Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 27
Pintu kaca berdesain modern milik gedung pencakar langit di kawasan bisnis Jakarta Selatan itu bergeser terbuka secara otomatis. Kiara melangkah masuk dengan setelan blazer putih gading dan celana bahan bernuansa senada. Kopernya telah ia titipkan di lobby kantor, meninggalkan dirinya yang kini tampil anggun, segar, dan sepenuhnya siap menyambut lembar kehidupan baru.
Kiara benar-benar berusaha urnruk menghilangakn rasa sakit dan kecewanya kepada Vino. Dan pilihan menjauh dari sumber rasa sakit adalah pilihan yang tepat. Dan kini dia siap untuk menyibukkan diri dengan rentetan pekerjaan yang pastinya akan meyita banyak waktunya. Apalagi dengan promosi jabatan yang tak main-maian. Jabatan sebagai Asiten Wakil Direktur pastinya akan sangat sibuk.
Di lantai paling atas gedung, area jajaran direksi. Suasana terasa sangat tenang dan profesional. Kiara menghampiri meja resepsionis khusus pimpinan.
"Selamat pagi, saya Kiara Anindya. Hari ini jadwal saya melapor kepada Wakil Direktur Utama yang baru," ucap Kiara ramah, suaranya mantap tanpa sedikit pun keraguan.
"Selamat pagi, Mbak Kiara. Pak Gabriel sudah menunggu di ruangannya. Mari saya antar," sambut resepsionis dengan senyum hangat.
Kiara berjalan menyusuri koridor berdinding kaca transparan yang memperlihatkan lanskap metropolitan Jakarta dari ketinggian. Memang benar keputusannya untuk menyebar rumor palsu, lewat Rania bahwa ia pindah ke Surabaya adalah langkah yang tepat. Di Jakarta, ia terlindungi oleh kesibukan kota besar dan jarak yang aman dari masa lalunya yang toksik.
Dan tentunya Vino tak akan tahu kalau dirinya berada di sini. Vino mengira dia di Surabaya, tempat yang sangat jauh dari kota mereka tinggal sebelumnya.
Langkah Kiara berhenti di depan pintu kayu mahoni besar bernuansa minimalis. Setelah ketukan pintu terdengar, sebuah suara berat yang ramah dari dalam memintanya masuk.
"Permisi, Pak," ujar Kiara saat melangkah melewati ambang pintu.
Di balik meja kerja besar berbahan kayu jati hitam, seorang pria muda bersetelan jas charcoal gray berdiri. Ia membenahi posisi jam tangannya sebelum menatap Kiara dengan binar mata yang cerdas dan hangat. Gabriel Vance, sang Wakil Pimpinan baru yang baru saja menyelesaikan masa tugas lima tahunnya memimpin ekspansi perusahaan di London. Dan baru dau hari lalu dia juga landing di Jakarta.
"Kiara Anindya?" ujar Gabriel sambil mengulurkan tangannya. Senyumnya tipis, namun memancarkan aura wibawa yang jujur dan menyenangkan.
"Betul, Pak Gabriel saya Kiaa Anindya..."
"Saya sudah membaca seluruh rekam jejak prestasimu di cabang. Sangat impresif."
Kiara menyambut uluran tangan itu dengan genggaman yang mantap.
"Terima kasih banyak atas kepercayaannya, Pak Gabriel. Suatu kehormatan bagi saya bisa mendampingi Bapak. Semoga kinerja saya tidak mengecewakan anda kedepannya..."
Gabriel terkekeh pelan sembari menyuruh Kiara duduk.
"Di kantor ini, saya tidak suka drama atau kerumitan yang tidak perlu. Saya butuh orang yang jujur, tegas, dan berprinsip. Dari laporan evaluasi harianmu, kamu memiliki semua karakter itu. Makanya saat divisi Human memberikan beberapa orang sebagai kandidat, saya lebih memilih kamu. Jangan kecewakan pilihan saya, Kiara!"
Kalimat singkat Gabriel bagai oase segar bagi Kiara. Berada di lingkungan profesional yang menghargai kejujuran dan kapabilitas membuat seluruh sisa beban emosional akibat intrik Vino dan Shela menguap begitu saja dari hatinya.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Pak Gabriel. Dan belajar beradaptasi dengan cepat di kantor pusat..." Jawab Kiara tegas.
"Baiklah. Kita lihat nanti. Silahkan ke meja kerjamu yang ada di depan sana. Sepertinya kamau tak bisa berleha-leha di hari pertamamu. Karena di atas mejamu sudah banyak berkas yang harus kamu kerjakan,"
"Ah sepertinya begitum, Pak Gabriel. Saya permisi..."
Hari itu, Kiara langsung disibukkan dengan penyesuaian jadwal rapat internasional, berkas akuisisi proyek, dan restrukturisasi divisi. Ia tenggelam dalam ritme kerja yang cepat dan penuh tantangan.
Saat jam istirahat siang, Kiara berdiri di dekat jendela besar ruangan kerjanya, memandangi langit Jakarta yang cerah menembus awan. Ponselnya kembali bergetar pelan. Kiara melirik layarnya, sebuah pesan singkat masuk dari Ibunya, mengabarkan bahwa Vino sempat memohon-mohon mendatangi rumah orang tua Kiara di daerah untuk mencari alamatnya di Surabaya. Namun, kedua orang tua Kiara dengan tegas meminta Vino pergi tanpa memberikan informasi sedikit pun.
