Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.
Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .
Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.
Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.
Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"
Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tumpukan Berkas dan Firasat Buruk
Jarum jam dinding di ruang administrasi lantai tiga sudah menunjuk ke angka sebelas malam. Suara detak jarumnya terdengar begitu nyaring, beradu dengan suara ketikan kibor yang ditekan dengan ritme cepat dan frustrasi.
Di sudut ruangan itu, Aluna masih terduduk lemas di depan layar monitor yang memancarkan cahaya redup. Matanya yang bulat kini tampak sayu, dikelilingi lingkaran hitam akibat kurang tidur yang teramat sangat.
"Kenapa harus hari ini, sih?" gumam Aluna lirih, sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa linu.
Di samping laptopnya, tumpukan map jepret berwarna biru dan merah berjejer bak benteng yang siap meruntuhkan sisa-sisa energinya. Sejak pagi tadi, kepala divisi administrasi tidak berhenti memberikan revisi.
Semua laporan keuangan bulanan dan berkas inventaris kantor yang sudah ia kerjakan seminggu penuh mendadak dinyatakan salah total. Alasannya hanya satu: perusahaan mereka baru saja diakuisisi oleh konglomerat raksasa, dan CEO baru yang akan memimpin kabarnya memiliki standar yang luar biasa tinggi dan kejam.
Rumor yang beredar di antara sesama staf administrasi rendahan mengatakan bahwa sang CEO baru tidak segan-segan memecat karyawan hanya karena salah meletakkan tanda koma pada laporan.
Aluna, yang posisinya berada di kasta paling bawah dalam hierarki kantor, tentu saja menjadi korban pertama yang harus memastikan semua berkas itu sempurna sebelum sang bos besar menginjakkan kaki di kantor ini besok pagi.
Aluna menghela napas panjang. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Layar benda digital itu masih gelap. Ia menyalakannya, berharap ada satu saja notifikasi yang masuk. Namun, hasilnya nihil. Aplikasi pesan singkatnya tetap sepi. Kolom obrolannya dengan kafka, kekasih yang sudah menemaninya selama dua tahun terakhir, masih menampilkan pesan terakhir yang ia kirimkan tadi pagi pukul delapan.
[“Kafka, kamu di mana? Kenapa teleponku tidak diangkat? Hari ini aku stres sekali di kantor.”]
Pesan itu hanya berstatus centang dua abu-abu. Belum dibaca. Jangankan membalas, nomor Kafka bahkan tidak aktif saat Aluna mencoba meneleponnya beberapa jam yang lalu. Perasaan tidak tenang mulai menyelimuti dadanya. Ini bukan pertama kalinya Kafka menghilang tanpa kabar, tetapi entah mengapa, malam ini firasat buruk itu terasa begitu pekat dan menyesakkan dada. Kafka yang biasanya selalu menjadi tempatnya berkeluh kesah setelah seharian ditindas pekerjaan, kini seolah-olah lenyap ditelan bumi.
"Mungkin dia sedang sibuk dengan proyek barunya," bisik Aluna pada diri sendiri, mencoba mengusir prasangka buruk yang mulai meracuni pikirannya. Bagaimanapun, ia harus berpikiran positif. Hubungan mereka sudah berjalan cukup lama, dan Kafka adalah pria yang manis, walau akhir-akhir ini sikapnya terasa sedikit mendingan dan menjauh.
Aluna kembali memaksakan matanya menatap deretan angka di layar monitor. Jemarinya kembali menari di atas kibor, merevisi baris demi baris dokumen yang tampaknya tiada habisnya. Setiap ketukan kibor terasa seperti beban berat yang menghimpit pundaknya. Ia merasa nasibnya benar-benar sial hari ini. Di saat ia membutuhkan dukungan moral, dunia seolah sengaja memojokkannya dalam kesendirian di ruang kantor yang dingin dan sepi ini.
Waktu terus bergulir hingga akhirnya jam menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Dengan sisa tenaga yang ada, Aluna akhirnya berhasil menekan tombol "save" pada dokumen terakhir. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, memejamkan mata sejenak merasakan kelelahan yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya.
Setelah merapikan berkas-berkas ke dalam lemari arsip dan mematikan perangkat komputer, Aluna bergegas mengambil tas selempangnya.
Suasana koridor kantor sudah sangat sunyi ketika Aluna berjalan menuju lift. Langkah kakinya menggema di lorong yang lengang. Setibanya di lobi utama, ia langsung disambut oleh embusan angin malam yang menusuk tulang. Mengingat jam yang sudah terlalu larut, tidak ada lagi angkutan umum yang beroperasi. Terpaksa, Aluna merogoh koceknya yang kian menipis untuk memesan taksi daring.
Di dalam taksi, Aluna menyandarkan kepalanya pada kaca jendela. Lampu-lampu jalanan ibu kota yang berkelebat di luar tampak buram di matanya. Pikirannya kembali melayang pada Kafka. Rasa lelah fisik akibat lembur semalaman bertumpuk menjadi satu dengan rasa rindu dan cemas yang tak berkesudahan.
"Pak, tolong ganti rute ya. Kita ke jalan Anggrek, ke arah perumahan kontrakan di sana," ujar Aluna tiba-tiba kepada sopir taksi.
Niat Aluna sudah bulat. Ia tidak akan pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Ia ingin menemui Kafka langsung di kontrakannya. Aluna ingin menuntut penjelasan mengapa pria itu menghilang seharian ini.
Lebih dari itu, di tengah malam yang melelahkan ini, Aluna hanya ingin memeluk kekasihnya, menangis di dadanya, dan mendengar kata-kata penenang bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia butuh rumah untuk pulang, dan bagi Aluna selama dua tahun ini, rumah itu adalah Kafka.
