Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bus Lasem
Namaku Aro, tiga huruf saja. Saat ini aku tengah berdiri menunggu bis di pinggir pantura yang akan mengantarku ke Bogor, rumah. Baru saja aku bercakap-cakap dengan salah satu Crew di tempat membeli tiket. Orang itu bilang busnya akan datang dalam kurun waktu beberapa menit ke depan, mungkin tiga puluh menitan. Jujur aku sudah tidak sabar menunggunya, seakan tubuhku mulai merasa bergetar seperti di dalam bus ketika berjalan.
Hampir lupa, aku adalah santri. Umurku genap 16 tahun. Libur panjang telah tiba, dan hari ini aku akan pulang ke kampung halaman. Berbeda dengan perantau lainnya, balik kampung ku lebih cepat satu setengah bulan.
Setelah sepuluh bulan menyimpan berbagai peluh rasa penat dan depresi –Karena yang kurasakan hanya tekanan, Akhirnya di detik ini juga, aku seakan bebas menindaki hidup apapun yang kumau, yang pastinya aku pulang terlebih dahulu. Memuncaknya rindulah yang sebenarnya membuat hari-hariku terasa berat.
Seperti yang kalian duga, kebebasan selalu di latar belakangi kepayahan. Sepanjang satu bulan kemarin tiada namanya waktu untuk bersantai. Pokoknya full push hafalan, bersama urusan sekretariat yang membuatku setiap hari mondar-mandir pondok-perpus, setoran Inilah, test itulah. Semuanya membabi buta sebelum ujian akhir semester. Adapun ujiannya akan terasa santai karena aku hanya dimaksimalkan untuk belajar.
Oleh karena itulah, mengapa santri sepertiku juga semangat ketika liburan. Sama seperti orang umum, hidup kami sama memiliki beban. Sekarang, liburan sudah kutemui. Hanya seperti apa caraku mengolahnya menjadi hidangan, dan bagaimana aku menghabiskannya.
Tapi tidak di sangka liburan tahun ini realitanya akan lebih berat daripada kegiatan aktif pondok. Bayangkan, aku akan diputar paksa keadaan supaya memulai hidup yang baru. Menjadi petarung untuk mempertahankan keutuhan dunia ini.
***
Pukul 15:00, tepatnya ketika adzan ashar berkumandang. Bus masih belum datang. Aku sudah terbiasa dengan bis telat seperti ini di tahun-tahun sebelumnya. Kuputuskan untuk sholat ashar terlebih dahulu. Kebetulan. ada masjid tidak jauh dari tempat loketku berada. Mungkin masih ada beberapa menit yang dapat kugunakan untuk sholat dan sekaligus membeli cemilan.
Aku kembali ke loket, hanya untuk meminta izin sholat dan menitipkan tas. Bapak di sana membalas ramah, berkata dengan tenang jika masih banyak waktu sebelum bis datang. Aku lega mendengarnya. Aku pergi berjalan kaki, mengenakan jaket hitam dan sarung batik dengan kombinasi putbaruhih-cokelat pada setiap corak garisnya. Tas yang kubawa saat ini hanya berupa tas selempang, isinya terdapat hand phone, power bank, dan sejumlah uang uang recehan. Tas itu kutempatkan menutupi dada. Adapun dompet kuselipkan di dalam lempitan sarung di pinggang. Posisi ini lebih aman.
Dalam hitungan menit aku tiba di masjid, tampak sinar sore telah menembus hingga pelataran masjid melalui pilar-pilar besarnya. Banyak orang mulai berkeluaran usai jama’ah ‘ashar. Mataku sempat terpaku pada tiga orang yang duduk di teras depan, bersama beberapa barang seperti tas besar dan kardus. Mungkin mereka juga sama sedang menunggu bis sepertiku. Aku melewatinya sebelum masuk ke dalam masjid, ternyata dua laki-laki satu perempuan. Semuanya sibuk dengan ponsel masing-masing, itu saja. Atau pikiranku bisa lebih buruk jika terus memperhatikan mereka.
Sepi. Dalam masjid selalu terasa sejuk walau tidak terlihat kipas di manapun. Suasana Inilah yang membuatku nyaman berlama-lama di masjid daripada di kamar ketika di pondok. Sebab tempat suci seperti ini di bangun untuk ibadah yang istimewa dan beretika.
Aku harus segera sholat.
“Usholli….”
***
“dua ratus rupiahnya donasi ya, kak. Validasi belanjanya bisa di periksa di aplikasi”
Aku melirik ponselku, di detik itu juga ponselku bergetar membunyikan notif. Di zaman ini teknologi sangat membantu manusia dalam banyak aspek. Mulai dari aktivitas sosial, ke rja, cara belajar di sekolah, hingga amal tabarruk pun menjadi mudah dilakukan. Salah satu perkembangan yang begitu mengesankan adalah teknologi ponsel pintar. Benda tipis itu telah mewakili banyak keperluan kehidupan dalam aspek-aspek tersebut. Aku baru saja melakukan transaksi belanja menggunakan ponsel milikku.
