NovelToon NovelToon
Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: TOPENG DI BALIK CERMIN

​POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)

​Lampu pijar di ruang interogasi bawah tanah Vipera Tower berayun pelan, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding beton yang lembap. Aroma tajam dari pembersih lantai industri beradu dengan bau anyir darah yang mulai mengering. Di tengah ruangan, Kapten Iron Fang—pria yang tadinya tampak seperti raksasa baja—kini hanyalah gumpalan daging yang hancur, terikat di kursi besi dengan kedua lutut yang dibalut perban kasar.

​Aku melangkah masuk, suara ketukan sepatu kecilku menggema ritmis. Aku masih memeluk boneka kelinciku, menjepitnya di ketiak kiri, sementara tangan kananku memegang sebuah lolipop rasa stroberi yang belum dibuka.

​"Paman Kapten," ucapku lembut. Suaraku sengaja kubuat jernih, seperti lonceng di pagi hari yang tenang. "Papa bilang Paman tidak mau bicara dengan Marco. Katanya, Marco terlalu... membosankan?"

​Pria bernama Viktor Volkov itu mendongak. Matanya yang merah karena kurang tidur dan rasa sakit menatapku dengan kebencian yang murni. Namun, di balik kebencian itu, aku melihat variabel yang kucari: Primordial Fear. Rasa takut yang muncul saat logika manusia bertemu dengan sesuatu yang tidak seharusnya ada.

​"Kirim... kirim iblis kecil ini keluar," desisnya parau. "Aku tidak bicara... dengan mainan Damian."

​Aku tersenyum manis. Begitu manis hingga mungkin terlihat mengerikan dalam keremangan ini. Aku menarik sebuah kursi kecil, duduk tepat di depannya, lalu perlahan membuka bungkus lolipopku.

​"Paman, namamu adalah Viktor Volkov. Mantan perwira unit khusus yang membelot karena kau membunuh komandanmu sendiri demi uang tebusan haram," aku menyesap lolipop itu, mataku tidak pernah lepas dari pupil matanya. "Kau punya trauma pada ruang sempit karena kau pernah dikubur hidup-hidup di Siberia selama tiga hari. Dan kau sangat mencintai adik perempuanmu yang sedang sakit di Saint Petersburg. Namanya Anya, bukan?"

​Viktor membeku. Rahangnya mengatup rapat hingga urat di lehernya menonjol. "Damian... Damian memberitahumu hal ini?"

​"Papa? Tidak. Papa terlalu sibuk memikirkan cara melegalkan bisnisnya agar Mama senang," aku memiringkan kepala. "Aku membacanya dari caramu bernapas saat aku menyebut kata 'Siberia'. Aku membacanya dari gerakan mikro di matamu saat aku menyentuh lencana perak di sakumu. Paman, bagiku, kau bukan manusia. Kau hanyalah sebuah buku terbuka dengan font yang terlalu besar."

​Aku mencondongkan tubuh, aroma manis stroberi kini beradu dengan aroma kematian di antara kami. "Baron bukan bosmu yang sebenarnya. Dia terlalu bodoh untuk menyewa Iron Fang. Kau dikirim oleh seseorang yang ingin memastikan Damian Xavier tidak memiliki pewaris yang kuat. Katakan padaku, siapa 'Tangan Kanan' itu?"

​Viktor gemetar. Bukan karena rasa sakit di lututnya, tapi karena ia menyadari bahwa di depannya bukan anak berusia delapan tahun. Ia sedang berhadapan dengan entitas yang bisa membedah jiwanya seolah itu hanyalah selembar kertas.

​“Kak, dia hampir pecah. Tapi ada hambatan mental di lobus frontalnya. Dia lebih takut pada pemberi tugasnya daripada kematian,” lapor kuku lewat Shadow Talk yang kupancarkan ke arah ruang kerja di atas.

​“Gunakan 'The Loss Strategy', Lea. Tunjukkan padanya bahwa Anya sudah berada dalam jangkauan radar kita. Marco baru saja mengirimkan tim ke rumah sakit di Saint Petersburg atas permintaanku lima menit yang lalu,” suara Leo terdengar dingin di kepalaku.

