Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
"Gavin," panggil Sherly lembut. "Kamu senang, kan, akan menikah dengan Dara?"
Pertanyaan itu membuat seluruh ruangan kembali hening. Semua mata seolah tertuju kepada Gavin. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi, membuat siapa pun sulit menebak apa yang sedang dipikirkannya.
Dara yang duduk di ujung sofa tanpa sadar menggenggam jemarinya sendiri. Jantungnya berdetak semakin cepat. Entah mengapa, ia ikut menunggu jawaban pria yang bahkan baru beberapa menit dikenalnya itu.
Sementara Gavin hanya mengalihkan pandangannya kepada sang ibu. Tatapan mereka bertemu beberapa saat. Ia tahu persis alasan ibunya bertanya seperti itu. Keluarganya memilih gadis sederhana dari lereng perkebunan. Itu artinya mereka sudah benar-benar putus asa. Standar calon menantu keluarga Abyakta pun perlahan diturunkan demi melihatnya membangun rumah tangga.
Gavin mengembuskan napas pelan. Pandangan matanya kembali beralih kepada Dara. Gadis itu masih duduk dengan kepala tertunduk. Tidak berusaha mencari perhatian atau berpura-pura tersenyum. Tidak pula menunjukkan sikap genit. Ada ketenangan dalam diri Dara.
Namun, ketika tatapan Gavin berpindah kepada Rama dan Tina. Kedua orang itu sejak tadi terlalu banyak tersenyum basa-basi. Sorot mata mereka lebih sering tertuju pada Juragan Darmawan daripada kepada Dara sendiri.
Ada sesuatu yang membuat Gavin tidak nyaman. Nalurinya mengatakan mereka bukan orang yang sederhana. Mereka sedang menginginkan sesuatu. Dan ia sangat tidak menyukai orang-orang yang menjadikan hubungan keluarga sebagai jalan memperoleh keuntungan.
Melihat Gavin tetap diam, Sherly justru tertawa kecil. "Nah, diamnya Gavin berarti iya."
Gavin mendengus pelan. Ia memalingkan wajah. Kebiasaan ibunya yang selalu mengartikan diam sebagai persetujuan membuatnya sering kali tidak bisa berkutik.
Sherly justru semakin tersenyum. "Kalau begitu, Ibu anggap kamu setuju."
Juragan Darmawan menganggukkan kepala pelan. Pria tua itu menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Kalau semua sudah sepakat, pernikahan akan diselenggarakan secepatnya."
Juragan Darmawan memandang Rama dan Tina bergantian. "Kalian tidak perlu memikirkan apa pun. Aku yang akan mengatur seluruh persiapannya."
Ucapan itu bagaikan musik terindah di telinga Rama dan Tina. Keduanya hampir tidak mampu menyembunyikan kegembiraan. Mereka sempat khawatir akan diminta ikut menanggung biaya pesta. Ternyata semuanya ditanggung keluarga Juragan Darmawan.
Rama segera tersenyum lebar. "Kami ikut saja bagaimana baiknya menurut Juragan."
Nada suara Rama terdengar rendah hati. Padahal dalam hati ia sedang bersorak kegirangan.
Tina ikut menimpali dengan wajah penuh kepura-puraan. "Iya, Juragan. Kami orang kampung, tidak tahu bagaimana membuat pesta yang pantas untuk Den Gavin. Takut malah memalukan keluarga besar Juragan."
Juragan Darmawan hanya mengangguk singkat. "Yang penting acara berjalan lancar."
Dara tetap diam. Percakapan di sekelilingnya terdengar semakin jauh. Matanya menatap jemarinya sendiri. Sejak kecil, ia pernah membayangkan hari pernikahannya.
Bukan pesta yang mewah dan gaun yang mahal. Dara hanya ingin menikah dengan laki-laki yang mencintainya. Laki-laki yang dipilih oleh hatinya. Seseorang yang akan menggenggam tangannya karena kasih sayang. Bukan karena kesepakatan atau uang mahar yang besar.
Semua impian itu perlahan runtuh. Kini ia duduk di ruangan megah itu membicarakan pernikahan yang bahkan tidak pernah benar-benar dipilihnya.
Keesokan harinya, kabar Dara menjadi calon istri Gavin menyebar ke seluruh kampung. Tentu saja hal ini menjadi bahan gosip di sana, termasuk para pemetik teh.
"Jadi, benar yang kemarin kita dengar?"
Suara seorang pemetik teh memecah keheningan pagi yang masih diselimuti kabut tipis. Jemarinya tetap lincah memetik pucuk-pucuk daun teh, tetapi matanya terus melirik ke arah lereng sebelah.
"Benar apa?" sahut perempuan lain penasaran.
"Dara."
"Dara kenapa?"
"Dia benar-benar akan menikah dengan Den Gavin."
Tangan yang sedang memetik daun teh mendadak berhenti. "Hah? Serius?"
"Iya. Semalam Pak Rahmat yang bekerja di rumah Juragan Darmawan cerita. Keluarga Dara sudah datang membicarakan pernikahan."
