NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Aurora

Takdir Cinta Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Karang Biru Samudera

Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AURORA

Liburan musim panas kali ini terasa sedikit berbeda bagi Aurora. Bagaimana tidak? Jika di tahun-tahun sebelumnya dia dan teman-temannya akan pergi berlibur bersama, maka kali ini dia harus rela mengikuti kemauan orang tuanya untuk ikut pergi bersama mereka.

Aurora sendiri tak tahu apa alasan kedua orang tuanya mengajaknya pergi. Tapi yang jelas, pasti ada sesuatu yang mereka inginkan darinya.

Terbukti, sudah satu minggu mereka ada di negeri gingseng itu, tak ada satupun tempat hiburan yang mereka kunjungi. Pergi keluar untuk jalan-jalan bersama saja tidak. Orang tuanya justru sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing sementara dia hanya berdiam diri di rumah tanpa bisa kemana-mana.

Bukannya Aurora tak bisa, tapi dia hanya malas jika harus pergi dengan di temani supir atau pengawal suruhan sang ayah. Selain itu, dia juga tidak punya teman atau kenalan disini, rasanya pasti sangat membosankan jika harus pergi sendiri.

Beruntung, teman-temannya yang setia selalu mengajaknya untuk ber video call atau setidaknya saling bertukar pesan setiap harinya. Jadi, dia tidak terlalu bosan karena sedikit terhibur.

Seperti sekarang ini, Aurora menghabiskan waktunya di dalam kamar dengan berbincang ria bersama teman-temannya sembari menunggu kedua orang tuanya kembali dari pekerjaan mereka. Entah kapan.

"Ra, lo gak nyoba nanya sama Om, Tante kenapa lo di ajak ke sana?" Tanya teman Aurora yang bernama Audrey.

^^^"Belum sempet. Lo pikir orang tua gue nyantai aja disini? Mereka sibuk terus. Boro-boro nanya, gue aja gak pernah tahu kapan mereka berangkat dan kapan mereka balik kerja."^^^

"Kasihan banget sih lo. Jauh-jauh ke Korea cuma buat jadi kaum rebahan. Mending kemarin lo ngikut kita aja." Sahut teman Aurora yang lain. Alexa.

"Bener tuh. Sumpah, gak ada lo gak seru Ra." Timpal seorang yang lain. Dia Alice.

^^^"Gue juga maunya gitu gays. Tapi berhubung nyokap sama bokap gue pengen gue ikut sama mereka, ya mau gimana lagi? Gue gak mau ya jadi anak durhaka."^^^

"Iya deh yang anak nurut sama orang tua." Sahut teman Aurora yang terakhir. Aline namanya.

^^^"Harus dong. Biar gak kualat nantinya."^^^

Karena rasa nyaman sudah tak lagi di dapatkan, Aurora merubah posisinya yang awalnya berbaring menjadi tengkurap. Menarik satu bantal di sebelahnya untuk menyangga handphone agar tidak terjatuh.

^^^"Ngomong-ngomong, kalian kok cepet banget balik liburannya?" Tanya Aurora penasaran.^^^

Pasalnya, mereka semua selalu memiliki kebiasaan untuk pulang sehari sebelum masuk kuliah saat menghabiskan waktu liburan bersama. Tapi ini, baru satu minggu mereka pergi, mereka sudah kembali ke rumah masing-masing.

"Audrey ada janjian sama pacarnya. Si kembar gak tahu tuh tiba-tiba ngajakin balik aja. Padahal kita belum sempat kemana-mana." Jawab Alexa dengan wajah kesal. Karena dia adalah orang yang paling menentang saat teman-temannya mengajak pulang.

"Males tau gak ada Aurora." Sahut Alice mencari alasan.

"Ho'oh. Gak ada Aurora gak rame." Timpal Aline yang juga mencari pembelaan. Karena sejujurnya, mereka hanya bosan.

^^^"Lebay kalian. Biasanya juga jalan tanpa gue gak papa. Kenapa sekarang harus ada gue?"^^^

"Itu beda ya Ra." Sahut Alexa tak setuju.

"Iya, itu beda. Kalo jalan kan cuma shoping N nongkrong cantik doang. Kalau liburan kan kita buat momen." Balas Audrey mengiyakan.

