Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
Ruang rapat itu terasa terlalu terang. Lampu putih kantor memantul di meja-meja panjang yang sudah diberi taplak biru tua.
Alya menarik napas pendek sambil mengecek ulang daftar hadir, memastikan nama-nama undangan tidak ada yang terlewat.
Rambutnya yang disanggul terburu-buru sudah berantakan di kanan-kiri, tapi dia tidak punya waktu untuk memperbaikinya.
“Narasumber sesi dua belum datang, ya?” tanya Pak Kabid setengah berbisik.
Alya menunduk hormat. “Belum, Pak. Tapi saya sudah kontak tadi pagi. Beliau bilang sedang dalam perjalanan.” Beliau hanya mengangguk dan kembali menemani narasumber lain yang sudah lebih dulu datang
Dalam perjalanan dari mana, sih? Alya melirik jam lagi. Lima belas menit menuju sesi pembukaan.
Hatinya semakin gelisah, ini kegiatan pertemuan pertamanya setelah resmi di terima di Badan pembangunan daerah sebagai PNS.
Ditengah kegelisahannya, pintu ruang rapat terbuka pelan.
Masuklah seorang pria mengenakan kemeja abu muda lengan panjang yang dilipat sampai siku, map tipis di tangan kiri.
Wajahnya teduh, rambut hitamnya tampak seperti baru disisir dengan jari saja. Dia terlihat sedikit bingung menatap barisan meja.
Alya langsung langkah cepat ke arahnya.
“Selamat pagi, Pak. Mohon isi daftar hadirnya dulu ya? Untuk peserta, bisa duduk di sisi kiri.” Arahan itu jelas, dengan senyum ramah Alya menatap lawan bicaranya yang kini terdiam.
Pria itu tersenyum tipis. Senyum yang pelan, tapi entah kenapa menenangkan.
“Pagi. Tapi sepertinya… saya bukan peserta.”
Senyum itu.. manis sekali. Alya memejamkan mata sejenak, menggeleng samar.
‘Fokus Alya’
“Oh… maaf. Lalu dari…?” tanya Alya setelah mendapat kesadarannya.
Pria itu menyerahkan undangan. Di pojok atas tertulis nama yang sudah Alya cari dari tadi.
Reyhan Ardana, M.PP.
Narasumber – Sesi II
Alya membeku sepersekian detik.
“Astaga… saya minta maaf, Pak Reyhan!” Alya buru-buru menunduk sedikit.
“Saya kira Bapak peserta. Saya nggak lihat Bapak.. seperti.. yang saya bayangkan.” Kalimat itu terjeda beberapa kali saat Alya sibuk memilih padanan kata yang tepat tanpa menyinggung lawan bicara yang kini menatapnya geli.
“Memangnya seperti apa biasanya narasumber yang datang?” pertanyaan itu sekali lagi membuat Alya gelagapan, apa dirinya sudah salah bicara?
“Lebih… eh…” Tua? Kaku? Galak? Alya menahan diri, menggeleng pelan menghilangkan kata-kata konyol yang tiba-tiba berebut untuk diucapkan.
“Lebih… formal.”
“Mungkin” kata itu nyaris tak terdengar
Tiba-tiba Reyhan tertawa pelan. Sejenis tawa yang tidak keras, tapi hangat di telinga.
“Baiklah. Saya akan berusaha lebih formal nanti.” Dia memiringkan kepala sedikit.
“Boleh saya isi daftar hadirnya?”
Alya menyerahkan papan kecil itu sambil menahan diri untuk tidak terlihat terlalu canggung. Tangannya sedikit dingin, padahal ruangan cukup hangat.
Saat Reyhan menulis, Alya memperhatikan dari samping, coretan tangannya rapi, stabil dengan tangan yang kokoh dan sedikit... berurat.
Selesai menulis, Reyhan mengembalikan papan itu.
“Harusnya saya datang lebih awal,” katanya, suaranya rendah dan jelas.
“Tadi saya sempat muter karena ruangan ini agak tersembunyi.”
Alya mengangguk cepat. “Betul Pak. Banyak yang tersesat. Sekali lagi saya mohon maaf, harusnya saya standby menunggu bapak di lobby utama”
Reyhan tersenyum lagi, kali ini lebih lembut. “Tak apa. Lagipula, saya jadi punya cerita kecil di awal kegiatan.”
Alya tertawa kecil meski wajahnya memanas.
“Mari saya antar ke ruang VIP, Pak.”
Reyhan mengangkat tangannya, kemudian duduk tidak jauh dari tempat Alya berdiri “Saya duduk di sini saja dulu. Saya mau lihat persiapan timnya.. Mbak Alya.” Tanyanya sembari membaca name tak yang dikenakan Alya.
