NovelToon NovelToon
Montir Hati Tuan Muda Arogan

Montir Hati Tuan Muda Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Cintamanis / Fantasi Wanita / Konflik etika / CEO
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.

Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.

Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.

Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Kekacauan di restoran mewah

Seminggu sudah berlalu sejak Arjuna Adhitama resmi menjadi "asisten" di Bengkel Pasir. Seminggu penuh pula hidup Tuan Muda itu berubah drastis. Kemeja mahalnya kini sering bercak oli, tangannya yang halus kini kasar dan penuh kapalan, rambutnya yang selalu rapi kini sering berantakan kena debu, dan aroma tubuhnya yang dulunya wangi parfum mahal ... sekarang bau campuran oli.

Namun, anehnya, Arjuna malah menikmatinya. Ada kilatan hidup di matanya yang dulunya kaku dan dingin. Setiap kali dia mengeluh, setiap kali dia marah karena disuruh-suruh, setiap kali dia dikatai bodoh oleh Kirana ... di lubuk hatinya yang paling dalam, dia merasa bahagia. Bahagia karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak memandangnya sebagai Tuan Muda, tapi sebagai manusia biasa.

Pagi itu, Arjuna sedang duduk di kantornya di gedung pencakar langit, berpakaian rapi kembali seperti biasanya, menyelesaikan tumpukan pekerjaan yang tertunda. Tapi pikirannya entah ke mana. Di kepalanya cuma terbayang wajah Kirana saat tertawa, omongan nyelenehnya, dan senyum mengejeknya.

"Gadis sialan itu ... kenapa sih dia harus seunik itu?" batin Arjuna sambil mengusap wajahnya kasar.

Tiba-tiba sebuah ide jahil sekaligus ambisius muncul di kepalanya. Dia ingin mengajak Kirana ke dunianya. Dia ingin membuktikan bahwa bukan hanya dia yang bisa masuk ke dunia Kirana, tapi Kirana pun harus bisa beradaptasi di dunianya. Dan dia penasaran ... apa reaksi Kirana kalau dibawa ke tempat paling mewah, paling formal?

Tanpa buang waktu, Arjuna langsung memerintahkan Pak Hendra untuk menyiapkan reservasi di restoran paling elit dan termahal di kota, Restoran Langit, tempat yang hanya dikunjungi oleh kalangan atas, pejabat, dan pengusaha besar. Tempat di mana aturan sopan santunnya setebal kamus ensiklopedia.

Sore itu, Arjuna datang ke bengkel dengan mobil sedan hitam elegan, memanggil Kirana yang sedang sibuk memperbaiki rem sebuah truk tua. Gadis itu sedang berbaring di bawah sasis kendaraan, kakinya menjuntai keluar, bersenandung pelan sambil memutar baut.

"Kirana!" panggil Arjuna dengan nada perintah, berusaha mengembalikan wibawa Tuan Mudanya yang sempat hilang seminggu ini.

Kaki di bawah sana bergerak-gerak, lalu Kirana menggeser tubuhnya keluar dengan gesit dan lincah. Wajahnya penuh keringat dan sedikit noda oli, rambutnya berantakan, dan dia tersenyum lebar begitu melihat Arjuna.

"Wah, Tuan Dingin! Hari ini libur kerja ya? Kok pakaiannya rapi banget, mau jadi pengantin?" celetuk Kirana santai sambil mengelap tangannya yang kotor ke celana jeansnya.

Arjuna mengerutkan kening, berusaha tidak terpengaruh oleh pesona alami gadis itu. "Bersiaplah. Kau ikut aku. Ada urusan penting."

Kirana memiringkan kepalanya bingung. "Urusan apa? Kau mau beli besi tua? Atau mau beli oli curah? Kalau iya, nanti aja, aku lagi sibuk nih."

"Bukan," potong Arjuna cepat. "Kita mau makan malam. Di tempat yang ... layak."

Kirana diam sejenak, lalu tertawa renyah. "Makan malam? Wah, alhamdulillah. Di mana? Warung pecel lele sebelah rel kereta? Atau warung mie ayam langganan kita? Di sana enak lho, bumbunya medok, murah lagi!"

