NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Seminggu berlalu dengan sangat cepat.

​Anton menggunakan waktu tujuh hari itu untuk memfokuskan diri pada pengembangan Star Technology.

​Siska bekerja dengan sangat luar biasa dalam mengatur tim peneliti baru dan menyusun jalur produksi chip.

​Suntikan dana puluhan miliar dari para investor mengalir lancar ke rekening resmi perusahaan.

​Hari Sabtu yang ditunggu-tunggu oleh Anton akhirnya tiba juga.

​Pukul delapan pagi, sebuah mobil mewah Maybach berwarna hitam mengilap sudah terparkir di depan lobi Apartemen Grand Royal.

​Seorang pria paruh baya berjas rapi berdiri di samping mobil sambil memegang papan nama bertuliskan nama Anton.

​Anton melangkah keluar dari lobi apartemen dengan gaya yang sangat berbeda dari biasanya.

​Dia mengenakan setelan jas kustom berwarna biru gelap buatan penjahit ternama yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna.

​Di pergelangan tangan kirinya melingkar sebuah jam tangan emas yang dibelinya dua hari lalu seharga tiga ratus juta rupiah.

​"Selamat pagi, Tuan Anton. Saya utusan dari Nona Elena yang ditugaskan untuk menjemput Anda," sapa pria paruh baya itu sambil membungkukkan badannya dengan sopan.

​"Selamat pagi, terima kasih sudah menjemput," jawab Anton santai tanpa nada sombong.

​Pria itu membukakan pintu belakang mobil Maybach dengan sangat hati-hati.

​Anton melangkah masuk dan duduk di kursi kulit yang sangat empuk dan nyaman.

​Brumm.

​Mobil mewah itu perlahan bergerak meninggalkan area apartemen menuju dermaga penyeberangan khusus di bagian utara kota.

​Perjalanan menuju dermaga menempuh waktu sekitar satu jam setengah.

​Dermaga yang dituju bukanlah dermaga umum tempat kapal penumpang biasa bersandar.

​Ini adalah dermaga pribadi bertaraf internasional yang dijaga ketat oleh belasan penjual jasa keamanan berbadan tegap.

​Hanya mobil-mobil super mewah berplat nomor khusus yang diizinkan melintasi pintu gerbang utama.

​Mobil Maybach yang ditumpangi Anton berhenti tepat di depan dermaga kapal pesiar pribadi.

​Pria penjemput tadi membukakan pintu untuk Anton.

​Anton melangkah keluar dan menghirup bau angin laut yang cukup menyegarkan.

​Di dermaga itu sudah bersandar sebuah kapal pesiar megah berlantai tiga dengan bendera hitam berlogo emas.

​Beberapa pria dan wanita bergaun mahal tampak sedang berkumpul di area ruang tunggu dermaga.

​Mereka adalah para pengusaha kaya, kolektor barang antik, dan keturunan keluarga elit dari berbagai daerah.

​"Tuan Anton!" panggil sebuah suara wanita yang sangat familiar dari arah belakang.

​Anton membalikkan badannya dan melihat Elena sedang berjalan mendekatinya dengan senyuman hangat.

​Hari ini Elena tampak sangat anggun mengenakan gaun putih polos tanpa lengan dan kaca mata hitam mahal.

​"Kamu datang tepat waktu, Anton," puji Elena begitu berdiri di dekat Anton.

​"Aku tidak suka membuat orang menunggu," jawab Anton singkat sambil memperhatikan sekitar.

​"Di mana lokasi pasti pulau yang akan kita tuju ini?" tanya Anton penasaran.

​"Pulau Nenek Moyang, sebuah pulau pribadi milik konsorsium lelang bawah tanah," jawab Elena menjelaskan pelan.

​"Jaraknya sekitar empat puluh lima menit menggunakan kapal pesiar cepat ini," tambahnya.

​Tiba-tiba, suara tawa meremehkan terdengar dari arah samping kanan mereka.

​"Ha ha ha, Elena, ternyata kamu menurunkan selera bisnismu sekarang ya?" ucap seorang pria muda berambut klimis yang berjalan mendekat.

​Pria muda itu mengenakan setelan jas merah hati dan ditemani oleh dua orang pengawal berbadan kekar.

​Tatapan mata pria itu penuh dengan kecurigaan dan rasa meremehkan saat melihat ke arah Anton.

​"Siapa dia, Elena? Mengapa kamu membawa anak muda yang tidak jelas asal-usulnya ke acara berkelas seperti ini?" tanya pria berjas merah itu dengan nada menyindir.

​Raut wajah Elena langsung berubah dingin saat menatap pria berjas merah tersebut.

​"Itu bukan urusanmu, Rendy Kusuma," jawab Elena tegas tanpa ramah-tamah sedikit pun.

​Anton langsung menyipitkan matanya mendengar nama belakang pria tersebut.

​"Kusuma?" batin Anton langsung menyambungkan informasi di kepalanya.

​"Orang ini pasti punya hubungan keluarga dengan Kevin Kusuma yang menghancurkan perusahaannya kemarin," pikir Anton menebak.

​Rendy terkekeh pelan sambil merapikan lengan jas merah hatinya.