​Aku tersenyum lagi. Kali ini senyumku penuh dengan kemenangan yang absolut. "Paman Viktor, Anya baru saja dipindahkan ke paviliun terbaik di rumah sakit itu. Biayanya sudah lunas untuk sepuluh tahun ke depan. Tapi... perawatnya adalah orang-orangku. Jika kau tidak bicara dalam sepuluh detik, aku akan memerintahkan mereka untuk mencabut selang oksigennya. Sekarang... mari kita berhitung."

​Sepuluh detik yang paling sunyi dalam sejarah Vipera Tower dimulai.

​POV: DAMIAN XAVIER

​Aku berdiri di balik kaca satu arah ruang interogasi, menatap punggung kecil putriku. Tanganku mengepal kuat hingga buku-bukuku memutih. Di sampingku, Marco bahkan tidak berani bernapas.

​"Tuan..." bisik Marco. "Nona Muda Lea... dia baru saja melakukan profiling tingkat tinggi yang bahkan agen intelijen negara pun sulit melakukannya. Dan Leo... dia meretas sistem perbankan Rusia dalam hitungan menit untuk melacak keluarga Viktor?"

​Aku tidak menjawab. Kepalaku berdenyut. Aku melihat Lea melalui kaca itu—ia tampak begitu imut dengan gaun putihnya, namun auranya... auranya adalah seorang predator yang sedang mempermainkan mangsanya.

​Aku melangkah keluar dari ruang pengamatan, menuju ruang kerja utama di mana Leo masih duduk dengan tumpukan monitor yang menyilaukan. Bau kopi hitam yang kuat memenuhi ruangan, kontras dengan susu cokelat yang biasanya ada di sana.

​"Leo," panggilku, suaraku lebih berat dari biasanya.

​"Satu detik, Papa. Aku sedang mentransfer 500 juta Euro dari akun gelap Iron Fang ke yayasan amal milik Mama. Anggap saja ini sebagai 'pajak pengganggu' bagi mereka," jawab Leo tanpa menoleh. Jemarinya bergerak seperti kilat.

​"Berhenti sebentar," perintahku.

​Leo menghentikan gerakannya. Ia memutar kursi kebesarannya, menatapku dengan mata abu-abu yang identik dengan mataku. Dingin, tajam, dan penuh rahasia.

​"Ada apa, Papa? Strategi serangan balasan sudah 90% siap," ucapnya datar.

​"Kenapa kalian melakukan ini?" tanyaku, melangkah mendekat. "Kenapa kalian bicara seperti... seperti orang yang sudah hidup seratus tahun? Lea merobek mental Viktor seolah dia hanyalah boneka. Dan kau... kau mengendalikan perang dari kursi ini. Siapa kalian sebenarnya?"

​Hening menyelimuti ruangan. Leo menatapku lama, mencari variabel dalam emosiku. Ia tidak tampak takut. Ia justru tampak... lelah.

​"Papa ingin tahu kebenarannya, atau Papa ingin tahu apa yang membuat Mama tetap tersenyum besok pagi?" tanya Leo balik.

​Pertanyaan itu seperti tamparan bagiku. Aku teringat Qinanti yang ada di bunker tadi—ia gemetar.

​"Aku ingin tahu segalanya," tegasku.

​Leo menarik napas panjang. Ia bangkit dari kursi, melangkah menuju jendela besar yang menghadap Jakarta. "Papa, dunia ini hanyalah sebuah papan catur. Di kehidupan yang lain, aku adalah orang yang memindahkan bidak-bidak itu di medan perang yang jauh lebih besar dari SCBD. Aku adalah seorang Marsekal. Dan Lea... dia adalah orang yang membedah kebohongan para kriminal paling berbahaya di dunia."

​Aku terperangah. "Reinkarnasi?"

​"Anggap saja kami adalah bantuan yang dikirim takdir agar klan Xavier tidak berakhir dalam tumpukan mayat," Leo berbalik, menatapku dengan tatapan Marsekal yang sesungguhnya. "Kami memilih Papa sebagai aset, karena di balik kekejaman Papa, Papa memiliki satu variabel yang tidak dimiliki musuh kita: loyalitas absolut pada Mama. Dan itulah alasan kami di sini. Untuk memastikan Mama aman."

​Aku terduduk di sofa kulit. Anak-anakku... adalah dua jiwa tua yang terperangkap dalam tubuh mungil ini.

