NovelToon NovelToon
Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Tamat
Popularitas:5.5M
Nilai: 5
Nama Author: Sept

Selamat datang di karyaku yang ke-18

Tidak sengaja membuat nyawa seorang pria melayang, Winda harus menanggung akibatnya. Memiliki ibu yang mengalami ganguan mental, membuat Winda berani melakukan apa saja, tak kecuali menjadi kekasih bayaran seorang pria yang tiba-tiba muncul merubah segalanya.

Follow IG: Sept_September2020
Ikuti IG Sept dan banyak Give Away setiap bulan menanti pembaca setia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Pertama

Kekasih Bayaran Bagian 1

Oleh Sept

Selamat membaca karya ke-18 Sept. Agar kalian tidak bingung dengan alur ceritanya, disarankan untuk membaca "CRAZY RICH" terlebih dahulu. Karena cerita "Kekasih Bayaran" ini adalah kelanjutan dari kisah anak-anak dalam cerita "Crazy Rich"

Untuk mencari cerita tersebut, kalian bisa klik profile Sept atau ketik SEPT di kolom pencarian, pasti semua yang pernah aku tulis muncul di sana. Oke bestie.

Semoga terhibur ....

***

"Hasil rekapan data dengan Salim Group apa sudah selesai?"

Seorang wanita dengan pakaian modis dan fashionable sibuk dengan tablet di tangannya. Sembari jarinya mengeser layar touchscreen, matanya yang lentik sesekali melirik gadis yang berdiri di sampingnya sejak tadi.

"Sudah, Bu. Sudah saya email beberapa waktu yang lalu. Tinggal Ibu periksa," jawab wanita muda yang merupakan sekretaris pribadinya tersebut. Ia juga tidak kalah rapi dengan sang atasan. Kemeja kantoran dengan rok di atas lutut seperti penampilan wanita kantoran pada umumnya.

"Lalu bagaimana dengan masalah project kita yang katanya macet itu? Apa para pekerja lepas masih melakukan aksi mogok kerja?" tanya wanita yang memiliki nama Fenita tersebut. Ia meletakkan tab lalu fokus menatap sekretarisnya.

"Semua masalah sudah clear, Bu. Sudah berhasil di handle. Beberapa hari lagi project juga akan segera dilanjutkan," jawab sang sekretaris dengan wajah penuh keyakinan.

"Baiklah! Kamu boleh pergi sekarang."

"Baik, Bu. Permisi!" pamit sang sekretaris.

Wanita muda dan masih fresh itu pun kemudian berbalik, siap meninggalkan ruangan Fenita. Boss yang selama ini sudah bekerja dengannya satu tahun terakhir.

Winda Novilda Barbara, 24 tahun. Seorang sekretaris di sebuah perusahaan raksasa yang terpusat di ibu kota. Setelah keluar dari ruang kerja sang atasan, Winda kemudian bersandar di dinding, ia sedikit membungkuk dan memukul betisnya yang terasa kaku karena kram otot. Berdiri lama dengan high heel cukup membuat kakinya sakit. Tapi sejak tadi ia mencoba untuk tetap menahan dan bertahan.

Winda kemudian menatap ke sebelahnya, dia melihat pintu yang ia tutup beberapa saat lalu. Kemudian menghela napas panjang, kemudian kembali berdiri tegap lagi.

"Semangat Winda!" ucapnya lirih, mencoba memberi semangat pada diri sendiri. Ia pun beranjak dan pergi ke tempatnya selama ini mengerjakan banyak laporan.

Saat akan tiba di bilik tempatnya bekerja, ponsel wanita muda berambut panjang itu berdering. Membuat Winda berhenti untuk mengangkat telpon sejenak.

Dilihatnya nomor tidak dikenal, ingin ia abaikan, tapi tiba-tiba merasa harus mengangkat telpon itu. Akhirnya, Winda pun mengeser logo hijau.

"Hallo, selamat siang, dengan Winda di sini," sapa Winda di telpon.

"Haloo ... Mbak Winda? Ini Maria, Mbak Mar tetangga kontrakan. Ibu Mbak Winda ngamuk-ngamuk sekarang. Dia merusak semua barang-barang di dalam rumah bu RT."

Winda menahan napas panjang, ia mengusap wajah, kemudian memegangi dahi. Sepertinya ini bukan yang pertama ia mendapat kabar serupa. Tiba-tiba kepalanya tambah pusing. Masalah kantor masih banyak, ditambah ibunya yang saat ini sedang kambuh.