Arjuna hampir pusing mendengarnya. Dia menggeleng tegas. "Bukan. Ikut saja. Dan ... tolong ... bersihkan dirimu sedikit. Jangan bau oli saat di sana."

Dengan terpaksa dan penuh rasa penasaran, Kirana akhirnya menurut. Dia melangkah menuju ruang ganti kecil yang ada di pojok ruangan itu.

Dia mencuci muka dan tangan di keran, lalu mengnti baju yang bersih, menyisir rambutnya seadanya, lalu gegas keluar dan langsung menuju ke arah mobil mewah Arjuna yang terparkir di depan bengkel.

Dengan gaya santai ia masuk seolah naik angkot. Dia bahkan tidak lupa mengelap sepatunya yang agak kotor ke alas kaki mobil mahal itu, membuat Arjuna hampir sesak napas melihatnya.

Perjalanan ditemani celotehan Kirana yang tak ada habisnya, mulai dari mengomentari desain dashboard mobil, sampai menyarankan ganti oli mesin dengan merek tertentu karena katanya "biar mesinnya enak hati, nggak gampang ngambek".

Setibanya di Restoran Langit, Kirana sampai diam terpaku. Ruangannya luas, mewah, berbau wangi bunga dan makanan lezat, lantainya mengkilap sampai memantulkan bayangan, dan semua orang yang ada di sana berpakaian sangat rapi, duduk tegak, bicara pelan, dan berjalan dengan langkah terukur. Suasana hening, sopan, dan ... sangat menyesakkan bagi Kirana.

Arjuna berjalan di depan dengan gagah, menyambut hormat dari para pelayan yang mengenalnya sebagai tuan muda Adhitama. Dia menoleh ke belakang, menatap Kirana dengan pandangan menantang dan sedikit menang.

"Bagaimana? Bagus bukan? Dunia ini indah, bukan? Kau akan terbiasa kalau mau," bisik Arjuna pelan saat mereka duduk di meja sudut yang paling strategis dan nyaman.

Kirana duduk di kursi empuk itu sambil melihat ke kiri dan ke kanan dengan mata berbinar-binar, tapi bukan binar takjub, melainkan binar penasaran seperti anak kecil yang masuk ke rumah hantu. Dia duduk dengan santai, satu kakinya disilangkan ke atas, punggungnya bersandar lemas ke kursi, sangat kontras dengan Arjuna yang duduk tegak lurus dan berwibawa.

"Wah ... mewah banget sih. Tapi ... kok sepi banget ya? Semua orang sakit gigi ya? Kok mukanya kaku semua? Nggak seru banget," komentar Kirana keras dan polos, suaranya terdengar cukup jelas di tengah keheningan restoran itu.

Beberapa tamu dari meja sebelah menoleh kaget, menatap Kirana dengan tatapan tidak suka karena dianggap kasar. Arjuna langsung memberi kode mata agar Kirana diam, wajahnya memerah menahan malu.

"Kecilkan suaramu, Kirana. Di sini orang berbicara dengan nada rendah. Ini sopan santun," bisik Arjuna cepat.

Kirana mengedipkan matanya bingung. "Lho? Ngomong aja pakai bisik-bisik kayak maling. Susah banget sih aturannya. Kalau mau ngomong ya ngomong aja jelas-jelas biar kedengeran. Capek deh bisik-bisik."

Arjuna memijat pelipisnya. Dia sudah menduga bakal ada masalah, tapi not this much.

Seorang pelayan datang mendekat dengan membawa daftar menu bersampul kulit tebal yang elegan. Dengan sopan pelayan itu menyerahkannya kepada mereka berdua.

"Silakan dipilih menu hidangannya, Tuan Muda Adhitama, Nona," ucap pelayan itu ramah.

Arjuna mengambilnya, melirik sekilas, lalu hendak memesan menu andalan tempat itu. Tapi Kirana lebih cepat menyambar buku menu itu dari tangan Arjuna, membukanya dengan kasar, dan menatap isinya dengan dahi berkerut.

