NovelToon NovelToon
The Beginning Of The Birth Of The Evil God

The Beginning Of The Birth Of The Evil God

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Antagonis / Light Novel / Balas Dendam
Popularitas:393
Nilai: 5
Nama Author: Arfian ray

Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
​Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Matinya Cahaya

Hujan di Distrik Bawah tidak pernah terasa membersihkan. Air yang jatuh dari langit kelabu itu terasa berat, berminyak, dan berbau seperti besi berkarat—seolah langit pun turut menangisi nasib mereka yang terbuang di bawah sini.

​Di sebuah gang sempit yang diapit oleh dinding-dinding lembap berlumut, seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun sedang meringkuk. Namanya Varian. Tubuhnya yang kecil gemetar, bukan hanya karena dingin yang menusuk tulang, tetapi karena rasa sakit yang berdenyut di sekujur tubuhnya. Pipi gembilnya yang dulu sering dicubit ibunya kini memar membiru, bercampur dengan darah segar yang mengalir dari sudut bibir dan hidungnya. Air mata mengalir deras, menyatu dengan air hujan, menciptakan alur-alur bersih di wajahnya yang kotor oleh lumpur.

​Namun, rasa sakit itu tidak ia hiraukan. Perhatiannya terpusat pada satu hal: sebuah bungkusan kain lusuh yang ia dekap erat di dadanya. Bungkusan itu lebih berharga daripada nyawanya sendiri.

​"Berikan itu, Anak Tikus!"

​Suara itu menggelegar seperti guruh, memantul di lorong sempit. Di hadapan Varian, berdiri seorang pria besar dengan pakaian compang-camping namun berotot tebal—salah satu preman lokal yang biasa memeras pengemis. Bagi Varian yang hanya setinggi pinggang orang dewasa, pria itu tampak seperti raksasa yang siap menelannya bulat-bulat.

​"J... Jangan..." Suara Varian keluar sebagai cicitan kecil yang menyedihkan. Giginya gemeretuk. "I-ini untuk adikku..."

​"Persetan dengan adikmu! Aku juga lapar!"

​Pria itu tidak memiliki kesabaran. Dia tidak menendang—mungkin karena Varian terlalu kecil dan rapuh—melainkan mengayunkan punggung tangannya yang kasar dan besar.

​PLAK!

​Suara tamparan itu terdengar basah dan menyakitkan. Tubuh kecil Varian terpental menghantam lumpur cair. Rasanya seperti dunia berputar. Telinganya berdenging kencang, menulikan suara hujan sesaat. Rasa asin darah memenuhi mulutnya. Namun, jemari kecilnya yang kurus dan pucat itu menolak untuk melepaskan cengkeramannya pada bungkusan kain di dadanya. Di dalamnya, hanya ada setengah potong roti keras yang ia pungut dari tempat sampah di belakang toko roti distrik atas, roti yang bahkan anjing penjaga pun enggan memakannya. Tapi bagi Varian, itu adalah harapan. Itu adalah nyawa untuk Elara.

​Pria besar itu mendengus, mengangkat kaki botnya yang berat, bersiap menginjak perut Varian untuk memaksanya melepaskan roti itu.

​"Kau keras kepala, ya? Biar kuremukkan tanganmu."

​Saat bayangan sol sepatu itu membesar di pandangan Varian, waktu seolah melambat.

​Ketakutan. Rasa takut itu begitu murni, begitu primal. Bayangan masa lalu menyeruak—ibunya yang ditarik paksa oleh Inkuisitor dua tahun lalu, teriakannya yang memohon ampun, dan tatapan dingin para ksatria berbaju zirah perak. Ketidakberdayaan itu kembali mencekiknya.

​Tidak. Tidak boleh. Jika aku sakit, siapa yang akan menjaga Elara?

​Di kedalaman jiwa Varian, di tempat yang paling gelap dan sunyi, sesuatu retak. Bukan tulang, melainkan segel.

​Mata ungu Varian yang basah oleh air mata tiba-tiba berubah. Pupilnya melebar hingga menelan iris, dan cahaya redup yang tidak wajar—seperti warna langit malam tanpa bintang—mulai berpendar. Udara di gang sempit itu turun drastis, membekukan tetesan hujan di udara.

