Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.
Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.
Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.
Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 : Jumat Berkah Puskesmas
Keesokan paginya...
Mentari baru saja muncul dari balik perbukitan Desa Sekar Sari. Udara pagi masih terasa sejuk, sementara aktivitas di Pabrik Roti Juragan Warso sudah dimulai sejak selepas Subuh.
Di dalam ruang produksi, aroma roti yang baru matang memenuhi setiap sudut ruangan. Winarsih mengenakan celemek berwarna cokelat sambil sibuk menyusun roti ke dalam keranjang-keranjang bambu yang telah disiapkan.
"Hati-hati, Mbak. Yang isi cokelat dipisah sama yang keju," ujar Rudi sambil mengangkat satu peti roti dari dekat oven.
"Iya, Mas."
Juragan Warso berjalan menghampiri sambil membawa daftar pesanan.
"Winarsih, itu khusus pesanan Dokter Arga ya. Total tiga ratus bungkus."
Winarsih mengangguk. "Iya, Juragan."
Ia membuka satu per satu plastik roti, memastikan setiap bungkus dalam keadaan rapi sebelum dimasukkan ke dalam keranjang besar.
Roti tawar, Roti cokelat, Roti keju, Roti pandan. Semua disusun dengan sangat teliti.
Juragan Warso memperhatikannya sambil tersenyum puas. "Kalau Winarsih yang mengemas, saya selalu tenang. Dia memang telaten."
Winarsih hanya tersenyum malu. "Terima kasih, Juragan."
Tak lama kemudian, seluruh tiga ratus bungkus roti selesai dikemas.
"Alhamdulillah," ucap Juragan Warso.
Rudi mengusap keringat di dahinya. "Untung dari tadi kita kerja ramai-ramai."
Winarsih mengangguk pelan. "Iya."
Baru sekitar lima belas menit mereka selesai merapikan pesanan, suara mobil terdengar dari luar halaman pabrik.
Brumm...
Rudi spontan menoleh. "Itu kayaknya Dokter Arga."
Benar saja, sebuah mobil abu-abu metalik berhenti tepat di depan pabrik.
Pintu pengemudi terbuka.
Dokter Arga turun lebih dulu dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung hingga siku. Di sisi lain, Desi ikut turun sambil membawa buku catatan.
"Assalamu'alaikum," sapa Arga sambil tersenyum.
"Wa'alaikumsalam," jawab Juragan Warso dan para karyawan hampir bersamaan.
"Lho, Desi juga ikut?" tanya Juragan Warso.
Desi tersenyum lebar. "Iya, Juragan. Dokter bilang pesanannya banyak. Jadi saya ikut bantu angkut."
"Wah, bagus itu."
Arga berjalan menghampiri Juragan Warso. "Maaf jadi merepotkan."
Juragan Warso langsung menggeleng. "Merepotkan apanya? Justru kami senang. Semoga Jumat Berkahnya membawa keberkahan untuk semuanya."
"Aamiin."
Desi kemudian melihat tumpukan keranjang yang memenuhi sudut ruangan. "Masyaallah..." matanya membulat. "Sebanyak ini?"
Rudi tertawa kecil. "Tadi saya juga kaget waktu dengar jumlah pesanannya."
Desi menggeleng sambil tersenyum. "Dokter baik banget sih. Tiga ratus bungkus."
Arga hanya tersenyum kecil. "Rezeki itu titipan. Kalau bisa dibagikan, kenapa tidak?"
Mendengar ucapan itu, Juragan Warso mengangguk kagum. "Semoga Allah melipatgandakan rezeki Dokter."
"Aamiin."
Tanpa banyak bicara, Arga langsung membuka bagasi mobil. "Ayo kita angkut."
"Sip!" sahut Desi bersemangat.
Rudi segera mengangkat keranjang pertama. "Saya bawa yang ini."
"Saya bantu yang sebelah," kata Desi.
Winarsih ikut mengangkat keranjang yang lebih ringan.
