"Tugasmu mengambil hati anakku, bukan hatiku."
Aqeel Hafshan, seorang Mafia yang menjadi incaran para penjahat di dunia kriminal. Demi melindungi istrinya, Aqeel merahasiakan keberadaan istrinya dan menyembunyikannya di negeri asal sang istri, Indonesia.
Aqeel tidak mau memiliki anak dari siapapun, termasuk dari Maura, istrinya. Saat Maura hamil, Aqeel menyuruh istrinya menggugurkan anaknya. Karena mendapati penolakan dari sang istri, Aqeel yang kesal memutuskan untuk tidak pernah melihat wajah sang anak, sampai sang anak berusia 5 tahun.
Maura hilang secara misterius dan dikabarkan terbunuh. Setelah terpuruk selama dua tahun Aqeel memutuskan untuk menjadi Daddy yang baik untuk Aqilah, putrinya yang sudah dia telantarkan selama tujuh tahun karena benci dengan kehadiran seorang anak.
Karena Aqilah kecil kesepian, Aqeel ingin mencarikannya seorang Ibu. Hanya seorang Ibu untuk Aqilah, tanpa Aqeel nikahi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olla304, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Kamu begitu membenci anak ini?" Semenjak sadarkan diri dan menemukannya terbaring di sofa, Maura tahu Aqeel melakukan sesuatu padanya setelah melihat banyak botol kosong bertebaran di lantai dan meja. Wanita itu tidak berhenti memeluk perutnya sendiri, sangat takut, anaknya benar-benar terbunuh, oleh tangan ayahnya sendiri.
Mereka tengah bersiap untuk makan malam. Aqeel tidak menjawab. Lelaki itu diam sambil membersihkan piring menggunakan tisu dan menumis beberapa sayuran tambahan karena merasa lauk di atas meja masih kurang.
"Suamiku," Maura memanggil.
"Tutup mulutmu," Aqeel berkata ketus, membuat Maura berhenti berkutik. Lelaki itu menghidangkan tumisannya ke atas meja, lalu menuangkan air putih untuk Maura.
"Tidak ada buah-buahan?" Aqeel bertanya setelah mengecek kulkas.
"Aku tidak sempat membelinya."
"Siapa yang menyuruhmu membelinya? Itu tugas Nata atau pelayan lain. Jangan merepotkan diri sendiri, apalagi kudengar kamu masih bekerja dan pergi ke pasar. Jujur saja, kamu membuatku tersinggung."
Maura menelan ludah mendengar perkataan suaminya.
"Kalau begitu, aku suruh seseorang membelinya." Maura bangkit dan hendak keluar. Aqeel ingin menahannya, tapi lelaki itu diam.
Tak lama Maura kembali, menarik piringnya mendekat untuk makan. Aqeel sudah mengisinya dengan nasi dan lauk.
"Ini Nyonya," tak lama Bu Nata datang sambil meletakkan keranjang buah-buahan ke atas meja.
Maura langsung mengambil sebuah apel dan menggigitnya. Wanita itu mengunyah begitu saja tanpa berkata apa-apa.
"Kamu yang membelinya?" Aqeel bertanya kepada Bu Nata. Wanita itu menggeleng, "bukan, Tuan."
"Siapa?"
"Yudhistira yang membelinya."
Wajah Aqeel langsung pucat. "Menggunakan uangmu?"
Bu Nata menggeleng, "Yudhis bilang, tak apa menggunakan uangnya saja."
Wajah Aqeel panas, langsung dirampasnya buah apel di tangan Maura yang sudah dihabiskan setengahnya. Aqeel membuangnya ke tong sampah, lalu meminta Maura memuntahkannya. "Muntahkan!" Maura terlihat bingung, tapi tepukan kuat di punggungnya memaksa Maura untuk menurutinya. Yudhistira adalah kaki tangannya sebagai kriminal, lelaki itu digaji dari penghasilan organisasi. Aqeel tidak mau, tubuh berharga istrinya, di darahnya mengalir makanan dari hasil tangis dan jeritan orang-orang yang pernah dia bunuh baik secara langsung atau tidak langsung.
Maura kesusahan memuntahkan apa yang sudah dia telan. Aqeel nekat memasukkan jemarinya, lalu Maura memuntahkan daging-daging apel yang sempat mengisi lambungnya. Lelaki itu memberikan Maura air minum, mengabaikan tatapan bingung wanita itu.
"Buang buah itu!" Aqeel menunjuk keranjang buah-buahan yang dibeli Yudhistira. Bu Nata langsung menurut dan membawanya pergi, dibuangnya ke tong sampah belakang, Yudhis yang melihatnya tersinggung.
"Lanjut makan dan jangan tanyakan apapun, aku harus pergi lagi setelah ini. Sesuai jadwal, bulan depan aku akan pulang dan melihat perkembangan janinmu." Aqeel menatap dingin perut Maura, "entah dia berhasil bertahan atau ayahnya berhasil membunuhnya." Tubuh Muara gemetar mendengar kalimat suaminya. Wanita itu diam dan menurut saja untuk lanjut menelan makanannya tanpa mengatakan apapun.
"Aku hanya menyuruhmu jangan bertanya, bukan diam membisu tidak mengajakku mengobrol." Aqeel terlihat kesal.
"M-maaf ...." Maura tergagap karena takut.
"Kamu tampan hari ini suamiku." Maura tidak tahu harus berkata apa.
Mendengarnya, Aqeel mendengus. "Bisa mencari topik bahasan lain? Basi."
Maura terlihat kebingungan. Seakan otaknya buntu, wanita itu tidak tahu topik apa yang pas untuk dibahas bersama suaminya.
Aqeel menuggu dengan telunjuk yang mengetuk-ngetuk meja, ditatapnya nyalang mulut Maura yang belum kunjung bersuara. Masih membisu karena kebingungan. Ketukan telunjuk Aqeel berubah menjadi cakaran di meja kayu. Gemelutukan giginya terdengar jelas, semakin menakuti Maura yang berpeluh dingin.
"Ayo ke ranjang saja, ganti obrolan bisu ini dengan rintihanmu." Aqeel bangkit berdiri dan meninggalkan Maura menuju kamar.