NovelToon NovelToon
Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.

Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.

Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang yang Tak Pernah Pergi

Bab 6

Malam semakin larut, namun Elena belum bisa memejamkan mata. Di sampingnya Alvaro sudah terlelap pulas, napasnya teratur dan tenang, sesekali bibirnya tersenyum kecil seolah sedang bermimpi indah. Elena duduk menyandar di kepala tempat tidur, menatap wajah anak itu dalam diam. Hatinya penuh campur aduk—rasa syukur karena bisa melihat senyum itu, rasa takut karena ancaman Rian masih membayangi, dan rasa berat karena harus terus menyembunyikan siapa dirinya yang sebenarnya.

Tadi saat Leonid berjalan keluar kamar, ia sempat berhenti sejenak di ambang pintu, menatapnya lekat-lekat sebelum akhirnya menutup pintu perlahan. Tatapan itu bukan lagi tatapan marah atau penuh kebencian, melainkan tatapan penuh keraguan yang mendalam, namun juga ada secercah harapan yang ia coba sembunyikan. Elena tahu pria itu belum sepenuhnya percaya, ia hanya memberi waktu—waktu yang entah cukup atau tidak sebelum semuanya terbongkar.

Jam dinding di sudut ruangan berdentang pelan, menandakan pukul dua belas malam. Hujan di luar sudah reda, namun udara masih terasa dingin dan lembap. Elena menarik selimut lebih tinggi menutupi tubuh Alvaro, lalu perlahan turun dari tempat tidur. Ia berjalan menuju jendela, menyibakkan sedikit tirai tebal, menatap ke arah halaman rumah yang remang diterangi lampu taman. Pikirannya melayang kembali pada saat ia masih menjadi gadis biasa yang bekerja keras, hidup sederhana namun tenang, jauh dari segala bahaya dan intrik kekuasaan. Namun sekarang, ia terjebak di dunia yang sama sekali tidak ia kenal, dengan nyawa dua orang yang ia sayangi tergantung pada setiap keputusan yang ia ambil.

Belum sempat pikirannya tenang, terdengar suara gesekan halus dari arah balkon.

Jantung Elena seakan berhenti berdetak sejenak. Ia mundur selangkah, matanya menatap tajam ke arah tirai yang sedikit bergerak ditiup angin malam.

"Kau pikir kau bisa lari begitu saja?"

Suara rendah dan penuh amarah itu terdengar jelas dari balik tirai. Rian keluar perlahan, wajahnya tertutup bayangan, namun matanya menyala tajam menatap Elena.

"Kau gila? Leonid bisa saja mendengarmu!" bisik Elena tegas, berusaha menahan gemetar suaranya.

"Mendengar? Biarkan saja dia mendengar! Yang penting kau tahu, Elena... kau tidak bisa membuangku begitu saja setelah kau menghancurkan hidupku!" Rian melangkah maju, tangannya mengepal erat. "Kau yang memintaku datang, kau yang merencanakan semua ini, dan sekarang kau ingin berlagak seperti ibu suci dan istri setia? Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup tenang bersama harta yang seharusnya menjadi milik kita berdua?"

"Harta? Kau bicara soal harta saat aku baru sadar betapa bodohnya aku selama ini?" Elena menatapnya balik, amarah yang sama besarnya mulai muncul dari dalam dirinya. "Kau memintaku menyakiti anakku sendiri, kau memintaku meninggalkan dia yang tidak berdosa demi uang? Kau yang sebenarnya jahat, Rian! Dan aku tidak akan lagi menuruti perkataanmu!"

Wajah Rian memerah menahan amarah. Ia melangkah mendekat dengan cepat, mencoba meraih lengan Elena. "Jangan bermimpi! Kau milikku, dan rencana kita harus tetap berjalan! Kalau kau tidak mau, aku akan langsung menemui Leonid sekarang juga, dan aku akan memberitahunya bagaimana kau merencanakan kematiannya sendiri!"

Elena menepis tangannya dengan kuat. "Pergilah! Atau aku akan berteriak sekarang juga! Biarkan Leonid yang menghadapimu!"

