Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manjadi Sasaran Pembunuh
Membuat orang merasa dikejar waktu. Rintiknya tipis, rapat, menempel di jaket dan rambut, lalu berubah jadi dingin yang merayap pelan ke tulang.
Fred Tucker menutup payungnya begitu sampai di bawah kanopi halte, mengibaskan air dari ujungnya dengan kebiasaan setengah sadar. Tangannya dingin—bukan cuma karena cuaca, tapi karena satu hal yang belum mau berhenti berputar di kepalanya sejak siang: stase klinik besok pagi, ujian kecil tentang kasus-kasus emergensi, dan teguran senior yang menyatakan bahwa Fred “terlalu lembut” untuk dunia rumah sakit.
“Kalau pasiennya kebut darah di depanmu, kamu mau nulis puisi?” kata seniornya tadi, sambil menepuk bahu Fred keras-keras. “Jadilah dokter, bukan penonton.”
Fred tidak menjawab. Ia cuma mengangguk, menahan rasa malu yang lebih menusuk daripada kata-kata itu sendiri. Ia memang lembut—atau lebih tepatnya, ia selalu percaya bahwa manusia, bahkan yang paling kacau, pantas dapat kesempatan untuk diselamatkan.
Dan malam ini, kesempatan itu akan datang… dari arah yang tidak masuk akal.
Di seberang jalan, lampu toko kebab menyala redup. Orang-orang berlalu-lalang cepat, memeluk tas, menunduk, menahan dingin. Paris bukan kota yang ramah, tapi Fred menyukainya: kota ini jujur tentang kerasnya dunia.
Fred menatap jam tangan. 21:47. Ia masih harus berjalan sepuluh menit ke apartemen kecilnya dekat Rue de la Roquette, melewati gang sempit yang biasa ia lewati pulang dari perpustakaan. Gang itu aman. Ia sudah melewatinya ratusan kali.
Ia melangkah.
Sepatu Fred memercik genangan tipis, sementara pikirannya kembali pada daftar belanja: kopi, mie instan, dan—jika ada sisa uang—daging ayam. Hidup mahasiswa kedokteran selalu terasa seperti menyeimbangkan dua hal yang tidak bisa berdamai: idealisme dan tagihan.
Di ujung gang, lampu jalan berkedip seperti orang mengantuk. Dinding-dinding bata memantulkan suara langkah kaki. Bau rokok bercampur air hujan. Fred mengencangkan tas selempangnya, mempercepat langkah.
Dan tepat saat ia melewati pintu besi tua dengan grafiti pudar, dunia seperti menggeser satu derajat—cukup untuk membuat insting primitifnya menyala.
Ada seseorang di belakangnya.
Fred menoleh cepat.
Kosong.
Hanya bayangan dan rintik hujan.
Ia menghela napas, menertawakan dirinya sendiri. “Kamu kebanyakan begadang, Fred,” gumamnya. “Semua orang bukan pembunuh.”
Lalu, dari sisi kiri—dari tempat yang seharusnya hanya ada tembok—sebuah tangan muncul cepat, seperti ular.
Refleks Fred telat setengah detik.
Sesuatu dingin menyentuh jaketnya, mengarah ke perut.
Pisau.
Fred membeku. Semua suara kota seolah menjauh, tersisa detak jantungnya sendiri yang membentur-bentur dada.
Sosok itu seorang wanita. Tingginya sedang. Jaket hitam, tudung menutupi rambut, wajah setengah tertutup oleh masker kain. Tapi matanya terlihat jelas: tenang, fokus, tidak ragu. Mata orang yang sudah memutuskan hasil sebelum memulai.
Fred membuka mulut, tapi kata-kata tidak keluar.
Wanita itu memiringkan kepala sedikit, seolah memastikan: ya, ini orangnya.
Pisau itu naik satu sentimeter.
“Maaf,” kata wanita itu pelan, dengan aksen Prancis yang tipis tapi ada sesuatu yang lebih asing di baliknya. Bukan nada perampok. Bukan nada orang putus asa. Ini nada profesional. Seolah ia sedang menutup buku.
Fred merasakan keringat dingin muncul di belakang lehernya, meski udara dingin.
“A-aku… kamu salah orang,” Fred akhirnya berhasil bersuara. Kata-katanya terdengar bodoh bahkan di telinganya sendiri.
Wanita itu tidak merespons. Pisau bergerak lagi—kali ini, lebih pasti.
Dan tepat di saat itu…
Pft.
Bunyi kecil. Hampir seperti seseorang memukul bantal.
Wanita itu tersentak. Matanya melebar sekejap, bukan karena takut—lebih seperti terkejut karena ada variabel yang tidak ia hitung.
Tubuhnya goyah. Pisau jatuh dari tangannya, beradu dengan aspal basah.
Fred melihat titik gelap di bahu wanita itu, cepat melebar, bercampur hujan. Darah.