Taksi terus melaju membelah keheningan malam menuju area kontrakan Kafka. Sepanjang perjalanan, tangan Aluna tidak berhenti meremas tali tasnya. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan. Ada suara kecil di dalam kepalanya yang terus membisikkan kata-kata peringatan, sebuah intuisi wanita yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang besar dan mengerikan yang sedang menantinya di ujung jalan sana. Namun, Aluna mencoba menepisnya kuat-kuat. Ia meyakinkan dirinya bahwa Kafka pasti sedang tertidur lelap karena kelelahan kerja, itulah mengapa ponselnya mati.
Sesampainya di depan gerbang kontrakan berpagar hitam tempat Kafka tinggal, Aluna membayar ongkos taksi dan turun dengan langkah yang sedikit gemetar. Lingkungan kontrakan itu sudah sangat sepi, sebagian besar lampu teras rumah kontrakan lain sudah dimatikan. Aluna berjalan perlahan menuju kamar nomor 12 yang berada di pojok koridor.
Saat berdiri di depan pintu kayu berwarna cokelat itu, Aluna mendapati sesuatu yang janggal. Lampu teras kontrakan Kafka masih menyala terang. Lebih mengejutkan lagi, pintu depan tidak tertutup rapat, melainkan sedikit renggang, menyisakan celah kecil yang mengeluarkan seberkas cahaya dari dalam ruangan.
Aluna mengernyitkan dahi. "Kafka belum tidur?" gumamnya lirih.
Ia berniat mengetuk pintu, tetapi tangannya tertahan di udara saat pendengarannya menangkap suara-suara aneh dari dalam kamar. Itu bukan suara televisi atau radio. Itu adalah suara bisikan-bisikan manja, diikuti oleh suara tawa kecil seorang wanita yang sangat asing di telinga Aluna.
Tubuh Aluna seketika menegang. Darahnya seolah berhenti mengalir dan seluruh sendinya mendadak kaku. Dengan jantung yang berpacu liar memukul rongga dadanya, Aluna memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke celah pintu yang terbuka. Ia mengintip ke dalam.
Di dalam ruang tamu kecil yang remang-remang itu, di atas sofa panjang tempat Aluna biasanya bersandar bersama Kafka, kini duduk dua orang yang sedang saling berpangkuan. Pria itu adalah Kafka, kekasihnya, pria yang beberapa jam lalu ia khawatirkan setengah mati. Kafka tampak sedang memeluk pinggang seorang wanita berbaju ketat dengan begitu mesra, sesekali mendaratkan ciuman di pipi wanita itu sambil membisikkan kata-kata cinta yang biasa ia ucapkan pada Aluna.
"Kamu kapan mau mutusin Aluna, Sayang? Aku bosan ya sembunyi-sembunyi begini terus," suara wanita itu terdengar merengek, manja dan menuntut.
Kafka terkekeh, tangannya mengusap rambut wanita itu dengan penuh kasih sayang. "Sabar dong, Sayang. Kamu kan tahu sendiri Aluna itu polos dan gampang dimanfaatkan. Gajinya sebagai admin lumayan buat bantu-bantu bayar cicilan motorku bulan ini. Nanti kalau urusanku sudah selesai, pasti langsung aku putusin. Lagipula, mana mungkin aku milih staf rendahan kaya dia kalau ada kamu yang jauh lebih cantik."
Deg.
Dunia Aluna seakan runtuh berantakan saat itu juga. Kata-kata yang keluar dari mulut Kafka bagaikan belati berkarat yang dihunjamkan tepat ke lubang jantungnya, lalu diputar dengan kejam hingga hancur tak bersisa. Air mata yang sejak tadi ia tahan akibat tekanan pekerjaan, kini tumpah ruah tanpa bisa dicegah.
Rasa sakitnya begitu hebat hingga Aluna merasa dadanya sesak dan sulit untuk sekadar menghirup oksigen.
Pengkhianatan itu tersaji begitu nyata, begitu telanjang di depan matanya sendiri. Pria yang ia cintai dengan tulus, pria yang ia bela di depan mendiang ibunya dulu, ternyata hanyalah seorang bajingan yang memanfaatkannya demi uang dan kesenangan pribadi. Rasa lelah, rindu, dan cemas yang ia bawa dari kantor kini menguap, digantikan oleh rasa kehampaan yang luar biasa perih.
Aluna tidak memiliki kekuatan lagi bahkan hanya untuk sekadar mendobrak pintu dan memaki mereka. Tubuhnya terlalu lemas, hatinya terlalu hancur. Dengan sisa-siga harga diri yang tersisa, ia melangkah mundur perlahan agar langkah kakinya tidak terdengar.
Dengan jalan yang gontai, sempoyongan, dan pandangan yang kabur oleh air mata, Aluna berjalan meninggalkan pekarangan kontrakan kutukan itu.
Malam itu, di bawah langit malam yang pekat tanpa bintang, Aluna berjalan menyusuri trotoar jalanan sepi seperti raga tanpa jiwa.
Air matanya terus mengalir membasahi pipi, menghapus sisa-sisa riasan tipis wajahnya. Ia merasa menjadi wanita paling malang dan paling sial di seluruh dunia. Pekerjaan yang menindasnya, kekasih yang mengkhianatinya, semuanya terjadi dalam kurun waktu beberapa jam saja.
Namun, Aluna belum tahu bahwa badai sesungguhnya pada malam jahanam itu belum sepenuhnya berakhir. Ketika ia mengira hidupnya sudah mencapai titik terendah, takdir masih menyimpan satu tamparan yang jauh lebih keras dan mematikan, yang menunggunya di rumah tempat ia dibesarkan.