Kiara tersenyum tipis, lalu menghapus pesan itu tanpa niat membalasnya. Masa lalu itu sudah benar-benar mati baginya. Di kota ini, di bawah naungan kepemimpinan yang baru dan masa depan yang membentang luas, ia tidak lagi menjadi pelindung bagi pria yang salah, melainkan arsitek bagi kebahagiaannya sendiri.
Hari pertama Kiara di kantor pusat benar-benar menguji kapasitas mental dan fisiknya. Sebagai Asisten Wakil Direktur Utama, meja kerjanya bukan sekadar tempat menumpuk kertas, melainkan pusat kendali mini yang terhubung langsung dengan berbagai divisi strategis. Pagi itu dihabiskannya dengan membedah draf kerja sama lintas negara, menyelaraskan zona waktu London dan Jakarta untuk jadwal rapat Gabriel, serta menyortir puluhan surel penting.
Menjelang pukul dua belas siang, pintu ruangan Gabriel terbuka pelan. Pria berjas charcoal gray itu keluar sambil merapikan manset kemejanya.
"Kiara, kalau pekerjaan di meja itu belum selesai, kamu bisa tinggal dulu dan lanjut nanti sore. Hari pertama tidak harus langsung sempurna," ujar Gabriel ramah, berdiri di dekat pembatas ruangan.
Kiara mendongak, tersenyum sopan sembari merapikan beberapa berkas laporan akuisisi di hadapannya. "Sudah terkontrol dengan baik, Pak Gabriel. Saya hanya perlu merampungkan rekapitulasi jadwal rapat minggu depan sebelum jam dua."
"Bagus kalau begitu. Jangan lupa makan siang. Karyawan baru sering kali lupa waktu demi membuktikan diri, padahal otak yang lapar jarang menghasilkan keputusan yang tajam," canda Gabriel ringan sebelum melangkah pergi meninggalkan lantai direksi.
Kiara terkekeh pelan. Ucapan atasannya itu ada benarnya juga. Perutnya mulai terasa keroncongan sejak jam sepuluh tadi. Ia memutuskan untuk turun ke kantin karyawan di lantai bawah. Berbeda dengan area direksi yang tenang dan steril, kantin kantor pusat ini jauh lebih hidup, dipenuhi suara gelak tawa, denting sendok, dan aroma sedap makanan yang menguar dari berbagai tenant kuliner lokal.
Kiara mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk yang kosong, hingga sebuah lambaian tangan menghentikannya.
"Hei! Sendirian saja? Boleh aku gabung?" tanya seorang perempuan berambut sebahu dengan setelan blazer marun, membawa nampan berisi semangkuk soto ayam dan es teh manis.
"Oh, tentu saja boleh. Silakan," jawab Kiara tersenyum ramah, lalu menarik kursi di seberang perempuan itu.
"Kenalkan, aku Nadia dari divisi Hubungan Masyarakat. Kamu wajah baru ya di lantai atas? Belum pernah lihat sebelumnya," kata Nadia riang sambil meletakkan nampannya.
"Aku Kiara Anindya, asisten baru Pak Gabriel. Baru hari ini masuk kerja," balas Kiara memperkenalkan diri.
Mata Nadia langsung membulat lebar. Ia menghentikan sendok yang hendak menyentuh mangkuknya. "Tunggu... asisten baru Pak Gabriel Vance? Yang baru datang dari London itu?"
Kiara mengangguk sambil tersenyum kecil. "Betul. Memangnya kenapa, Nad?"
Nadia mendekatkan duduknya, berbisik dramatis seolah sedang membocorkan rahasia negara.
"Wah, kamu harus siap-siap mental baja, Kiara! Pak Gabriel itu terkenal sangat perfeksionis saat di London. Katanya, dia bisa tahu kalau ada satu huruf saja yang salah di laporan setebal seratus halaman. Tapi, di sisi lain, beliau juga atasan paling adil. Asal kamu kerja beres dan tidak suka cari muka, beliau bakal jadi pelindung terbaikmu di kantor ini."
"Aku sudah dengar sekilas karakternya tadi pagi. Sejauh ini, beliau memang lebih menyukai keterbukaan dan efisiensi," tanggap Kiara tenang, menikmati suapan pertama makan siangnya.
"Syukurlah kalau kamu tipe pekerja yang sat-set. Oh ya, kenalkan juga ini temanku, Raka dari divisi Keuangan," sambung Nadia saat seorang pria tinggi berkaus berkerah rapi mendekati meja mereka dengan nampan nasi goreng.
Raka tersenyum ramah, mengangguk ke arah Kiara. "Raka. Jangan kapok makan di sini ya, Kiara. Kantin lantai dua ini penyelamat hidup kalau di akhir bulan."
Di tengah obrolan ringan itu, Kiara menyadari satu hal. Dunia barunya di Jakarta ini bergerak dengan ritme yang cepat, menuntut ketegasan, namun di saat yang sama juga menawarkan kehangatan manusiawi yang tulus, sesuatu yang sudah lama hilang dari kehidupannya yang dulu penuh dengan kepalsuan.
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,