Wajah wanita itu menegang, lalu ia jatuh berlutut.
Fred mundur setapak, pikirannya blank. “A-apa itu—”
Pft.
Bunyi kecil kedua. Kali ini bukan mengenai. Fred mendengar suara halus peluru menghantam dinding bata, memecahkan serpihan kecil.
“Menunduk!” suara tajam terdengar—bukan dari luar, melainkan dari mulut wanita itu sendiri, tercekik rasa sakit.
Fred menunduk reflek, hampir jatuh. Ia menatap sekeliling, mencari siapa yang menembak.
Tidak ada siapa-siapa.
Gang itu kosong, tapi tidak kosong. Ada rasa diawasi. Ada rasa seperti sesuatu mengintai dari jendela gelap atau atap.
Wanita itu menggertakkan gigi, mencoba berdiri, tapi lututnya hampir tidak mau mengunci. Tangannya menekan bahunya, berusaha menghentikan darah.
“Siapa… yang menembakmu?” Fred berbisik, lebih pada dirinya sendiri.
Wanita itu menatapnya tajam. Dalam tatapan itu ada pesan yang jelas: jangan banyak tanya.
“Pergi,” kata wanita itu, napasnya berat. “Kalau kamu tetap di sini, kamu mati.”
Fred menelan ludah. Dalam kepalanya, alarm bahaya berteriak: lari, ini bukan urusanmu. Tapi tubuhnya… tubuhnya bergerak berbeda. Kebiasaan bertahun-tahun belajar anatomi, menonton pasien koma, melihat darah di ruang emergensi—semuanya meledak jadi satu naluri.
Wanita itu terluka.
Dan Fred adalah calon dokter.
Ia jongkok, meraih pisau yang jatuh, lalu melemparkannya jauh ke sudut gang supaya tidak ada orang lain meraihnya. Tindakannya otomatis, tanpa berpikir.
Wanita itu mendesis. “Kamu gila? Pergi!”
“Aku tidak bisa,” Fred menjawab, dan ia sendiri terkejut dengan suara mantapnya. “Kamu… kamu ditembak. Kalau pelurunya kena arteri—”
Wanita itu tertawa kecil, getir, lalu memekik pelan saat mencoba bergerak.
“Dengar,” katanya cepat, “itu peluru peredam. Mereka tidak mau bikin keributan. Mereka cuma mau… memastikan aku gagal. Kamu itu target.”
Kata “target” meluncur seperti batu dilempar ke wajah Fred.
“Apa?” Fred menatapnya, kebingungan. “Target apa? Aku mahasiswa kedokteran! Aku bahkan—”
Pft.
Suara ketiga. Kali ini lebih dekat. Fred merasakan tekanan angin kecil lewat dekat telinganya, membuatnya merinding.
Wanita itu memaki pelan dalam bahasa yang Fred tidak pahami—bukan Prancis, bukan Inggris.
Ia menatap ke atas, ke arah atap.
“Dia di atas,” gumam wanita itu. “Dia ingin kamu panik. Dia ingin kamu lari ke jalan terbuka.”
Fred menelan ludah. Dada terasa sempit.
“Kalau kamu tahu aku target,” Fred berbisik, “kenapa kamu… mau membunuhku?”
Wanita itu menatapnya beberapa detik, seolah menimbang apakah jawaban itu layak diberikan pada orang yang mungkin akan mati dalam lima menit.
“Kontrak,” jawabnya akhirnya. “Dan aku tidak punya kemewahan untuk bertanya kenapa.”
Kalimat itu dingin. Tapi bukan karena ia kejam. Lebih karena ia sudah terlalu lama hidup dalam dunia yang mematikan pertanyaan.
Fred membuka mulut, ingin protes, ingin marah, ingin menjerit, tapi yang keluar hanya napas panjang.
Di bawah hujan, ia melihat darah di jaket wanita itu semakin banyak.
Calon dokter dalam dirinya menang.
Fred merobek ujung kain dari syal yang ia pakai—murah, tapi cukup kuat—lalu menekan bahu wanita itu dengan tekanan yang ia ingat dari kelas trauma.
Wanita itu meringis. “Jangan—”
“Aku menekan titik pendarahan,” Fred memotong, suaranya gemetar tapi fokus. “Kalau pelurunya menembus otot deltoid dan kena pembuluh besar, kamu bisa kehilangan banyak darah. Aku harus—”
“Kamu bicara terlalu banyak,” wanita itu mendesis, tapi ia tidak menepis tangan Fred. Ia membiarkan. Itu saja sudah cukup menjadi pengakuan: dia memang butuh bantuan.
Fred merasakan kulit wanita itu dingin dan basah. Ia menekan lebih kuat, lalu mengikat kain itu agar tekanan tetap.
“Kamu bisa jalan?” tanya Fred.