^^^"Hahaha.... Bisa aja lo Rey." Tawa Aurora karena perkataan Audrey yang tak biasa.^^^

"Ih, si Audrey lagi baper gays." Sahut Alice menggoda sang sahabat.

"Ho'oh. Dia lagi kesambet tuh." Imbuh Aline.

"Jangan-jangan ini bukan Audrey gays." Tak mau kalah, Alexa juga ikut menggoda.

^^^"Rey, lo lagi kesurupan malaikat ya?" Aurora yang masih tertawa juga tak mau ketinggalan.^^^

"Iya, gue lagi kesurupan. Makanya kalian harus hati-hati sama gue. Bisa aja gue dateng ke sana dan ngajakin kalian buat ikut gue." Seolah semakin menanggapi godaan teman-temannya, Audrey justru membuat dirinya benar-benar menjadi seorang yang tengah kerasukan.

^^^"Hahaha.... Astaga, muka lo Rey.... Anjir. Kumuk banget." Aurora yang melihat wajah akting sang sahabat, benar-benar tak bisa lagi menahan gelak tawanya^^^

"Muka lo gak pantes banget buat pura-pura kayak gitu." Sahut Alice yang juga tengah tertawa puas.

"Terserah kalian aja. Sebahagia kalian." Audrey pun hanya bisa pasrah saat semua teman-temannya menertawakannya.

Di tengah tawa mereka, pintu kamar Aurora di ketuk oleh seseorang.

"Ra. Kamu di dalem?" Tanya seseorang dari luar sana.

"Iya ma!" Sahut Aurora sedikit berteriak.

"Mama masuk ya?"

"Masuk aja Ma, gak di kunci kok."

^^^"Gays, udah dulu ya. Nyokap gue udah balik tuh." Pamit Aurora pada keempat sahabatnya.^^^

"Tumben? Lo bilang lo gak tahu kapan mereka balik?" Tanya Audrey heran.

^^^"Ya mana gue tahu. Udah ah. Bye." Tanpa menunggu persetujuan dari mereka, Aurora langsung menutup telponnya dan merubah posisinya menjadi duduk.^^^

"Mama ganggu gak sayang?" Tanya sang ibu yang sudah duduk di pinggir ranjang.

"Gak kok Ma. Ada apa? Kok tumben Mama udah balik?"

"Telfonan sama siapa? Temen-temen kamu?" Bukannya menjawab pertanyaan sang anak, Arin justru menanyakan hal lain.

"Iya. Soalnya Ara bosen di rumah aja."

"Maaf ya, karena Papa sana Mama ngajakin ke sini kamu jadi gak bisa jalan sama temen-temen kamu kayak biasanya." Sesal Airin mengusap rambut Aurora dengan lembut.

"Mama kenapa? Kok canggung gitu? Ada yang mau diomongin?" Menangkap gerak-gerik sang ibu yang tak seperti biasa, membuat Aurora seketika menaruh curiga.

"Nanti malem Mama sama Papa mau ngajakin kamu ke acara temen Papa, gak papa kan sayang?" Tanya Airin tak semerta-merta meminta.

"Harus?" Arin mengangguk. Dia tahu jika sang anak tak suka dengan kegiatan semacam itu, oleh sebab itu dia bertanya lebih dulu.

"Mama kan tahu sendiri kalau Aurora gak suka dateng ke acara kayak gitu." Cemberut Aurora dengan wajah memelas berharap sang ibu tak akan memaksanya.

"Iya...Mama tahu. Kali ini aja. Ya, sayang?" Pinta Airin memohon.

"Mama sama Papa gak ada niatan buat kenalin aku atau jodohin aku sama anak-anak temen Papa kan?"

"Gak sayang. Papa cuma mau temen-temennya tahu kalau Papa punya anak yang super cantik ini." Ucap Airin dengan senyum memuji dan sedikit menggoda Aurora seraya membelai rambutnya.

"Mama lebay. Gak usah krayu deh."

"Mama bener dong.....? Anak Mama ini emang cantik banget. Tapi sayang, sampai sekarang masih belum juga punya pacar."

"Udah deh Ma, gak usah bahas itu lagi."

"Iya-iya, maaf ya sayang. Jadi, mau gak malem ini ikut Mama sama Papa?"

"Iya, Aurora mau. Tapi janji ya, Mama sama Papa jangan aneh-aneh?"