​Pria besar itu terhenti. Kakinya menggantung di udara. Ia melihat ke bawah, berniat meludahi bocah itu, tetapi ludahnya tertahan di tenggorokan. Saat ia menatap mata Varian, ia tidak melihat ketakutan seorang bocah tujuh tahun. Ia melihat sebuah lubang. Kehampaan. Sesuatu yang menatap balik dari kegelapan dan berbisik bahwa keberadaannya tidak berarti apa-apa.

​Rasa dingin merambat dari tulang ekor pria itu hingga ke tengkuknya. Insting bertahan hidupnya, yang telah membuatnya selamat di jalanan selama dua puluh tahun, menjerit satu kata: LARI.

​"Sialan..." Pria itu mundur selangkah, kakinya gemetar. Wajah garangnya luntur digantikan horor yang tidak bisa ia jelaskan. "Matanya... apa-apaan matanya itu?"

​Ia meludah ke samping untuk membuang rasa takutnya, tapi gagal. "Sudahlah! Ambil saja roti busuk itu! Dasar anak terkutuk. Ayo pergi sebelum sialnya menular!"

​Pria itu berbalik dan lari, setengah terpeleset di lumpur, seolah dikejar setan.

​Gang itu kembali sunyi, hanya suara hujan yang tersisa. Cahaya aneh di mata Varian memudar, menyisakan mata ungu yang lelah dan kesakitan.

​"Sakit..." rintihnya pelan.

​Dengan tertatih-tatih, Varian memaksa tubuh kecilnya bangkit. Setiap sendi rasanya nyeri. Ia menyeka darah dari hidungnya dengan lengan baju yang sudah kotor dan basah kuyup, lalu kembali memeluk roti itu. Ia harus pulang. Elara menunggunya.

​Ia berjalan terseok-seok melewati labirin gubuk reyot di Distrik Bawah. Bau sampah busuk dan kotoran manusia menyengat hidung, tapi Varian sudah terbiasa. Akhirnya, ia sampai di sebuah gubuk yang hampir roboh di ujung distrik, tempat di mana dindingnya hanya terbuat dari papan lapuk yang disusun asal-asalan.

​"Aku pulang," cicitnya saat mendorong pintu kayu yang berderit.

​Di dalam gubuk itu gelap, hanya diterangi sebatang lilin kecil yang hampir habis. Di atas tumpukan jerami yang dilapisi kain tipis, terbaring seorang gadis balita berusia lima tahun. Wajahnya merah padam, napasnya terdengar berat dan berbunyi.

​Elara membuka matanya perlahan. Mata ungunya—sama seperti Varian—terlihat sayu.

​"Kak Varian?" Suara Elara begitu lemah, seperti anak kucing yang sekarat. Ia berusaha bangun, tapi tenaganya tidak ada. "Kakak... kenapa basah? Kakak nangis?"

​Varian buru-buru menghapus sisa air mata dan darah di wajahnya dengan punggung tangan. Ia memaksakan sebuah senyum lebar, meski bibirnya yang pecah terasa perih luar biasa. Ia adalah kakak. Ia adalah pelindung. Ia tidak boleh terlihat lemah.

​"Enggak kok. Kakak cuma jatuh tadi pas lari, kena lumpur," dusta Varian dengan suara yang dipaksakan ceria. Ia duduk di samping Elara, membuka bungkusan kain lusuh itu. Aroma roti yang sedikit apek menguar. "Lihat, Elara. Kakak dapat roti. Masih enak. Makan ya?"

​Mata Elara berbinar sedikit. "Roti..."

​Varian mematahkan roti keras itu menjadi remah-remah kecil agar mudah ditelan, lalu dengan lembut menyuapkannya ke mulut adiknya. Saat jari-jari dinginnya menyentuh bibir panas Elara, hati Varian terasa diremas.

​Saat adiknya mengunyah perlahan, Varian menatap ke arah jendela yang bolong. Dari sana, ia bisa melihat pemandangan Distrik Atas yang berada di bukit. Lampu-lampu kristal bersinar hangat dari jendela-jendela rumah mewah. Asap cerobong mengepulkan aroma daging panggang yang samar-samar terbawa angin.

​Dunia ini tidak adil. Kenapa mereka bisa tidur di kasur empuk sementara Elara harus tidur di jerami? Kenapa Dewa Cahaya yang diagungkan oleh para pendeta itu membenci anak kecil sepertinya hanya karena warna matanya?

