NovelToon NovelToon
Aku Tidak Mandul, Mas!

Aku Tidak Mandul, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:262.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.

Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.

Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Malam semakin larut. Hujan rintik di luar mansion membuat suasana terasa dingin dan sunyi. Tetapi berbeda dengan suasana di dalam ruang kerja pribadi milik Emran Richard.

Ruangan besar itu dipenuhi ketegangan. Darto Erlangga duduk dengan wajah yang semakin lama semakin gelap. Di sampingnya ada Satrio dan Han yang berdiri diam tanpa berani banyak bicara.

Sementara, di sofa panjang dekat jendela Annisa duduk menunduk sambil menceritakan semua yang selama ini ia pendam sendirian.

Darto benar-benar tidak habis pikir. Tangannya bahkan berkali-kali mengepal di atas meja kerja Emran.

“Dia membiarkan kamu kerja saat sakit?” suara pria tua itu mulai meninggi penuh emosi.

Annisa menunduk pelan.

“Aku tetap masak ... bersih-bersih...”

Rahang Darto langsung mengeras. “Kurang ajar...”

Namu, belum selesai sampai di sana. Ketika Annisa menceritakan bagaimana dirinya dikurung di gudang saat ketakutan karena trauma gelap, Darto langsung berdiri dari duduknya.

Tangannya menghantam meja keras hingga membuat suasana ruangan menegang.

“Haikal benar-benar gila!” Wajahnya merah menahan amarah.

“Itu anak saya!” bentaknya penuh emosi. “Bagaimana bisa dia memperlakukan kamu seperti binatang?!”

Air mata Annisa kembali jatuh.

“Ayah...”

Darto justru semakin terpukul saat mendengar putrinya masih memanggilnya dengan suara selembut itu setelah semua penderitaan yang dialami.

Sementara, di sisi lain ruangan Emran Richard terlihat jauh lebih diam. Dan justru itu yang membuat suasana semakin menakutkan. Karena pria itu tidak menunjukkan amarahnya lewat teriakan. Tatapannya saja sudah cukup membuat udara terasa dingin. Jari Emran mengetuk pelan sandaran kursi.

Terutama saat Annisa berkata lirih,

“Waktu aku pingsan ... aku tetap dipaksa masak...”

Mata Emran langsung berubah tajam. Seketika suasana ruangan terasa menekan. Han bahkan refleks menundukkan kepala karena tahu, Tuannya benar-benar marah sekarang.

Suasana ruang kerja milik Emran Richard masih dipenuhi ketegangan. Tak ada yang benar-benar tenang setelah mendengar semua cerita Annisa Erlangga.

Hujan di luar jendela terdengar samar. Lampu ruangan yang redup membuat suasana malam itu terasa semakin berat.

Emran akhirnya membuka suara.

“Apa yang akan kamu lakukan sekarang?” Tatapan pria itu lurus menatap Annisa.

Namun, di balik nada tenangnya, ada sesuatu yang dalam di sana.

Annisa perlahan mengangkat wajahnya. Mata wanita itu masih merah karena menangis terlalu lama.

“Aku...” suara Annisa sedikit serak. Tangannya perlahan mengepal di atas pangkuannya.

“Aku akan balas semua perbuatan mereka,”

Ruangan langsung hening. Bahkan, Darto Erlangga ikut menatap putrinya cukup lama. Wajah Annisa memanas. Air matanya jatuh lagi, namun kali ini bukan karena lemah. Melainkan karena rasa sakit yang terlalu dalam.

“Aku tidak akan melupakan apa yang mereka lakukan padaku.” Napasnya mulai bergetar menahan emosi.

“Ibu mertua yang menghina dan menyiksaku...” suaranya mulai pecah, “dan Haikal...” Nama itu keluar dengan penuh kebencian untuk pertama kalinya.

“Dia membuangku seperti aku tidak pernah berarti.”

Tatapan Annisa perlahan berubah semakin dingin.

“Bahkan...” wanita itu menggigit bibirnya kuat-kuat, “aku tidak akan memaafkan Emeli.”