Ya, Winda selama ini tinggal dengan ibunya, hanya berdua saja. Ayahnya sudah menelantaran ibunya tanpa tunjangan apapun saat ia lulus SMA. Sang ayah sudah kepincut perempuan lain, yang bahkan usianya tidak jauh beda dengan Winda. Dan hal itu membuat ibunya depresi berat. Sering sekali mood sang ibu berubah, kadang tenang, kadang juga mengerikan kalau sedang kambuh, seperti sekarang ini.

"Mbak, Mar. Saya bisa minta tolong? Tolong bawa ibu saya kembali ke rumah. Satu jam lagi saya pulang."

"Iya, bisa. Tapi jangan lama-lama ya Mbak. Saya takut. Soalnya ibunya kalau marah suka melempar apa saja. Saya takut."

"Baik. Terima kasih, saya segera pulang."

"Saya tunggu jangan lama-lama."

Winda pun mematikan ponselnya, ia berbalik dan buru-buru ke ruangan sang atasan, sepertinya ia harus ijin sama Bu Fenita.

Tok tok tok

Ia ketuk pintu ruangan. Tapi tidak direspon. Sekali dua kali tidak ada tangapan. Padahal ia sudah ditunggu di rumahnya. Dengan cemas Winda mengetuk pintu. Karena tidak kunjung dijawab, Winda langsung saja memutar knop pintu. Dengan hati-hati ia masuk agar sang atasan tidak marah.

KLEK

"Astaga!" pekik Winda kaget. Gadis itu kemudian spontan berbalik. Ia memalingkan muka. Panik ketika harus melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat.

"Maaf ... Maaf Bu Feny."

Fenita mendesis jengkel, kemudian merapikan rambutnya. Ia pun meminta pria yang bersama dirinya untuk keluar.

"Keluarlah!" ucapnya lembut penuh kode alam.

Tanpa protes, sosok tersebut kemudian merapikan kemeja dan meraih laporan yang tadi ia bawa di atas meja, meja yang sama, tempat tadi ia hampir menciumm Feny. Sayang gagal karena keburu Winda datang. Padahal Feny menunggu moment tersebut.

Kini, ketikan pria itu berjalan meninggalkan ruangan, matanya sempat bertemu dengan manik mata Winda. Keduanya saling menatap meskipun hanya sekilas.

KLEK

Pria itu menutup pintu dan merapikan bajunya lagi. Agar tidak kelihatan kusut. Sambil bersiul, ia berjalan menyusuri lorong. Ketika ia berpapasan dengan beberapa pegawai, semuanya hampir tidak menatap dirinya. Pria itu tersenyum tipis, kemudian berjalan masuk ke bilik ruang kerjanya.

"Kav, gimana? Dapat tanda tangan bu Feny yang jutek itu?" tanya rekan kerja Kavi yang duduk di sebelahnya, mereka hanya terpisah bilik triplek putih. Terlihat sekali dia sangat kepo.

Dengan bangga, Kavi menunjukkan hasil kerjanya. Baginya sangat mudah. Satu kedipan, atasannya pasti akan terhipnotis. Apalagi ia tadi sempat merayu Fenita, jika ingat betapa wajah Fenita yang begitu menginginkan dirinya, Kavi hanya bisa tersenyum kecut. Orang pertama yang akan ia pecat di perusahaan Tourshine Groups, mungkin adalah Fenita.

Ya, Kavi adalah putra ke empat Gadhi dan Hanum. Kavi Arkana Mahindra, 24 tahun. Kini ia bekerja di perusahaan sang papa sebagai karyawan biasa. Kavi memang harus menjalani proses training agar lolos dari ujian yang kakaknya berikan. Arjuna sangat kejam, pria itu membuat Kavi harus menyembunyikan status selama beberapa bulan ini.

Semua tidak tahu bahwa Kavi adalah anak pemilik perusahaan. Yang mereka tahu Kavi hanya pegawai biasa yang baru bergabung di perusahaan Tourshine Groups.

"Gilaa, keren banget. Ada drama kaga? Dia kan kalau ada yang setor laporan yang tidak sesuai ... pasti main lempar!" tukas teman Kavi yang bernama Gilang tersebut.

Kavi hanya menyunggingkan senyuman penuh makna.