"Iya sayang. Makasih ya."

"Sama-sama."

"Ya udah, kamu siap-siap gih. Mama udah siapin gaun buat kamu. Sebentar lagi kayaknya dateng."

"Iya."

Meninggalkan kamar sang anak, Airin bersyukur karena Aurora mau di ajak untuk acara mereka nanti malam.

Tak salah memang rasanya mengikuti permintaan orang tua untuk pertama kalinya. Meskipun firasatnya mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi. Tapi Aurora tetap bersiap demi tidak membuat kedua orang tuanya kecewa.

Sebenarnya, sudah sejak dulu kedua orang tuanya mengajaknya untuk ikut menghadiri acara-acara membosankan seperti itu. Tapi Aurora selalu menolak dengan berbagai alasan yang dia buat. Orang tuanya juga tidak pernah memaksa dia untuk ikut jika dia sudah mengatakan tidak. Tapi kali ini, entah kenapa sang ibu justru memohon kepadanya untuk pertama kalinya.

***

Kedatangan Tuan Oliver beserta keluarga di tengah pesta tampaknya langsung menarik perhatian semua orang di sana.

Bagaimana tidak? Mereka yang awalnya terlihat asyik menikmati jamuan yang di sajikan sembari berbincang-bincang hangat dengan kolega segera mengalihkan fokus mereka pada keluarga kaya raya itu.

Bukan Tuan atau Nyonya Oliver yang menjadi pusat perhatiannya, tapi justru kehadiran Aurora di tengah-tengah mereka yang begitu cantik dan mempesona dengan aura yang dia pancarkan sebagai gadis muda pada umumnya sekaligus putri tunggal keluarga Oliver dan pewaris satu-satunya Oliver grup.

"Hey, Oliver." Sapa seorang pria menyambut kedatangan mereka.

"Airin. Lama gak ketemu. Gimana kabarnya?" Sambut hangat langsung diberikan seorang wanita di sebelahnya yang langsung memberikan pelukan hangat dan cipika-cipiki.

"Aku baik. Kamu sendiri gimana?" Balas Ny. Airin yang juga sama bahagianya bertemu dengan wanita itu.

"Seperti yang kalian lihat. Kita berdua baik-baik aja."

"Kita pikir kalian gak akan datang. Maklumlah, orang sibuk." Sahut pria itu menggoda sang teman.

"Aku dan Airin kan udah janji, mana mungkin kita berdua gak datang." Ucap Tn. Oliver tersenyum ramah pada keduanya.

"Ngomong-ngomong, gadis cantik ini siapa?" Tanya pria itu yang perhatiannya kini teralihkan pada Aurora.

"Dia Aurora." Ucap Airin memperkenalkan sang anak.

"Aurora? Wah.... Cantik banget sekarang. Lama gak ketemu udah gede aja." Sahut sang wanita memuji.

"Masa iya kecil mulu." Balas Ny. Airin tertawa.

"Sayang, kenalin, ini temen Papa sama Mama waktu kuliah dulu. Namanya Om Alex sama Tante Agnes." Lanjutnya memperkenalkan sang anak pada kedua orang di depannya.

"Hallo Om, Tante, aku Aurora." Sudah menjadi budaya, dengan penuh rasa hormat dan sopan santun Aurora selalu mencium tangan orang yang lebih tua darinya saat dia memperkenalkan diri seperti sekarang ini.

"Sopan ya dia. Gak nyangka udah sebesar ini sekarang." Ucap Ny. Agnes yang masih terpesona dengan Aurora dan tak henti-hentinya memuji.

"Tapi gak heran sih, dulu waktu kecilnya kan cantik banget. Sekarang udah gede, makin cantik aja. Makin mirip Mamanya." Sahut Tn Alex yang juga terpesona dengan kecantikan Aurora dan ikut memuji.

"Makasih Om, Tante." Balas Aurora yang hanya bisa tersenyum kaku karena bingung harus bersikap bagaimana.

Sadar jika kehadirannya di sana hanya akan menjadi obat nyamuk dan pendengar pembicaraan yang membosankan, Aurora mengalihkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan guna mencari sesuatu yang bisa dia manfaatkan untuk menghindar.

"Ma, aku ke sana dulu ya?" Pamit Aurora menunjuk salah satu food court yang tersedia di sama karena tak ingin menjadi pusat perhatian banyak orang yang sejak tadi tertuju ke arahnya.

