NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / Ruang Ajaib
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.

Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.

Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.

Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jia Li

Suasana di Rumah Sakit Huayuan malam itu berubah menjadi medan pertempuran hidup dan mati. Langkah kaki tergesa-gesa terdengar kacau, berpadu dengan suara sirine ambulans yang berhenti kasar di depan lobi. Suara roda brankar bergesekan nyaring dengan lantai, bersahutan dengan jeritan histeris dan derai air mata para korban kecelakaan beruntun.

Di tengah kekacauan itu, Jia Li, seorang dokter spesialis kardiotoraks, berlari sigap menuju ruang gawat darurat. Matanya menatap tajam pada seorang wanita dewasa yang baru saja diturunkan dari brankar. Dengan stetoskop di telinga dan jemari yang menekan dada pasien, ia memejamkan mata seolah 'melihat' detak yang tak kasatmata.

"Suara detak jantungnya sangat tidak beraturan, ada aliran darah yang tersumbat ke otot jantung," desis Jia Li, membuka mata dengan sorot tegas. "Suster, segera siapkan ruang operasi sekarang! Kita akan melakukan Operasi Bypass Jantung," titahnya.

"Baik, Dok!" sahut perawat dengan langkah seribu.

Tak lama kemudian, suasana tegang berpindah ke dalam ruang operasi yang dingin dan steril. Ruangan itu hanya diterangi cahaya terang dari Ceiling Mounted Lamp, menyorot meja operasi di mana peralatan bedah telah tertata rapi. Ahli anestesi, seorang asisten, dan beberapa perawat bersiap di posisinya masing-masing. Namun, asisten dokter Jia Li tiba-tiba menatap sang spesialis dengan raut khawatir.

"Dokter Jia Li... Anda baik-baik saja?" bisik asisten itu pelan, takut mengganggu konsentrasi. "Wajah Anda terlihat sangat pucat, Dok. Anda baru saja menangani 6 operasi hari ini."

Meski rasa pusing mulai menderanya akibat kelelahan yang luar biasa, Jia Li menoleh dan memberikan senyuman tipis yang menenangkan. "Aku baik-baik saja," jawab Jia Li mantap, mengatur napasnya. "Kelelahan ku bukan apa-apa. Nyawa pasien di meja ini jauh lebih penting. Kita lakukan operasinya sekarang."

"Baik, Dok! Persiapan anestesi selesai," lapor ahli anestesi.

Jia Li mengangguk. Ia meraih pisau bedah dan menatap bagian tengah dada pasien dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan. Semua orang di ruangan itu menahan napas, bersiap membantu.

Sayatan pertama...

Sayatan tegas itu menembus kulit di bagian tengah dada. Suara monitor detak jantung berdengung nyaring di ruangan itu. Semua mata kini tertuju pada satu titik, fokus dan siap bertaruh dengan waktu demi menyelamatkan nyawa di hadapan mereka.

"Skalpel," kata Jia Li dengan nada suara yang terkontrol, memecah keheningan yang mencekam di dalam ruang operasi. Asisten bedah dengan cekatan menyerahkan instrumen tersebut ke tangan Jia Li yang terbalut sarung tangan steril. "Retraktor sternum, pasang perlahan. Kita harus membuka rongga dada dengan sangat hati-hati karena tekanan darah pasien terus berfluktuasi."

Suara monitor jantung beralih ritme, berbunyi bip-bip-bip dengan tempo yang semakin cepat dan tidak beraturan. "Dokter Jia Li, tekanan darahnya merosot tajam! 80/50 dan terus turun!" seru ahli anestesi dengan nada panik yang tertahan, matanya terpaku pada layar monitor vital. "Pasien mengalami syok kardiogenik, detak jantungnya fibrilasi!"

Jia Li tidak membiarkan rasa pusing di kepalanya mengacaukan fokusnya, meskipun keringat dingin mulai membasahi dahinya di balik masker bedah. "Tenang semua, jangan panik. Naikkan dosis epinefrin sekarang. Suster, siapkan mesin heart-lung bypass (CPB), kita harus mengalihkan sirkulasi darahnya ke mesin sebelum jantungnya benar-benar berhenti berdenyut," perintah Jia Li dengan tegas, suaranya menjadi jangkar ketenangan di ruangan yang mulai tegang itu.

"Asisten, bantu aku mengisolasi arteri mamaria interna untuk dijadikan graf penyumbat. Kita berkejaran dengan waktu, sel-sel otot jantungnya mulai mati karena kekurangan oksigen."

"Baik, Dok! Epinefrin masuk, mesin CPB siap dihubungkan," sahut perawat instrumen dan ahli anestesi hampir bersamaan, tangan mereka bergerak secepat kilat mengikuti ritme instruksi Jia Li.

Asisten bedah yang mengamati wajah Jia Li yang semakin memucat berbisik pelit, "Dokter Jia, Anda yakin masih kuat? Tangan Anda... sedikit gemetar saat memegang klem."

Jia Li menarik napas dalam-dalam melalui hidung, memaksakan pasokan oksigen masuk ke otaknya yang mulai kelelahan akibat sif malam yang panjang. "Aku tidak apa-apa, fokus pada bidang bedah mu. Jahitan pertama untuk kanulasi aorta dimulai sekarang. Jika aku lengah satu detik saja, wanita di atas meja ini tidak akan pernah bangun untuk melihat keluarganya lagi. Naikkan pencahayaan lampu ceiling, aku butuh visibilitas maksimum pada arteri koronernya yang menyempit."

