Kemuning seorang gadis kecil murid sekolah dasar di desa yang cukup makmur. Dia diasuh oleh kakek dan neneknya.
sehari-hari dia sering dibully oleh teman-temannya di sekolah karena lahir tanpa ayah dan ibunya adalah bekerja sebagai TKW di Korea Selatan.
Ibunya pulang dalam keadaan hamil tanpa suami. Setelah melahirkan beberapa bulan kemudian ibunya kembali bekerja di Korea dan sejak saat itu Kemuning tumbuh besar dalam pengasuhan kakek dan neneknya.
Bagaimana Kemuning menghadapi bullian dari teman-temannya? Bagaimana nasib Kemuning di masa depan dengan labelnya sebagai anak Haram?
ikuti keseruan kisahnya hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Soehardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Kemuning
Pagi datang seperti biasa, dari jendela matahari seolah tersenyum bangga menyajikan pemandangan indah dengan pantulan cahayanya di ufuk timur.
Embun pagi yang bertengger di tanaman perdu siap mengubah wujudnya menjadi uap yang membumbung tinggi menjadi awan putih seolah sekelompok panu di kulit yang bersih. Biru langit diselingi putihnya awan terpecah tersebar di langit yang luas tak bertepi.
Kemuning gadis bertubuh kecil bermata sipit dengan kulit yang putih bersih melangkahkan kakinya di jalan setapak yang dibuat kakeknya menuju jalan utama yang mengarah ke sekolah dasar di desa itu.
Wajahnya cantik dan pakaiannya pun bersih juga peralatan sekolahnya cukup layak. Dia bukan anak yang hidup kekurangan. Namun ada satu yang membuatnya lebih suka menyendiri. Dia sering di-bully oleh teman-temannya.
Orang-orang nyaris lupa dia memiliki nama yang indah semua orang mengenalnya sebagai anak jadah.
“Eh anak jadah sudah datang. Percuma kulit putih, wajah cantik tapi anak jadah… dih pakai jam tangan baru lagi. Norak amat jam begituan dipamerin.” Nyinyir teman nya yang melirik sinis pada jam tangan barunya.
“Sirik tanda tak mampu. Bilang aja pengen punya jam tangan yang lagi ngetrend kayak yang dipakai anak-anak sekolah di Korea. Tapi sayang barang ini bukan kelasnya orang miskin.” Balas nya
Anak gembul dengan rambut dikucir dua wajahnya memerah, tangannya mengepal bergumam marah “awas kau berani membantah kuadukan pada kakakku..”
“Aduh takutnya aku dengan kakak laki-lakimu yang giginya mirip dengan gigi kelinciku.” Tantang kemuning dengan sikap di lebih-lebihkan seolah takut beneran.
Bel berbunyi membuat dua anak yang berdebat itu menghentikan perdebatan mereka.
Pelajaran demi pelajaran telah mereka lalui hingga bel tanda usai proses belajar mengajar selesai.
Kemuning seperti biasa pulang dengan berjalan kaki sambil memandangi hamparan sawah di hadapannya kedua tangannya memegang cangklongan tas ranselnya yang modelnya tidak ada satupun yang menyamainya. Semua dikirim oleh ibunya dari luar negeri. Tempat ibunya mengais rezeki.
Kehidupan keluarganya makmur, rumah yang dulunya reyot berubah menjadi rumah minimalis yang nyaman. Kakeknya yang dulu buruh tani sekarang memiliki sawah sendiri untuk digarapnya.
Pohon jambu biji merah yang ada dipinggir jalan berbuah lebat dan ranum. Kemuning memetik buahnya satu dan menggigitnya. Dia mengunyah jambu yang manis itu sambil berjalan pulang. Ditengah jalan sosok yang amat dikenalnya sekaligus amat dibencinya menghentikan jalannya.
“Hei anak jadah…kau apakan adikku. Berani-beraninya kau membuat adikku menangis.” Bentak anak laki-laki berkulit hitam bergigi tongos yang berdiri dihadapannya dengan berkacak pinggang.
“Hai gigi kelinci… aku tidak menyentuh adikmu sama sekali. Adikmu saja yang cengeng. Ngatain orang seenaknya giliran dibalas ngadu sambil nangis-nangis.” Ketus Kemuning.
“Kau memang pantas dikata-katain tapi tidak pantas membalas,” ujarnya.
“O ya….kata siapa. Ga peduli siapa kamu atau keluargamu kalau kalian menyakiti orang lain ya orang lain punya hak untuk membalas lah enak aja ga mau dibalas.” Jawab gadis berambut lurus berkucir satu itu.
“Cuma kamu yang tidak pantas membalas bodoh. Kamu itu cuma anak jadah jangankan membalas masih dibolehin hidup saja masih untung. Tapi sikapnya tidak tahu diri.” Nafas laki-laki gembul bergigi kelinci itu sudah memburu karena emosi.
“Minggir aku mau pulang, aku malas meladeni orang gila' giginya mirip kelinciku lagi. Masih gantengan kelinciku daripada kamu.” Balas kemuning yang sudah malas berdebat kusir dengan musuh bebuyutannya.
“Kurang ajar kamu ya, makin tidak tahu diri saja.” Sepedanya dibanting nya ke tanah dan tinjunya melayang kearah Kemuning.