"Iya sayang."

"Kayaknya, bakalan ada banyak saingan nih buat dapetin anak kalian." Sahut Tn. Alex tertawa renyah menatap kepergian Aurora.

"Kenapa gak dari dulu aja sih bawa dia ke acara kayak gini?" Tanya Ny. Agnes setuju tapi juga sedikit kecewa.

"Dianya yang gak mau. Aurora tuh anti banget sama acara kayak gini." Ucap Ny. Airin memberi penjelasan.

"Ngebosenin katanya. Yang di omongin cuma masalah bisnis dan kerjaan, gak ada yang lain." Sahut Tn. Oliver menambahkan.

"Ya kan emang tujuan utama di adain pesta itu buat kayak gitu." Ucap Tn. Alex tersenyum dan menggelengkan kepala.

"Makanya dia gak pernah mau." Balas Ny. Airin.

"Ini aja karena Airin yang agak maksa. Coba kalo gak? Udah pasti gak bakalan ngikut lagi dia." Sahut Tn. Oliver.

"Oh iya. Kalian kapan balik ke Indonesia?" Tanya Tn. Alex mengalihkan pembicaraan.

"Lusa kayaknya, kenapa emangnya?"

"Gak papa sih. Nanya aja."

"Gak ada niatan buat liburan lebih lama gitu?" Tanya Ny. Agnes memberi saran.

"Kalo masalah itu tanya aja nih sama kepala negara. Kita mah ngikut aja." Sahut Ny. Airin melirik sang suami.

"Kalian gak kasihan apa sama Aurora? Jauh-jauh di ajakin ke sini tapi gak kemana-mana."

"Kasihan juga sih. Tapi mau gimana lagi? Kerjaan besar udah nunggu." Ucap Tn. Oliver yang sebenarnya juga merasa bersalah pada Aurora.

Kesempatan liburan yang harusnya bisa dia nikmati dan manfaatkan bersama teman-temannya harus terbuang percuma karena mereka yang mengajaknya ke Korea tapi tak pergi kemana-mana.

"Tau gitu kalian gak usah ngajakin dia aja kemari."

"Kita juga mana tau kalo bakalan ada kerjaan sesibuk ini disini."

"Makanya, cari waktu buat liburan. Sempetin tuh buat jalan sama anaknya." Sindir Tn. Alex pada sang teman.

"Iya iya."

Meninggalkan 2 pasang orang dewasa yang tengah asyik beradu argumen, di lain sisi terlihat Aurora yang tengah mengobrol dengan seorang pria. Lebih tepatnya, pria itu yang terlihat antusias dan menghujani Aurora dengan berbagai macam pertanyaan, sementara Aurora sendiri hanya menanggapinya seadanya dan sedikit malas.

"Sorry, looks like I have to go right now.  Nice to meet you." Pamit Aurora masih dengan kesopanannya. Meninggalkan pria itu begitu saja sebelum sang pria kembali mengajaknya bicara.

Menatap kepergian Aurora dengan senyum penuh arti, laki-laki itu meletakkan gelas wine yang ada di tangannya seraya kembali ke tempatnya bersama kedua temannya yang sejak tadi memperhatikan interaksi diantara mereka.

"정중하게 거절했다고 생각합니다. (Kurasa dia menolak mu secara halus)" Ucap sang teman pria menertawakan laki-laki itu.

"나중에 보자.  나는 그가 내 것이 될 것이라고 확신합니다. (Kita lihat saja nanti. Aku pastikan dia akan menjadi milikku)" Balas pria itu penuh rasa percaya diri.

***

Hampir satu jam berada di sana, Aurora sudah tidak bisa lagi menahan rasa bosannya. Kedua orang tuanya masih terlihat asyik mengobrol dengan para tamu undangan, membuat Aurora tidak tega jika harus mengajak mereka untuk pulang.

Belum lagi, mata-mata jlalatan yang sejak tadi terus memandangnya tanpa henti membuat Aurora semakin tak betah dan ingin segera pergi.

Tak ingin mengganggu, Aurora pun akhirnya memilih meninggalkan pesta itu tanpa pamit terlebih dahulu dengan orang tuanya. Mungkin dengan sedikit berjalan-jalan dia bisa menghilangkan rasa bosannya. Pikirnya.

