Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.
Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.
Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.
Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.
Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Selamat Tinggal, Tunangan
Katanya jadi perempuan kuat itu keren. Kenapa rasanya malah pengin resign dari hidup?
...Happy Reading!...
...*****...
Plak.
Suara tamparan memecah keheningan rumah. Bukan yang pertama, tapi tetap saja terdengar dramatis. Seperti adegan pembuka sinetron yang lebay, lengkap dengan gemuruh petir di luar jendela dan kamera imajiner yang nge-zoom tiga kali ke wajahku yang basah.
Kalau hidupku sebuah drama, mungkin judulnya sudah "Perempuan yang Terlalu Waras untuk Dicap Gila."
Namaku Cayra Ayudhia Astagina.
Orang-orang memanggilku Caca.
Usiaku dua puluh delapan tahun, dan statusku: belum menikah.
Status yang di mata keluargaku setara dengan berita darurat nasional.
Aku bekerja sebagai Senior Brand Strategist di Nebula Creatives, sebuah agensi yang sibuk mengatur citra orang lain sementara karyawannya sendiri hidup berantakan. Tugasku: membaca data, membuat strategi kampanye, dan tersenyum palsu setiap kali revisi datang tengah malam.
Karierku stabil.
Hidupku... tidak.
Hatiku? Penuh tambalan, tapi masih berdetak-setidaknya untuk hari ini.
Aku pernah jatuh cinta berkali-kali. Dan setiap kali jatuh, rasanya makin sakit.
Aku seperti magnet untuk cowok-cowok yang alergi komitmen.
Entah kenapa, Tuhan tampaknya suka menonton rerun kisah cintaku sambil makan popcorn di atas sana.
Dan hari ini, aku baru saja memutuskan pertunangan.
Iya, aku yang mutusin.
Dan sebagai hadiah, aku dapat tamparan gratis dari Mama.
Belum sempat ganti baju yang basah karena hujan, aku sudah disambut orkestra dramatis: suara tinggi tiga oktaf, air mata buatan, dan tatapan yang bisa menembus baja.
Aku yakin mantan tunanganku sudah lebih dulu menjual versi paling menyedihkan dari kisah ini.
Mungkin dia bilang,
"Saya sudah berusaha, Bu. Tapi Caca nggak mau berhenti kerja kalau sudah nikah nanti."
Padahal aku cuma belum sempat cerita. Tapi di keluarga kami, siapa yang duluan bicara, dia yang dipercaya.
"Kamu tuh ya, Caca! Egois! Seenaknya aja mutusin pertunangan!"
Aku diam. Mataku masih panas karena tamparan, tapi hatiku lebih panas lagi.
"Kamu tuh kebanyakan mikir karier! Perempuan itu tempatnya di rumah, ngurus suami!"
"Terus siapa yang ngurus hidupku, Ma? Skincare aja mahal."
Mama melotot. "Suami kamu lah!"
Aku nyengir tipis. "Yang setengah gajinya buat aku, sisanya buat dirinya? Itu aja nggak cukup buat beli toner."
"Kamu tuh kebanyakan gaya!"
"Enggak, Ma. Aku cuma realistis. Aku nggak mau nikah cuma buat stres mikirin tagihan tiap tanggal tua."
"Makanya kamu butuh suami, biar ada yang ngatur hidup kamu yang kelewat ribet itu!"
Aku menatap Mama. Tenang. Tapi tajam.
"Mama sendiri kuat nggak hidup sama dia?"
Sunyi.
Udara di ruang tamu berubah dingin, seperti AC yang baru dinyalakan di level maksimal.
"Jangan-jangan Mama cuma pengin aku cepet nikah biar bisa fokus manjain dua pangeran kesayangan Mama, ya?"
Papa melirik singkat. Kak Raka pura-pura sibuk dengan koran. Elan pura-pura main HP-padahal sinyal jelek.
"Kamu ngomong apa barusan?" suara Mama bergetar.
"Aku baru dua delapan dan terus ditekan. Kak Raka tiga satu, santai. Mama nggak pernah maksa dia nikah."