​"Lalu... apa yang harus aku lakukan?" tanyaku. Aku merasa seperti prajurit yang sedang meminta perintah pada komandannya.

​"Jadilah Papa yang normal di depan Mama," ucap Leo, suaranya sedikit melunak. "Biarkan kami menangani kegelapan ini. Jadilah otot yang kami butuhkan saat strategi kami membutuhkan kekuatan fisik. Dan satu hal lagi..."

​Leo berjalan mendekat, menepuk lenganku pelan. "Malam ini, tidurlah di samping Mama. Dia butuh kehadiranmu untuk menstabilkan detak jantungnya pasca-trauma. Itu adalah strategi terbaik untuk malam ini."

​Aku hanya bisa mengangguk kaku. Saat aku melihat Leo kembali ke monitornya, aku menyadari satu hal: aku tidak lagi memimpin klan Vipera sendirian. Aku adalah bagian dari sebuah dinasti yang baru saja lahir.

​POV: QINANTI

​Aku duduk di teras kamar lantai atas mansion, menatap lampu-lampu Jakarta yang mulai memudar seiring datangnya fajar. Udara pagi terasa dingin, namun pikiranku jauh lebih dingin. Kejadian di bunker tadi terus berputar di kepalaku.

​Cara Lea menatap ventilasi itu... cara Leo memberikan instruksi melalui pengeras suara... itu bukan anak-anakku.

​Aku melirik ke arah pintu saat aku mendengar langkah kaki yang berat. Damian masuk, ia tampak sangat lelah. Jasnya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung.

​"Damian," panggilku lirih.

​Ia mendekat, lalu tanpa kata, ia berlutut di depanku dan menyandarkan kepalanya di pangkuanku. Aku terkejut, namun aku merasakan getaran kecil di tubuhnya.

​"Qin... maafkan aku," suaranya parau. "Aku membiarkan bahaya ini mendekati kalian."

​"Damian, apa yang terjadi di bawah tadi? Anak-anak... mereka..."

​Damian mendongak. "Anak-anak kita adalah keajaiban, Qin. Mereka lebih cerdas dari yang kita bayangkan. Leo baru saja mengamankan masa depan kita secara finansial, dan Lea... dia memastikan tidak ada lagi pengkhianat di rumah ini."

​"Tapi mereka tidak normal, Damian! Mereka seperti... mereka bicara tentang strategi perang!" aku mulai menangis.

​Damian menggenggam tanganku, menciumnya dengan lembut. "Mungkin mereka memang dikirim untuk melindungi kita, Qin. Mungkin di tengah dunia yang sekejam ini, Tuhan tahu kita butuh pelindung yang lebih cerdik dari iblis manapun. Apapun mereka... mereka adalah darah daging kita. Dan mereka mencintaimu lebih dari nyawa mereka sendiri."

​Aku menatap mata Damian. Aku melihat sebuah pengakuan di sana—pengakuan bahwa ia pun tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia memilih untuk percaya.

​"Tidurlah, Qin. Malam ini sudah berakhir. Kita menang," bisik Damian.

​Ia membimbingku ke tempat tidur, menyelimutiku dengan hati-hati. Saat ia merebahkan diri di sampingku, aku merasa aman, namun ada satu hal yang tidak bisa kuhapus dari ingatanku: tatapan Leo di galeri seni itu sembilan tahun setelah aku melarikan diri.

​Di kamar sebelah, aku tahu Leo dan Lea masih terjaga. Aku seolah bisa merasakan komunikasi rahasia mereka yang menembus dinding beton ini.

​“Kak, Papa sudah mulai menerima variabel kita. Tapi Mama... Mama butuh waktu lebih lama,” suara Lea seolah berdesir di mimpiku.

​“Berikan dia waktu, Lea. Strategi jangka panjang kita adalah kebahagiaannya. Selama kita memegang kendali atas klan Vipera, tidak akan ada yang bisa menyentuhnya lagi,” jawab Leo.

​Aku memejamkan mata. Di luar sana, fajar menyingsing, membawa babak baru dalam permainan catur yang akan mengubah wajah dunia bawah tanah selamanya.

1
Xenovia_Putri
.ceritanya bagus tpi sayang.q pov char bukan pov author... sorry skipp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!