"Waduh ... isinya tulisan doang. Gambarnya mana? Kok nggak ada fotonya? Gimana aku tahu enak atau nggaknya kalau cuma tulisan deskripsi doang?" protes Kirana lantang.

Pelayan itu tersenyum kaku bingung. "Ehm ... maaf Nona ... di sini semua hidangan adalah hidangan kelas atas, kami tidak menyertakan gambar seperti di warung makan biasa ..."

"Oalah ... jadi pilihannya tebakan gitu ya? Berarti kalau nanti makanannya nggak enak, salah kita karena salah tebak ya? Ribet banget sih," celetuk Kirana santai, lalu mulai membaca daftar harganya.

Matanya melotot besar, seolah bola matanya mau copot. Dia menatap Arjuna dengan tatapan tak percaya, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Arjuna, berbisik, kali ini benar-benar berbisik, tapi suaranya masih terdengar jelas.

"Eh Tuan Dingin ... kamu gak takut bangkrut ya?Lihat nih ... satu piring nasi sama ikan secuil harganya bisa buat beli motor baru! Gila ya? Mahal banget! Emangnya emas dimasukin ke bumbunya?!"

Arjuna merasa kakinya mau ambles ke dalam lantai keramik mengkilap itu. Dia bisa melihat tamu-tamu lain mulai menoleh sambil menahan senyum atau tatapan menghakimi. Wajahnya merah padam antara malu dan gemas luar biasa.

"Itu harga wajar di sini, Kirana. Diamlah dan pilih saja apa saja yang kau mau. Aku yang bayar. Jangan pikirkan uangnya," jawab Arjuna berusaha tetap tenang dan berwibawa, meski nadanya sedikit bergetar.

Kirana menggeleng keras, rambutnya ikut bergoyang-goyang. "Nggak deh! Rugi tahu kalau makan di ini? Makanan mahal belum tentu enak tau. Nanti sakit perut, duit habis, hati sakit. Nggak untung sama sekali." cerocosnya tanpa rem.

Dia menutup buku menu itu dengan bantingan pelan, lalu menyerahkannya kembali ke pelayan yang sudah mulai berkeringat dingin melihat kelakuan gadis di hadapannya.

"Mbak ... minta tolong ya. Siniin piring kosong sama sendok garpu aja. Terus bawain aku nasi putih hangat sama kerupuk udang, kalau ada ikan asin boleh juga, sama sambal terasi dikit. Dan minumnya air putih dingin yang banyak esnya ya. Seger gitu," pesan Kirana dengan wajah serius dan ramah.

Pelayan itu sampai membeku di tempat. "M-maaf Nona ... kami ... kami tidak menyediakan ... eh ... menu itu ..."

"Lho? Kok nggak ada? Dasar restoran sok mewah. Bahan dasar aja nggak punya. Terus kalian makan apa kalau perut laper? Makan daun emas? Makan piring cantik? Hahaha," Kirana tertawa lepas, menampakkan lesung pipinya yang manis, seolah dia baru saja melontarkan lelucon paling jenaka sedunia.

Kali ini, Arjuna tidak tahan lagi. Dia menarik napas panjang dalam-dalam sampai dadanya terasa sesak, lalu menatap Kirana dengan tatapan tajam tapi anehnya ... ada kilatan kagum dan rasa sayang yang terselip di sana.

Dia mengerti sekarang. Kirana tidak terpesona oleh kemewahan ini karena baginya, kemewahan ini palsu. Kemewahan ini penutup. Di sini orang-orang berpura-pura sopan, berpura-pura bahagia, berpura-pura kaya. Sedangkan Kirana? Dia apa adanya. Dia jujur. Dia lebih memilih makan sederhana tapi hatinya senang dan bebas, daripada makan mewah tapi terkekang aturan konyol.

Dan entah kenapa ... Arjuna merasa dirinyalah yang sebenarnya konyol di sini.

"Baiklah," ucap Arjuna tiba-tiba, lalu menatap pelayan yang sudah bingung setengah mati itu. "Batalakan pesanan apa pun. Kami tidak jadi makan di sini."

"Ta-tapi Tuan ... Reservasi Bapak sudah dikonfirmasi ..."