***

"Sayang, kemana Aurora?" Tanya Ny. Airin pada sang suami. Dia baru menyadari jika sang putri sudah tak ada lagi di tempat pesta setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.

"Oh iya, kemana anak kita?" Tm. Oliver yang juga baru sadar langsung mencari sang anak diantara kerumunan para tamu undangan yang lain.

"Lihat. Kita terlalu asyik mengobrol dan melupakannya." Sesal Ny. Airin yang terlihat mulai cemas juga khawatir. Bahkan, dia sudah mencoba menghubungi nomer sang anak untuk memastikan keberadaannya.

"Cepat hubungi Justin. Tanyakan dimana Aurora." Perintahnya karena sang suami yang tak terlalu sigap.

Setelah memastikan sang anak memang benar tak ada di sana, Tn. Oliver pun merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Hallo Tuan." Ucap seseorang dari sebrang sana setelah menunggu beberapa saat.

^^^"Justin. Did Aurora come home with you?"^^^

"No Sir.  I'm still outside waiting for Mr and Mrs.  I didn't see Miss. Aurora come out from inside either."

^^^"Oh my god." Kaget Tn. Oliver seraya menatap sang istri di sebelahnya.^^^

^^^"Quickly look for Aurora until we meet.  Make sure nothing happens to her." Perintah The. Oliver dengan tegas.^^^

"Yes Sir."

"Sayang, ada apa?" Tanya Ny. Airin panik seketika saat sang suami mematikan panggilannya dan menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku jas.

"Aurora hilang." Beritahu Yn. Oliver tanpa basa-basi.

"Ha! Jangan bercanda!"

"Aku serius sayang, Aurora hilang. Kita harus mencari anak kita sekarang."

Tanpa keduanya ketahui, dari kejauhan Tn. Alex dan Ny. Agnes yang sejak tadi tengah mengobrol dengan kolega bisnis mereka tak sengaja melihat gelagat keduanya yang tampak begitu cemas dan panik.

"Oliver? Ada apa?" Tanya Tn. Alex langsung menghampiri sepasang suami-istri itu yang hendak melangkah pergi meninggalkan pesta.

Dia sadar jika sesuatu yang buruk tengah terjadi.

"Aurora hilang. Dia pergi dari pesta tanpa pamit." Beritahu Tn. Oliver tanpa penjelasan.

"Kalian yakin? Maksudku~"

"Aku sudah menelfon Justin, dia bilang dia tidak melihat Aurora pergi dari tempat ini." Cepat Tn. Oliver memotong ucapan sang sahabat karena dia tidak ingin kehilangan banyak waktu untuk mencari sang anak.

"Itu artinya dia tidak jauh dari sekitar sini. Ayo, aku bantu mencarinya." Ny. Agnes yang langsung tanggap dengan keadaan, seketika menawarkan bantuan dan mengajak mereka untuk segera pergi dari tempat pesta.

"Terimakasih." Ucap Ny. Airin di tengah langkah.

Tanpa berbasa-basi lagi, keempatnya segera mencari keberadaan Aurora. Sebagai orang tua, baik Tn. Oliver ataupun Ny. Airin tentu tak akan rela jika terjadi apa-apa terhadap putri kesayangannya.

Apalagi, ini adalah kali pertama mereka mengajak Aurora ke acara pesta dan mereka lalai membiarkan Aurora pergi tanpa pengawasan.

***

Suasana yang semakin terasa sepi membuat Aurora menghentikan langkah kakinya. Sadar jika dirinya sudah terlalu jauh pergi, Aurora pun merubah arah, berniat untuk kembali ke tempat pesta. Ia yakin jika sekarang orang tuanya tengah panik sekaligus khawatir karena mencari keberadaannya. Salahnya juga tidak memberi tahu terlebih dahulu.

Sayangnya, keberuntungan tidak berpihak pada Aurora malam ini. Di ujung jalan, dia harus dihadapkan dengan sebuah pertigaan. Aurora lupa darimana arah dia datang, dia bingung harus memilih jalan yang mana? Jika dia melewati jalan yang salah, otomatis dia akan semakin tersesat lebih jauh dan meninggalkan tempat pesta.