Sekali lagi ponselku bergetar. Aku masih belum memalingkan pandangan meski sudah berjalan ke luar toko. Ada notif dari aplikasi tiket yang memberi tahu kepastian datangnya bis. Biasanya ketika sudah mendapat notif seperti ini bis sudah berada puluhan meter dari lokasi. ‘13 menit’ kurang lebih. Aku mempercepat langkahku di trotoar. Matahari semakin menurun. Kini tepat setengah empat di jam tangan digital. Itu berarti setengah jam setelah waktu meminta izinku barusan. Mungkin aku sudah di pertanyakan oleh bapak-bapak di loket sana. Aku harus bergegas.
Saat sampai di tempat pemberhentian bus, alias loket bis. Di sana sudah ramai orang-orang berdiri di samping jalan pantura, berbincang-bincang satu sama lain dengan barang bawaan di bawahnya. Mataku terhenti ketika melihat pak penjaga loket –termasuk kru bis perjalananku, yang berbalik melotot ke arahku.
“dari mana saja kau”. Bapak-bapak itu sedikit mengomel. Benar dugaanku, demikian aku hanya bisa membalas senyum menyeringai.
“sangat repot sekali jika ada penumpang yang tertinggal. Kau tau tidak?”. Bapak-bapak itu berkata lagi, muka ramahnya hilang sejak tadi.
“iya maaf pak”. Balasku menganganggut.
Selesai di sana. Aku cekatan meraih tas besarku diatas meja loket tersebut. Membiarkan bapak-bapak barusan menemui temannya, kembali menggerutu tentangku. Aku berjalan menuju kerumunan orang menunggu bis. Banyak diantara mereka juga santri seprtiku. Hanya saja usianya lebih senior, mungkin sekelas pengurus. Aku menyadari itu karena jarang sekali santri yang mau melakukan perjalanan jauh dua belas jam sendirian. Bukan karena takut, rata-rata temanku yang satu kota atau propinsi lebih memilih ikut rombongan yang telah disediakan pondok. Alasan mereka juga sama, biar perjalanan lebih menyenangkan jika terus bersama teman dari pondok.
Beda dengan di riku yang suka mencari pengalaman baru, mencoba rute-rute kota yang berbeda. Itulah alasannya mengapa aku memilih perjalanan sendirian di sbanding bersama rombongan. Lumayan sekalian jalan-jalan. Selain itu terkadang pengalaman bisa datang dari orang tidak di kenal yang duduk satu kursi di sampingku. Banyak orang menarik yang kutemui ketika berkali-kali melakukan perjalanan ini.
Bis datang. Suara mendesing lantas terdengar dan memecah ke riuhan sejenak. Sebuah bis besar pengangkut puluhan orang terpakir anggun di pinggir jalan. Warna livery ini bertema gelap, merah, hitam, coklat dalam kombinasinya. Tapi tidak tampak sepi karena light strobe siap menerangi body bis dengan cahaya indah berwarnya ketika malam hari.
Sejenak orang-orang menyimaknya. Satu-dua mulai kembali mengobrol. Pintu livery terbuka, suara mendesing bercampur uap terdengar. Salah satu kru bis ke luar dari sana. Seragamnya sama dengan penjaga loket yang mengomel sebelumnya. Pria itu datang menuju loket tersebut. Dua kru bis lain juga turun untuk membuka bagasi dan mengurus barang bawaan penumpang.
Ponselku begetar. Ada notif di layar kunci.
‘nomor urut anda adalah 8’ itu isinya.
Salah satu dari dua kru barusan berteriak memanggil nama seseorang. Mulai dari nomor urut pertama, tampak seorang pria paruh baya masuk ke dalam bis, di susul dua sampai lima penumpang yang ternyata keluarga dari pria tersebut. Mereka bergantian menyerahkan barang yang nantinya di masukan ke dalam bagasi besar di perut bis.
Beberapa detik berlalu. Nomor enam dan tujuh berurutan naik, kemudian nomor urutku. Aku terlebih dulu maju tanpa menunggu kru bis berteriak menyebut namaku. Pria tersebut berseru tertahan.
”kau Aro?”. Orang itu bertanya memastikan sambil mengangkat tablet.
“yas”. Jawabku singkat.
Aku mulai naik. Ponselku bergetar sejenak saat masuk ke dalam. Lanjut menaiki tangga, suara ‘tung’ kemudian terdengar lembut. Suara tersebut menunjukkan tempat dudukku. Aku menoleh, tepat di baris ke tiga, di kursi yang hanya di isi dua penumpang. Cahaya oren berkedip menunjukkan angka delapan di punggung bangku.
Aku telah duduk. Bagian dalam bis terlihat futuristic walau ke lasnya masih ekonomi. Dalam kabin di berikan warna putih sebagai warna utama. Hanya selimut dan bantal saja yang berwarna biru.
Suara ‘tung’ terdengar lagi dari sampingku, lantas menyalakan angka sembilan dengan cahaya lembut di tempat sandaran. Orang bangku di sampingku telah masuk ke dalam bis dan membuat aktif sensor dari pintu. Aku penasaran siapa yang akan menemaniku kali ini. Semoga saja orang yang ramah diajak bicara.
Suara sepatu mengetuk alas kabin. Aku sedikit menoleh.
Yang benar saja! Kata-kata itu hampir terlepas. Seorang gadis sedang menaiki tangga di sana, tubuhku bergidik sekejap mengetahuinya.