"Kubilangkan batal. Dan tolong siapkan kemasan untuk satu kotak nasi putih, satu lauk sederhana, dan banyak sambal. Kami bawa pulang," perintah Arjuna tegas, lalu berdiri tegak, meletakkan kartu emasnya untuk pembayaran biaya administrasi, lalu berjalan keluar diikuti oleh Kirana yang melompat senang.

Saat mereka sudah berada di dalam mobil, menjauhi restoran mewah itu yang tadi bikin Arjuna bangga, Kirana langsung tertawa renyah sambil menepuk-nepuk bahu Arjuna antusias.

"Nah gitu dong! Pintar! Tadi aku udah bingung banget mau ngapain kalau harus makan makanan harganya nyawa gitu. Dasar Tuan Dingin, sok-sokan ngajak ke tempat angker. Mending kita ke warung pecel lele langganan aku deh, dekat situ lho. Murah, enak, orangnya ramah, nggak ada yang ngeliatin kita kayak kita maling gitu."

Arjuna menatap Kirana lekat-lekat. Dia melihat wajah ceria itu, melihat ketulusan itu, melihat betapa gadis ini tidak pernah mau dipengaruhi oleh dunia palsu tempat Arjuna tinggal selama ini.

"Kau tahu, Kirana ..." gumam Arjuna pelan, suaranya rendah dan dalam. "Kau baru saja mempermalukanku di depan semua orang. Kau baru saja bikin aku kelihatan bodoh."

Kirana berhenti tersenyum sejenak, menatap Arjuna ragu. "Eh ... maaf ya ... aku kan emang nggak ngerti aturan orang kaya ... kalau mau marah, marah aja deh. Aku dengerin."

Tapi Arjuna malah tersenyum. Senyum yang paling tulus dan paling bahagia yang pernah dia punya. Dia mengelus lembut kepala Kirana, membuat gadis itu sedikit terkejut tapi diam saja sambil mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba konser dadakan.

"Tapi anehnya ... aku sama sekali tidak merasa malu. Aku malah merasa ... aku yang baru saja diajarkan pelajaran berharga. Kau benar, Kirana. Tempat itu memang angker!" serunya sambil terkekeh sendiri.

Bersambung .....

1
sunshine wings
Mantap.. gak rugi bacanya.. alur ceritanya hebat..
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️
Teh Fufah
seruuuu nihhhh ceritanya...
riniandara: terima kasih kak atas review nya ya
total 1 replies
riniandara
Assalamualaikum semua! semoga sehat selalu ya. oh ya kalau kalian suka jangan lupa tinggalkan Jejak serta like ya teman-teman. happy reading/Kiss//Heart/
azela
wah makin penasaran apakah mereka akan berhasil. lanjut up Thor kalau bisa doubel ya he he/Applaud//Applaud//Applaud/
riniandara: siap kakak
total 1 replies
riniandara
pasti lanjut baca ya kak happy reading
azela
lanjut author semangat semakin seru aj/Applaud//Applaud//Applaud/
azela
jangan menyerah Kirana ada tuan dingin yang akan mendukungmu
Muft Smoker
ad rahasia apa niih di antara mereka ,, 🤭🤭🤭🤭
azela
akhirnya terbongkar juga, ternyata Kirana itu bukan gadis biasa keluarga mereka juga sangat dekat dulu.
azela
lanjut Thor semakin penasaran aja
Ita Xiaomi
Semangat Kirana.
Ita Xiaomi
Tenang Kirana, Arjuna akan menyayangi dan mencintaimu dgn setulus hati.
Lisa
Ceritanya menarik jg nih 👍
Lisa: Sama² Kak..oke Kak nanti aq review ya
total 2 replies
Lisa
Aku mampir Kak
azela
siapa Kirana? dari percakapan mereka yang penuh teka bisa di pastikan jika Kirana ini bukan gadis biasa/Right Bah!/
azela
lanjut kak semakin penasaran deh
azela
jangan-jangan Kirana ketua mafia/CoolGuy/
azela
/CoolGuy//Grin//Grin//Grin//Grin//Grin//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
azela
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ita Xiaomi
Menguasai martial arts.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!