Dion Arvion, siswa kelas tiga SMA yang kurus dan pendek, menjalani hari-harinya sebagai korban penindasan.
Diperas, dihina, dan dipaksa menyerahkan uangnya oleh teman-teman sekelas, Dion hidup dalam ketakutan dan keputusasaan tanpa jalan keluar.
Hingga suatu hari, saat hatinya hampir hancur, sebuah suara terdengar di dalam benaknya, sebuah layar hologram muncul di hadapannya.
[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]
Sejak saat itu, hidup Dion berubah drastis. Dengan bantuan sistem misterius, ia tidak hanya menjadi semakin kuat, tetapi juga berubah menjadi crazy rich dalam waktu singkat.
Uang, kekuatan, dan pengaruh, semuanya berada dalam genggamannya. Kini, Dion bukan lagi korban.
Dengan senyum dingin dan kekuatan sistem di sisinya, ia bersiap membalas semua penghinaan, menghancurkan para penindas, dan menginjak dunia yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: SISTEM BERHASIL DIAKTIFKAN
Kota Lampung, tahun 2120.
Dari kejauhan, kota itu tampak seperti lukisan futuristik yang nyaris sempurna. Gedung-gedung pencakar langit menjulang, memantulkan cahaya matahari sore seperti bilah baja berlapis kaca.
Jalur udara dipenuhi kendaraan terbang berdesing pelan, sementara di sisi lain, pantai-pantai biru membentang, ombaknya memeluk garis pantai dengan keindahan yang menipu mata.
Namun, di balik semua kemegahan itu, Kota Lampung adalah kota yang menyesakkan dada.
Di bawah kilau lampu neon dan iklan holografik, dunia gelap berdenyut tanpa henti. Gengster bawah tanah, preman jalanan, dan bisnis ilegal saling bertaut seperti akar beracun.
Bahkan oknum kepolisian ikut mencelupkan tangan mereka ke lumpur kriminalitas, menjadikan hukum sekadar pajangan yang bisa dinegosiasikan dengan uang.
Yang lebih mengerikan, racun itu merembes hingga ke dunia anak-anak sekolah, anak SMA yang seharusnya sibuk mengejar masa depan, justru terjerumus menjadi petarung jalanan, anggota geng, atau pengedar barang terlarang.
SMA Cahaya Senja berdiri anggun di tengah kota, tampak seperti institusi pendidikan yang terhormat. Tapi di balik temboknya, cahaya senja itu telah lama pudar.
Di dalam toilet pria lantai dua, bau air kotor dan besi berkarat memenuhi udara. Di lantai yang dingin dan basah, seorang siswa kelas tiga terbaring tak berdaya.
Rambutnya acak-acakan, menempel di dahi oleh keringat dan air kotor. Tubuhnya kurus dan pendek, seragam SMA biru yang ia kenakan kusut, ternoda lumpur dan jejak sepatu.
Wajahnya bengkak, sudut bibirnya pecah, dan setiap tarikan napas terasa seperti pisau yang mengiris dada.
Pemuda itu adalah Dion Arvion.
“Ugh… bajingan Penindas itu…” gumamnya pelan, giginya terkatup menahan rasa sakit, “benar-benar nggak ada niat nahan diri…”
Ia baru saja dihajar habis-habisan. Di toilet ini. Oleh mereka yang sama, lagi dan lagi. Uangnya dirampas, tubuhnya dijadikan pelampiasan amarah, seolah-olah keberadaannya memang diciptakan hanya untuk diinjak.
Dion menatap langit-langit toilet yang retak, matanya kosong, “Ha… kenapa aku bisa sampai seperti ini…”
Ingatan itu kembali berputar, menusuk lebih sakit dari luka di wajahnya.
Tahun pertama SMA, semuanya berjalan baik. Nilainya selalu di atas, bahkan sempat menduduki peringkat satu di kelas. Guru memujinya, teman-teman menghormatinya. Hidupnya sederhana, tapi tenang.
Namun semua berubah saat ia naik ke kelas dua.
Seorang siswa pindahan masuk ke kelasnya, bertubuh besar, jago berkelahi, dan dengan cepat menjadi pusat ketakutan. Penindas. Awalnya Dion memilih diam, tak ingin mencolok. Ia tahu posisinya, miskin, yatim piatu, tak punya siapa-siapa di belakangnya.
Tapi ketika pemukulan mulai menyasar teman-temannya, Dion tak sanggup lagi hanya menunduk. Dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan, ia melapor pada wali kelas, tetapi Responsnya dingin.
“Itu cuma perkelahian anak-anak. Bercanda antar teman saja,” kata wali kelasnya waktu itu, tanpa menoleh dari layar tabletnya.
Sejak hari itu, Dion mengerti satu hal, matanya memang terbuka, tapi sengaja memilih untuk buta.
Di SMA Cahaya Senja, latar belakang siswa-siswinya bukan rahasia. Anak polisi, anak militer, bahkan anak pejabat tinggi bercampur dalam satu gedung. Para guru tahu ada Penindas. Kepala sekolah tahu. Tapi mereka memilih diam, karena uang.
Selama sumbangan mengalir deras, selama amplop-amplop tebal berpindah tangan, apa arti seorang siswa dipukuli?
Pembuli? Penindas?
Itu hanya kata-kata kosong di hadapan pundi-pundi uang.
“Bangsat… guru-guru itu benar-benar menutup mata…” desis Dion lirih, amarah bercampur putus asa menggumpal di dadanya.
Beberapa saat lalu, ketika tubuhnya dihantam bertubi-tubi, seorang guru laki-laki sempat lewat di depan pintu toilet. Mata mereka bertemu sejenak, cukup lama untuk melihat Dion tergeletak, cukup jelas untuk tahu apa yang sedang terjadi.