​Di dalam hati kecil Varian yang hancur, sebuah benih kebencian tertanam. Itu bukan kemarahan meledak-ledak orang dewasa, melainkan kebencian murni yang mengendap, dingin dan tajam. Mana di sekitar gubuk itu bergetar pelan, merespons emosi sang bocah yang tanpa sadar mulai menarik energi kegelapan di sekitarnya.

​Tiba-tiba, langit malam di luar menjadi terang benderang.

​Bukan karena matahari terbit. Cahaya itu berwarna oranye kemerahan, menari-nari liar. Suara teriakan mulai terdengar. Bukan satu atau dua orang, melainkan ribuan teriakan yang menyatu menjadi simfoni kepanikan.

​Api.

​Varian melompat berdiri, jantungnya berdegup kencang. Ia mengintip keluar. Distrik Bawah sedang terbakar.

​Di kejauhan, Varian melihat barisan prajurit dengan obor di tangan. Lambang matahari emas terukir di baju zirah mereka. Gereja Cahaya.

​"Pembersihan Suci," bisik tetangga mereka yang lari melewati gubuk sambil menggendong barang seadanya. "Mereka membakar semuanya! Mereka bilang wabah berasal dari sini!"

​Gereja telah memutuskan. Daripada menyembuhkan penyakit dan kemiskinan, lebih mudah memusnahkan sumbernya. Dan malam ini, sumber itu adalah manusia.

​"Lari, Elara! Ayo!" Varian menyambar tangan adiknya.

​"Kakak... sakit... panas..." Elara menangis saat ditarik paksa. Kakinya yang demam gemetar hebat.

​"Naik ke punggung kakak!" Varian berjongkok. Meski tubuhnya sendiri sakit, adrenalin memberinya kekuatan. Ia menggendong Elara di punggungnya dan berlari keluar dari gubuk.

​Udara di luar terasa panas dan menyesakkan. Asap hitam mengepul, memerihkan mata. Gubuk-gubuk kayu di sekitar mereka dilalap api dengan cepat. Orang-orang berlarian seperti semut yang sarangnya disiram air panas. Ada yang jatuh terinjak, ada yang terbakar hidup-hidup.

​Varian berlari sekuat tenaga. Kakinya yang telanjang menginjak bara dan pecahan kaca, tapi ia tidak berhenti. Ia tahu jalan tikus. Ia tahu gang-gang sempit yang tidak diketahui prajurit.

​"Pegangan yang kuat, Elara! Jangan lihat ke belakang!" teriak Varian.

​Mereka berhasil mencapai gang sempit yang mengarah ke perbatasan distrik. Sedikit lagi. Sedikit lagi mereka akan sampai ke saluran pembuangan yang aman.

​Namun, takdir berkata lain.

​Di ujung gang, sebuah sosok tinggi besar menghalangi jalan keluar. Cahaya api di belakangnya membuat sosok itu tampak seperti siluet malaikat pencabut nyawa.

​Sepasang sepatu bot baja berwarna perak melangkah maju, menghancurkan genangan lumpur. Seorang Ksatria Suci (Holy Knight) berdiri di sana. Jubah putihnya bersih tanpa noda, kontras yang menyakitkan dengan lingkungan kumuh dan berdarah di sekelilingnya. Di tangannya, sebuah pedang panjang bersinar dengan cahaya sihir redup.

​Varian mengerem langkahnya mendadak, hampir terjungkal. Napasnya memburu. Ia menurunkan Elara dan menyembunyikan gadis kecil itu di belakang punggungnya.

​"Ditemukan dua benih penyakit," ucap Ksatria itu. Suaranya datar, mekanis, tanpa emosi manusia. Di balik helm besinya, ia tidak melihat dua anak kecil yang ketakutan. Ia hanya melihat statistik. Ia melihat hama.

​Varian gemetar. Tentu saja dia gemetar. Dia baru sepuluh tahun, berhadapan dengan mesin pembunuh terlatih. Tapi tangannya bergerak ke balik bajunya, menarik sebuah belati kecil karatan yang ia temukan minggu lalu. Senjata yang menyedihkan untuk melawan pedang baja.