​"Pelelangan bawah tanah ini hanya untuk orang-orang yang memiliki aset ratusan miliar rupiah," ucap Rendy sombong sambil menunjuk Anton.

​"Pria ini bahkan tidak memakai pakaian dari merek papan atas ibu kota, bagaimana dia bisa masuk?" ejek Rendy terang-terangan.

​"Dia adalah tamu kehormatanku, Rendy. Surat undangannya ada padaku," tegas Elena membela Anton.

​Rendy menatap Anton dari atas sampai bawah dengan senyuman mengejek yang sangat menyebalkan.

​"Oh, jadi kamu cuma peliharaan kecil yang menempel pada Elena agar bisa melihat tempat orang kaya ya?" sindir Rendy tajam.

​Anton tetap berdiri dengan tenang tanpa menunjukkan emosi atau rasa marah sedikit pun.

​Bagi Anton, bacotan orang seperti Rendy hanya seperti angin lalu yang tidak berguna.

​"Sistem, periksa data orang di depanku ini," perintah Anton di dalam hati.

​[Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1 diaktifkan.]

​Pandangan Anton langsung menembus pakaian dan dompet di dalam saku jas merah milik Rendy.

​Anton melihat beberapa kartu kredit limit tinggi dan dokumen kepemilikan saham di dalam tas dokumen yang dibawa pengawalnya.

​[Analisis selesai. Objek terdeteksi sebagai Rendy Kusuma, sepupu dari Kevin Kusuma.]

[Membawa dana tunai dan cek senilai lima puluh miliar rupiah untuk membeli tanah sengketa di lelang.]

​Anton tersenyum tipis setelah mendapatkan informasi dari sistem di kepalanya.

​"Lima puluh miliar rupiah? Uang yang cukup banyak untuk ukuran orang yang hanya bisa membual di dermaga," ucap Anton mendadak memotong pembicaraan.

​Rendy tersentak kaget dan raut wajahnya langsung berubah merah padam.

​"Apa kamu bilang?" bentak Rendy tidak terima.

​"Aku bilang, modal lima puluh miliar milikmu itu terlalu kecil untuk bersaing denganku di pelelangan nanti," balas Anton dengan nada menyindir yang sangat telak.

​Rendy melebarkan matanya kaget karena Anton bisa menebak jumlah dana yang dibawanya dengan sangat tepat.

​"Dari mana kamu tahu jumlah uangku?" batin Rendy panik bercampur heran.

​Elena yang berdiri di sebelah Anton juga ikut terkejut mendengar ucapan berani Anton.

​"Jangan sombong kamu anak muda! Kita lihat saja siapa yang akan gigit jari di pulau nanti!" ancam Rendy sambil menunjuk wajah Anton.

​Tet.

​Suara klakson kapal pesiar terdengar sangat keras menandakan pintu penyeberangan akan segera dibuka.

​"Pintu masuk kapal sudah dibuka, ayo kita masuk Anton," ajak Elena tidak ingin membuang waktu meladeni Rendy lagi.

​"Ayo," jawab Anton santai tanpa mempedulikan tatapan tajam nan penuh dendam dari Rendy.

​Anton dan Elena melangkah bersama menaiki tangga kapal pesiar megah tersebut.

​Rendy mengepalkan tangannya kuat-kuat dari belakang sambil menatap punggung Anton dengan penuh amarah.

​"Awasi anak itu, cari tahu siapa nama aslinya sebelum kita sampai di pulau," perintah Rendy pada salah satu pengawalnya dengan suara berbisik.

​"Baik, Tuan Rendy," jawab pengawal itu menurut.

​Di atas geladak kapal pesiar, Anton berdiri di dekat pagar pembatas sambil menatap hamparan laut biru yang sangat luas.

​Angin laut yang kencang menghempas rambut rapinya.

​"Maafkan sikap Rendy tadi, Anton. Dia adalah keluarga utama dari grup bisnis Kusuma di ibu kota," jelas Elena menghampiri Anton.

​"Tidak masalah, orang-orang seperti dia biasanya memang menyebalkan sebelum kehilangan seluruh uangnya," jawab Anton santai sambil tersenyum tipis.

​Elena tertawa pelan mendengar ucapan santai Anton yang sangat percaya diri itu.

​"Di pulau nanti, ada tiga barang utama yang menjadi perburuan para elit," terang Elena memulai informasi penting.

​"Satu bidang tanah sengketa di pusat kota, satu set perhiasan kuno kerajaan, dan satu resep obat kuno yang diklaim bisa menyembuhkan penyakit berat," lanjut Elena.

​Mata Anton langsung berbinar saat mendengar kata resep obat kuno.

​"Resep obat kuno?" batin Anton tertarik.

​Jika resep itu asli, nilainya tidak akan bisa dihitung dengan uang biasa di masa depan.

​"Acara lelang kali ini pasti akan menjadi sangat menarik," gumam Anton pelan sambil menatap pulau yang mulai terlihat di kejauhan.

​Kapal pesiar mewah itu terus melaju cepat menembus ombak laut menuju tempat berkumpulnya para penguasa uang yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!