"Pelan-pelan saja, Mbak," ujar Rudi.
"Iya."
Beberapa menit kemudian, mereka bekerja bersama memindahkan seluruh keranjang ke dalam mobil. Suasana dipenuhi canda ringan.
"Des, hati-hati. Jangan sampai rotinya penyok," kata Arga.
Desi langsung tertawa. "Tenang saja, Dok. Saya ini perawat, bukan tukang banting barang."
Semua orang ikut tertawa kecil.
Di tengah kesibukan itu, tanpa sengaja Arga melihat Winarsih kesulitan mengangkat salah satu keranjang yang ukurannya cukup besar.
"Sebentar." Arga segera menghampiri. "Biar saya saja."
"Tidak apa-apa, Dok. Saya masih kuat."
"Keranjang ini terlalu berat."
Belum sempat Winarsih menjawab, Arga sudah lebih dulu mengangkat keranjang tersebut dengan kedua tangannya.
Winarsih hanya bisa menunduk pelan. "Terima kasih, Dok."
"Sama-sama."
Desi yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum tipis.
Dalam hati ia bergumam, "Dokter memang perhatian banget sama Mbak Winarsih. Tapi caranya tetap sopan, nggak berlebihan."
Sementara itu, Juragan Warso yang berdiri tak jauh dari sana hanya tersenyum kecil sambil mengusap janggutnya.
"Semoga kalau memang Allah berjodohkan mereka, semuanya dipermudah. Tapi untuk sekarang... biarlah semuanya mengalir dengan baik."
Tak lama kemudian, seluruh tiga ratus bungkus roti telah tersusun rapi di dalam mobil Arga.
"Alhamdulillah, sudah selesai," ucap Rudi sambil mengembuskan napas lega.
Arga menutup bagasi mobil, lalu menoleh kepada Juragan Warso.
"Terima kasih banyak, Juragan."
"Sama-sama, Dok."
Arga kemudian mengalihkan pandangannya kepada Winarsih. "Terima kasih juga, Mbak Winarsih."
Winarsih tersenyum tipis. "Sama-sama, Dok. Semoga acara Jumat Berkahnya lancar."
"Aamiin." Arga membalas senyum itu dengan hangat.
Tanpa disadari keduanya, Desi yang berdiri di samping mobil memperhatikan mereka bergantian. Senyum jahil perlahan muncul di wajahnya.
"Kalau begini terus," batinnya geli, "kayaknya bukan cuma roti yang dibawa pulang Dokter... hati seseorang juga bisa ikut terbawa."
Mobil Dokter Arga perlahan meninggalkan halaman pabrik roti.
Brumm...
Winarsih, Juragan Warso, Rudi, dan beberapa karyawan lainnya masih berdiri di depan pabrik sambil memperhatikan mobil itu hingga menghilang di tikungan.
Juragan Warso kemudian bertepuk tangan pelan. "Baik, semuanya. Mari kita lanjut bekerja."
"Siap, Juragan," jawab para karyawan serempak.
Satu per satu mereka kembali ke dalam ruang produksi.
Kini di dalam mobil, Desi duduk di kursi penumpang depan sambil sesekali melirik Dokter Arga yang sedang fokus menyetir.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Desi yang memang tidak tahan suasana sepi akhirnya membuka suara.
"Dok."
"Hm?"
"Boleh saya tanya sesuatu?"
Arga masih menatap jalan. "Tanya saja."
Desi tersenyum jahil. "Dokter sengaja ya datang sendiri ke pabrik?"
Arga melirik sekilas. "Memangnya kenapa?"
"Soalnya biasanya Dokter tinggal telepon. Bahkan pembayaran juga sering ditransfer."
Arga terkekeh kecil. "Sekalian lewat."
"Ih... alasan."
Arga menggeleng sambil tersenyum. "Bener."
Desi menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Dok, saya ini kenal Dokter sudah hampir satu tahun."
"Lalu?"