​"Pergi..." Suara Varian bergetar hebat, air mata ketakutan menggenang di mata ungunya, tapi ia tidak mundur satu inci pun. "Jangan sakiti adikku. Kami tidak sakit. Elara cuma demam biasa! Kami sehat!"

​Ksatria itu tertawa kecil. Tawa yang kering dan meremehkan. "Mata ungu itu... kalian berdua adalah manifestasi dosa. Penyakit bukan hanya di badan, Nak. Tapi di jiwa."

​Tanpa peringatan, Ksatria itu bergerak. Cepat sekali.

​Dia tidak menggunakan pedangnya. Itu akan terlalu menghormati lawannya. Dia hanya mengayunkan punggung tangannya yang dilapisi sarung tangan baja (gauntlet).

​BRAK!

​Hantaman itu mengenai dada Varian. Bunyi tulang rusuk yang patah terdengar mengerikan. Tubuh kecil Varian terpental ke belakang, menghantam dinding kayu gubuk yang terbakar, lalu jatuh ke tanah. Darah segar menyembur dari mulutnya, mewarnai lumpur menjadi merah.

​"KAK VARIAN!" Elara menjerit histeris. Gadis lima tahun itu, yang seharusnya dilindungi, kini berlari maju dengan tangan kecilnya terulur.

​"JANGAN MENDEKAT!" Varian berusaha berteriak, tapi yang keluar hanya gumpalan darah. "LARI, ELARA! LARI!"

​Tapi kaki kecil Elara tidak cukup cepat. Ksatria itu dengan santai mengulurkan tangan kirinya, menjambak rambut pirang Elara, dan mengangkat tubuh gadis itu ke udara seolah ia seringan kapas.

​"Lepaskan! Sakit! Kakak tolong!" Elara menendang-nendang udara, air mata membanjiri wajahnya yang merah karena demam.

​Varian merangkak di tanah lumpur. Rasa sakit di dadanya membutakan, tapi rasa sakit melihat adiknya di tangan monster itu jauh lebih parah. Ia menyeret tubuhnya, mengabaikan rusuknya yang mungkin menusuk paru-paru.

​"JANGAN! AMPUN! AKU MOHON!"

​Anak laki-laki itu bersujud. Kepala kecilnya membentur tanah berkali-kali hingga dahinya berdarah.

​"Ambil aku saja! Bunuh aku saja! Dia masih kecil! Dia belum tahu apa-apa! TOLONG, TUAN KSATRIA! SAYA MOHON!"

​Varian menangis meraung-raung, membuang semua harga dirinya. Ia berdoa pada Dewa Cahaya, pada setan, pada siapa saja yang mau mendengar. Ia bersedia menjadi budak, menjadi anjing, asalkan adiknya dilepaskan.

​Ksatria itu menatap Varian dengan tatapan jijik dari balik helmnya. "Penyucian harus tuntas. Hama kecil akan tumbuh menjadi hama besar. Membiarkan dia hidup adalah dosa."

​Ksatria itu tidak memenggal Elara. Itu terlalu cepat. Dia ingin memberi pelajaran pada "Bocah Mata Iblis" yang bersujud di sana.

​Dengan gerakan lambat dan sengaja, Ksatria itu mengalirkan sihir api ke sarung tangan bajanya yang mencengkeram leher Elara.

​"Tidaaak..." Suara Varian tercekat di tenggorokan.

​"AAAAAAH!"

​Elara menjerit. Jeritan anak kecil yang melengking tinggi, penuh rasa sakit yang tak terbayangkan. Cahaya api menyala di lehernya. Kulit halusnya melepuh seketika. Bau daging hangus memenuhi udara sempit itu—bau yang lebih mengerikan dari bau sampah mana pun.

​Varian hanya bisa menonton. Matanya terbelalak lebar, merekam setiap detik penyiksaan itu. Wajah adiknya yang kesakitan, tangan kecilnya yang mencoba melepaskan cengkeraman baja itu, lalu perlahan melemas.

​Jeritan Elara perlahan melemah, berubah menjadi rintihan serak, lalu... sunyi.

​Ksatria itu melepaskan cengkeramannya. Tubuh kecil yang hangus di bagian leher dan sebagian wajah itu jatuh ke tanah lumpur seperti boneka rusak.

​Bruk.

​Jatuh tepat di depan wajah Varian yang sedang bersujud. Mata Elara masih terbuka, menatap kosong ke arah kakaknya. Tidak ada cahaya di sana. Tidak ada lagi rasa sakit. Hanya kehampaan.