Setelah berpikir sejenak, Aurora menghembuskan nafasnya kuat-kuat guna meyakinkan dirinya jika pilihan yang dia ambil adalah pilihan tepat. Di rasa yakin, Aurora memilih jalan yang ada di sebelah kanan. Melangkahkan kakinya dengan berani menulusuri jalanan sepi itu yang hanya ditemani lampu.

Berniat meminta bantuan melalui panggilan telepon setelah berjalan cukup jauh dan sekian lama, Aurora tersadar jika dirinya tidak membawa ponsel miliknya. Sial memang. Kenapa dia harus seceroboh ini di saat seperti ini. Sungguh sangat tidak tepat.

Udara malam yang tiba-tiba berhembus kencang seketika menyapa kulit putih mulus Aurora yang hanya tertutupi gaun. Belum lagi, aura horor yang tiba-tiba melanda, membuat Aurora harus pintar-pintar menghangatkan tubuhnya dengan telapak tangan yang ia gesek-gesekan di kedua lengannya. Seraya terus berharap jika tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya.

Kaki yang terus melangkah membawa Aurora kembali harus di hadapkan dengan sebuah pilihan. Kali ini, dia harus mengambil jalan lurus atau belok ke kiri. Tak ingin kembali mengambil pilihan yang salah, Aurora memilih untuk diam di tempatnya meski sebenarnya itu sama sekali tidak berguna. Tapi setidaknya, dengan dia tetap berada di sana, dia tidak akan semakin jauh melangkah dan lebih tersesat lagi.

10 menit menunggu, rasa gelisah dan takut mulai menghampiri. Berkali-kali Aurora mencoba untuk menghangatkan tubuhnya sendiri karena hawa dingin yang terus menyelimuti. Jalanan itu terlalu sepi, tak ada satupun orang ataupun kendaraan yang melintas. Aurora tak tahu harus bagaimana? Dia benar merutuki dirinya sendiri karena memilih pergi dari pesta tanpa permisi. Sungguh, kali ini dia benar-benar berharap jika ada seseorang yang bisa membantunya. Atau setidaknya memberinya petunjuk kemana arah dia harus kembali.

Dan tampaknya, Tuhan mengabulkan do'anya seketika itu juga. Dari kejauhan, terdengar suara samar-samar beberapa orang yang tengah berjalan mendekat. Tak lama setelahnya, bayangan mereka pun tertangkap oleh mata meski tak begitu jelas karena cahaya lampu yang remang-remang.

Dengan perasaan antusias dan penuh rasa bahagia, Aurora sedikit berlari untuk menghampiri mereka. Meminta bantuan agar dia bisa segera pulang dan tidak membuat kedua orang tuanya semakin cemas karena dirinya yang tak kunjung kembali.

Naas, harapan itu seketika sirna saat Aurora menyadari ada gelagat aneh dari beberapa orang itu. Penampilan mereka begitu berantakan, cara jalan mereka juga terlihat sempoyongan. Belum lagi, aroma alkohol yang menusuk hidung tercium amat kuat, membuat Aurora sama sekali tidak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya.

"와우.... 이 아름다운 소녀는 누구입니까? (Wah.... Siapa gadis cantik ini?)" Ucap salah seorang dari mereka yang menatap Aurora dengan tatapan menggiurkan.

"아가씨, 길을 잃었나요? (Nona, apa kau tersesat?)" Tanya seorang yang lain. Pura-pura peduli padahal dia juga memiliki maksud terselebung dari bagaimana dia menatap Aurora dari atas hingga bawah.

"Sorry, I seem to have gone the wrong way." Karena rasa takut yang sudah terlanjur menyelimuti, Aurora langsung menundukkan kepalanya untuk berpamitan.

"네 말이 맞아, 그는 졌다 (kau benar, dia tersesat) Sahut seorang yang lain dengan tatapan yang sulit diartikan.

"여보, 잠깐만요.  어디 가세요?  급한 게 뭐야? (Hey, Nona, tunggu sebentar. Kau mau kemana? Kenapa buru-buru sekali?)" Cegah laki-laki yang paling dekat dengan Aurora ketika Aurora hendak melangkah pergi.

"Excuse me, I have to go." Dengan sedikit ketenangan dan keberanian yang dia miliki, Aurora melepas tangan itu yang mencekal lengannya.

"이봐, 미스.  그냥 가버리면 안 돼 (hey, Nona. Kau tidak bisa pergi begitu saja)" Ucap teman disebelahnya.