Alya sempat terpaku. Tapi ia tak punya pilihan, selain membiarkan salah satu narasumbernya sedikit mengambil nafas setelah katanya berputar untuk sampai ke ruang pertemuan hari ini. “Baik, kalau begitu, saya tinggal dulu ya Pak Reyhan, Jika butuh sesuatu silahkan hubungi saya”
“Silahkan Mbak Alya”
Alya segera berlalu, hanyut dalam serangkaian kesibukannya.
Reyhan menatap meja registrasi, juga Alya yang sejak tadi sibuk menerima peserta pertemuan yang satu persatu memenuhi ruangan.
Dia pura-pura mengecek berkas saat melihat dari ekor matanya, pria itu seperti sedang mengawasi gerak geriknya.
Dan entah kenapa, dari semua hari melelahkan yang pernah Alya jalani di kantor, siang itu terasa sedikit… lebih hangat.
Alya sedikit bisa bernafas dan bergerak lebih leluasa, saat Kepala Bidangnya ke belakang menjemput narasumber yang sejak tadi membuat Alya salah tingkah.
Pertemuan berjalan dengan lancar, saat sesi kedua dimulai, Alya kembali canggung saat Reyhan sedikit menyapanya dari atas panggung dengan anggukan kecil. Dia tidak ingin berasumsi, dan membalasnya dengan senyuman.
Tapi suasana hangat itu berubah drastis saat, Mbak Pingkan, seniornya yang ada dalam satu seksi menyenggol bahu Alya, dan berbisik “Perasaanku saja apa kamu juga merasakan kalau Pak Dosen lagi ada something dengan mu”
Senyuman Alya berubah, sepenuhnya menatap Mbak Pingkan, “Nggaklah mbak” lalu berlalu pergi ke meja registrasi, duduk dan meminum air mineral dalam kemasan berharap bisa memutus pembicaraan itu.
Sayangnya Mbak Pingkan justru mengikutinya, “Tapi beberapa kali Mas Reyhan kesini, kagak pernah itu kayak begitu, duduk di dekat meja registrasi sambil lihatin staf lalu lalang, yaitu kamu”
“Coba deh, mbak angkat tangan dan tanya hal itu, biar gak penasaran sendiri” jawab Alya membuat Pingkan sedikit manyun.
“Yeeeeee, sinis amat buk, day one ya?” Alya hanya diam, setelah merasa pertemuan sudah bisa auto pilot dan tidak ada lagi yang bisa ia kerjakan, Alya memutuskan untuk melihat handphonenya sebentar, senyumnya kembali terbit saat melihat foto keluarga yang ia jadikan wallpaper handphonenya.
Ada adik laki-lakinya yang masih kecil, mama dan papanya yang saat itu masih sehat, juga Alya sendiri yang baru selesai kuliah.
Foto itu diambil sesaat setelah prosesi wisudanya selesai, acara sakral yang mengharukan bagi keluarga Alya.
Perjuangannya bekerja sambil kuliah dengan tetap harus memastikan nilainya tidak turun agar terus mendapatkan beasiswa terbayarkan dengan senyum kedua orang tuanya.
Juga tatapan bangga sang adik, yang sangat Alya ingat saat itu, Adiknya Viko berteriak di halaman kampus “Aku bangga sama Kak Alya, aku mau kayak Kak Alya”
Tidak ada acara besar, cukup kumpul keluarga dan makan malam bersama, tapi sangat membekas di ingatan Alya, bagaimana orangtuanya mengucapkan terimakasih atas kerja keras Alya yang bisa menyelesaikan kuliahnya tanpa merepotkan kedua orangtuanya, juga adiknya yang terus berceloteh ingin menjadi sepertinya, bahkan anak kecil itu sekarang sudah memenuhi keinginannya untuk berkuliah di kampus Alya dulu.
Air matanya tak terbendung, suasana itu mengharukan sekali.
“Mama, Papa sehat kan Al?” tanya Pingkan saat Alya menatap layar handphonenya lama.
“Sehat mbak” jawab Alya singkat dengan suara parau, Pingkan mendekat lalu sedikit memeluk tubuh kecil Alya.
Walaupun singkat, Pingkan sangat dekat dengan Alya, PNS baru yang sudah seperti adik baginya, “Kalau kamu mau cerita, Aku disini Al, kamu gak sendirian, ok?”
“Terimakasih Mbak Pingkan” Pingkan mengusap pelan bahu Alya, didepan sana, Reyhan sudah kehilangan fokusnya, bahu kecil itu terlihat sedikit bergetar, seperti.. menangis?
TBC