​"Selesai," kata Ksatria itu dengan nada puas, seolah baru saja menyelesaikan tugas administrasi yang membosankan. Dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk menghabisi Varian. "Sekarang giliranmu, Kakak Penyakit."

​Hening.

​Di tengah gemuruh api yang membakar distrik, dunia Varian menjadi sunyi senyap. Ia menatap mata mayat adiknya.

​Sesuatu di dalam otak anak sepuluh tahun itu putus. Seperti tali biola yang ditarik terlalu kencang.

​Rasa takut? Hilang.

Rasa sedih? Menguap.

Harapan? Mati.

​Yang tersisa hanya satu hal. Sebuah lubang hitam yang sangat besar menganga di dadanya, menyedot semua emosi manusiawi yang ia miliki.

​"Heh..."

​Varian mengeluarkan suara. Bukan tangisan. Itu adalah kekehan kecil. Kering. Kosong.

​Ksatria itu mengerutkan kening, pedangnya terhenti di udara. "Kau gila karena ketakutan?"

​Varian mengangkat wajahnya perlahan. Gerakannya kaku seperti mayat hidup.

​Ksatria itu mundur selangkah tanpa sadar. Insting bertarungnya yang terlatih selama bertahun-tahun di medan perang berteriak bahaya. Bulu kuduknya meremang.

​Mata ungu bocah sepuluh tahun itu telah berubah. Tidak ada lagi pupil, tidak ada lagi iris, tidak ada lagi bagian putih. Semuanya menjadi ungu pekat yang menyala, dengan retakan-retakan hitam di kulit sekitar matanya, seolah tubuh kecilnya tidak kuat menampung apa yang ada di dalamnya. Darah yang menetes dari hidung dan mulutnya kini menguap menjadi asap hitam.

​"Kau..." Ksatria itu tergagap.

​Suara Varian terdengar. Tapi itu bukan suara anak kecil. Suaranya terdengar ganda—suara cempreng Varian bertumpuk dengan suara parau, berat, dan kuno yang terdengar seperti ribuan orang berbisik dari dalam kubur.

​"...APA YANG KAU LAKUKAN PADA ADIKKU?!"

​Tanah di sekitar Varian berubah menjadi abu-abu. Warna menghilang dari dunia. Lumpur mengering menjadi debu. Mana di udara tidak meledak, tapi mati. Kegelapan Varian tidak menghancurkan, tapi menghapus.

​Whuuung.

​Sebuah tangan bayangan raksasa muncul dari punggung kecil Varian. Tangan itu terbuat dari kegelapan murni—manifestasi dari jiwa anak-anak yang hancur lebur, keputusasaan yang dipadatkan.

​Sebelum Ksatria itu sempat berteriak atau merapal mantra pelindung, tangan bayangan itu menyambar.

​SPLAT.

​Tidak ada pertarungan epik. Tidak ada jurus beradu. Tangan bayangan itu meremas tubuh Ksatria berarmor lengkap itu seperti meremas tomat busuk. Baju zirah baja penyok ke dalam, tulang-tulang remuk menjadi bubuk, dan darah menyembur deras memandikan wajah Varian yang tanpa ekspresi.

​Sisa tubuh Ksatria itu dijatuhkan ke tanah. Sudah tidak berbentuk manusia lagi.

​Varian berdiri terhuyung-huyung. Aura mengerikan itu perlahan surut, meninggalkan tubuh bocah sepuluh tahun yang rusak parah. Kakinya lemas. Tapi ia tidak peduli pada rasa sakitnya.

​Ia berjalan melewati gumpalan daging yang dulunya adalah Ksatria Suci, mendekati mayat Elara. Ia jatuh berlutut di lumpur, memeluk tubuh adiknya yang masih hangat namun tak bernyawa.

​Malam itu, di tengah kobaran api yang membakar distrik, seorang anak laki-laki memeluk mayat adiknya, dikelilingi oleh darah pembunuhnya. Ia tidak menangis lagi. Air matanya sudah kering, digantikan oleh tatapan dingin yang menatap jauh ke masa depan.

​Malam itu, Varian kecil mati bersama Elara. Dan di dalam pelukan mayat adiknya, sesuatu yang jahat... telah lahir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!