Nama wanita itu membuat sorot mata Emran langsung menggelap. Annisa menunduk sebentar sebelum kembali berkata dengan suara bergetar penuh amarah,

“Dia menghina aku ... merebut semuanya dariku ... lalu tertawa saat aku diusir dari rumah.”

Tangannya kini mengepal begitu erat sampai bergetar.

“Aku ingin mereka merasakan hal yang sama.”

Tak ada yang menghentikan Annisa malam itu. Dendam Annisa lahir dari luka yang terlalu kejam. Suasana ruang kerja kembali hening setelah Annisa selesai membaca laporan di tablet yang diberikan Emran Richard. Tatapan wanita itu perlahan berubah dingin.

Annisa lalu meletakkan tablet itu pelan di atas meja.

“Aku akan pergi ke rumah sakit besok.”

Darto Erlangga langsung menoleh.

“Rumah sakit?”

Annisa mengangguk perlahan. Tatapannya mulai memanas mengingat sesuatu.

“Aku ingin periksa ulang.” Tangannya perlahan mengepal.

“Selama ini...” suaranya sedikit bergetar, “Emeli yang selalu memeriksaku.”

Darto langsung mengernyit. Emran menatap Annisa tanpa berkedip. Wanita itu menggigit bibirnya pelan sebelum melanjutkan,

“Dia memvonisku mandul.”

“Padahal...” mata Annisa mulai memerah lagi, “aku tidak pernah punya penyakit apa pun sebelumnya.”

Tangan Darto langsung menghantam meja penuh emosi.

“Kurang ajar!”

Wajah pria tua itu memerah menahan amarah.

“Dokter macam apa membohongi pasien seperti itu?!”

Napas Annisa sedikit bergetar.

“Kalau hasil pemeriksaan besok baik-baik saja...” sorot matanya perlahan berubah tajam, “aku akan menuntut Emeli.”

Han sampai sedikit mengangkat kepala mendengar nada suara Annisa yang berubah begitu dingin.

Di sisi lain, Emran yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara tenang.

“Saya antar besok.”

Annisa menoleh sedikit terkejut. Emran tetap terlihat tenang sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.

“Kamu tidak perlu pergi sendiri.”

Darto yang melihat semuanya justru diam-diam tersenyum kecil. Ada rasa lega dalam dirinya, karena setelah lima tahun Emran ternyata masih memperhatikan putrinya dengan sangat baik.

Melihat Emran berada di sisi Annisa malam itu membuat hati Darto jauh lebih tenang.

Malam semakin larut. Setelah pembicaraan panjang yang melelahkan hati itu selesai, Darto Erlangga akhirnya menatap putrinya lembut.

“Pulang sama Ayah malam ini.” Suasana langsung sedikit hening.

Annisa menunduk pelan beberapa detik sebelum akhirnya menggeleng kecil.

“Aku...” wanita itu menggenggam jemarinya gugup. “Aku masih ingin di sini dulu, Yah.”

Darto sedikit terdiam. Annisa lalu melirik sekilas ke arah Emran Richard.

“Ada sesuatu yang ingin kubahas berdua dengan Tuan Emran.”

Kalimat itu membuat Darto perlahan mengerti. Pria tua itu akhirnya mengangguk pelan tanpa memaksa lagi.

“Baiklah.” Lalu tatapannya beralih pada Emran.

Sorot mata seorang ayah yang penuh harapan terlihat jelas di sana.

“Tolong jaga Annisa untuk saya.”

Hening beberapa detik. Emran menatap Darto tenang sebelum akhirnya mengangguk.

“Tentu.” Jawaban singkat itu justru terdengar begitu meyakinkan.

Darto tersenyum kecil penuh lega. Tak lama kemudian, pria tua itu bersiap pulang bersama Satrio. Emran ikut mengantar mereka sampai ke pintu depan mansion.

Mobil Darto sudah menunggu di halaman depan dengan lampu menyala lembut. Sebelum benar-benar masuk ke mobil, Darto menahan langkah Emran sebentar.

