Author update hari, SELASA dan KAMIS
Reyna Maureen Alexandria seorang gadis dingin tak tersentuh. dia juga seorang ketua Geng motor Black Rose.
Reyhan Saputra Smith adalah ketua OSIS sekaligus kapten basket disekolah TUNAS BANGSA. Reyhan adalah cowok dingin dan cuek dia terkenal di sekolah Tunas bangsa disebut Ketos kutub karena sifatnya yang dingin sama orang lain.
Reyhan juga adalah siswa paling pintar disekola Tunas bangsa. Setelah kedatangan siswi baru yang bernama Reyna, Reyhan menjadi pribadi banyak bicara.
Apakah mereka akan tumbuh benih-benih cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 001: Arena Balap Liar
Suara deru motor menggema memecah keheningan malam.
Bruuum... Bruuum...
Semua pasang mata tertuju pada sosok yang baru saja melintas masuk ke arena balap. Dia adalah Queen Racing, legenda jalanan yang identik dengan topeng yang selalu menutupi separuh wajahnya. Tak ada yang tahu rupa aslinya, namun kehebatan mengendarai motornya sudah terukir sebagai hal yang tak terkalahkan.
Semua pembalap sudah bersiap di garis start, mesin motor menderu seolah bersaing kekuatan sebelum perlombaan dimulai. Seorang wanita berjalan ke tengah lintasan, menggenggam selembar kain kecil di tangannya. Dia menatap semua peserta lalu berseru lantang,
"Are You Ready?" Di jawab dengan anggukan mantap dari setiap pembalap.
Wanita itu mulai berhitung.
"One... Two... Three..."
Kain itu jatuh menyentuh tanah. Seketika, puluhan motor sport melesat maju, saling berdesakan dan saling menyalip dengan kecepatan tinggi. Namun, ada satu sosok yang tampak sangat santai, seolah sedang berjalan-jalan santai di jalan raya. Itu dia, sang Queen Racing.
"Katanya Ratu Jalanan, tapi bawa motornya pelan banget, kayak siput saja," cibir salah satu pembalap sambil tersenyum mencemooh. Reyna sang pemilik julukan itu hanya diam, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum sinis yang dingin.
Tak butuh waktu lama, Reyna memutar gas motornya lebih dalam. "Saatnya," gumamnya pelan. Dalam sekejap, motornya melesat menembus angin, dengan mudah melewati orang yang tadi meremehkannya. Penonton bersorak heboh melihat aksinya. Lawannya tak mau kalah dan mencoba mengejar, namun jarak yang terbentuk makin melebar. Saat garis finis mulai terlihat jelas di depan mata, Reyna menambah kecepatan maksimalnya dan melesat sebagai yang pertama kali menyentuh garis penentu kemenangan.
"Queen kita emang yang terbaik!" seru Aldhi, salah satu anak buahnya dengan penuh semangat. Ia kemudian menyenggol bahu Dion, sahabat sekaligus tangan kanan Reyna yang duduk tenang di atas motornya. "Benar kan, Bos?"
"Hem," jawab Dion singkat dan datar.
"Dasar kulkas berjalan," cibir Aldhi lagi, sudah terbiasa dengan sikap dingin Dion.
Sementara itu, Niko lawan Reyna memukul setir motornya dengan kasar karena kekalahannya. "Sialan!"
"Jangan lupa uang taruhannya," ucap Reyna dengan nada datar tanpa ada emosi sama sekali.
"Tenang saja, aku pasti berikan. Aku tak akan ingkari janji," jawab Niko dengan wajah kesal namun tetap hormat.
"Serahkan saja sama mereka. Aku ada urusan," jawab Reyna singkat sambil menunjuk ke arah Dion dan Aldhi.
Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ia harus segera pulang, karena besok adalah hari pertamanya masuk ke sekolah baru. Tanpa menunggu lama, Reyna memacu motornya meninggalkan arena.