Tak butuh waktu lama kabar itu menyebar. Bisikan itu berpindah dari satu mulut ke mulut lainnya, menyusuri barisan pemetik teh yang memenuhi lereng pegunungan. Dalam hitungan menit, hampir seluruh pekerja sudah mengetahui kabar itu. Dara, gadis yatim piatu yang sehari-hari bekerja bersama mereka akan menjadi istri pewaris keluarga Juragan Darmawan.
"Astaga, benar-benar jodoh nggak ada yang tahu." Wanita paruh baya yang memakai baju putih itu sempat tercengang.
"Siapa sangka, ya?" sahut pemetik teh lainnya. "Padahal tiap hari dia memetik teh bersama kita. Ternyata sekarang mau jadi nyonya besar."
Seorang perempuan muda mendecak pelan sambil melipat kedua tangan di dada. "Enak, ya?! Habis nikah nggak usah capek-capek kerja lagi."
Ucapan itu disambut tawa kecil beberapa orang.
Namun, seorang wanita tua yang sejak dulu sering bekerja bersama Dara menggeleng pelan. "Jangan begitu."
"Maksud Emak apa?"
"Kalian cuma lihat hasilnya." Wanita tua itu menghela napas panjang. "Kalian lupa bagaimana Dara bekerja setiap hari.
Semua terdiam.
"Dia datang paling pagi. Pulang paling sore. Kakinya sakit, tapi nggak pernah mengeluh. Kalau ada yang kesusahan, dia juga yang pertama membantu," lanjut wanita tua itu.
Beberapa orang mulai menganggukkan kepala. Apa yang dikatakan wanita tua itu memang benar. Mereka sudah lama bekerja bersama Dara. Tak sekali pun mereka mendengar gadis itu mengeluh tentang hidupnya.
"Kalau sekarang Allah memberinya kebahagiaan, itu bukan karena keberuntungan, tapi karena selama ini dia tidak pernah berhenti berbuat baik. Dan menurutku Dara memang pantas mendapat kebahagiaan," lanjut wanita tua itu dengan mata berkaca-kaca.
Namun, tak semua orang sependapat. Seorang wanita yang terkenal suka bergunjing mendengus pelan.
"Pantas dari mana? Kalau bukan karena Den Gavin juga punya kekurangan, belum tentu keluarga Juragan mau menerima Dara."
Semua mata langsung menoleh kepadanya. Ucapan itu membuat suasana kembali sunyi.
Wanita itu mengangkat bahu. Ia menyeringai tipis. "Aku cuma bicara kenyataan. Keluarga kaya biasanya pilih-pilih menantu. Tapi kali ini, ya, sama-sama saling melengkapi saja."
Beberapa orang saling berpandangan. Sebagian tidak setuju dan sebagian lagi memilih diam.
Tak jauh dari mereka, Dara ternyata mendengar hampir seluruh percakapan itu. Tangannya tetap sibuk memetik pucuk-pucuk daun teh muda. Namun, setiap kalimat yang terlontar terasa seperti duri yang perlahan menusuk dadanya.
Dara tidak marah. Tidak pula membenci mereka. Karena ia tahu mulut manusia memang sulit dihentikan.
"Boleh aku mengatakan sesuatu?" Suara lembut tiba-tiba terdengar dari belakang mereka.
Semua orang spontan menoleh. Dara berdiri beberapa langkah dari mereka dengan keranjang rotan di punggung. Suasana berubah canggung. Beberapa orang mulai merasa tidak enak hati.
Dara menarik napas pelan. Lalu, ia tersenyum kecil.
"Aku tidak bisa memilih bagaimana saya dilahirkan." Tangan gadis itu perlahan menyentuh kaki kirinya. "Aku juga tidak pernah meminta mengalami kecelakaan hingga berjalan pincang. Tapi aku selalu bisa memilih bagaimana menjalani hidup."
Tak seorang pun menyela.
"Aku memilih bekerja dan berusaha. Lalu, bersyukur." Tatapan Dara tetap teduh. Ia menundukkan kepala sejenak.
"Kalau memang Allah memberikan jalan hidup yang berbeda untukku, itu bukan karena aku lebih baik daripada orang lain. Melainkan karena setiap orang memiliki takdir yang berbeda."
Wanita yang tadi mencibir menggigit bibirnya.
Dara kembali tersenyum. Tatapannya kembali terangkat.
"Dan tentang Den Gavin, aku tidak pernah menganggap beliau rendah hanya karena beliau tuli. Begitu juga aku berharap tidak ada yang merendahkan aku hanya karena kaki saya tidak sempurna."
Keheningan menyelimuti lereng perkebunan. Tak ada lagi suara sindiran.
Wanita tua yang sejak tadi membela Dara mengusap sudut matanya yang mulai basah. "Itu baru ucapan orang yang punya hati."
Beberapa pemetik teh menganggukkan kepala pelan. Mereka semakin menghormati Dara. Sementara perempuan yang tadi mencibir hanya mampu menundukkan wajah karena malu.