Kemuning memiringkan badannya dan menangkap lengan Fahri dan memelintirnya ke belakang lalu didorong nya laki-laki kecil itu ke parit di pinggir sawah. Dia berteriak sambil menangis, tapi Kemuning tidak menghiraukannya dan meneruskan langkahnya pulang ke rumah.
"Assalamualaikum, nek Kemuning sudah pulang." teriaknya dari halaman rumahnya. Anak itu celingak celinguk mencari neneknya. Pintu depan terbuka tapi tidak ada nenek.
"Nek.... Nenek dimana.... Nek." Kemuning masuk ke dalam rumah. Dilepasnya sepatu dan kaos kakinya lalu tas nya ditaruhnya di kursi yang ada didekatnya.
Kemuning menuju kebun dibelakang rumah, tampak neneknya sedang berusaha memetik pepaya yang sudah masak di pohonnya.
"Nek kirain nenek kemana," kata Kemuning sambil tangannya bersedekap menunggu neneknya selesai memetik buah pepaya.
"Kau sudah pulang nak, ini ada pepaya yang kulitnya sudah berwarna merah. Kalau tidak buru-buru dipetik nanti dimakan kelelawar." kata nenek.
Pepaya yang sudah masak dengan sempurna itu sekarang sudah ditangan nenek. Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Nenek meletakkan pepaya itu di pantry. Dapur yang paling modern di desa itu walaupun tetap menggunakan kayu bakar tapi rumah pak Mardi kakek Kemuning sudah direnovasi dengan apik dan dapurnya model outdoor dengan kompor dibuat dari bata yang yang disampingnya bisa dipakai untuk membakar sate. Lalu di sisi lain ada oven dengan model cerobong seperti didapur Korea dengan tetap menggunakan kayu bakar.
"Kamu pasti sudah lapar nenek sudah masak ayo ganti baju dan cuci tangan dulu lalu makan sama nenek ya." perintah nenek.
"Iya nek.....," jawab kemuning sambil berlalu dari hadapan neneknya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, tangan dan kakinya dengan menggunakan sabun.
Nenek mengeringkan muka cucunya dengan menggunakan handuk lalu menyuruh cucunya duduk dan makan. Nenek sudah mengambilkan sepiring nasi dengan lauk ayam goreng dan disebelahnya ada mangkuk berisi sup wortel dengan kentang.
Belum selesai makan seseorang memanggilnya. Kemuning sudah hapal dengan suaranya. Itu pasti Fajar anak bi Inah si janda miskin yang rumahnya tidak jauh dari rumah Kemuning.
"Itu pasti Fajar nek, dia ngajak Kemuning main." kata Kemuning.
Nenek bangkit dari tempat duduknya walau masih belum selesai makan nenek menemui Fajar dan menyuruhnya masuk.
"Fajar masuk dulu le, Kemuning masih makan. Kamu sudah makan le?" tanya nenek.
"Sudah nek, Fajar sudah makan di rumah." jawabnya.
"Ya sudah duduk dulu ya biar Kemuning selesaikan makan siangnya dulu." kata Nenek.
Selesai makan siang Fajar dan Kemuning bermain sepeda bersama.
"Jar kita ke pematang sawah yuk." ajak Kemuning.
"Tidak ah kita ke hutan saja ya mumpung daun pakis masih baru tumbuh." tolak Fajar.
Kemuning melihat Fajar membawa keranjang, dia mengerti kalau dia harus membantu ibunya mencari daun-daunan yang bisa dimakan oleh keluarganya.
"Baiklah ayo kita kesana," jawab Kemuning.
Didesa itu masih ada hutan kecil yang belum dihuni oleh penduduk. Sebagian sudah dibuka untuk persawahan. Kedua sahabat itu mengayuh sepeda menuju hutan dimana banyak sumber makanan yang bisa memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari.
Kemuning dan Fajar memetik daun-daun pakis yang masih muda.
Kemuning memiliki handphone yang dibelikan ibunya sebagai alat komunikasi antara ibu dan anak. Kemuning memvideokan kegiatannya sehari-hari untuk dikirimkan kepada ibunya. Dia juga memiliki sosmed biru dan mengupload kesehariannya didesa itu.
Aku rasa sudah cukup banyak daun pakis yang kita dapat hari ini. Ayo kita pulang kemuning.
"Tunggu kita belum mencari buah sukun Jar, pasti enak dirumah makan sukun goreng." kata Kemuning.
"Baiklah ayo kita kesana." jawab Fajar. Mereka sudah hapal dimana pohon buah tumbuh.
Fajar memetik sukun yang sudah tua satu untuk Kemuning dan satu untuk ibunya.
"Eh jar itu ada buah berwarna kuning, coba lihat." Kata Kemuning sambil menunjuk kearah buah itu. Fajar mendekat dan berteriak kegirangan.
"Ning ini buah nanas, lihatlah kesini." panggil Fajar.
Kemuning mendekat, o iya benar Jar. Buah nanasnya sudah matang. Apa kau bisa memetiknya?" tanya Kemuning.
Fajar mendekati buah nanas itu dan mencoba mematahkan batang yang menyangga buah itu. Akhirnya berhasil. Fajar menunjukkan hasil petikannya pada Kemuning.
"Ayo kita pulang Jar ibumu pasti suka diberi oleh-oleh buah nanas ini." kata Kemuning, dia tidak lupa memvideokan saat Fajar berusaha memetik buah itu.
Mereka berdua pulang dengan membawa sayur dan buah yang dicarinya dihutan didesa itu.