengeras suara manual. "BERHENTI DI TEMPAT! JANGAN BERGERAK SATU LANGKAH PUN ATAU KAMI TEMBAK MATI!"

Damar buru-buru keluar dari balik bayangan mobil, mengangkat kedua belah tangannya tinggi-tinggi ke udara agar siluet tubuhnya tertangkap pendar lampu menara. "Woy! Jangan tembak! Ini kami! Damar sama Alya!"

Suasana kembali senyap selama beberapa detik yang menyiksa, sebelum akhirnya terdengar suara helaan napas lega yang luar biasa bising dari atas menara. "Damar?! Demi Tuhan, itu beneran kalian?!"

Pintu gerbang kawat berduri yang kokoh itu segera digeser terbuka lebar dengan bunyi derit besi yang nyaring. Beberapa personel tentara dan pengungsi kamp tampak berlarian keluar, buru-buru menghampiri rombongan kecil yang tampak compang-camping tersebut. Kapten Rendra ikut melangkah keluar dari dalam tenda komando dengan jaket militernya yang kancingnya belum terpasang sempurna.

Namun, begitu sepasang mata elang milik sang Kapten menangkap kondisi fisik mengenaskan dari lima orang asing yang dirantai yang dibawa oleh Damar, garis wajahnya langsung berubah menjadi sangat serius dan tegang. "Apa yang terjadi di sana? Mana laporan survei kompleksnya? Dan... siapa mereka ini?"

Damar menarik napas panjang, mencoba mengisi kembali paru-parunya yang terasa kosong melompong, lalu menatap lurus ke arah mata Rendra dengan pandangan mata yang sarat akan kengerian. "Tempat aman di utara itu bohong besar, Kapten. Kawasan itu... cuma jebakan maut yang dibuat sama monster berkulit manusia."

Malam itu juga, sebuah rapat darurat berskala besar kembali digelar di dalam aula markas komando kamp. Hampir seluruh perwakilan penyintas dan anggota militer duduk berkumpul dalam formasi melingkar, mendengarkan dengan saksama setiap bait kronologi cerita yang meluncur dari mulut Damar dan Alya mengenai Arman serta kelompok kanibalnya di ujung kompleks mewah.

Tak ada satu pun orang di dalam ruangan luas itu yang berani memotong atau sekadar mengeluarkan suara gumaman sepanjang cerita mengalir. Beberapa ibu-ibu pengungsi di barisan tengah bahkan tampak buru-buru menutup mulut mereka, wajah mereka berubah pias dan mual saat detail mengenai ruang bawah tanah jagal manusia itu dijabarkan tanpa sensor.

Kanibalisme adalah sebuah konsep kekejian yang terlalu mengerikan untuk bisa dicerna oleh akal sehat manusia normal, bahkan untuk ukuran isi dunia lama yang kini sudah hancur lebur berantakan dikunyah kiamat zombi.

Kapten Rendra berdiri tegak di tengah ruangan setelah Damar menyelesaikan kalimat terakhirnya. Wajah perwira itu tampak mengeras bagai baja, dengan kedua tangan yang mengepal kuat di balik punggungnya. Ia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling aula, menatap satu per satu wajah para pengungsinya yang kini didera ketakutan jenis baru.

"Hari ini... kita semua dipaksa untuk mempelajari satu hukum fundamental baru dari dunia yang baru ini," ucap Rendra, suaranya berat bergaung memenuhi seisi langit-langit aula. Semua mata kini tertuju lurus padanya, menanti kelanjutan kalimat sang pemimpin. "Mulai detik ini juga... saya perintahkan kepada seluruh penghuni kamp tanpa terkecuali: jangan pernah kalian hanya menaruh rasa takut pada kawanan *infected* atau hewan mutasi di luar sana."

Rendra menjeda kalimatnya sejenak, memberikan penekanan yang mutlak pada frasa berikutnya. "Karena virus jahanam itu memang bisa mengubah raga manusia menjadi monster yang buas. Tapi kiamat dan rasa putus asa... juga terbukti sanggup mengubah sebagian manusia waras menjadi sesuatu yang jauh lebih busuk, jauh lebih kejam, dan jauh lebih berbahaya dari sekadar mayat hidup."

Keheningan yang mencekat seketika kembali merajai seisi aula bekas pusat perbelanjaan itu. Tak ada satu pun orang yang berniat menyanggah ucapan Rendra, karena jauh di dalam lubuk hati masing-masing, mereka tahu betul bahwa setiap larik kalimat yang diucapkan sang Kapten adalah sebuah kebenaran mutlak yang tak terbantahkan.

Malam kian merayap jauh menuju puncaknya, mengantarkan udara dingin yang kian menusuk tulang. Damar memilih untuk duduk menyendiri di atas dak beton atap gedung utilitas kamp seperti kebiasaan lamanya, ditemani oleh Alya yang duduk diam di sisinya sembari membersihkan sisa-sisa noda darah kering yang menempel pada permukaan tongkat aluminiumnya menggunakan kain parut.

