NovelToon NovelToon
Ranjang Panas Preman Kampus

Ranjang Panas Preman Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: El khiyori

Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Andrea menghela napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya sebelum melangkah masuk ke dalam rumah. Ia berjalan melewati ruang tengah yang sepi. Lampu gantung kristal yang mewah memantulkan cahaya redup, memberikan kesan sunyi pada setiap sudut rumah mewah itu. Saat ia hendak meniti tangga menuju kamarnya di lantai dua, sebuah suara menghentikan langkahnya.

"Andrea? Baru pulang, Sayang?"

Selina muncul dari arah dapur, mengenakan gaun tidur sutra berenda yang tampak mahal. Wanita itu tersenyum manis, namun mata tajamnya langsung memindai penampilan putrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan Selina tertuju pada kerah kemeja Andrea yang sedikit dinaikkan dan rambutnya yang berantakan.

"Iya, Ma. Tadi terjebak hujan di kampus," jawab Andrea, berusaha bersikap senormal mungkin sambil sedikit menarik kerah kemejanya semakin ke atas. Ia yakin ke cu pan Bara tadi pasti membekas di sana.

Selina berjalan mendekat, mengusap bahu Andrea dengan kelembutan seorang ibu tapi justru membuat Andrea gelisan setengah mati.

"Kenapa kok krahnya dinaikkan?"

"Mm ... diluar dingin Ma. Soalnya Kak Bara nurunin aku di halaman," jawab Andrea asal namun tetap tenang.

"Anak itu ... tidak membuat kamu repot kan?"

"Tidak kok Ma. Kak Bara ... dia sangat baik. Dia menjagaku," ucap Andrea tulus.

Mendengar kata 'baik' keluar dari mulut putrinya untuk mendeskripsikan Bara, sudut bibir Selina berkedut kecil. Ada kilat aneh yang melintas di matanya, bukan rasa lega, melainkan sesuatu yang menyerupai kecemasan yang disembunyikan di balik senyumnya.

"Apa dia ikut masuk ke tempat pameran?"

Pertanyaan itu mendadak membuat Andrea bingung. Ia sedikit menaruh curiga pada ibunya, dan pada akhirnya jawabannya adalah ....

"Enggak Ma, Kak Bara pergi dengan teman-temannya karena aku juga masuknya sama teman-teman aku."

"Baguslah kalau begitu," sahut Selina pelan, suaranya mendadak merendah. "Tapi, Andrea ... Kamu harus ingat satu hal, di rumah ini, kamu harus selalu berhati-hati. Jangan terlalu dekat dengan siapa pun, bahkan dengan Bara."

"Kenapa sih Mama selalu ngomong seperti itu? Bukankah kita sekarang sudah benar-benar menjadi satu keluarga? Lagipula, Kak Bara tidak seburuk yang Mama bayangkan."

Selina tidak menjawab. Ia hanya menepuk pipi Andrea pelan, lalu berbalik pergi kembali ke kamarnya. Sikap ibunya yang penuh teka-teki itu membuat sebersit keraguan muncul di benak Andrea. Mengapa ibunya selalu terlihat ketakutan setiap kali membicarakan masa lalu keluarga. Kecurigaan Andrea mengenai alasan ibunya yang memutuskan untuk menikahi suami sahabatnya semakin kuat.

"Apa jangan-jangan Mama bohong kalau pernikahannya sama Om Danu adalah karena wasiat dari Tante Ratih?"

Batin Andrea terus bergejolak, tapi ia memilih untuk kembali ke kamarnya.

Sementara itu, di tempat yang berbeda, mobil Bara berhenti di depan sebuah bar, namun Bara tidak ikut terhanyut ke dalam keramaian yang ada di sana. Ia berjalan menuju sebuah ruangan privat di bagian belakang, tempat Angel sudah menunggunya dengan beberapa lembar dokumen di atas meja.

"Lo lama banget sih Bar. Katanya cuma mau nganterin 'anak kucing' itu pulang," sindir Angel sambil menyesap minumannya.

Bara tidak menyahut. Ia hanya menjatuhkan tubuhnya ke sofa lalu menyalakan sebatang rokok dan menghembuskan asapnya ke udara. Pikirannya mendadak terbagi. Sentuhan kulit Andrea yang halus, aroma tubuh gadis itu, dan bagaimana tubuh indah itu gemetar di bawah kendalinya. Entah kenapa rasanya masih tertinggal di ujung jemarinya.

"Ini yang Lo minta," Angel menyodorkan map dokumen berkode rahasia ke arah Bara. "Gue udah periksa aliran dana Selina sebelum dia nikah sama bokap Lo, dan ternyata bener. Sumbernya emang dari tempat yang sama, Danu Adikara. Nama rekeningnya memang beda, tapi ini bukti otentik kalau nama rekening itu hanya untuk mengelabuhi orang lain. Terutama Nyokap Lo."