"저희에게 먼저 오셨습니다.  그래서 당신은 우리의 허락 없이는 떠날 수 없습니다 (kau yang menghampiri kami terlebih dulu. Jadi kau tidak bisa pergi tanpa izin dari kami)" Sahut temannya lagi.

"Sorry excuse me." Tak berani menatap mereka, Aurora berniat untuk kembali melangkah. Namun sayangnya, seseorang tiba-tiba menghadangnya dan seseorang yang lain mencekal tangannya.

"이봐, 미스.  어디 가세요?  여기 주세요.  우리와 동행하십시오.  오늘 밤은 춥지 않니?  우리는 당신에게 따뜻함을 줄 수 있습니다 (hey, Nona. Kau mau kemana? Disini saja. Temani kami. Bukankah udara malam ini sangat dingin? Kami bisa memberikanmu kehangatan)" Ucap seseorang di hadapan Aurora dengan senyum seringainya.

"Sorry Sir, I have to go.  Excuse me."

"당신은 우리를들을 수 없습니다!  당신은 아무데도 갈 수 없습니다 (ya!!! Apa kau tidak mendengar kami! Kau tidak akan bisa pergi kemana-mana)" Teriak seseorang yang tengah mencekal tangan Aurora seraya mencengkram nya dengan kuat. Membuat Aurora seketika merintih kesakitan.

"Sir, please let me go. What do you want from me?" Aurora yang sudah tak tahan lagi dengan keadaan hanya bisa menangis dan memohon untuk dilepaskan.

"당신은 우리가 원하는 것을 물어?  물론 당신의 매끈한 몸은 소중합니다 (kau tanya apa yang kami inginkan? Tentu saja tubuh mulus mu ini sayang)" Tanpa berbasa-basi lagi, pria itu mencolek dagu Aurora dan membelai wajah cantiknya.

"I beg you to let me go.  I will give you a lot of money if you let me go."

"돈?  당신은 돈으로 우리에게 인사합니다, 그렇습니까? (Uang? Kau menyuap kami dengan uang, begitu?)" Kekeh pria bertubuh gempal.

"아가씨, 잘 들어요.  이렇게 비싼 옷을 입는다고 두려워하지 마십시오 쉽게 우리를 속일 수 있습니다 (hey, Nona, dengar. Jangan mentang-mentang kau berpakaian mahal seperti ini kau bisa dengan mudah menipu kami)" Sahut pria dengan jaket levis tak percaya.

"우리는 당신의 돈에 전혀 관심이 없습니다.  우리에게 필요한 것은 당신의 온기 (kami, sama sekali tidak tertarik dengan uangmu itu Nona. Yang kami butuhkan adalah kehangatan darimu)" Timpal pria yang tengah mencekal tangan Aurora.

"Please, please let me go!  I ask." Pinta Aurora memohon dengan air mata yang sudah bercucuran membasahi wajah cantiknya.

"그를 데려가 (bawa dia!)" Perintah pria itu dan menghempas tubuh Aurora begitu saja pada teman-temannya.

Seumur hidup, baru kali ini Aurora mendapatkan perlakuan sehina ini dari orang lain. Dia sama sekali tak pernah membayangkan jika dirinya akan berakhir semengenaskan ini di negri orang. Memikirkannya saja, Aurora sama sekali tidak pernah.

Sungguh, jika hal buruk di luar kendalinya terjadi malam ini, Aurora tak tahu harus bagaimana menjalani hidupnya nanti. Dia pasti akan sangat hancur dan terpuruk. Kedua orang tuanya pasti akan sangat marah dan kecewa terhadapnya. Nama baik keluarga dan perusahaan pasti akan hancur sehancur-hancurnya. Semua teman-temannya pasti akan menjauhinya dan tak akan pernah mau melihatnya. Benar-benar akhir yang sangat tragis dan mengerikan.

Mencoba berteriak tapi tak bisa karena mulut yang di bungkam kain, berusaha melawan tapi tak mampu karena dirinya hanya seorang wanita sementara mereka adalah pria dan beberapa orang. Jelas, Aurora tak akan bisa meskipun dia telah berusaha. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan sekarang adalah berdoa pada Tuhan agar menyelesaikannya. Tidak membiarkan hal buruk apapun terjadi padanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!