"Kebiasaan, habis balapan langsung kabur," ujar Aldhi menatap punggung motor yang menjauh.
"Kamu kan sudah tahu kelakuan anak itu," timpal Rian.
"Yuk cabut," perintah Dion dingin, lalu mereka pun membubarkan diri.
Reyna sampai di kediaman keluarga Alexandria. Ia turun dari motor dan berjalan masuk dengan langkah santai. Namun, baru beberapa langkah kakinya melangkah masuk, sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi halusnya.
Plak!
Reyna tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya menatap datar ke arah ayahnya, Pak Ardan. Bagi gadis itu, rasa sakit fisik sudah bukan hal asing baginya.
"Rey, kamu mau jadi apa sih? Sudah berapa kali kamu pindah sekolah, hah? Di sekolah baru nanti, Ayah tidak mau tahu. Jangan bikin ulah, jangan berkelahi lagi. Kamu itu anak perempuan, bersikaplah selayaknya wanita!" bentak Pak Ardan dengan emosi yang meluap.
Reyna menatap tajam ayahnya, matanya berkilat marah. "Selayaknya wanita seperti apa? Seperti Bunda yang selalu nurut semua kata Ayah? Padahal meski Bunda selalu patuh, Ayah tetap menghianati dia dengan wanita lain itu," balas Reyna tajam, membuat Pak Ardan terdiam seribu bahasa.
"Aku bukan Bunda yang cuma bisa menangis! Bunda pergi meninggalkan aku, semua itu gara-gara perlakuan Ayah!" Reyna langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya, mengabaikan panggilan ayahnya yang masih berteriak marah.
"REYNA! AYAH BELUM SELESAI BICARA! APA KAMU TIDAK DENGAR?!"
Ibu tirinya, Lisa, datang menghampiri sambil menenangkan suaminya. "Sudah, Mas. Jangan marah-marah, nanti darah tingginya kumat. Biarkan Reyna istirahat, kan besok dia harus masuk sekolah," bujuk Lisa lembut.
"Reyna tidak budek. Telingaku masih berfungsi," suara Reyna terdengar dingin dari atas tangga, lalu ia menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
Pak Ardan hanya bisa menghela napas berat, menatap kosong ke arah tangga. "Rey, kenapa kamu berubah, Nak? Kembalilah jadi anak yang manis dan penurut seperti dulu," gumamnya lirih penuh penyesalan.
"Maafkan aku, Mas. Mungkin Reyna belum bisa menerimaku sebagai pengganti mendiang istrimu," ucap Lisa dengan nada sedih.
Di dalam kamarnya yang luas, Reyna duduk di tepi kasur. Tangannya mengusap lembut sebuah foto berbingkai, foto ibunya yang sudah meninggal dunia. Pandangannya berkabut, dan setetes air mata jatuh membasahi pipi yang tadi ditampar ayahnya.
"Bunda... kenapa Bunda pergi ninggalin Reyna begitu cepat?" bisiknya parau. Ia membaringkan tubuhnya, memeluk erat foto itu sampai akhirnya rasa kantuk menguasai dirinya.
Keesokan paginya, sinar matahari sudah masuk lewat celah jendela, namun Reyna masih terlelap dalam tidur panjangnya. Ketukan pintu berkali-kali tak membuatnya bergerak sedikit pun. Pintu pun dibuka perlahan, dan Pak Ardan masuk ke dalam kamar putrinya. Ia berjalan mendekat, lalu melihat jelas kedua mata Reyna yang terlihat bengkak semalam. Hatinya terasa perih. Ia duduk di sisi ranjang, menatap wajah putrinya lekat-lekat.
"Maafkan Ayah, Sayang... Kalau Ayah sudah menyakiti hatimu," ucapnya pelan, penuh rasa sesal yang mendalam.
bedahxbeda
kepalahxkepala
bedah, melongoh.,
wlpun reader tau mksudny tp kurang enk aja d bacanya.