"Berteriaklah! Kau pikir dia akan percaya padamu daripada padaku? Kau yang sudah terbukti mengkhianatinya, kau yang sudah berselingkuh selama bertahun-tahun!" Rian tertawa sinis, namun tawa itu terhenti seketika saat terdengar suara langkah kaki berat mendekat di lorong luar.

Mata Rian melebar panik. Ia melirik pintu kamar, lalu kembali menatap Elena dengan pandangan tajam penuh ancaman. "Ini belum selesai. Aku akan datang lagi, dan kali ini aku tidak akan main-main. Ingat itu!"

Dengan cepat ia kembali bersembunyi di balik tirai, menghilang lewat balkon tepat saat pintu kamar terbuka perlahan.

Leonid berdiri di ambang pintu, tatapannya tajam menyapu seluruh ruangan. "Ada apa? Aku mendengar suara berisik."

Elena menelan ludah susah payah, berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Tidak... tidak ada apa-apa. Aku hanya... aku hanya tidak sengaja menjatuhkan vas bunga tadi."

Leonid melangkah masuk perlahan, matanya menatap lurus ke arah jendela yang sedikit terbuka. Angin malam berhembus masuk, mengibaskan ujung tirai. "Kau membuka jendela di jam begini?"

"Aku... aku merasa sedikit gerah saja," jawab Elena pelan, namun ia tahu jawabannya terdengar lemah.

Leonid berhenti tepat di hadapannya. Ia menatap lekat-lekat mata Elena, seolah ingin membaca setiap kebohongan yang tersembunyi di sana. "Kau berbohong. Jantungmu berdegup kencang sekali, dan tanganmu gemetar."

Elena memejamkan mata sejenak. Ia tahu ia tidak bisa terus berbohong, tapi ia juga takut jika Rian benar-benar melaksanakan ancamannya. "Leonid... tolong percayai aku sebentar saja. Ada hal yang sedang aku coba selesaikan sendiri. Tapi aku janji... aku tidak akan mengkhianatimu lagi."

Leonid terdiam lama sekali. Hening mencekam menyelimuti ruangan itu. Kemudian perlahan ia mengulurkan tangannya, bukan untuk menyentuhnya dengan kasar, melainkan meletakkan telapak tangannya di atas bahu Elena dengan sentuhan yang begitu hati-hati.

"Aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan," ucapnya pelan namun tegas. "Tapi ingat satu hal. Jika ada yang berani mengganggumu atau mengancammu... kau tidak perlu menghadapinya sendirian. Kau adalah istriku. Dan siapapun yang berani menyakiti keluargaku, akan kuhancurkan sampai ke akar-akarnya."

Kalimat itu terucap begitu tenang, namun maknanya begitu berat dan menakutkan. Elena merasakan hangat yang menjalar dari sentuhan tangan itu, merasakan perlindungan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Air mata tak sadar menetes kembali di pipinya.

"Terima kasih..." bisiknya dengan suara tercekat.

Leonid menyeka air matanya perlahan. "Istirahatlah. Besok kita bicara lagi. Dan jangan pernah berpikir untuk menutup diri dariku lagi."

Setelah Leonid keluar dan pintu tertutup, Elena baru merasakan betapa lemasnya seluruh tubuhnya. Ia tahu Rian tidak akan berhenti begitu saja, dan bahaya itu semakin dekat. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian. Ada Leonid yang meski masih penuh keraguan, sudah mulai menunjukkan sisi pelindungnya. Dan ada Alvaro yang menjadi alasan terkuatnya untuk tetap bertahan.

Malam itu Elena akhirnya berbaring kembali di samping Alvaro, merangkul anak itu erat-erat. Ia berjanji dalam hati, apapun yang terjadi besok, ia akan menghadapinya dengan berani. Ia tidak akan membiarkan masa lalu yang kelam menghancurkan kesempatan kedua yang baru saja ia dapatkan.

Bersambung...

1
ocvia
🤣baik kak
Susi Nugroho
Nanti bikin Elena mengandung kembar.... Lanjut....
yula
👍
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
ocvia: siap kak
total 1 replies
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu.... Semangat
ocvia: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!