Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Studio foto di kawasan Jakarta Selatan itu tampak sibuk. Lampu-lampu flash berkekuatan tinggi sesekali meledak, menerangi latar belakang cyclorama putih yang bersih. Musik techno-pop berdentum cukup kencang, mencoba membangun mood sang model yang hari ini tampak memiliki energi yang berbeda.
Aurora berdiri di tengah set, mengenakan gaun merah darah dengan potongan high-slit yang berani. Rambutnya ditata sleek ke belakang, memberikan kesan tajam dan dominan. Setiap kali fotografer meneriakkan arahan, Aurora memberikan pose yang sempurna, namun sorot matanya tidak bisa berbohong—ada api pemberontakan di sana.
"Luar biasa, Aurora! Kasih gue tatapan yang lebih 'haus' lagi! Seolah lo mau menerkam lensa ini!" teriak sang fotografer, sapaan akrabnya adalah Ko Andre.
Flash! Flash! Flash!
"Bagus! Gorgeous!"
Di pojok studio, Mayang memperhatikan Aurora dengan cemas. Ia melihat sahabatnya itu setiap kali ada jeda lima menit untuk ganti kostum atau touch-up riasan, langsung menyambar ponselnya. Jemari Aurora bergerak secepat kilat, mengetik sesuatu dengan senyum miring yang terlihat sangat berbahaya.
"Ra, fokus dulu ke kerjaan," tegur Mayang saat penata rias sedang memoles ulang lipstik Aurora. "Lo dari tadi megang HP mulu, Andre sampe nungguin tuh."
"Bentar, Kak May. Gue lagi kirim 'surat cinta' buat Papa," sahut Aurora tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Gue mau liat seberapa lama dia bisa tahan."
"Lo beneran mau bikin bokap lo serangan jantung?"
"Enggak, gue cuma mau bikin dia sadar kalau dunianya nggak bakal kiamat kalau punya menantu ajudan," Aurora memberikan satu pesan terakhir sebelum menyerahkan ponselnya ke Mayang. "Nih, simpen dulu. Gue selesaikan sesi terakhir."
Sementara itu, di sebuah gedung perkantoran megah di pusat kota, suasana di ruang kerja Anggara Widjaja jauh dari kata tenang. Sang anggota DPR itu duduk di kursi kebesarannya, namun konsentrasinya hancur berkeping-keping.
Ponsel pribadinya yang diletakkan di atas meja jati terus-menerus bergetar. Layarnya menyala setiap beberapa menit, menampilkan notifikasi pesan dari kontak bernama "Putri Bandel".
Anggara mencoba mengabaikannya saat Pak Hendra masuk untuk memberikan laporan.
"Pak, soal draf undang-undang di komisi—"
Bzzz... Bzzz...
Anggara melirik ponselnya.
Aurora: [Foto Aurora sedang dirias, tampak sangat cantik]
Aurora: Cantik kan, Pa? Calon istri Mas Langit ini. Papa nggak mau punya cucu yang gantengnya level internasional kayak perpaduan aku sama dia?
Rahang Anggara mengeras. Ia membalikkan ponselnya ke arah meja. "Lanjutkan, Hendra."
"Ah, iya Pak. Jadi soal draf ini—"
Bzzz... Bzzz...
Ponsel itu seolah memiliki nyawa sendiri. Anggara tidak tahan lagi. Ia menyambar ponselnya dan membaca pesan berikutnya.
Aurora: Papa tau nggak, tadi Mas Langit bilang aku cantik banget pakai baju merah. Dia emang jujur ya orangnya, nggak kayak kolega Papa yang hobi menjilat.
Aurora: Kalau Papa masih diam, aku bakal posting foto kita berdua di Instagram sekarang juga. Captionnya: 'I Said Yes!'. Mau liat gimana reaksi wartawan politik besok pagi?
Anggara memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. "Hendra, tinggalkan saya sebentar."
"Tapi Pak, ini mendesak—"
"SAYA BILANG KELUAR!" teriak Anggara, emosinya meledak.
Begitu Pak Hendra keluar dengan wajah pucat, Anggara langsung mengetik balasan dengan tangan gemetar karena marah sekaligus frustrasi.
Anggara: Hentikan kegilaan ini, Aurora! Kamu mau menghancurkan reputasi yang Papa bangun puluhan tahun? Jangan main-main dengan ancaman itu!
Detik berikutnya, balasan langsung masuk.
Aurora: Aku nggak main-main, Pa. Reputasi Papa itu cuma kertas di depan kebahagiaan aku. Papa pilih mana: Restuin aku sama Mas Langit secara terhormat, atau aku bikin skandal yang bakal bikin kursi Papa goyang?
Aurora: Pilihan di tangan Papa. Oh iya, aku barusan minta Langit buat jemput aku di studio. Kami mau makan siang bareng. Romantis kan?