"Saya hafal kalau Dokter lagi bohong."
Arga tertawa pelan. "Kamu kebanyakan nonton sinetron."
"Bukan sinetron." Desi menunjuk wajah Arga. "Kalau tadi bukan karena mau lihat Mbak Winarsih, saya nggak percaya."
Arga langsung terdiam.
Desi semakin tersenyum lebar. "Nah, kan diam."
"Des..."
"Iya?"
"Kamu ini perawat apa detektif?"
Desi tertawa puas. "Berarti benar, ya?"
Arga menggeleng pelan. "Saya memang mengkhawatirkan keadaannya."
"Hanya khawatir?"
"Iya."
Desi memicingkan mata. "Hanya itu?"
Arga kembali fokus menyetir. "Dia sedang banyak masalah."
"Oh gitu..."
"Status rumah tangganya juga belum selesai. Jadi, tidak pantas kalau aku punya pikiran macam-macam."
Desi menatap Arga beberapa detik. Untuk pertama kalinya ia melihat keseriusan di wajah dokter muda itu.
"Dok..."
"Hm?"
"Saya jadi makin hormat sama Dokter."
Arga tersenyum kecil. "Kenapa?"
"Karena kalau laki-laki lain mungkin sudah memanfaatkan keadaan. Tapi Dokter justru menjaga jarak."
Arga mengembuskan napas pelan. "Orang yang sedang terluka tidak butuh seseorang yang mengambil keuntungan."
"Lalu?"
"Dia butuh waktu untuk sembuh."
Desi tersenyum tulus. "Semoga Allah membalas semua niat baik Dokter."
"Aamiin."
Tak lama kemudian mobil memasuki halaman Puskesmas Sekar Sari.
Brumm...
Begitu mobil berhenti, beberapa petugas kebersihan segera menghampiri.
"Dok, ini rotinya ya?"
"Iya."
"Mari kami bantu."
Dalam waktu singkat, seluruh keranjang roti dipindahkan ke aula kecil puskesmas. Spanduk bertuliskan "Jumat Berkah Puskesmas Sekar Sari" sudah terpasang di depan aula.
Beberapa pasien yang sedang mengantre mulai memperhatikan dengan penasaran. "Pak, ada acara apa?"
Salah seorang petugas menjawab ramah. "Hari ini ada pembagian roti gratis untuk semua pasien dan keluarga yang mendampingi."
"Gratis?"
"Iya."
Wajah para warga langsung berbinar. "Alhamdulillah..."
Di sudut aula, Arga memeriksa kembali jumlah roti bersama Desi. "Semuanya lengkap, Dok."
"Syukurlah."
Tak lama kemudian, Kepala Puskesmas, Pak Hendra, datang menghampiri. "Dokter Arga."
"Selamat pagi, Pak."
Pak Hendra melihat tumpukan roti itu dengan kagum. "Ini semua dari Dokter?"
Arga tersenyum rendah hati. "Hanya sedikit berbagi rezeki, Pak."
Pak Hendra menepuk bahu Arga dengan bangga. "Puskesmas ini beruntung punya dokter seperti Anda."
Arga hanya tersenyum.
Di kejauhan, Desi memperhatikan pemandangan itu sambil mengangguk kecil.
Dalam hati ia berkata, "pantas saja banyak orang menghormati Dokter Arga. Kebaikannya bukan untuk dipamerkan, tapi memang sudah menjadi bagian dari dirinya."
Sementara itu, jauh di tempat lain, Clarissa yang masih berada di hotel tempatnya menginap menerima telepon dari Dimas.
"Selamat pagi, Nona."
"Apa ada kabar?"
"Ada."
"Bagaimana hasil penyelidikanmu?"
Dimas menarik napas sejenak sebelum menjawab. "Saya sudah menemukan identitas perempuan yang kemarin Nona lihat di dekat puskesmas."
Sorot mata Clarissa langsung berubah tajam. "Siapa dia?"