Keduanya sedikit menepi dari pintu utama mansion. Namun, cukup untuk membuat percakapan mereka tidak terdengar sampai ke dalam rumah.

Darto menatap Emran cukup lama sebelum berkata pelan,

“Kamu serius?”

Tatapan Emran lurus tenang.

“Saya tidak pernah main-main soal Annisa.”

Darto langsung terdiam. Lalu Emran melanjutkan dengan suara rendah namun tegas,

“Saat malam ulang tahun Anda nanti...”

Sorot matanya perlahan berubah dalam.

“Saya akan melamar Annisa.”

Beberapa detik Darto hanya menatap Emran tanpa bicara. Lalu perlahan, senyum di wajah pria tua itu muncul kembali.

Tanpa berkata banyak lagi, Darto langsung menarik Emran ke dalam pelukan hangat.

“Tolong bahagiakan dia.” Suara pria tua itu terdengar lirih penuh harapan.

Sementara Emran hanya memejamkan mata singkat sebelum mengangguk pelan.

“Pasti.”

Dan di dalam mansion, Annisa sama sekali tidak mendengar rencana yang baru saja disusun untuk hidupnya.

"Aku akan membuat Haikal besok pagi di kantor menerima apa yang selama ini Annisa terima!" Kata Darto dengan tegas.

1
Teh Euis Tea
akhirnya penjahat sesungguhnya telah tertangkap km salah lawan dido, emran ga butuh warisan dia sudah kaya dari hartanya
Teh Euis Tea
akhirnya terbongkar semua
mimief
lah..gimana si pak
mau ngasih kejutan
emang kejutan bener si,tapi ga gini juga🫣🤣🤣
mimief
rumahmu Anissa
ambil lagi..
enak amet mereka bisa tinggal gratis 😒
Nadja 🎀
makanya Dido terlalu meremehkan emran.. udah sadar lum? emran itu gak butuh warisan toh dia udh kaya jg memiliki kekuasaan lbh tinggi daripada kmu si bocah!
Jaya Fandi
seruuu,, lanjuuut ka
mimief
semangat say
mimief
semangat say
Dini Anggraini
Sebaiknya USB itu di buat salinannya dan yang asli tetap di tanganmu emran takutnya suatu saat salinannya hilang ataupun musnah yang asli tetap ada. Dido sifatmu persis ortumu demi harta rela menghilangkan nyawa orang lain tanpa mikirkan bagaimana perasaannya anak dan istrinya bila di tinggal meninggal tulang punggung keluarga miris sekali padahal harta itu meskipun di berikan semuanya ke rudi dan keluarganya jangka waktu 3 tahun langsung bangkrut dan jatuh miskin bagaimana nasib kakek luxio nanti. 🥰🥰🥰🥰🥰😡😡
Oma Gavin
anaknya paman emran ternyata dalang nya
Teh Euis Tea
oh ternyata si dido ta kira adrian yg musuh dlm selimut, duh maafkan sku ya pak adrian nuduh km yg jahat🤭
dyah EkaPratiwi
wah ternyata dido kirain adrian
Jaya Fandi
tambah seruu,, lanjuuut ka
Teh Euis Tea
ya ampun othor bisa bgt dah bikin orang penasaran, ini sebenarnya si adrian terlibat x ya, makin penasaran aku
Yeni Astriani
akhirnya pelaku sebenarnya terungkap☺☺
yuuk lanjut lagi Author
Fia Ayu
Aku masih bingung, gimana Caranya itu USB ngerem semuanya ok lah klo suara, bisa masuk akal klo gambar, kan itu rekamann di masukkan ke dalam tempat pen,
Atau itu USB dah di program nyambung ke cctv utama🤔
Aisyah Alfatih: maaf typo kamera tersembunyi
total 2 replies
mimief
tak ada dan tak pernah ada seorang orang tua yg bener bener benci sama anknya
🥹🥹 km
mimief
tak ada dan tak pernah ada seorang orang tua yg bener bener benci sama anknya
🥹🥹
mimief
yah.. begitu laki laki kalau udah enak
suka ga tau diri
mama
ealaa dido
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!