Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.
Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.
Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode — 3.
Mobil taksi melaju perlahan membelah jalanan kota yang mulai lengang. Zahira menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Cahaya lampu jalan berkelebat silih berganti, tetapi pikirannya tetap berhenti pada satu kenyataan.
Tujuh tahun pernikahannya telah berakhir hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Ia membuka ponselnya, tak ada satu pun pesan dari Deris. Bahkan tak ada satupun panggilan telepon untuk menanyakan... apakah dirinya sudah sampai dengan selamat.
Yang muncul justru puluhan notifikasi dari media sosial. Ada foto Deris dan Kayla memenuhi beranda. Dalam salah satu foto, Deris tampak tersenyum sambil berdiri di samping Kayla ketika menerima penghargaan.
Judul berita itu membuat dada Zahira kembali sesak.
“Pengusaha Muda Deris Adikara Hadir Bersama Putri Direktur Gardapati Group. Keduanya Dikabarkan Akan Menjalin Kerja Sama Strategis.“
Kolom komentar sudah dipenuhi berbagai pendapat.
"Serasi banget."
"Kirain yang itu istrinya."
"Pantas kariernya makin melejit."
"Wanita seperti Kayla memang cocok mendampingi pengusaha sukses."
Zahira mematikan layar ponselnya, Ia tak ingin membaca lebih banyak.
"Maaf, Mbak... alamatnya sudah sampai."
Suara sopir taksi membuyarkan lamunannya, Zahira segera mengangkat kepalanya. Mobil berhenti di depan rumah dua lantai yang selama tujuh tahun menjadi tempatnya pulang. Ia membayar ongkos, lalu turun dari taksi.
Begitu membuka pagar rumah, langkahnya terhenti. Dua koper besar sudah berdiri rapi di teras. Di atasnya terdapat sebuah amplop putih, Zahira mengambilnya.
Tulisan tangan Wulan langsung dikenalnya.
"Barang-barangmu sudah Ibu kemasi. Rumah ini atas nama Deris. Mulai malam ini, kamu tidak perlu kembali lagi."
Tak ada kalimat lain, ucapan hati-hati, ataupun sedikit rasa iba. Zahira tersenyum tipis, ternyata mereka bahkan tidak memberinya kesempatan masuk untuk mengambil barang-barangnya sendiri.
Pintu rumah terbuka, seorang asisten rumah tangga keluar dengan wajah canggung.
"Nyonya...."
Zahira menggeleng pelan. "Panggil aku Mbak Zahira saja."
Asisten itu menundukkan kepala.
"Maaf.... Ibu Wulan yang menyuruh kami mengemasi semuanya."
"Aku tahu."
Wanita paruh baya itu menyerahkan sebuah kotak kecil. "Ini barang yang hampir tertinggal."
Zahira membukanya. Di dalamnya terdapat celemek masak yang sering ia pakai, album foto pernikahan, serta sebuah buku catatan keuangan perusahaan yang ia tulis sejak usaha Deris masih berupa toko kecil.
Jemarinya berhenti pada album foto, perlahan ia membukanya. Foto pertama memperlihatkan dirinya dan Deris saat baru menikah. Mereka tersenyum sederhana di rumah kontrakan yang bahkan dindingnya masih belum dicat sempurna.
Halaman berikutnya memperlihatkan Deris sedang tidur di sofa kantor. Saat itu Deris demam tinggi setelah bekerja hampir tiga hari tanpa istirahat. Zahira yang merawatnya semalaman. Ada pula foto ketika mereka mengantar pesanan menggunakan motor butut di tengah hujan. Setiap lembar menyimpan kenangan, dan setiap kenangan... kini terasa seperti ironi.
Zahira menutup album itu kembali.
"Bu Wulan bilang...." Asisten rumah tangga itu ragu melanjutkan.
"Katakan saja."
"Beliau meminta Mbak segera membawa semua barang malam ini."
Zahira mengangguk pelan. "Baik."
Tak lama kemudian, seorang satpam membantu memasukkan koper ke bagasi taksi. Saat semuanya selesai, Zahira berdiri menatap rumah itu untuk terakhir kalinya.
Di rumah itu, Zahira belajar menjadi seorang istri. Belajar mengalah demi menjaga keutuhan rumah tangga, belajar bertahan di tengah berbagai keadaan, hingga akhirnya menyadari bahwa tidak setiap pengorbanan akan dibalas dengan penghargaan.
"Selamat tinggal."
Ia berbalik tanpa membawa apa pun selain dua koper dan satu kotak kenangan. Mobil kembali melaju. Kali ini, ia benar-benar tidak memiliki tujuan.
Di saat yang sama...
Ballroom Hotel Arunika masih dipenuhi tamu. Deris sedang berbincang dengan beberapa rekan bisnis ketika Wulan menghampirinya.
"Barang-barang Zahira sudah Ibu keluarkan."
Deris hanya mengangguk singkat.
"Kamu tidak merasa keputusan ini terlalu terburu-buru?"
Deris menatap ibunya. "Bukankah tadi Ibu juga setuju?"
Wulan terdiam beberapa saat. "Tadi... Ibu hanya berpikir setelah bercerai, Zahira masih bisa tinggal beberapa hari sampai menemukan tempat baru."
"Percuma." Deris menyeruput minumannya dengan wajah santai tanpa penyesalan sedikitpun. "Semakin lama dia di rumah itu, semakin akan sulit nantinya."
Ucapan putranya membuat Wulan menghela napas pelan. Entah mengapa, bayangan Zahira yang selalu mengurus mereka muncul di benaknya.
Setiap pagi, sarapan selalu tersedia. Pakaian Bima selalu rapi. Obat untuknya juga tidak pernah terlambat disiapkan. Saat Wulan sakit dua tahun lalu, Zahira yang tidur di rumah sakit selama hampir seminggu. Anak kandungnya sendiri bahkan hanya datang sebentar karena sibuk bekerja.
Wulan menepis pikirannya, keputusan sudah dibuat, Ia tak boleh goyah.
Di sisi lain, Kayla datang menghampiri Deris sambil menggandeng lengannya.
"Mas, Papa mengundangmu makan malam besok."
"Tentu." Deris tersenyum.
Kayla menyandarkan kepala di bahu pria itu seraya tersenyum. "Kita akan segera memulai hidup baru, kan?"
"Iya." Deris membalas senyumnya.
Namun, tanpa sadar mata pria itu kembali mengarah ke pintu keluar ballroom. Untuk sesaat, ia merasa tempat itu terlalu sepi. Padahal orang-orang masih memenuhi ruangan.
Deris mengerutkan dahi, perasaan aneh itu kembali muncul. Seolah ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Ia mengabaikannya sekali lagi, dan sama sekali belum mengetahui bahwa malam itu bukan hanya Zahira yang meninggalkan keluarga Adikara.
Malam ini juga menjadi awal dari penyesalan yang perlahan akan menghampiri satu per satu penghuni keluarga itu.
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