'Bibir perawan gue hampir aja jadi korban perawan tua itu. Untung saja ada cewek yang masuk tiba-tiba. Selamet deh gue!' jawab Kavi dalam hati.

"Lah malah melamun? Ceritanya bagaimana kok bisa mudah banget?" Gilang masih penasaran.

"Anggep aja karena gue ganteng!" cetus Kavi.

BUGH

Lengannya langsung ditonyor Gilang. Dan Kavi hanya melempar senyum lepas. Ya setidaknya hanya Gilang yang mau bicara dan menganggap dia ada.

'Kalau Gue udah duduk di kursi Presdir. Lo orang pertama yang gue naikin gaji!' janji Kavi dalam hati.

***

Di ruangan Fenita

Wanita itu menatap kesal pada Winda.

"Kamu pikir ini perusahaan kakekmu? Bisa ijin pergi begitu saja?"

"Maaf, Bu. Tapi nanti saya langsung kembali."

Fenita yang kesal karena kejadian tadi, ia melampiaskan semuanya pada Winda sekarang.

"Baik, kamu boleh pergi sekarang. Sekalian bawa semua barang-barangmu!"

DEG

Bersambung.

Winda akan dipecat gara-gara ijin mau keluar saat jam kerja atau karena mengetahui affair Feny dengan karyawan lain? Jawab di kolom komentar ya bestie. Jangan lupa like.

IG Sept_September2020

Fb Sept September

1
Arida Susida
Luar biasa
Yuningsih Nining
suamiku tergoda pelakor
coba ketik/nyari di sini knp gaada thor?
Yuningsih Nining
mo baca judul yng ini di sini koq susah gaada?
Yuningsih Nining
semangat lanjut thor
eee thor mo baca *seruni dendam istri pertama nya knp gak bs di buka ya, di pencarian jg kayk gaada,? mksih info
Yuningsih Nining
bilang jg semua 500 jt dl yng dr mm mu buat bantu Winda ,
Yuningsih Nining
jujur apa ada nya sm mama nya kavi , toch udah telanjur semua barang Winda kebongkar mma mu
bilang klo Winda jd pembokat di rmh mu jg buat duit yng km minta dl ke mm mu
Andriyati
is sok arogan padahal yg bayar gaji nya kan kantor, bukan kamu,, sok berkuasa sekali anda bu
Nurmiati Aruan
kamu sih bi... disayang malah ngelunjak...
Nurmiati Aruan
ahh... Winda juga terlalu....
Nurmiati Aruan
si ayah tuh yang telpon...
Memyr 67
𝗻𝗴𝗴𝗮𝗸 𝗷𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗯𝗮𝗻𝗴𝗲𝗱 𝘄𝗶𝗻𝗱𝗮
Memyr 67
𝗺𝗮𝘁𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗮𝘄𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗱𝗲𝗸 𝘁𝗲𝗿𝗻𝗼𝗱𝗮
Memyr 67
keseeel jengkeeeel. hanum si pembuat kacau masih othor kasih kesempatan hidup lagi. jengkeeel bener bener jengkeeeel.
Memyr 67
aq berharap hanum yg nggak tau diri nggak sadar diri mati aja. lenyap dari novel ini. tukang bikin kacau.
Memyr 67
ghadi lantaran kwturunan kaya aja, sok kuasa. disetir istri sebego hanum kok diem aja. yg begok banyak bener di sini ya?
Memyr 67
tu kan? othor ratu tega. winda nggak punya salah apa apa ke kavi dan keluarganya, dah mau dikuliti aja.
Memyr 67
tega bener othor ma kavi. kavi yg baik, berjiwa sosial tinggi, disiksa habis babisan, dibuat sial tanpa henti. sedang arjun yg seenaknya memperbudak olivia diberi enak. menikmati malam pertama dengan olivia. sungguh othor terlalu.
Memyr 67
semua kekacauan, karena mamah hanum. bisanya bikin kacau, dan suami begoknya yg membereskan kekacauan yg dibuat hanum. ghadi bucin ke hanum, dah buta mata buta hati, istri tukang bikin kacau nggak pernah "dididik"
Memyr 67
nggak tau ngurus anak hanum, cuma tau mendoktrin anak, itu namanya tidak mendidik. salahkan diri sendiri atas keadaan anak anak tersayang sekarang. ibu ibu egois nggak ada lawan.
Memyr 67
dah tau dari masih kecil, arjun pemaksa. tapi malah menjatuhkan cinta ke pria model arjun, olivia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!