Namun guru itu hanya memalingkan wajah, lalu melanjutkan langkahnya.
Kenangan itu membuat tangan Dion gemetar.
“Ji-jika saja… aku punya kekuatan…” napasnya terengah, “dan kekayaan… aku bakal balasin semuanya…”
Tapi kenyataan menamparnya lebih keras dari pukulan mana pun.
Dion Arvion hanyalah seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan misterius, meninggalkannya tanpa harta, tanpa pelindung. Sejak kecil ia hidup pas-pasan, dan kini, sendirian sepenuhnya.
Untuk bertahan hidup, ia bekerja apa saja. Mengantar paket hingga larut malam, mencuci piring di restoran murah, bahkan mengangkut sampah demi beberapa lembar uang lusuh.
“Kehidupanku…” suaranya bergetar, hampir tenggelam oleh suara air menetes, “benar-benar sampah.”
Tak punya keluarga, tak punya uang, tak punya kekuatan.
Yang ia miliki hanyalah penderitaan yang terus berulang.
Ia masuk SMA Cahaya Senja lewat jalur beasiswa. Prestasinya adalah satu-satunya alasan ia masih bisa berdiri di tempat ini. Beasiswa penuh, hingga lulus. Itu pula yang membuatnya bertahan, meski setiap hari terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.
Tiba-tiba...
Ding.
Sebuah suara asing, nyaring seperti bel sepeda, bergema langsung di dalam benaknya.
Dion terkejut. Matanya membelalak, napasnya tercekat.
“Suara apa itu…?” bisiknya panik, “kenapa… ada di kepalaku?!”
Ia menoleh ke sekeliling toilet yang sepi. Tak ada siapa-siapa, tak ada alat, tak ada sumber suara.
Lalu...
Di depan matanya, udara bergetar. Sebuah layar hologram muncul begitu saja, melayang tenang. Permukaannya bening, dipenuhi pola sirkuit rumit, dengan lapisan emas berkilau di tepinya, terlihat jauh lebih canggih daripada teknologi apa pun yang pernah ia lihat.
Tulisan bercahaya muncul perlahan.
[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]
Dion terdiam, jantungnya berdentum keras.
Di lantai toilet yang kotor dan gelap itu, di titik terendah hidupnya, takdir akhirnya bergerak.
Dion menatap layar hologram itu tanpa berkedip.
Cahaya keemasannya memantul di pupil matanya yang masih dipenuhi sisa air dan amarah. Di tengah bau toilet yang pengap dan darah yang mengering di sudut bibirnya, benda itu terasa begitu tidak nyata, terlalu bersih, terlalu agung untuk hadir di tempat serendah ini.
“Sistem… seperti di dalam novel-novel online?”
Suaranya lirih, hampir seperti gumaman orang yang takut harapannya runtuh jika diucapkan terlalu keras. Jari-jarinya yang gemetar terangkat sedikit, seolah ingin menyentuh layar itu, namun berhenti di udara kosong.
Ia pernah membaca kisah-kisah seperti ini, tentang tokoh utama yang terpuruk, lalu sebuah Sistem muncul, mengubah nasib mereka secara brutal dan mutlak.
Saat itu ia menganggapnya hanya pelarian dari kenyataan.
Namun kini, kenyataan justru meniru fiksi.
Ding.
Suara itu kembali terdengar, jernih dan tegas, bergema langsung di pusat kesadarannya.
[Mohon maaf untuk tuan rumah telah menunggu selama 17 tahun.]
[Sistem akhirnya telah diaktifkan.]
Kata-kata itu menghantam benak Dion seperti petir.
“T-tujuh belas tahun…?” napasnya terputus. Matanya membelalak, dadanya naik turun tak beraturan, “ap… apa maksudnya itu…?”
Pikiran Dion berputar liar. Tujuh belas tahun, usia hidupnya. Angka itu bukan kebetulan. Itu adalah seluruh hidupnya. Sejak ia membuka mata di dunia ini, sejak tangisan pertamanya menggema di rumah kecil yang kini hanya tinggal kenangan.
“Jangan-jangan…” suaranya bergetar hebat, “sistem ini… sudah ada sejak aku lahir?”
Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
“Dan baru aktif sekarang…?”
Kesadaran itu membuat tengkuknya terasa dingin. Jika benar, maka selama ini, selama ia dipukuli, direndahkan, dipaksa bertahan hidup dengan pekerjaan hina, ada sesuatu yang berdiam di dalam dirinya. Sesuatu yang menyaksikan segalanya. Diam. Menunggu.
Bagaimana mungkin?
Bagaimana mungkin sebuah layar hologram secanggih ini tersembunyi di dalam benaknya, melampaui teknologi kota tahun 2120, tanpa ia sadari sedikit pun?
Dion menggenggam lantai toilet, kukunya menekan ubin dingin hingga memutih.
Apakah semua penderitaan ini… hanyalah bagian dari penantian?
Layar emas itu tetap melayang tenang, tak terganggu oleh gejolak batin tuan rumahnya. Huruf-hurufnya berkilau lembut, seolah menyimpan rahasia yang jauh lebih dalam, tentang takdir, tentang harga yang harus dibayar sebelum kekuatan diberikan.
Di antara denyut jantung yang memburu dan rasa sakit di tubuhnya, Dion merasakan sesuatu yang asing perlahan tumbuh.
Bukan harapan yang lembut.
Melainkan firasat, bahwa hidupnya, mulai detik ini, tak akan pernah kembali sama.