Bara membenarkan posisi duduknya, matanya menyipit tajam.

"Dugaan Lo selama ini nggak salah. Bokap Lo sama Selina emang udah selingkuh jauh sebelum Nyokap Lo meninggal."

Bara terdiam. Puntung rokoknya dibiarkan membakar ujung jarinya tanpa ia sadari.

"Apa menurut kalian ... kematian Nyokap gue juga ada hubungannya sama mereka?" geram Bara dengan rahang mengeras namun sorot mata yang berkaca-kaca.

"Gue nggak mau ambil kesimpulan cepat," Angel menatap Bara dengan serius. "Tapi kalau emang Lo curiga sampai ke situ, kita akan coba telusuri."

"Ya ... Lo bener, kita harus telusuri semuanya," sahut Bara.

Sementara itu, di kamar mewahnya, Andrea sedang duduk di tepi ranjang. Ia membuka dompetnya, mengeluarkan sebuah benda rahasia yang jarang ia sentuh. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah liontin perak berbentuk oval yang sudah agak kusam.

Liontin itu adalah peninggalan mendiang ibunda Bara yang diberikan padanya sebelum wanita itu meninggal dengan pesan yang sangat jelas. 'Jangan pernah perlihatkan ini pada ibumu atau Danu.'

Andrea membuka klip liontin tersebut. Di dalamnya, selain foto dirinya saat bayi, terdapat selembar kertas kecil yang dilipat sangat rapi hingga berukuran mikro. Andrea membuka lipatan itu dengan hati-hati. Di atas kertas usang itu, tertulis agar Andrea selalu berada di samping Bara.

"Sepercaya itukah Tante sama aku? Padahal saat Tante ngasih ini, aku masih SD. Masih nggak ngerti apa-apa."

Bersamaan dengan itu, ingatan akan peristiwa yang hampir merenggut nyawanya terlintas di benak Andrea. Ia masih ingat saat ibunya menitipkannya pada ibunda Bara, karena saat itu ia harus mendampingi pak Danu pada sebuah acara, sebagai sekretarisnya.

Siang itu matahari sangat terik saat Andrea memutuskan menceburkan diri ke kolam padahal ia tidak bisa berenang. Saat ia hampir tenggelam, Bara yang memang tak terlalu menyukainya justru tertawa, beruntung Ratih datang di saat yang tepat dan menyelamatkannya.

Semenjak saat itu, Andrea memang sangat menyayangi sahabat ibunya tersebut. Ratih sangat menyukai Andrea karena sangat ceria dan penurut. Jauh berbeda dengan Bara yang memang tak terlalu suka berteman.

Itulah kenapa, saat Ratih jatuh sakit, ia terus berpesan agar bersabat dengan Bara. Ratih khawatir, sikap dingin Bara akan membuatnya kesulitan mendapatkan teman. Setidaknya, jika ada Andrea yang cantik dan lembut, Bara tidak akan kesepian.

Akan tetapi, takdir berkata lain. Begitu kondisi Ratih memburuk, Andrea justru dimasukkan ke sekolah elit yang memiliki asrama, dan semenjak saat itu, komunikasinya dengan Bara benar-benar terputus.

Andrea menyentuh tulisan itu dengan jemarinya yang dingin. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena gairah yang diledakkan Bara beberapa jam lalu, melainkan karena rasa bersalah yang perlahan merayap.

"Maafkan Andrea Tante ... Maaf karena baru sekarang Andrea berani menentang perintah Mama untuk pulang ke Jakarta dan menunaikan amanat dari Tante. Semoga anak Tante yang ganteng itu beneran mau dekat sama Andrea."

Sementara di tempatnya berada Bara masih disibukkan dengan rencana barunya untuk menyelidiki kematian sang ibu, sayangnya di tengah-tengah semua itu, rasa penasaran Bara justru bercabang menjadi dua jalur yang sama-sama berbahaya.

Misteri kematian ibunya dan rasa haus yang belum tuntas akan tubuh mo lek Andrea. Sentuhan di leher dan paha gadis itu di dalam mobil beberapa jam lalu justru menjadi bumerang bagi Bara.

Alih-alih merasa puas telah menjerat mangsanya, Bara justru dihantui oleh rasa penasaran bagaimana rasa dari kulit halus Andrea yang menggoda di bawah jemarinya, bagaimana wangi tubuh Andrea yang lembut namun seperti sedang menantangnya untuk merenggut semua kendali yang ia miliki.

Bara menutup laptopnya kasar. Ia butuh segelas air es untuk mendinginkan kepalanya atau lebih tepatnya, gairahnya yang tertahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!