"Raka itu laki-laki. Tanggung jawabnya beda."
Aku tersenyum miris. "Emang jadi istri cuma pajangan, Ma?"
"Caca!" suara Mama melengking.
"Waktu aku lulus, Mama suruh langsung kerja. Elan malah disuruh istirahat dulu. Aku capek, Ma. Selalu disuruh ngerti. Selalu yang disalahkan."
Mama menangis. Jurus pamungkasnya. Tapi kali ini, air mata itu tidak cukup untuk membuatku merasa bersalah.
"Aku nggak mau nikah cuma karena disuruh. Apalagi sama orang yang bahkan nggak bisa menghargai aku."
"Kamu tuh otaknya gimana sih?!"
Aku angkat bahu. "Rusak. Dari lahir."
Papa akhirnya bicara. Suaranya datar, tapi cukup untuk mengakhiri perang dunia ketiga di ruang tamu.
"Sudah, Caca. Masuk kamar. Papa tahu kamu capek."
Dan seperti biasa, drama dimulai bahkan sebelum aku sempat menyalakan hair dryer.
...*****...
Aku berjalan ke kamar di lantai dua dengan langkah berat.
Begitu pintu terkunci, aku membiarkan air mata jatuh.
Diam. Pelan.
Tidak histeris seperti di film.
Hanya tangisan yang hening-yang rasanya justru lebih menyakitkan.
Bajuku basah. Rambutku lepek.
Tapi Mama bahkan tidak peduli.
Yang penting baginya adalah reputasi. Adat. Kata orang.
Hari ini aku ingin menyerah.
Bukan cuma pada pertunangan, tapi pada cinta itu sendiri.
Mungkin aku memang tidak diciptakan untuk kisah bahagia.
Mungkin takdirku adalah kerja, menabung, dan nanti-adopsi sepuluh kucing yang setia, tidak selingkuh, dan tidak menyuruhku berhenti kerja.
Hari ini, aku lelah jadi perempuan tangguh.
Aku cuma ingin jadi manusia biasa-yang boleh lelah, yang boleh rapuh, tanpa harus terus pura-pura kuat.
...*****...
Hujan berhenti. Tapi langit masih murung.
Aku berdiri di depan jendela, memandangi sisa-sisa air hujan yang menetes di kaca. Lampu jalan memantul samar di genangan depan rumah. Pohon trembesi bergoyang pelan, seolah ikut mengelus batinku.
Perutku mulai lapar. Tapi membayangkan harus makan malam sambil menatap wajah Mama?
Tidak. Terlalu berisiko untuk kestabilan mental.
Jadi, aku ambil jaket, selembar uang biru, dan niat kabur.
Bukan ke Bali, bukan ke gunung.
Cuma ke tempat paling ramah di dunia: angkringan.
Tempat di mana nasi kucing bisa menyelamatkan martabat yang hancur.
Tanganku sudah di gagang pintu saat suara Mama terdengar.
"Ca, mau ke mana?"
Aku tidak menjawab.
Karena kalau aku buka mulut sekarang, aku tahu air mata yang tadi kutahan akan kembali pecah.
"Sudahlah, Ma," suara Papa menyusul, lembut tapi tegas.
"Mungkin Caca cuma butuh waktu sendiri."
Aku menarik napas dalam-dalam. Tidak menoleh.
Tapi kalimat Papa itu terasa seperti selimut tipis di malam paling dingin.
Ya.
Mungkin aku memang keras kepala.
Tapi itu karena tidak ada yang pernah benar-benar membelaku.
Aku buka pintu pelan, dan melangkah keluar ke malam yang sunyi.
Dingin menyambutku, tapi entah kenapa... rasanya justru lebih hangat daripada rumah ini.
Aku tidak tahu ke mana langkah kakiku akan berhenti malam ini.
Tapi satu hal pasti, setiap keputusan besar selalu dimulai dari pelarian kecil.
Dan mungkin, pelarianku malam ini akan mempertemukanku dengan sesuatu hal yang selama ini tidak pernah aku kira.