Hamparan pemandangan lanskap kota di depan mereka tetap menyajikan visualisasi yang sama: sebuah lautan kegelapan yang pekat, sunyi, mati, dan mengerikan tanpa ada satu pun pendar cahaya kehidupan urban yang tersisa.

"Capek banget ya, Mar?" tanya Alya lirih tanpa mengalihkan fokus pandangannya dari tongkat besi di pangkuannya.

Damar mengembuskan napas panjang ke udara malam, menciptakan kepulan uap tipis dari mulutnya. Ia tersenyum hambar, menyandarkan kepalanya pada pilar beton ruko. "Capek pisan, Al. Berasa mau copot ini seluruh sendi di badan."

"Gue juga," sahut Alya pendek, menyunggingkan segaris senyum tipis yang sarat akan rasa lelah yang luar biasa dalam.

Keduanya kembali terdiam selama beberapa menit, membiarkan siulan angin malam mengusap kulit wajah mereka yang kotor oleh debu mesiu. Sampai kemudian, Damar kembali membuka suara dengan nada yang berubah agak rendah dan serius. "Al... menurut kamu, si Arman bajingan itu bakal balik lagi ke sini buat bales dendam?"

Alya menghentikan aktivitas mengelap tongkatnya. Ia mendongak, melempar pandangan matanya lurus-lurus ke arah hamparan langit kelabu yang pekat di atas sana. "Kalau melihat tipe manusia psikopat kayak dia yang punya ego setinggi langit? Dan kalau dia emang masih berhasil bertahan hidup di luar sana malam ini?" Alya menjeda kalimatnya, menarik napas dalam. "Gue berani jamin seratus persen kalau dia bakal balik lagi buat cari kita, Mar."

Damar mengangguk pelan dalam kegelapan malam, menyetujui analisis Alya. Entah kenapa, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah riak firasat buruk yang sangat hebat kembali merayap naik, mencengkeram dadanya hingga terasa sesak. Sebuah firasat yang berbisik bahwa urusan dan bentrokan berdarah mereka dengan kelompok Arman siang tadi sama sekali belum berakhir—malah sebaliknya, ini adalah babak pembuka dari sebuah petaka yang jauh lebih besar.

Dan sialnya, firasat buruk yang dirasakan Damar malam itu terbukti benar tanpa ada meleset sedikit pun.

Sebab pada detik yang sama, jauh di luar batas perimeter aman kamp pengungsian, di dalam sebuah bangunan gedung perkantoran kosong yang gelap gulita dan hancur berantakan... sosok Arman tampak sedang berdiri kokoh seorang diri di balik bayangan jendela lantai tiga.

Kondisi fisik pria berjanggut itu kini tampak berantakan. Sisi kiri wajahnya dipenuhi oleh luka goresan dalam yang masih meneteskan darah segar akibat pecahan kaca lampu bawah tanah tadi, dan pakaian mewahnya telah robek compang-camping. Sepasang matanya yang keruh kini memancarkan kilatan aura kebencian dan dendam yang luar biasa pekat, memerah bagai api neraka.

Tepat di lantai dasar bawah bangunan tempatnya berdiri, tampak berkeliaran puluhan hingga ratusan sosok *infected* manusia yang sedang berjalan linglung tanpa arah dalam kegelapan malam. Namun, Arman sama sekali tidak menunjukkan intensitas rasa takut atau ngeri sedikit pun terhadap keberadaan makhluk-makhluk kanibal murni tersebut. Fokus tatapan matanya yang tajam bak elang malam hanya tertuju lurus pada satu titik koordinat di ujung cakrawala jauh: ke arah pendar cahaya remang-remang dari lampu badai milik kamp militer pengungsian Damar.

Perlahan tapi pasti, sebuah senyuman tipis yang sangat mengerikan, dingin, dan sarat akan kegilaan mulai terukir lebar di bibirnya yang pecah-pecah berdarah.

"Kalian... orang-orang lemah dari kamp sialan itu, sudah berani bertingkah lancang dengan mengambil seluruh pasokan ternak cadanganku..." bisik Arman, suaranya terdengar mendesis halus bagai kecoak malam, berbaur dengan siulan angin. "Dan kalian juga sudah berani merampas seluruh komoditas makananku untuk bertahan hidup."

Sepasang matanya menyipit tajam, memancarkan aura predator absolut yang mengerikan dalam kegelapan gedung mati.

"Kalau begitu caranya... jangan pernah salahkan saya kalau dalam waktu dekat... saya sendiri yang akan datang ke tempat kalian... untuk mengambil paksa seluruh hal yang kalian miliki. Termasuk nyawa kalian semua."

Angin malam kembali berembus kencang, membawa gema suara erangan parau dari ratusan *infected* ke seluruh penjuru sudut kota mati yang kian membusuk dihantam kiamat. Dan tanpa pernah disadari atau diduga oleh satu pun jiwa yang sedang beristirahat di dalam kamp pengungsian... sebuah ancaman baru yang jauh lebih taktis, kejam, dan terorganisir kini telah resmi lahir, siap mengintai dan merobek sisa-sisa kedamaian mereka dari balik bayang-bayang kegelapan dunia.

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!