Wanita itu mengangguk sekali—gerakan kecil yang penuh harga diri. Tapi saat ia mencoba berdiri, kakinya goyah.
Fred refleks menopang pinggangnya.
Untuk sepersekian detik, jarak mereka dekat. Fred mencium aroma logam darah, parfum murah, dan sesuatu yang lain: bau mesiu yang tertahan.
Wanita itu menatapnya dengan mata tajam yang sama, tapi kali ini ada kilatan emosi yang berbeda—bukan kelembutan, melainkan keterkejutan. Seolah ia baru sadar bahwa orang yang ia incar tadi bukan cuma “target,” tapi manusia yang malah menahannya agar tidak mati.
“Kamu bodoh,” bisiknya.
“Mungkin,” Fred menjawab. “Tapi kalau kamu mati di sini, aku tidak akan bisa tidur seumur hidup.”
Wanita itu tertawa kecil lagi, tapi kali ini lebih lemah.
Di luar gang, terdengar suara motor melintas. Dunia tetap berjalan, tidak tahu ada dua nyawa sedang dimainkan seperti bidak.
Fred menoleh ke arah ujung gang yang lebih gelap. “Ada jalan keluar lain?”
Wanita itu mengangguk. “Pintu servis. Lewat sana ke halaman belakang. Cepat.”
Mereka bergerak. Langkah Fred cepat tapi hati-hati, menopang wanita itu. Setiap detik terasa panjang. Fred merasakan ketakutan seperti jarum kecil di kulitnya, tapi ia tidak bisa berhenti.
Pft.
Peluru lagi. Kali ini menghantam tempat mereka berdiri tadi, memercikkan air dari aspal. Penembak itu bermain. Menggiring. Tidak buru-buru.
Wanita itu memaki lagi, lalu berbisik cepat di telinga Fred, “Jangan lihat ke atas. Kamu akan instingtif berhenti. Jalan terus.”
Mereka sampai di pintu besi sempit. Wanita itu merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sesuatu kecil berkilat—kunci? pisau lipat? Fred tidak sempat melihat jelas. Ia cuma melihat gerakan cepat, bunyi klik, lalu pintu terbuka setengah.
Mereka menyelinap masuk ke halaman belakang gedung tua yang penuh tempat sampah dan sepeda rusak. Di sini lebih gelap, terlindung.
Fred baru berani menarik napas sedikit lega.
Tapi lega itu hanya berlangsung satu detik.
Di atas, dari arah atap, ada suara halus—bukan peluru, melainkan suara sepatu menapak.
Penembak itu bergerak turun.
Wanita itu menatap Fred. Kali ini tatapannya tidak cuma tajam. Ada sesuatu seperti keputusan.
“Dengar baik-baik,” katanya pelan. “Aku tidak berhasil membunuhmu. Dia mencoba membunuhku karena dia ingin kontrak itu jatuh ke tangannya… atau dia ingin memastikan tidak ada saksi. Sekarang kamu sudah jadi saksi.”
Fred menelan ludah. “Aku cuma… aku cuma pulang dari perpustakaan.”
“Tidak lagi,” jawab wanita itu, suaranya serak. “Sekarang kamu terlibat.”
Fred ingin mengatakan ini tidak adil. Tapi tidak ada waktu untuk adil.
Ia melihat darah di kain ikatan. Masih merembes.
“Kamu butuh rumah sakit,” Fred berkata.
Wanita itu menggeleng. “Rumah sakit berarti kamera. Polisi. Dan polisi berarti waktu. Aku tidak punya waktu.”
Fred menatapnya, lalu berkata satu-satunya hal yang bisa ia tawarkan: “Aku bisa bantu stabilkan kamu. Tapi kita harus keluar dari sini.”
Wanita itu mengangguk, lalu—untuk pertama kalinya—ia menyebutkan namanya, seolah itu bagian dari perjanjian tak tertulis.
“Nama aku… Maëlle,” katanya. “Kalau kamu tetap hidup malam ini, kamu akan ingat itu.”
Fred menatapnya, kaget ia masih sempat memikirkan nama.
“Aku Fred,” jawabnya, otomatis.
Maëlle menatap Fred sebentar, lalu bibirnya bergerak tipis. Bukan senyum. Lebih seperti ironi.
“Aku tahu,” katanya.
Dan kalimat itu membuat darah Fred terasa lebih dingin daripada hujan Paris.
Karena itu berarti… orang ini sudah mempelajarinya.
Karena itu berarti… seseorang sudah memutuskan Fred Tucker harus mati.
Di luar halaman, suara langkah di atas semakin dekat. Bayangan bergerak di pinggir tembok.
Fred menggenggam tali tasnya kuat-kuat, menahan gemetar.
“Apa yang kamu lakukan, Fred?” bisiknya pada dirinya sendiri.
Jawabannya datang dari naluri yang sama yang membuatnya menolong orang asing di gang gelap:
Bertahan dulu. Tanya nanti.