Setelah berjuang selama 2 jam sebagai rekor waktu tercepat, operasi itu pun selesai. Semua mata berbinar, dan napas lega terhembus dari dada setiap tim medis yang bertugas.

"Anda benar-benar luar biasa, Dokter Jia Li. Operasi rumit seperti ini biasanya memakan waktu hingga 3 atau 6 jam, tapi Anda mampu menyelesaikannya hanya dalam 2 jam saja. Tidak heran jika Anda selalu menjadi dokter spesialis bedah terbaik di rumah sakit ini," puji asistennya dengan mata berbinar, yang di angguki kagum oleh seluruh perawat.

Dengan wajah yang masih pucat pasi dan peluh yang membasahi dahi, Jia Li hanya tersenyum tipis merespons pujian itu. "Terima kasih banyak atas kerja keras kalian dalam operasi ini. Tapi ingat, nyawa pasien selalu berada di tangan dokter, dan satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal," ujarnya lembut namun tegas.

Jia Li pun melangkah keluar dari ruang operasi sambil perlahan melepas masker bedah hijaunya. Namun, baru saja ia melangkah keluar dari batas steril, udara segar langsung digantikan oleh ketegangan yang menyesakkan. Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipinya.

PLAK!

Dunia seakan berhenti berputar. Jia Li tersentak mundur, tubuhnya gemetar hebat. Bekas tamparan itu terasa panas membakar pipinya, membuat pandangannya sedikit mengabur. Saat ia mengangkat wajah dan melihat siapa pelakunya, dunianya seolah runtuh. Ternyata di hadapannya berdiri keluarganya sendiri dengan sorot mata penuh kebencian.

"Anak tidak berguna!" teriak sang ibu histeris, menunjuk-nunjuk wajah Jia Li yang masih syok. "Kau menyelamatkan nyawa orang lain di dalam sana, sementara Kakakmu sekarat dan kritis di ruang UGD!"

Jia Li memejamkan matanya, menahan perih yang seolah merambat hingga ke ulu hati. "Ibu... Ayah..." panggil Jia Li lirih, suaranya tercekat. Kepalanya terasa jauh lebih sakit dari sebelumnya.

Alih-alih mereda, kemarahan sang ayah justru semakin memuncak. "Aku membiayai sekolahmu menjadi dokter tinggi-tinggi bukan untuk menyelamatkan nyawa orang asing, tapi untuk melindungi keluargamu sendiri saat mereka butuh bantuan! Tapi lihat apa yang kau lakukan?! Kau benar-benar anak yang tidak tahu diuntung. Beraninya kau menyelamatkan orang lain saat keluargamu sendiri sedang berjuang menahan rasa sakit di ambang maut," bentak sang ayah murka, menggelegar di sepanjang lorong rumah sakit yang sepi.

"Membiayai?" tanya Jia Li lirih. Sebuah tawa getir hampir saja lolos dari tenggorokannya yang tercekat. Dia menatap kedua orang tuanya dengan tatapan kosong sekaligus hancur. "Aku bisa berada di posisi ini, memakai jas putih ini, dan bersekolah di universitas kedokteran terbaik karena hasil payahku sendiri melalui beasiswa penuh... Ibu, Ayah, kalian tidak pernah mengeluarkan sepeser pun uang untuk pendidikanku," kata Jia Li, suaranya semakin pelan, nyaris tenggelam oleh isak tangis yang dia tahan di ujung lidah.

Namun, pembelaannya sama sekali tidak didengar. Kata-kata makian baru terus meluncur dari bibir kedua orang tuanya.

Tidak berguna! Tidak berguna! Anak egois tidak berguna!

Kedua kata laknat itu terus berputar-putar di dalam kepalanya seperti gema yang tak kunjung usai, membuat kepalanya terasa sangat pening seolah-olah mau pecah saat itu juga.

Pertahanan mentalnya runtuh total. Bayangan di depannya, wajah marah ayahnya, telunjuk ibunya yang menunjuk-nunjuk, perlahan menjadi kabur dan buram. Telinganya berdenging hebat, membuat semua suara makian di sekitarnya hanya terdengar seperti bisikan samar yang menjauh.

Dunia seolah berputar terbalik. Sampai tiba-tiba, seluruh energi di dalam dirinya habis terkuras, dan dia tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya sendiri.

Bruk!

Kesadarannya tercabut paksa. Tubuh itu ambruk ke lantai koridor yang dingin. Semuanya gelap seketika.

1
Cty Badria
up lg ni hadiah /Rose/
Mydar Diamond
lanjuutt upnya mungkin calon suami masa depan telah di temukan🤔
Dewiendahsetiowati
apakah ini calon imam Lin Jia
Hendri Wirawan
bagus....lanjutkan
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Anonim
ceritanya bagus, masih awal tapi menarik buat dibaca. lanjut semangat yaaa/Determined//Rose/
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. semangat✍️👈😍☺
Ardella Ardellaarcell
lanjut
Dania
semangat tor di tunggu upnya
Ardella Ardellaarcell
lanjut kak bgus crita'y😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!