Anggara membanting ponselnya ke atas meja. Ia merasa seperti sedang disandera oleh darah dagingnya sendiri. Ia tahu Aurora tidak menggertak. Putrinya itu memiliki sifat keras kepala yang ia wariskan sendiri. Jika Aurora bilang akan membuat skandal, maka ia benar-benar akan melakukannya.
Ia menekan tombol interkom dengan kasar. "Langit! Ke ruangan saya sekarang!"
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Langit masuk dengan langkah tenang, berdiri tegak di depan meja Anggara. Wajahnya tidak menunjukkan rasa takut, meski ia tahu sedang berada di kandang singa yang sedang terluka.
"Kamu diperintahkan menjemput Aurora di studio?" tanya Anggara dengan suara rendah yang mengancam.
"Siap, Pak. Non Aurora tadi mengirim pesan bahwa sesi pemotretannya hampir selesai," jawab Langit jujur.
Anggara berdiri, berjalan perlahan mengitari mejanya hingga berdiri tepat di depan Langit. "Dia menerorku, Langit. Dia mengancam akan membuat skandal jika aku tidak merestui kalian. Apa ini rencanamu juga? Menggunakan posisimu untuk memeras restu dariku?"
Langit menatap lurus ke arah Anggara. "Saya tidak pernah meminta Non Aurora untuk melakukan itu, Pak. Tapi saya juga tidak bisa menghentikan keinginannya untuk memperjuangkan apa yang dia yakini benar."
"Kamu mencintainya?" tanya Anggara tiba-tiba, suaranya melunak namun penuh selidik.
"Lebih dari nyawa saya sendiri, Pak," jawab Langit tanpa ragu.
Anggara terdiam. Ada keheningan yang panjang di ruangan itu. Ia melihat keteguhan di mata Langit, sesuatu yang jarang ia temukan pada anak-anak pejabat yang datang melamar Aurora hanya demi koneksi politik.
"Jemput dia," ucap Anggara akhirnya, kembali ke kursinya dengan wajah yang tampak lebih tua sepuluh tahun. "Tapi ingat satu hal, Langit. Jika sampai terjadi satu saja skandal yang merugikan keluarga ini sebelum aku memberikan keputusan final... aku sendiri yang akan memastikan kamu menghilang dari dinas militer."
"Siap, Pak. Terima kasih," Langit memberikan hormat dan berbalik pergi.
Kembali ke studio, Aurora sedang duduk di ruang ganti sambil menghapus riasannya yang tebal. Mayang masuk dengan membawa segelas air putih.
"Langit udah di bawah, Ra," ujar Mayang.
Aurora langsung berdiri, senyumnya merekah lebar. "Papa pasti udah 'menyerah' setengah jalan. Buktinya dia izinin Mas Langit jemput aku."
"Lo bener-bener nekat, Ra. Lo tahu nggak kalau taktik lo ini bisa backfire?"
"Nggak akan, Kak May. Papa itu sayang banget sama aku, dan dia lebih sayang lagi sama citranya sebagai 'Ayah Teladan'. Dia nggak punya pilihan lain selain nerima Mas Langit," Aurora menyambar tasnya, matanya berbinar penuh kemenangan.
Saat ia keluar dari studio, ia melihat SUV hitam yang sudah sangat ia kenali. Langit berdiri di samping pintu penumpang, membukakannya dengan gerakan formal namun tatapan matanya tidak bisa menyembunyikan rasa lega melihat Aurora baik-baik saja.
"Mas! Kangen!" seru Aurora pelan saat ia masuk ke mobil, mengabaikan tatapan beberapa kru studio yang memperhatikannya.
Langit hanya tersenyum tipis sambil menutup pintu. Begitu mobil mulai bergerak menjauh dari studio, Aurora langsung menggenggam tangan Langit yang sedang berada di atas tuas persneling.
"Tadi Papa marah besar ya di kantor?" tanya Aurora jahil.
"Bapak terlihat... sangat lelah, Aurora. Tolong, jangan terlalu keras padanya," pinta Langit.
"Aku cuma ngelakuin apa yang perlu dilakuin, Mas. Demi kita," Aurora menyandarkan kepalanya di bahu Langit. "Sekarang, ayo kita makan siang. Aku laper banget habis marah-marah sama Papa tadi pagi."
Langit menghela napas, namun ia membiarkan tangan Aurora tetap menggenggamnya. Di tengah kemacetan Jakarta, di dalam mobil yang sejuk itu, Aurora merasa ia baru saja memenangkan pertempuran penting. Meskipun restu itu belum sepenuhnya di tangan, ia tahu bahwa benteng pertahanan ayahnya sudah mulai retak, satu per satu, karena serangan teror kasih sayang—dan ancaman skandal—dari sang putri bandel.
aurora gitu dechhhh
penyelamatttt